Skip to main content

sayap pengelana

Seorang pengelana menyisir setiap gerai di pasar kota. “Cari apa?” Tanya penjual. “Saya mencari sepasang sayap untuk menggantikan sayap saya yang ini.” Kata si pengelana sambil menunjukkan sepasang sayapnya yang tidak lagi berbentuk sayap. Tulang-tulangnya patah dan helaian bulu-bulunya rontok entah kemana. Warnanya pun tidak lagi putih. Kotor dan lusuh.

Untuk beberapa saat, si penjual termenung. Sambil memanggut, tak lama kemudian ia pun berkata “Saya punya sayap yang cocok untuk kamu.” Katanya sambil masuk ke dalam toko. Sewaktu sehirupan teh hangat, si penjual pun keluar dengan membawa sepasang sayap baja. “Ini sayap yang paling pas untuk kamu wahai perempuan pengembara. Setiap helainya terbuat dari baja. Kamu bisa terbang kemanapun kamu ingin pergi. Kuat menerjang hujan bahkan sebuah badai sekalipun. Untuk kamu yang berkeinginan besar, inilah sayap terbaik yang saya punya.”

Melihat sepasang sayap yang begitu berkilau dan tampak kuat, mata perempuan itu pun bersinar bahagia. “Dia yang akan mengantarku pergi kemanapun aku mau.” Katanya dalam hati. “Boleh saya coba?” Tanya pengelana itu lirih. “Tentu. Mari saya bantu.” Kata si penjual. Lalu ia pun segera mengangkat sayap besi tersebut dan menaruhnya di punggung perempuan itu. Perempuan itu berkaca di jendela toko dan tersenyum lebar. Sayap di punggungnya tampak sempurna. “Boleh saya coba pakai untuk terbang?” Tanya si pengelana lagi. “Tentu.” Kata sang penjual. Si pengelana pun tersenyum puas. Lalu ia pun segera mengambil ancang-ancang untuk terbang. Oh oh oh, tapi apa yang terjadi; ia tak bisa berlari untuk lepas landas. Ia berjalan tertatih memaksa diri untuk melangkah sampai akhirnya ia pun jatuh tersungkur. Lalu ia pun menangis.

Si penjual pun lalu membantu melepaskan sayap baja dari punggung di pengelana. Ia tersenyum menatap wajah perempuan di hadapannya. “Jangan menangis, sayap ini terlalu berat untukmu. Betapa indahnya kamu saat melihatnya, tapi untuk apa kalau kamu tidak dapat terbang dengannya?” Katanya sambil membantu si perempuan untuk berdiri. Lalu perempuan itu pun pamit untuk menyusuri gerai-gerai lain di pasar itu.
Jauh ia berjalan menyusur, akhirnya tibalah ia di sebuah toko lain yang juga menjual sayap. “Saya ingin mencari sayap untuk menggantikan sayap saya yang patah.” Katanya sambil menunjukkan sayapnya ke hadapan si penjual. “Saya telah mencoba sayap baja, tapi saya tidak kuat membopongnya dan akhirnya saya tidak juga dapat terbang dengannya. Apakah Anda menjual sayap yang lain?” Katanya.

Si penjual tua itu mendengarkan penjelasan si pengelana sambil menyedot punting rokoknya yang sudah sangat pendek. “Tentu. Aku punya sayap yang indah untukmu.” Lalu ia segera mencari tumpukan sayap-sayap di gudangnya dan keluar dengan membawa sepasang sayap kecil yang indah. “Inilah sayap peri terbaik yang saya punya. Untuk perempuan secantik kamu, sayap ini akan mengantarmu kemanapun yang kamu mau.”

“Apakah ia sanggup membawaku terbang?” Kata si pengelana ragu melihat sayap kecil itu. “Jangan melihat dari bentuknya, mari dicoba dulu. Saya akan membantumu memasangnya.” Kata si penjual sambil membantu menempelkan sayap di punggung si pengelana.
“Cantik sekali.” Kata pengelana itu sambil berkaca di kaca lentera yang menerangi toko itu. “Coba kepakkan.” Kata sang penjual. Oh oh oh, tapi apakah yang terjadi? Sekali gerak ternyata sayap itu mengepak begitu cepat. Amat sangat cepat sehingga si pengelana tidak dapat mengendalikan arah terbangnya. Dan ia pun terbang tanpa tentu arah di dalam toko dan mengacaukan segalanya. Untung si penjual dengan sigap bisa menangkapnya dan segera melepaskan sayapnya.

Akhirnya si pengelana pun dengan berat hati meninggalkan toko tersebut. Hari sudah malam dan gelap. Ia tidak memiliki sayap sehingga ia tidak mampu terbang untuk pulang. Akhirnya ia pun berjalan pelan, tertatih-tatih dengan kedua kaki kecilnya. Di ujung jalan, tampak seberkas cahaya. “Mungkin aku bisa bermalam di sana.” Katanya.

Ternyata cahaya tersebut datang dari lampu lentera sebuah toko penjahit. Di dalamnya ada seorang penjahit muda yang masih terus menjahit hingga larut malam. “Bolehkah saya bermalam di sini?” Tanya si pengelana. Sambil terus menjahit, ia pun menjawab “Saya tidak melarang.” Mendengar jawaban itu akhirnya si pengelana pun tertidur di atas lantai. Melihatnya si penjahit merasa begitu iba. Lalu diselimutkannya si pengelana dengan sayap-sayapnya yang patah.

Matahari yang hangat pun muncul menyapa di keesokan harinya. “Kamu mau kemana?” Kata si penjahit. “Bertahun-tahun aku mencari pengganti sayapku yang patah, tapi tidak pernah menemukan yang pas untukku. Apakah kira-kira kamu tahu dimana aku bisa mendapatkannya?” Sang penjahit hanya menggeleng sambil terus menjahit. “Aku tidak tahu. Tapi, … mungkin aku bisa membantumu.” “Bagaimana caranya?” Tanya si pengelana. Lalu si penjahit pun beranjak dari kursinya dan menghampiri si pengelana. “Mana sayapmu?” Katanya. Lalu sang pengelana pun memberikan sepasang sayapnya. “Aku akan membantumu.” Katanya lalu kembali ke tempat duduknya untuk menjahit kembali.

Sejak hari itu, si pengelana tinggal bersama si penjahit. Setiap hari, si penjahit dengan sabar menyambung satu demi satu tulang-tulang sayapnya yang patah dan menyulam helai demi helai bulu sayapnya. Dan dengan sabar, si pengelana pun menahan rasa sakit saat setiap tusuk jarum menembus kulitnya.

Hari berganti bulan berganti tahun. Si pengelana kini telah memiliki kembali sayapnya yang kuat dan indah. Luka jahitannya telah sembuh dan ia telah bisa mengepakkan kembali sayap-sayapnya. “Selamat jalan.” Kata si penjahit. Si pengelana tertawa “Kalau kamu mungkin yang terbaik yang bisa membuatku pulang, kenapa aku harus terbang?” Kata si pengelana sambil tersenyum.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

love is love. marriage is another thing.

of all the things I ever wondered, ... I think I never wonder whom my kids will be married to. or to picture myself holding grand babies. not just a not yet, I think it is simply too hard to bear and too absurd to think of. but then I promise myself. I promise I will not ever push titan and luna to get married or even if they are married; I will not ask them when to have kids.

many times I wondered that marriage is overrated. and the only reason to get married is not love, but to realise life is too hard to bear when you are all alone. because, however, marriage is a conditional love. hubby once said, marriage is not all fancy and glitter. the lowest it can get is, to keep functioning and it will survive. how both parties can be functional one to another, is another story.

to ariawan, a guy of mine,
the one who always wake me up from my princessy dreams. love you.



Three hours late.

2 AM and I stepped in to the house. Hubby was waiting for me. This was not the first time, and not the latest hour I had ever experienced with over time.

"See you soon Bunda. Or at 8, or at 9, or at 10, or at 11 like you said you would be late." Said my son.

I smiled as I entered the house. I smelled home. I saw my beautiful mess. As I picked up some toys on the floor, I imagined what games the kids had played today. There was a drawing, mini ceramics pots, not too chaotic for kids who were left with nini and aki without nannies.

I also saw their time tables, with some check marks on the list. Those that they weren't checked was the responsibility to wash their own dishes. I saw some dirty cups piling up. I saw the microwave's door left half-opened, a baking sheet and a knife. I wonder what they have cooked.
I also saw minecraft was in active window and some search on youtube and google.

Getting home in this hour and not seeing their faces but seeing all the mess the…

Life. Just like what I wanted.

Tiga belas bulan yang lalu, saya memutuskan untuk kembali bekerja setelah 2,5 tahun jadi freelance (tapi lebih banyak free-nya sih hahaha). Satu-satunya yang bikin saya merasa harus bekerja ya cuma Apple. Sisanya, banyak project yang saya tolak-tolakin karena males aja sih intinya. Belaguk bangetlah pokoknya.

Setelah merasa udah nggak produktif lagi di rumah, otak berasa tumpul dan rasa percaya diri udah nyungsep, saat itulah saya terima tawaran untuk kembali ke advertising. Banyak yang nyinyir sih, menganggap industri itu gelap banget dan ngapain udah enak-enak di rumah kok ya balik ngantor. Alasannya cuma satu: bosen di rumah.

Enggak tahu hal baik apa yang telah saya lakukan dalam hidup, ternyata saya dianugerahi tim yang baiiiiik banget. Anaknya manis-manis, good attitude dan yang paling penting; penuh tanggung jawab. Saya ngerasa banyak belajar dari mereka. Mulai hal baru di luaran sana sampai cara pakai krim mata. Enggak sedikit juga kesedihan yang kita tanggung bareng-bareng, da…