Thursday, 25 October 2018

Cinta itu, terkadang, adanya di perut

hulo!

gilaaaaa, sudah lama sekali nggak blogging. Much of people (I mean my friends) start podcasting and I am not so confident to do it, might as well let's go back to blog aja deh yaaaa. Udah lama juga nggak sharing, baru ada 2 post tahun ini. Oh my! Maaf ya teman-teman (ih, kaya banyak yang baca aja sih yaaa) hahaha....

so,
mau sharing apa kali ini?

hmmm,
sebenernya udah lama sih pengen cerita tentang aktivitas baru yang kira-kira berawal di bulan puasa tahun ini. Jadi memang baru beberapa bulan aja sih. Sampai akhirnya film Aruna dan Lidahnya released. Trus saya kecewa gitu sama filmnya. mungkin over expectation. secara ya, fans berat NS hehehe. sayang sih, ... sayang banget. Tapi bukan filmnya yang mau dibahas. Yang mau dibagi adalah cerita saya tentang betapa makanan yang dihasilkan oleh dapur di rumah; bisa menumbuhkan asa atau harapan baru dalam sebuah hubungan.

rumah ini berdiri tahun 2006, setahun sebelum titan lahir. tapi baru tahun ini, si ibu dan dapurnya bisa memproduksi makanan rumahan sendiri secara rutin, setiap hari. lebih tepatnya, mau memproduksi makanan rumahan sendiri. kalau cuma 'bisa' sih, dari dulu juga bisa. tapi kalau 'mau' sepertinya lebih ada muatan niat dan effort. niat dan effort itu, tentunya akan lebih besar kalau ada motif.

as we all know ya, gak ada yang namanya pernikahan yang udah lebih dari 10 tahun akan tetap membara seperti di awalnya. pasti cuma ada di instagram. kalau sekolah tiap tahun ada naik kelasnya, harusnya pernikahan juga ada dong ya. masa gitu-gitu aja. dalam kasus saya, masa masih juga nggak masakin suami dan anak-anak? sementara, di masa kecil saya (bahkan hingga saat ini), hidup saya dimanjain sama masakan ibu nini yang luar biasa tak tergantikan lezatnya. lalu kapan giliran suami dan anak-anak saya? selain weekend tentunya.

niatan ini juga didorong oleh obrolan ringan di saat sahur bersama seorang klien saya. ih, males banget ya hang-out sahuran? hahaha, tenang, ini semua karena shooting! klien saya itu perempuann dan belum menikah, tapi dia bercerita bagaimana seorang temannya di kantor bisa menjadi ibu bekerja dengan mudah. ia cerita bagaimana temannya ini berlangganan delivery sayuran ke kantor, setiap hari. trik si ibu sih sebenarnya biasa aja ya. tapi cara klien saya itu bercerita, saya jadi terinspirasi sekaligus kesentil.

ya iya juga sih. what's stopping me?

Lalu pelan-pelan, saya mulai berteman sama tukang sayur yang lewat depan rumah setiap hari. Awalnya masa kapa aja yang ada di gerobaknya. Lama-lama mulai minta nomor telfon, trus pesan bahan mentah yang saya mau dan dia antarkan keesokan harinya.

Lalu saya mulai tanya-tanya teman, tukeran inspirasi menu mingguan. Tukeran resep, tips and trick gimana supaya masak pagi lebih efektif. Gimana kalau shooting pagi, makanan apa yang cocok untuk dimasak malam sebelumnya dan masih tetap enak keesokan harinya.

Awalnya saya masak sepulang kantor. Untuk makan malam, dan masak batch 2 untuk keesokan harinya. Masakan batch 2 ini sih biasanya bikin base-nya aja. Seperti masak kaldu sup, jadi besok anak-anak tinggal cemplungin sayur-sayurnya aja yang sudah saya siapin. Atau, masak ungkep ayam / daging atau bikin tempe bacem. Atau juga bumbuin ayam tepung, jadi anak-anak bisa minta tolong mbak untuk gorengin kalau sudah mau makan.

Beberapa bulan lancer tuh dengan ritme seperti itu. Jadi saya bobo agak malam, dan bangun pagi santai-santai. Toh berangkat ke kantor juga baru jam 9 pagi.

Tapi tiba-tiba, suami sibuk cari-cari lunch box di tokopedia. Wah, saya deg-degan. Ternyata bener aja, dia berniat untuk membawa makan siang sendiri hahaha… ya kalo siapin makan siang kan berarti ai harus bangun pagi juga anyway, kaaaaaaan hahaha!

But then I take it as … he loves my cooking. Suami juga bukan tipe yang pergi makan siang keluar kantor. Lebih suka makan di tempat kerja, secepatnya, seperlunya, sambil lanjut kerja.

Jadi, akhirnya, ritme hidup saya mulai seperti ibu-ibu lainnya. Seperti juga sahabat-sahabat saya yang lain. Bangun lebih pagi untuk siapin makan pagi dan sekaligus masak untuk keseluruhan hari itu.

Trus, ada perubahan yang terjadi gak setelah saya masak sendiri buat suami dan anak-anak?

Much as cliché as an ad commercial, tapi bener sih. Kayanya kedatangan saya pulang ke rumah lebih ditunggu-tunggu. Anak-anak lebih respect sama setiap makanan yang saya buat. Saya jadi lebih dekat lagi sama suami. Group persahabatan lebih rame dengan hal-hal essential dan lebih supportif, encouraging untuk bisa bikin masakan yang lebih variative lagi. Dan luna, jadi senang masak ngeliatin ibunya. Udah bisa iris bawang merah tipis tanpa buraian air mata. Yang lebih senang lagi sih, karena saya bisa jadi contoh yang dia liat dan dia kerjain sendiri.

Jadi bener ya. Terkadang, cinta itu adanya di perut.





Saturday, 11 August 2018



This is: marriage after kids



Maybe it feels like there is less time now
For date nights
Romance
... or each other

When there is little one to feed, love and care for
Part of you might miss before
But there is strength in these changes
and vulnerability to find each other
And if you know where is to look
there romance is still there

It's in the quiet early morning hours
before the kids wake
It's in the care you take
It's in the way your partner looks at your child
and the way you see them parent
and try to be better each day






Monday, 1 January 2018

2017: what dad says about being a father

Banyak anak, banyak rejeki kata orang-orang. Ya rejeki anak.
Kalau ada seorang bapak yang tidak menafkahi anaknya, maka celakalah ia. Karena sebagian dari harta yang ia makan atau simpan, adalah harta anaknya.

Bersyukur. Yang banyak.

Jadi orang jangan terlalu pilih-pilih. Makan yang ada. Kerjakan yang ada. Enggak usah baru mau kerja kalau begini dan begitu. Inshaa Allah, kalau dimulai kerjaan yang enggak enak berujung dengan kerjaan yang lebih enak. Daripada menunggu dapat kerjaan enak.

Bekerjalah. Anak-anak harus melihat bagaimana orang tuanya bekerja.