Skip to main content

Undangan

Ada saatnya dimana undangan yang kita hadiri hanyalah undangan-undangan ulang tahun teman yang penuh balon dan permainan mencari tempat duduk. Dimana kita berebut duduk melingkar menyisakan satu orang yang tidak akan mendapatkan kursi, dan dialah yang terhukum untuk menyanyi. Acara rebutan kursi itu, kayanya acara yang paling sederhana dan umum dilakukan. Nah, terus, ada lagi nih acara yang paling top deh di masa itu. Yaitu adalah, kalau si yang ulang tahun pake acara manggil badut di pesta ulang tahunnya. Mulai berbagai macam trik sulap atau bisa ngelawak sambil bagi-bagi hadiah. Seumur-umur saya sekolah di SD tahun lapan-puluhan, baru sekali deh dateng ke ulang tahun yang ada badutnya. Karena menginjak kelas empat atau lima, trend-nya adalah traktir di Es Teler 77 yang waktu itu lagi booming banget.

Kemudian dateng deh masanya kita sibuk menghadiri undangan kawinan. Ya kawinan sodara, kawinan temen-temen dan di masa-masa itu enggak jarang juga diselingi dengan tugas dadakan untuk jadi pagar ayu atau pagar bagus di acara mereka. Gengsi pernikahan tentunya terletak pada lokasi resepsi dan jenis catering yang digelar, beda sama kawinan jaman dulu dimana gengsi berada pada siapa tamu yang diundang. Biasanya ditulis tuh di undangan, turut mengundang: yada yada yada yada. Yang menarik juga dari masa-masa ini adalah, adalah dimana kita saling melirik dan membuat catatan kecil dari masing-masing resepsi yang (nantinya) bisa jadi referensi kalo kita juga gelaran kawinan. Yekaaaaaaan?

Setelah (akhirnya) kita menikah, tiba juga masanya menggelar pesta ulang tahun buat anak kita atau ikut menghadiri pesta ulang tahun anaknya temen atau sodara.

Alhamdulillah, semua masa itu sudah dilalui. Undangan ulang tahun anak-anak kayanya agak jarang sih. Mungkin karena keluarga kami bukan tipe yang ceremonial. Begitu juga dengan teman-teman. Dari sekian lama persahabatan, paling cuma sekali atau dua kali ulang tahun anak-anaknya dirayain.
Malah, sekarang-sekarang ini lagi agak sering datang ke acara tanpa diundang dan tanpa undangan resmi. Dimana disitu kita juga biasa ketemu teman-teman dan sodara-sodara. Iya, menghadiri pemakaman.

Setiap pemakaman pasti meninggalkan kesan bahwa suatu saat nanti, kita pasti akan berada di posisi yang ditinggalkan atau meninggalkan, dan juga menyisakan satu pertanyaan besar yang selalu kita pertanyakan dalam hidup: trus gimana kelanjutan kehidupan kita tanpanya? Atau, gimana kalau justru kita yang duluan?

Bahasan tentang kematian kayanya memang jadi bahasan yang kita hindari untuk diobrolin sama anak-anak kita. Karena terasa tabu, karena terasa jauh, karena tidak ingin kejadian, karena nggak enak aja untuk dibahas karena mungkin kita enggak tahu harus menjawab apa kalau mereka nanya-nanya di luar perkiraan. Banyak alasan untuk enggak ngebahas kematian sama anak-anak. Padahal, ... kayanya lebih banyak lagi dari kematian yang perlu dibahas dengan mereka.

Jujur saya enggak tahu harus mulai darimana sih; kalau misalnya harus dengan sengaja membahas kematian sama anak-anak. Jadi, paling ngebahasnya sambil lalu aja. Misalnya, kalau lagi ngebahas soal tanggung jawab.

"Kamu harus bisa sendiri, nanti kalau suatu hari Bunda enggak ada; kamu harus bisa melakukannya sendiri."

'Enggak ada' kan artinya bisa banyak ya. Mungkin lagi di kamar mandi, mungkin lagi ke kantor, mungkin lagi ke luar kota, bukan hanya berarti enggak ada yang satu itu aja hahaha. Tapi paling tidak, kita mulai menyebutnya di depan anak-anak. Enggak perlu sampai dibahas dulu deh ya. Saya percaya bahwa pembahasan tentang ketidakberadaan kita suatu hari nanti, harus dibahas sama anak-anak. Tentunya sesuai pola pikir mereka. Dan tentunya, jadi orang tua juga harus berani bahas sih.

Eaaaaa, nambah PR lagi yes?
Smangkaaaaaaaa!








Comments

Popular posts from this blog

love is love. marriage is another thing.

of all the things I ever wondered, ... I think I never wonder whom my kids will be married to. or to picture myself holding grand babies. not just a not yet, I think it is simply too hard to bear and too absurd to think of. but then I promise myself. I promise I will not ever push titan and luna to get married or even if they are married; I will not ask them when to have kids.

many times I wondered that marriage is overrated. and the only reason to get married is not love, but to realise life is too hard to bear when you are all alone. because, however, marriage is a conditional love. hubby once said, marriage is not all fancy and glitter. the lowest it can get is, to keep functioning and it will survive. how both parties can be functional one to another, is another story.

to ariawan, a guy of mine,
the one who always wake me up from my princessy dreams. love you.



Three hours late.

2 AM and I stepped in to the house. Hubby was waiting for me. This was not the first time, and not the latest hour I had ever experienced with over time.

"See you soon Bunda. Or at 8, or at 9, or at 10, or at 11 like you said you would be late." Said my son.

I smiled as I entered the house. I smelled home. I saw my beautiful mess. As I picked up some toys on the floor, I imagined what games the kids had played today. There was a drawing, mini ceramics pots, not too chaotic for kids who were left with nini and aki without nannies.

I also saw their time tables, with some check marks on the list. Those that they weren't checked was the responsibility to wash their own dishes. I saw some dirty cups piling up. I saw the microwave's door left half-opened, a baking sheet and a knife. I wonder what they have cooked.
I also saw minecraft was in active window and some search on youtube and google.

Getting home in this hour and not seeing their faces but seeing all the mess the…

Life. Just like what I wanted.

Tiga belas bulan yang lalu, saya memutuskan untuk kembali bekerja setelah 2,5 tahun jadi freelance (tapi lebih banyak free-nya sih hahaha). Satu-satunya yang bikin saya merasa harus bekerja ya cuma Apple. Sisanya, banyak project yang saya tolak-tolakin karena males aja sih intinya. Belaguk bangetlah pokoknya.

Setelah merasa udah nggak produktif lagi di rumah, otak berasa tumpul dan rasa percaya diri udah nyungsep, saat itulah saya terima tawaran untuk kembali ke advertising. Banyak yang nyinyir sih, menganggap industri itu gelap banget dan ngapain udah enak-enak di rumah kok ya balik ngantor. Alasannya cuma satu: bosen di rumah.

Enggak tahu hal baik apa yang telah saya lakukan dalam hidup, ternyata saya dianugerahi tim yang baiiiiik banget. Anaknya manis-manis, good attitude dan yang paling penting; penuh tanggung jawab. Saya ngerasa banyak belajar dari mereka. Mulai hal baru di luaran sana sampai cara pakai krim mata. Enggak sedikit juga kesedihan yang kita tanggung bareng-bareng, da…