Skip to main content

Month 2 Day 5

Ternyata, 
cuma butuh waktu 2 bulan 5 hari 
untuk bisa bikin mengumpat lagi ha ha ha! 

Dulu, saya sering banget mengumpat. Mulainya sih pas udah kerja aja, saat udah merasa cukup 'gede' untuk nunjukin kuasa. Sebenernya sih karena jadi terbiasa aja, karena teman-teman suka mengumpat jadilah suka ikut mengumpat. Apa aja yah kata-kata umpatan saya ...
Tae, ah!
Kampret!
Dammit!
Shit!
Bencong!

Ya, ... mayan banyak ya ternyata.

Kalau saya bisa ingat kapan mulai suka mengumpat, saya juga ingat kapan mulai menghentikan kebiasaan jelek itu. Gara-garanya, pas ketemu ariawan setelah dia pulang dari pergi jauh. Sampai akhirnya kita menikah, cuma dia yang selalu ingetin saya kalo swearing itu nggak baik dan dia nggak suka sama orang yang suka mengumpat. Kadang suka defense sih, bahwa umpatan-umpatan saya itu cuma ekspresi, bukan maksutan untuk menyumpahi. Bahkan bos-bos expat di kantor pun sering banget shat shit shat shit dan fak fuk fak fuk sama orang. Tapi terus dia cerita, seumur-umur dia kerja dan sekolah di sana-sini, belum pernah dia temui orang bule yang ngasal shat shit shat shit atau fak fuk fak fuk sama orang. Karena kata kata effin' itu udah tingkatan yang sangat tidak sopan, dan yang ngomong kata itu pun dipertimbangkan sebagai orang yang tidak berpendidikan.

Lah, terus? Apa cuma orang iklan aja ya, yang menganggap fak fuk shat shit itu biasa? Is it a trend, maybe? Biar dibilang kekinian? Atau biar dibilang orang bebas?

Yang jelas sih saya sempat berhenti mengumpat. Ndelalah kok ya cuma butuh waktu 2 bulan 5 hari untuk mengumpat lagi di depan suami gegara arloji saya pecah karena si mas yang mengganti baterai enggak bener kerjanya.

Bangke! Kata saya.
Pak suami langsung ngeliatin.

Oops!




Comments

Popular posts from this blog

love is love. marriage is another thing.

of all the things I ever wondered, ... I think I never wonder whom my kids will be married to. or to picture myself holding grand babies. not just a not yet, I think it is simply too hard to bear and too absurd to think of. but then I promise myself. I promise I will not ever push titan and luna to get married or even if they are married; I will not ask them when to have kids.

many times I wondered that marriage is overrated. and the only reason to get married is not love, but to realise life is too hard to bear when you are all alone. because, however, marriage is a conditional love. hubby once said, marriage is not all fancy and glitter. the lowest it can get is, to keep functioning and it will survive. how both parties can be functional one to another, is another story.

to ariawan, a guy of mine,
the one who always wake me up from my princessy dreams. love you.



Three hours late.

2 AM and I stepped in to the house. Hubby was waiting for me. This was not the first time, and not the latest hour I had ever experienced with over time.

"See you soon Bunda. Or at 8, or at 9, or at 10, or at 11 like you said you would be late." Said my son.

I smiled as I entered the house. I smelled home. I saw my beautiful mess. As I picked up some toys on the floor, I imagined what games the kids had played today. There was a drawing, mini ceramics pots, not too chaotic for kids who were left with nini and aki without nannies.

I also saw their time tables, with some check marks on the list. Those that they weren't checked was the responsibility to wash their own dishes. I saw some dirty cups piling up. I saw the microwave's door left half-opened, a baking sheet and a knife. I wonder what they have cooked.
I also saw minecraft was in active window and some search on youtube and google.

Getting home in this hour and not seeing their faces but seeing all the mess the…

Life. Just like what I wanted.

Tiga belas bulan yang lalu, saya memutuskan untuk kembali bekerja setelah 2,5 tahun jadi freelance (tapi lebih banyak free-nya sih hahaha). Satu-satunya yang bikin saya merasa harus bekerja ya cuma Apple. Sisanya, banyak project yang saya tolak-tolakin karena males aja sih intinya. Belaguk bangetlah pokoknya.

Setelah merasa udah nggak produktif lagi di rumah, otak berasa tumpul dan rasa percaya diri udah nyungsep, saat itulah saya terima tawaran untuk kembali ke advertising. Banyak yang nyinyir sih, menganggap industri itu gelap banget dan ngapain udah enak-enak di rumah kok ya balik ngantor. Alasannya cuma satu: bosen di rumah.

Enggak tahu hal baik apa yang telah saya lakukan dalam hidup, ternyata saya dianugerahi tim yang baiiiiik banget. Anaknya manis-manis, good attitude dan yang paling penting; penuh tanggung jawab. Saya ngerasa banyak belajar dari mereka. Mulai hal baru di luaran sana sampai cara pakai krim mata. Enggak sedikit juga kesedihan yang kita tanggung bareng-bareng, da…