Skip to main content

The hardest part

Ngerasain sakitnya kontraksi 26 jam, checked.
Ngerasain dikhianatin, checked.
Ngerasain ditinggalin, checked.
Ngerasain dibohongin anak sendiri, trust me it hurtssss! (walaupun cuma soal kecil), checked.

Satu momen yang paling susah buat saya, dan mungkin juga para ibu lainnya, adalah memberitakan sebuah kematian pada anak. Apalagi kalau yang meninggal itu tak lain adalah keluarga dekat.

Eyangnya Titan memang sudah agak lama dirawat di rumah sakit. Kita sempat menjenguk beberapa kali. Salah satunya hari kamis itu. Sebuah telfon memberitakan keadaan kritis eyang. Air mata langsung menetes sambil bergumam "Yah, bapak...."

Ternyata, aku kalau lagi panik begitu benar-benar enggak bisa mikir. Totally blank. Segera menelfon taksi dan ke sekolah untuk jemput Titan. Sampai di ruang administrasi pun mata masih basah dan mulut masih terbata-bata memberitakan "Mau jemput Malicca, 2/3 B, family issue. Eyangnya koma."
Petugas administrasi pun langsung berubah air mukanya. Langsung ditelfon sang wali kelas dan saya pun berhambur ke lantai dua untuk segera menjemput. Sampai di ruang kelas, ternyata titan masih sholat.

Di taksi, Titan masih ngoceh panjang kali tinggi kali lebar. Sementara mata udah sembab banget, mau ngomong juga susah. Akhirnya, saya ngomong juga.

Titan, you know that eyang is sick right?
Well, today we are going to see him because his condition got worse. We don't know whether he will survive or not. But we have to be there to see him. To pray for him and to give him a great spirit to live and we need to be ready for the worst. 

Iya, ngomong serius itu emang lebih enak pakai bahasa inggris ya.
Lebih  singkat dan rasanya enggak sakit-sakit amat.

Titan cuma diam. Alih alih dia malah bertanya, kenapa orang menciptakan rokok. Kenapa orang harus merokok. Dan saya malah menjelaskan bagaiman sejarahnya ditemukan teh oleh kaisar Cina. Mungkin, mungkin ya, itu cara kami menutupi kesedihan.

Sesampainya di rumah sakit, Titan langsung sibuk bermain dengan ayahnya. Somehow, tanpa harus dikatakan, mereka  sedang berbagi sedih. Saling berada bersisian tampaknya sudah menjadi semangat besar buat keduanya.

Dua hari kemudian. Berita itu datang.

"Maafin bapak ya. He is in a better place now."

Tidak seperti dua hari yang lalu, kali ini aku enggak bisa nangis. Sibuk memikirkan bagaimana caranya ngasih tau Titan. Kebetulan Titan lagi ngaji, jadi aku punya waktu agak banyak untuk berpikir. Rencananya kami memang mau ke Rumah Sakit lagi sore ini untuk jenguk eyang. Tapi ternyata kami malah harus ke rumah duka.

Setelah ngaji, Titan bersiap-siap untuk mandi. Dia tahu, dia mau pergi ke rumah sakit dan kelihatan enggak sabar. Akhirnya, saya hampiri dia. Mungkin ini saat yang tepat. Buat saya, berada di bawah pancuran yang hangat bisa mengangkat luka dan pedih di hati walaupun sedikit. Jadi saya pikir, mungkin hal ini juga bisa berlaku buat titan. Sambil melucuti bajunya, saya peluk dia kuat-kuat.

"Titan, kita perginya enggak jadi ke rumah sakit tapi ke rumah eyang di depok. Karena eyang sudah  pulang ke rumah. Eyang udah enggak ada, Tan. Eyang sudah meninggal. Titan sabar ya."

Titan cuma mengangguk.

Saya lalu keluar kamar mandi membiarkan dia sendiri.
Kok aneh, responnya cuma gitu aja. Pikir saya.

Lalu kita pun berangkat ke rumah duka. Sampai sana saya ajak titan berdoa. Neni (neneknya) mengajak titan untuk melihat wajah eyang untuk terakhir kalinya. Untuk sesaat, tenggorokan saya tercekat.  Tiba-tiba semua gambar berlari mundur di kepala saya. Untung sahabat kami, Tata dan Patria datang dan saya pun teralih.

Sampai rumah, saya menemani Titan tidur. Hanya kami berdua di kamar. Lalu saya bertanya.
"Kenapa Titan enggak menangis? It's okay to cry. I am sad too."

Seketika itu tangis saya meledak. Juga dia. Kami menangis bersama, berpelukan.
Ada rasa sesal, rasa sedih, dan berjuta ingin yang menyembur dari hati.
Kepala Titan ajrut-ajrutan di dada saya yang memeluknya dengan erat.
Enggak banyak ngomong, kamu berdua cuma menangis.
Setelah itu, titan tampak lebih tenang. Lalu ia tertidur.
Saya buka halaman-halaman buku sketchnya. Terpampang gambar eyang, beserta tanggalnya. Sepertinya, digambar sore tadi selepas mandi.

Detik itu saya menyadari, bahwa titan anak yang introvert.
Jauh dari bayangan saya selama ini, bahwa dia adalah anak yang terbuka dan easy going.

*Peluk Titan*


Bulan november kali ini terlalu basah

Comments

Popular posts from this blog

Life. Just like what I wanted.

Sounds so snobbish ya, saying life is just like what I wanted. But then I realized, semua itu karena emang aku enggak pengen apa-apa. Sekarang juga (ternyata) masih begitu. Dulu emang I treat my life like a blue print. Things to do piling up my list and my aims were to accomplish them. Alhamdulillah, semua tercapai. Tapi kemudian seperti ada titik tolak dalam hidup yang bikin  berhenti ingin terlalu banyak dari hidup. Entah karena merasa udah cukup banyak pencapaian pribadi baik yang bagus atau yang buruk, entah karena pernah kecewa berat sama yang namanya manusia atau karena alasan klise yang digadang-gadang semua manusia: anak.

Sekarang ini, lebih banyak menyambut apa yang datang ke dalam hidup. Termasuk, kembali ke agency lagi. Having thought that I am not some kind of 'Man in a mission' kind of person. I am just an 'I will do my best' of what comes in front of me kind of person.

Gini ceritanya.

Tiga belas bulan yang lalu, saya memutuskan untuk kembali bekerja setel…

Let's cut the crap from the question of Which Mom Are You?

A few years back, social media was being fussy about working mom versus stay at home home. What a nonsense brag! Since I went through both and also had a chance of being a working-from-home mom, it is even more ridiculous for me. Only stupid have a time discussing it and to elaborate on their social media status. Whoever we are, what kind of mom we are, what matters most is how we can make our life productive and progressing. Every single day.

Different mom has different ways of being productive. Some goes to work. Some clean up and cook for the family. Some works at home by selling stuffs online or being a freelancer. Productive means to produce something. Be it money, the foods, you name them all. But the question is, is productive enough? How about having a progressing life? Not as the wife of Mr. Blabla or as the mom of kid Zubidudamdam. But us, as a person. Me, as Wury; a 38 years old woman and how far I have made progress in  my life.

BUT. Let alone of being progressive, ... ar…

love is love. marriage is another thing.

of all the things I ever wondered, ... I think I never wonder whom my kids will be married to. or to picture myself holding grand babies. not just a not yet, I think it is simply too hard to bear and too absurd to think of. but then I promise myself. I promise I will not ever push titan and luna to get married or even if they are married; I will not ask them when to have kids.

many times I wondered that marriage is overrated. and the only reason to get married is not love, but to realise life is too hard to bear when you are all alone. because, however, marriage is a conditional love. hubby once said, marriage is not all fancy and glitter. the lowest it can get is, to keep functioning and it will survive. how both parties can be functional one to another, is another story.

to ariawan, a guy of mine,
the one who always wake me up from my princessy dreams. love you.