Monday, October 12, 2015

Halo, Oktober!

Oktober baru dua belas hari berlalu.
Tapi, hati dan kepala rasanya berisi banget.
Alhamdulillah.


Yet I complained still. 

Beberapa minggu lalu kembali 'bertemu' dengan teman lama waktu kos jaman kuliah dulu. Anak psikologi '96. Dia menikahi cowok yang dulu dia pacarin yang sekarang lagi sekolah di luar negeri. Sambil nemenin suaminya bikin desertasi, temen saya itu nyambi kerja jadi social worker. Tugasnya, menjadi konselor para pencari suaka.

Awalnya saya enggak peduli sama sekali soal para pencari suaka menyuaka ini. Kadang malah jadi suka becandaan betapa ingin saya mendaftar mencari suaka ke luar negeri. Anything out of Indonesia. Tapi setelah mendengar ceritanya, jadi kasihan sekali rasanya. Terhadap si pencari dan juga terhadap teman saya; yang harus mendengarkan kisah-kisah sedih setiap hari. Dia bilang, pulang dari kantor rasanya sudah kering sekali. Emotionally drained.

Yeah, I feel you. Saya cuma bisa bilang begitu.

Para pencari suaka itu menjual harta di tanah airnya, uangnya dipakai untuk migrasi. Biasanya nemplok dulu ke negara tetangga terdekat dan mendapat label 'refugee'. Salah satu dari mereka, berlayar ke negara tujuan dengan harapan bisa bekerja, mendapatkan status permanent resident baru kemudian membawa serta keluarganya. Tapi semua itu memakan waktu yang tidak sebentar, bisa sepuluh tahunan bahkan lebih. Terbayang keluarganya di negara transit dengan label refugee yang ternyata kelaparan, tidak sekolah dan seringkali menjadi korban penculikan (human traffic-ing) dan perkosaan.

Setiap hari teman saya itu bercerita lewat whatsapp, betapa hampir semua pencari suaka itu senang bisa mampir selamat di Indonesia (sebelum melanjutkan lagi perjalanan ke Australia). Karena semua orang Indonesia yang dia temui baik-baik. Beda sekali dengan status teman-teman saya di FB (atau status saya juga) yang seringnya menjelek-jelekkan bangsa sendiri atau memprotes pemerintahan.

Tuhan begitu baik, mempertemukan saya kembali dengan Clara. Nama teman saya.
Hari-hari

Parent instinct, a detour. 

Empat hari sebelum berangkat liburan, tiba-tiba La Luna panas lagi. Seperti biasa, 40 derajat. Ibuprofen anal sudah sempat masuk 1 butir sebelum besoknya kita bawa ke dokter.

Kali ini dokter baru. Udah lama sih dengar nama dokter ini, dokter Waldi. Tapi baru sekarang benar-benar berkeinginan untuk pay a visit karena penasaran kenapa Luna jadi sering sakit tapi dokter keluarga kita masih anteng-anteng aja.

Masalahnya sih ternyata simpel, cuma kena virus common cold aja (walaupun enggak ada gejala batuk-pilek-diare-muntah) dan itu pasti tertular dari orang lain. Ndelalah dokter waldi ternyata kenal dengan dokternya Luna (dan Titan). Menurut dia, mungkin karena dokter itu terlalu lama di perina rscm dan bergaul bersama bayi. Buat bayi, panas 40 derajat memang sangat membahayakan, tapi tidak untuk anak-anak. Jadi selama ini treatment yang kita lakukan adalah, menunggu panas hingga 3 hari dan selalu berujung cek lab. Bahkan saya seringkali memaksa cek lab di hari 1 karena cek NS-1 (untuk mendeteksi DBD) paling efektif dilakukan di hari-1 dan ke-3. Saat lab berkata leukosit tinggi, masuklah antibiotik. Selalu begitu selama beberapa bulan terakhir.

Dokter waldi geleng-geleng kepala aja melihat riwayat antibiotik Luna yang sudah pindah tiga tingkatan dalam 5 bulan terakhir. Kita lalu disuruh pulang dan meneruskan parasetamol bila perlu (saat Luna mencapai panas 39). Kali ini kita dipaksa untuk tidak melakukan cek darah dan lebih mempercayai insting orang tua. Jika panas mencapai 40 atau lebih, disarankan untuk berendam air hangat. Sesering mungkin pun boleh. Pulang dengan perasaan lebih lega, cuma lebih repot aja siapin air hangat. Rendam. Siram-siram. Handukin, bajuin. 10 menit kemudian rendam kembali, siram-siram lagi. Handukin, bajuin. Gitu terus, tengah malam sekalipun. Oh iya, sanmolnya diganti tempra. Amazing, bekerja lebih cepat. Hahahaha, ya wajar sih. Dalam per 5ml sanmol hanya terkandung 120mg parasetamol. Tapi dalam 5ml Tempra terkandung 160g parasetamol. No more ibuprofen karena sangat berbahaya kalau panasnya ternyata karena DBD.

Dua hari kemudian, Luna sembuh. Total panas demam 4 hari. Liburan sempat digeser sedikit dan setelah Luna sembuh pun kita berangkat. Alhamdulillah, enggak ada keluhan apa-apa.
Beberapa kemudian, saya berteman dengan dokter waldi di facebook. Sebelum diapproved, dia tanya dulu apakah pernah kita bersua.

"Pernah dong dok, dokter yang ngajarin Luna rendeman kalau panas." saya bilang.
And I made another friend on Facebook.

:)


No comments:

Post a Comment

Let's cut the crap from the question of Which Mom Are You?

A few years back, social media was being fussy about working mom versus stay at home home. What a nonsense brag! Since I went through ...