Saturday, October 24, 2015

Goin' frugal?

Beberapa tahun terakhir ini frugal living lagi gencar lagi. Kalau di tahun delapan puluhan orang jadi kreatif soal musik dan gaya, sekarang ini orang jadi lebih kreatif dalam soal hasta karya dan kebutuhan rumah tangga. Mulai dari home decor, montessori at home dengan segala aktivitas sensorialnya untuk kebutuhan mem-PAUDkan anak di rumah, sampai ke soal jahit menjahit pakaian. Terima kasih sama website-website seperti Pinterest, Instructibles dan semacamnya.

Enggak bisa dipungkirin lagi, kalau hidup memang semakin sulit. Perekonomian lagi berat, bukan cuma di Indonesia aja. Industri oil and gas yang kayanya untouchable aja, sekarang lagi PHK besar-besaran. Lucunya, kalau cerita-cerita soal tips-tips DIY sama nyokap; dia suka ketawa karena tips-tips itu udah ada sejak dia kecil dulu. Jamannya baju bikin sendiri, persis kaya kaya sekarang. Bedanya, kalau sekarang orang mulai PeDe untuk menjual hasil karya mereka. Sekarang, orang mulai pintar berjualan. Terima kasih pada teknologi :)

Lantas, apa hidup kita jadi susah-susah amat gitu? Kayanya enggak juga sih. Paling enggak, tidak sesulit jaman ibu saya kecil dulu. Walaupun, prosentase persediaan liquid cash menjadi lebih sulit karena sekarang semua berbentuk barang. Dalam artian, harga sekarang ampun-ampunan naiknya.

Nah, trus gimana dong mensiasatinya? Karena bagaimanapun, makan-makan kecil di luar, jalan-jalan, itu terapi lho buat keluarga. Apa iya kita harus menghilangkan itu? Trus gantinya apa? Nah, karena belum menemukan gantinya; kalau saya memilih untuk menurunkan standar yang masih bisa tergantikan. Yaitu, belanja bulanan hahaha.

Trik pertama, mulai pake homebrand. Sebelumnya, enggak pernah yang namanya ngelirik homebrand. Ya kepikirannya sih karena cuma beda seribu dua ribu, dan persepsinya merk yang beriklan kan lebih bagus. Tapi ternyata setelah dipikiri-pikir, kayanya hasil akhirnya sama aja. Mungkin barangnya beda, tapi kebiasaan saya dalam menggunakannya sama.

Misalnya, tadinya beli detergen itu rinso molto. Tapi kemudian pakai pelicin pakaian juga saat disetrika. Ya udah deh, wanginya jadi wangi Trika. Jadi ya sudahlah ya, ngapain beli detergent multifungsi? Pakai aja detergent biasa, toh ditambah pengharum dan pelicin.

Misalnya, tadinya beli diaper Merries. Tapi toh setiap empat jam saya bangun untuk mengganti diapers walau pipisnya masih sedikit. Jadi, kenapa enggak ganti yang lebih murah aja? Toh, yang penting sering diganti bukan kemampuan menyerap lebih lama. Eh, tapi akhir-akhir ini Merries lagi sering promo. Nah, kalo promo sih nggak papa ya!

Soal makan di luar, ini juga pe-er nih. Keluarga besar saya seneng banget makan di all you can eat di casa suki. Tapi, buat saya, all you can eat itu lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya hahaha. Harganya mahal, makannya dikit. Alhamdulillah nemu restoran pengganti yang steam boatnya enggak harga paket. Dihitung per butir, per piring kecil, pas banget buat kita. Kalau di Casa Suki satu orang bisa habis dua ratus ribuan, di Tako Suki makan berenam habisnya empat ratusan. Kuahnya juga lebih enak, lebih dekat, enggak perlu reservasi. Oh, yeay!

So, am I living a frugal life?
Not really sih. Tapi ternyata triknya adalah, mengganti apa yang bisa diganti.
Bukan valuenya yang diganti.


Homebrand Superindo, ternyata banyak yang UKM. Go local go! 

Homemade playdough dari tepung, garam, air, minyak sayur dan food essence.


Friday, October 16, 2015

Peluk!

Pelukan itu menyenangkan ya.
Menghangatkan hati.

Setiap malam, sebelum bobo, saya selalu meminta Luna dan Titan untuk saling peluk.
Kalau mereka berantem, setelah minta maaf enggak lupa harus ada juga gesture peluk dan sun pipi.
Kaya bunda sama bubunya yang lagi marahan, trus peluk-peluk minta maaf di depan anak-anak.

Before bed ritual

Tuesday, October 13, 2015

Vitamin Sea

Bubu pengen ngabisin cuti.
Luna lagi seneng nonton Ponyo.
Titan, masih juga keranjingan sama perahu.
Jadi rasanya memang tepat kalau tema liburan kita kali ini adalah P A N T A I

Awalnya, kita berencana untuk ke Belitung. Tapi ternyata setelah tanya-tanya, fasilitas water sport di sana masih kurang mumpuni dan island hoppingnya pun lumayan agak jauh, kurang cocok buat Luna yang masih umur 2 tahun dan takutnya panik saat naik perahu.

Pilihan ke dua sempet tanya-tanya ke roemah pulomanuk  yang ternyata punya si director iklan Isaac Wee. Udah sempat imel-imelan, tapi setelah dipikir-pikir, situasi pantai selatan terlalu hardcore buat anak-anak karena berbatu dan berkarang. Ombaknya yang besar pun lebih cocok untuk para surfer ketimbang bocah-bocah yang kangen laut.

Akhirnya, kita memutuskan untuk pergi ke Pulau Umang. Jauh sih naik mobilnya, tapi Luna bisa survive waktu road trip ke jawa tengah. So, perjalanan 6 jam kayanya sih bakalan aman-aman aja. Naik perahu ke pulaunya pun enggak lama, cuma sekitar 10 menit. Jadi cukup amanlah ya buat Luna dan kayanya cukup mengakomodir keinginan semua pihak. Bisa main pasir, bisa berenang, bisa mancing, bisa naik perahu, bisa water sport.

Dua hari setelah Luna sembuh, kita berangkat. Jam enam pagi dari rumah. Sengaja berangkat pagi supaya anak-anak masih bobo jadi bisa melanjutkan tidur di mobil. Selalu lebih aman begitu daripada nungguin mereka bangun, sarapan trus berangkat. Kemungkinan cranky lebih kecil kalau mereka berangkat tidur malam udah siap dengan baju pergi dan paginya kita angkut sama bantal-bantalnya ke mobil hahaha! Bagian belakang mobil pun sudah disulap jadi empuk dengan tumpukan bed cover.

Bener aja. Anak-anak mulai bangun jam sepuluhan saat kita sudah menembus Pandeglang. Bangun dengan segar lalu asyik ngemil arem-arem dan bloeder bekalan sambil lihat-lihat pemandangan.

Sampai di daerah Sumur sekitar jam 11. Sempat menunggu sebentar sebelum akhirnya kita menyeberang dengan motor boat. Untungnya lagi si pulau umang ini ada parking lot nya dan dijagain 24 jam sama security. Yah, nggak perlu khawatir lah ya.

Pulau Umang memang langitnya enggak sebiru Belitung. Tapi kalau untuk bawa anak-anak, buat saya sih cukup. Anak-anak juga happy banget. Bisa main pasir, bisa berburu kerang cantik, bisa melihat ikan-ikan lucu dari dermaga yang cuma 50 meter dari pantai. Luna juga kesampean liat 'Ponyo' dalam bentuk ubur-ubur mungil. Kita juga sempat main ke Pulau Oar juga yang letaknya bersebelahan dengan pulau Umang.

Untuk resortnya sendiri, maintenancenya memang sudah kendor. Tapi masih terlihat sisa-sisa kejayaan mereka. Agak sayang sih. Tapi buat saya selama ac masih OK dan ada water heater, itu udah cukup.

Buat biaya, kemarin kita dapat harga paket. Untuk 2 orang dewasa 1 anak dan 1 balita; kita kena sekitar 3,2 juta rupiah. Sudah termasuk makan 6 kali dan penjemputan kapal. Untuk trip ke pulau Oar, kita dikenakan harga 50.000 per orang dewasa dan 30.000 untuk anak (batita enggak dihitung). Untuk snorkling, 75.000 per orang.

Yang menyenangkan lagi adalah, stafnya ramah-ramah banget! Di hari keberangkatan kita rajin banget di SMS untuk update posisi, didoain semoga lancar dan juga diingetin untuk makan siang plus dikasih tau spot makan siang yang OK di perjalanan. Sampai di sana pun mereka memantau terus kegiatan kita dan setiap waktu makan kita pasti di SMS kalau makanannya sudah siap. Personal banget, ya. Dan kemarin itu kita beruntung banget memutuskan untuk pergi saat weekdays, karena begitu kita check out datanglah rombongan perusahaan sebanyak 150 orang ha ha ha!

Well, happy happy happy ... kapan-kapan mau kok balik lagi.

Settingannya cocok untuk honeymooners ya hahaha 

Rumahnya sebenarnya terlalu besar untuk kita ber-4 yang senengnya bobo usel-uselan 

Pulau Oar, the snorkeling spot

Sulit dikatakan Luna ngantuk atau khawatir

Kakak Titan's thingy. 

Belajar survival, bagaimana membuat api. 

Bikin kandang umang-umang. Pantes namanya pulau umang, banyak umang dimana-mana. 




Ada botol whiskey nyamperin, kita isilah dengan doa.  
Pulangnya mampir ke Mercu Suar di Carita




All in all, it was happiness for all. Setelah dipikir-pikir, kayanya ini trip liburan pertama yang isinya cuma kita berempat aja. Karena biasanya kalau jalan-jalan kita selalu ajakin aki-nini atau uwak dan ponakan-ponakan.

Ternyata, perlu juga sering-sering pergi liburan berempat aja.

Monday, October 12, 2015

Halo, Oktober!

Oktober baru dua belas hari berlalu.
Tapi, hati dan kepala rasanya berisi banget.
Alhamdulillah.


Yet I complained still. 

Beberapa minggu lalu kembali 'bertemu' dengan teman lama waktu kos jaman kuliah dulu. Anak psikologi '96. Dia menikahi cowok yang dulu dia pacarin yang sekarang lagi sekolah di luar negeri. Sambil nemenin suaminya bikin desertasi, temen saya itu nyambi kerja jadi social worker. Tugasnya, menjadi konselor para pencari suaka.

Awalnya saya enggak peduli sama sekali soal para pencari suaka menyuaka ini. Kadang malah jadi suka becandaan betapa ingin saya mendaftar mencari suaka ke luar negeri. Anything out of Indonesia. Tapi setelah mendengar ceritanya, jadi kasihan sekali rasanya. Terhadap si pencari dan juga terhadap teman saya; yang harus mendengarkan kisah-kisah sedih setiap hari. Dia bilang, pulang dari kantor rasanya sudah kering sekali. Emotionally drained.

Yeah, I feel you. Saya cuma bisa bilang begitu.

Para pencari suaka itu menjual harta di tanah airnya, uangnya dipakai untuk migrasi. Biasanya nemplok dulu ke negara tetangga terdekat dan mendapat label 'refugee'. Salah satu dari mereka, berlayar ke negara tujuan dengan harapan bisa bekerja, mendapatkan status permanent resident baru kemudian membawa serta keluarganya. Tapi semua itu memakan waktu yang tidak sebentar, bisa sepuluh tahunan bahkan lebih. Terbayang keluarganya di negara transit dengan label refugee yang ternyata kelaparan, tidak sekolah dan seringkali menjadi korban penculikan (human traffic-ing) dan perkosaan.

Setiap hari teman saya itu bercerita lewat whatsapp, betapa hampir semua pencari suaka itu senang bisa mampir selamat di Indonesia (sebelum melanjutkan lagi perjalanan ke Australia). Karena semua orang Indonesia yang dia temui baik-baik. Beda sekali dengan status teman-teman saya di FB (atau status saya juga) yang seringnya menjelek-jelekkan bangsa sendiri atau memprotes pemerintahan.

Tuhan begitu baik, mempertemukan saya kembali dengan Clara. Nama teman saya.
Hari-hari

Parent instinct, a detour. 

Empat hari sebelum berangkat liburan, tiba-tiba La Luna panas lagi. Seperti biasa, 40 derajat. Ibuprofen anal sudah sempat masuk 1 butir sebelum besoknya kita bawa ke dokter.

Kali ini dokter baru. Udah lama sih dengar nama dokter ini, dokter Waldi. Tapi baru sekarang benar-benar berkeinginan untuk pay a visit karena penasaran kenapa Luna jadi sering sakit tapi dokter keluarga kita masih anteng-anteng aja.

Masalahnya sih ternyata simpel, cuma kena virus common cold aja (walaupun enggak ada gejala batuk-pilek-diare-muntah) dan itu pasti tertular dari orang lain. Ndelalah dokter waldi ternyata kenal dengan dokternya Luna (dan Titan). Menurut dia, mungkin karena dokter itu terlalu lama di perina rscm dan bergaul bersama bayi. Buat bayi, panas 40 derajat memang sangat membahayakan, tapi tidak untuk anak-anak. Jadi selama ini treatment yang kita lakukan adalah, menunggu panas hingga 3 hari dan selalu berujung cek lab. Bahkan saya seringkali memaksa cek lab di hari 1 karena cek NS-1 (untuk mendeteksi DBD) paling efektif dilakukan di hari-1 dan ke-3. Saat lab berkata leukosit tinggi, masuklah antibiotik. Selalu begitu selama beberapa bulan terakhir.

Dokter waldi geleng-geleng kepala aja melihat riwayat antibiotik Luna yang sudah pindah tiga tingkatan dalam 5 bulan terakhir. Kita lalu disuruh pulang dan meneruskan parasetamol bila perlu (saat Luna mencapai panas 39). Kali ini kita dipaksa untuk tidak melakukan cek darah dan lebih mempercayai insting orang tua. Jika panas mencapai 40 atau lebih, disarankan untuk berendam air hangat. Sesering mungkin pun boleh. Pulang dengan perasaan lebih lega, cuma lebih repot aja siapin air hangat. Rendam. Siram-siram. Handukin, bajuin. 10 menit kemudian rendam kembali, siram-siram lagi. Handukin, bajuin. Gitu terus, tengah malam sekalipun. Oh iya, sanmolnya diganti tempra. Amazing, bekerja lebih cepat. Hahahaha, ya wajar sih. Dalam per 5ml sanmol hanya terkandung 120mg parasetamol. Tapi dalam 5ml Tempra terkandung 160g parasetamol. No more ibuprofen karena sangat berbahaya kalau panasnya ternyata karena DBD.

Dua hari kemudian, Luna sembuh. Total panas demam 4 hari. Liburan sempat digeser sedikit dan setelah Luna sembuh pun kita berangkat. Alhamdulillah, enggak ada keluhan apa-apa.
Beberapa kemudian, saya berteman dengan dokter waldi di facebook. Sebelum diapproved, dia tanya dulu apakah pernah kita bersua.

"Pernah dong dok, dokter yang ngajarin Luna rendeman kalau panas." saya bilang.
And I made another friend on Facebook.

:)


Tentang kamu di suatu pagi

Saat itu. Aku, aki dan dirimu; La Luna.  Naik motor di pagi hari, mengantarmu bersekolah untuk belajar dan berlari-lari.  Kamu di paling ...