Skip to main content

Diet? What diet?

Saat suami memutuskan untuk diet, maka itulah saatnya sang istri menderita kepusingan yang amat sangat. Pusing mikirin musti ngasih makan apa.

Lima tahun yang lalu beratnya bubu masih ideal. Hasil dari sepedaan naik turun bukit kalo kuliah ditambah kelupaan makan karena deadline tugas-tugas dan analisa riset yang ditagih mulu sama profesornya.
Sampe Jakarta, tingkat stres yang lebih besar dan kurang beraktivitas fisik bikin bubu melar abis-abisan. Belum lagi kalo ngantor naik ojek yang tinggal menclok. Beda dengan nyetir sendiri yang sebenernya masih memperkanankan adanya gerakan, mikir dan jalan dari parkiran ke tempat duduk di kantor. Tapi memang kondisi jalanan jakarta makin devilish aja setiap harinya.
Trus lagi, bubu punya kebiasaan enggak bisa lihat makanan sisa. Katanya sih dulunya hidup susah, jadi kasian kalau liat makanan dibuang-buang. Akhirnya dimakanlah itu makanan kalau titan, luna dan aku enggak habis.

And so the story goes, menggelembunglah badannya. Dua puluh kilo lebih dicapai dalam empat tahun. Hingga beberapa hari kemarin, dia mengeluh badannya mulai enggak enak dan sering pusing. Akhirnya dia memutuskan mau merubah pola makan.

Jeng-jeng! This is it. Dulu-dulu saya yang paksa dia untuk makan yang baik. Tapi kalau dia menggelendut seperti sekarang ini ya sebenernya salah saya juga ya. Kan saya yang sediain makannya. Dan juga cemilan-cemilan di rumah. Dan juga ramen-ramen instan itu yang Masya Allah enaknya apalagi kalo dimakan tengah malam. Plus soda-soda yang tersembunyi di lemari supaya enggak dilihat anak-anak, tapi siap dikonsumsi bubu - bundanya hahahahaha. Culas.

Akhirnya mulailah saya googling. Sempet tanya-tanya temen juga yang punya catering diet mayo. Sempet tanya nutrisi-nutrisi macam Moment dan Herbal Life. Googling diet berdasarkan tipe darah. Wah, tapi ternyata saya malah jadi mendapatkan berita-berita yang justru bertolak belakang. Disinyalir diet mayo itu sebenarnya bogus atau termasuk dalam kategori hoax. Karena ternyata Mayo Clinic enggak pernah mengeluarkan statement resep diet tersebut karena mereka percaya kesehatan bukan cuma dilihat dari pola makan.
Kalau minum suplemen, kayanya bubu bukan tipe yang mau makan suplemen-suplemen aneh-aneh gitu. Dia orangnya termasuk yang hati-hati kalau minum obat. Lagi pusing atau flu aja belum tentu dia mau minum obat, apalagi suplemen diet? A big NO NO lah kayanya.
Diet berdasarkan golongan darah? Nah, ternyata setelah baca-baca literatur, golongan darah O itu ribet banget dietnya. Saya yang skip lah kalo ini. Trus gimana dong?

Akhirnya saya teringat nama erikar lebang dengan food combiningnya. Sebenernya udah lama juga sih denger-denger soal food combining ini. Dan setelah baca-baca, ternyata food combining memang bukan jenis pola makan baru. Dietnya Rasulullah juga sebenernya model-model begini (katanya) hihihihi.
Akhirnya aku kumpulin tuh alasan-alasan kenapa memilih food combining. Karena bubu tuh bukan tipe orang yang suka diet, tapi makanan tanpa rasa pun pasti susah dia telan. Kasian kalau musti diet tersiksa. Saat aku mengajukan proposal, tak disangka tak dinyana dia menjawab "Aku nunut waeeeeee, Nda!" Hahahaha ... tau gitu kasih buah aja pagi-siang-malam.

Tanpa persiapan gimana-gimana, akhirnya dimulailah program diet itu keesokan harinya. Karena inti food combining cuma ini:




Alhamdulillah banget punya suami yang mangap aja dikasih apaan aja. Hari pertama sarapan aku kasih jus buah yang rasanya masih enak. Makan siang dan malam sih biasa sesuai bagan di atas. Cuma untuk malam hari, selalu ditutup lagi dengan jus. Di hari ke dua, mulai jahil masukin sedikit oats. Seret. Iya bu, ini air putihnya kalau seret. Hari ke tiga, mulai disisipin sayur mentah di jusnya. Kok hijau? Iya, kecemplung pok choi tadi. Tapi tetep ditelen dengan sukses.

Rupanya bubu udah bener-bener niat nurunin berat badan, nurut aja sama apa yang dikasih istrinya dan tanya-tanya kalau ada makanan godaan di kantor.

"Nda, boleh makan cakwe nggak?"
"Sebenernya sih enggak. Tapi kasian kamu. Boleh deh, tapi satu aja. Peres minyaknya."

"Nda, Jumat kan ada catering. Menunya lodeh, ayam goreng sama nasi. Yang enggak boleh dimakan yang mana?"
"Terserah maunya nasi + lodeh atau lodeh + ayam?"
"Yah ternyata sayurnya ada udang dan tahunya"
"Tahunya boleh, udangnya jangan. Protein hewan kan buat malam aja. Kaya singa bu, abis mamam daging trus bobo."
"Oke Oke"

Hahahahaha apapun dietnya emang paling bener drive dari diri sendiri, ya. Alhamdulillah memasuki hari ke empat dari berat 79 kg tadi pagi beratnya bubu udah 76 kg. Mukanya seneng banget.

"Bu, enak gak sarapan makan buah doang?"
"Gak enak, mending gak usah sarapan aja"
"Tapi nanti makan siangnya nggragas."
"Iya juga sih"
"Lagian enggak boleh, menyalahi siklus tubuh."
"Aku nunut wae lah, Ndaaaaaa"

Hahahahaha ... oh iya, buat yang mau tau tentang si food combining itu bisa google aja webnya erikar lebang, ya.

Comments

Popular posts from this blog

love is love. marriage is another thing.

of all the things I ever wondered, ... I think I never wonder whom my kids will be married to. or to picture myself holding grand babies. not just a not yet, I think it is simply too hard to bear and too absurd to think of. but then I promise myself. I promise I will not ever push titan and luna to get married or even if they are married; I will not ask them when to have kids.

many times I wondered that marriage is overrated. and the only reason to get married is not love, but to realise life is too hard to bear when you are all alone. because, however, marriage is a conditional love. hubby once said, marriage is not all fancy and glitter. the lowest it can get is, to keep functioning and it will survive. how both parties can be functional one to another, is another story.

to ariawan, a guy of mine,
the one who always wake me up from my princessy dreams. love you.



Three hours late.

2 AM and I stepped in to the house. Hubby was waiting for me. This was not the first time, and not the latest hour I had ever experienced with over time.

"See you soon Bunda. Or at 8, or at 9, or at 10, or at 11 like you said you would be late." Said my son.

I smiled as I entered the house. I smelled home. I saw my beautiful mess. As I picked up some toys on the floor, I imagined what games the kids had played today. There was a drawing, mini ceramics pots, not too chaotic for kids who were left with nini and aki without nannies.

I also saw their time tables, with some check marks on the list. Those that they weren't checked was the responsibility to wash their own dishes. I saw some dirty cups piling up. I saw the microwave's door left half-opened, a baking sheet and a knife. I wonder what they have cooked.
I also saw minecraft was in active window and some search on youtube and google.

Getting home in this hour and not seeing their faces but seeing all the mess the…

Life. Just like what I wanted.

Tiga belas bulan yang lalu, saya memutuskan untuk kembali bekerja setelah 2,5 tahun jadi freelance (tapi lebih banyak free-nya sih hahaha). Satu-satunya yang bikin saya merasa harus bekerja ya cuma Apple. Sisanya, banyak project yang saya tolak-tolakin karena males aja sih intinya. Belaguk bangetlah pokoknya.

Setelah merasa udah nggak produktif lagi di rumah, otak berasa tumpul dan rasa percaya diri udah nyungsep, saat itulah saya terima tawaran untuk kembali ke advertising. Banyak yang nyinyir sih, menganggap industri itu gelap banget dan ngapain udah enak-enak di rumah kok ya balik ngantor. Alasannya cuma satu: bosen di rumah.

Enggak tahu hal baik apa yang telah saya lakukan dalam hidup, ternyata saya dianugerahi tim yang baiiiiik banget. Anaknya manis-manis, good attitude dan yang paling penting; penuh tanggung jawab. Saya ngerasa banyak belajar dari mereka. Mulai hal baru di luaran sana sampai cara pakai krim mata. Enggak sedikit juga kesedihan yang kita tanggung bareng-bareng, da…