Friday, August 28, 2015

Rum raisin chocolate

"Late, kan?"

"Oh yup. Thanks. Masih inget aja." Kataku basa-basi.

I never like coffee, if only you ever knew. They make me tremble, so Late was the only coffee I could bear because two-third of the cup was only plain milk.  

You gave me the cup and smiled.

Ouch, that smile again. And those pockety-lack of sleep eyes hiding behind your spectacles. You said man should sleep lesser than a woman. And It meant a lot. It could mean they work harder. It could also mean they slept later so they could watch their woman sleep peacefully and secretly traces their wrinkles. Count their eye lashes. Kiss her goodnight, put a blanket on her and back to work. 'Till the dawn comes. 

"Diminum, dong."

"Oh, iya."

Shite, why I was a bit nervous. Wait, ... a bit? I was nervous. Totally. 
I held my cup tight and had a sip. But my lips never touched the Late. I prefered watched you sipped. Warmth slowly traces down my throat just by seeing you sipped the coffee. Gosh, ... how I miss you. 

"Aku enggak pernah berjalan sejauh ini." Kataku.

"Masa? Why not?"

I mean ... I have never let my feeling goes this far. 

"You know ... badan aku tuh norak banget lah. Gak bisa kena dingin dikit aja pasti langsung masuk angin. Kamu enak, ... gendut." As I poked his flabby tummy.

You laughed hard. I still remember how it feels to hug you, do you know that? Well,  also when you hugged me. They were all the same. It was like my whole body was crunched into a fluffy pot and sealed. I felt safe and comfort. Only just I hugged you more than you hugged me. 

You looked away to the distance. There was a slight of awkward pause. 

"Kamu ngapain ke sini?" Kataku ragu. Takut salah.

You kept walking. You sipped your coffee and put your hand in your pocket. You sipped it again, and ... no. You did not sip it. You put your cup down. And you stopped. I was a walk away behind you when you turned around and pointed my cup. 

"Buat itu." Katamu sambil menunjuk gelas Lateku.

"Oh ... what about this Late?" I chuckled.

"It is not. You never like coffee, don't you?"

I trembled. This time it was not because of the coffee.  
My hand muffled up in mitten. 




Photograph by my art director partner @marshattacks





Thursday, August 13, 2015

Diet? What diet?

Saat suami memutuskan untuk diet, maka itulah saatnya sang istri menderita kepusingan yang amat sangat. Pusing mikirin musti ngasih makan apa.

Lima tahun yang lalu beratnya bubu masih ideal. Hasil dari sepedaan naik turun bukit kalo kuliah ditambah kelupaan makan karena deadline tugas-tugas dan analisa riset yang ditagih mulu sama profesornya.
Sampe Jakarta, tingkat stres yang lebih besar dan kurang beraktivitas fisik bikin bubu melar abis-abisan. Belum lagi kalo ngantor naik ojek yang tinggal menclok. Beda dengan nyetir sendiri yang sebenernya masih memperkanankan adanya gerakan, mikir dan jalan dari parkiran ke tempat duduk di kantor. Tapi memang kondisi jalanan jakarta makin devilish aja setiap harinya.
Trus lagi, bubu punya kebiasaan enggak bisa lihat makanan sisa. Katanya sih dulunya hidup susah, jadi kasian kalau liat makanan dibuang-buang. Akhirnya dimakanlah itu makanan kalau titan, luna dan aku enggak habis.

And so the story goes, menggelembunglah badannya. Dua puluh kilo lebih dicapai dalam empat tahun. Hingga beberapa hari kemarin, dia mengeluh badannya mulai enggak enak dan sering pusing. Akhirnya dia memutuskan mau merubah pola makan.

Jeng-jeng! This is it. Dulu-dulu saya yang paksa dia untuk makan yang baik. Tapi kalau dia menggelendut seperti sekarang ini ya sebenernya salah saya juga ya. Kan saya yang sediain makannya. Dan juga cemilan-cemilan di rumah. Dan juga ramen-ramen instan itu yang Masya Allah enaknya apalagi kalo dimakan tengah malam. Plus soda-soda yang tersembunyi di lemari supaya enggak dilihat anak-anak, tapi siap dikonsumsi bubu - bundanya hahahahaha. Culas.

Akhirnya mulailah saya googling. Sempet tanya-tanya temen juga yang punya catering diet mayo. Sempet tanya nutrisi-nutrisi macam Moment dan Herbal Life. Googling diet berdasarkan tipe darah. Wah, tapi ternyata saya malah jadi mendapatkan berita-berita yang justru bertolak belakang. Disinyalir diet mayo itu sebenarnya bogus atau termasuk dalam kategori hoax. Karena ternyata Mayo Clinic enggak pernah mengeluarkan statement resep diet tersebut karena mereka percaya kesehatan bukan cuma dilihat dari pola makan.
Kalau minum suplemen, kayanya bubu bukan tipe yang mau makan suplemen-suplemen aneh-aneh gitu. Dia orangnya termasuk yang hati-hati kalau minum obat. Lagi pusing atau flu aja belum tentu dia mau minum obat, apalagi suplemen diet? A big NO NO lah kayanya.
Diet berdasarkan golongan darah? Nah, ternyata setelah baca-baca literatur, golongan darah O itu ribet banget dietnya. Saya yang skip lah kalo ini. Trus gimana dong?

Akhirnya saya teringat nama erikar lebang dengan food combiningnya. Sebenernya udah lama juga sih denger-denger soal food combining ini. Dan setelah baca-baca, ternyata food combining memang bukan jenis pola makan baru. Dietnya Rasulullah juga sebenernya model-model begini (katanya) hihihihi.
Akhirnya aku kumpulin tuh alasan-alasan kenapa memilih food combining. Karena bubu tuh bukan tipe orang yang suka diet, tapi makanan tanpa rasa pun pasti susah dia telan. Kasian kalau musti diet tersiksa. Saat aku mengajukan proposal, tak disangka tak dinyana dia menjawab "Aku nunut waeeeeee, Nda!" Hahahaha ... tau gitu kasih buah aja pagi-siang-malam.

Tanpa persiapan gimana-gimana, akhirnya dimulailah program diet itu keesokan harinya. Karena inti food combining cuma ini:




Alhamdulillah banget punya suami yang mangap aja dikasih apaan aja. Hari pertama sarapan aku kasih jus buah yang rasanya masih enak. Makan siang dan malam sih biasa sesuai bagan di atas. Cuma untuk malam hari, selalu ditutup lagi dengan jus. Di hari ke dua, mulai jahil masukin sedikit oats. Seret. Iya bu, ini air putihnya kalau seret. Hari ke tiga, mulai disisipin sayur mentah di jusnya. Kok hijau? Iya, kecemplung pok choi tadi. Tapi tetep ditelen dengan sukses.

Rupanya bubu udah bener-bener niat nurunin berat badan, nurut aja sama apa yang dikasih istrinya dan tanya-tanya kalau ada makanan godaan di kantor.

"Nda, boleh makan cakwe nggak?"
"Sebenernya sih enggak. Tapi kasian kamu. Boleh deh, tapi satu aja. Peres minyaknya."

"Nda, Jumat kan ada catering. Menunya lodeh, ayam goreng sama nasi. Yang enggak boleh dimakan yang mana?"
"Terserah maunya nasi + lodeh atau lodeh + ayam?"
"Yah ternyata sayurnya ada udang dan tahunya"
"Tahunya boleh, udangnya jangan. Protein hewan kan buat malam aja. Kaya singa bu, abis mamam daging trus bobo."
"Oke Oke"

Hahahahaha apapun dietnya emang paling bener drive dari diri sendiri, ya. Alhamdulillah memasuki hari ke empat dari berat 79 kg tadi pagi beratnya bubu udah 76 kg. Mukanya seneng banget.

"Bu, enak gak sarapan makan buah doang?"
"Gak enak, mending gak usah sarapan aja"
"Tapi nanti makan siangnya nggragas."
"Iya juga sih"
"Lagian enggak boleh, menyalahi siklus tubuh."
"Aku nunut wae lah, Ndaaaaaa"

Hahahahaha ... oh iya, buat yang mau tau tentang si food combining itu bisa google aja webnya erikar lebang, ya.

Saturday, August 08, 2015

Just because

Alhamdulillah,
minggu ini Titan mulai privat mengaji.
Mainstream? Maybe.
Cliche? Maybe.
Rising a good child, guaranteed? Probably no.
Heaven, guaranteed? Definitely no.
But this is how I was raised,
and I am thankful I was raised this way.

Hopefully Titan is too.

Friday, August 07, 2015

Forgetting this, forgetting that. breaking this and breaking that.



A little note:
Need to set up a good example. So from this moment, since my kid starts reading my blog too, I need to write with the correct spelling, punctuation and capitalisation.

So help me God.


Okay.
Up to this moment, I am still observing what kind of type my kids are. Those who tend to avoid risks or those who has oriented with benefits. Surely two of the types need different approaches.
But along the way, my children easily swifts from one to another. So I got confused in giving the right approach and I became inconsistent. That happens quite often.

So, to us, while I am conveying myself what types my kids are, logical consequences still applies the best for them. There are always consequences behind our every actions.

What is bothering me a lot these days are how careless Titan is. I wonder why I did not notice this back then. Well, maybe I had always thought he is a little boy and I needed to remind him over and over. But now he is eight and he is physically looks pretty big on my eyes, reminding him over and over and he kept forgetting what I said is no longer funny. Not funny at all. It is like you kept saying the same thing to an alien. And the big questions arose: Until when? What if I die and nobody remind him anymore? Well, then I must make action.

Our family needs 1 kilogram of eggs every week. Many times, I ask Titan to buy at the nearest warung if we ran out the eggs out of my grocery schedule. About fourteen eggs in every kilograms, and he came back with only eight or ten. The rests have broken into pieces and so I need to wash all the eggs and keep them in the sun e few hours to dry up. It always happen and I kept asking him and no progress.
So what I did was, I talk to him. For every egg he breaks it is equal with the amount of the day when he cannot eat it. And he was the king of egg. For his french toast, for his scramble, for his telur dadar kornet. No naggings. I just tell him.

His iPod. The first generation of iPod touch and I gave it as his first birthday. He always left it somewhere, for it has gone for like ... four years and we managed to find it again. One night he left it at nini's house and went straight to sleep. I woke him up and tell him to get his iPod. I put it in the drawer and lock it and said he cannot use it for a month. No naggings. I just tell him.

His bike. He always put it wherever he likes and blocking other cars. What I did was, I called him to clean it and put it on the garage. Put a padlock and said he cannot use it for a week. No naggings. I just tell him.

His meal. He often ask for more menus I cook and left it unfinished. What I did was, He need to prepare his own meal for a week. No naggings. I just tell him.

The conclusion about careless kid is, that they need to be responsible of what they have done. And, parents need to be consistent and so they trust us. I know it is hard. Big time.


Fridate with the girls




I am a mother goin' out with my mother. 

Jumat kemarin, kita niat pergi agak jauh. Dharmawangsa Square. Well, waktu yang kurang tepat untuk jalan-jalan sih sebenarnya. You know, ... Jakarta's traffic on friday. Tapi karena mood lagi mendukung dan memang ada tujuan yang dicari, yaitu mencari tas sekolah buat kakak Titan yang sudah 3 tahun enggak diganti, akhirnya kita pergi juga walaupun harus menunggu taksi dari jam 11 dan baru dapat jam setengah dua.

Seperti yang diperkirakan, ... macet. Saya lupa ada pembangunan fly over di depan Rumah Sakit Pertamina yang mengekor ke Sinabung dan Barito, rute perjalanan kami. Alhamdulillah, sampai dengan aman enggak pake nagging. Tentunya, berkat nenen sepanjang jalan dan si bocah tertidur pulas.

Sebelumnya udah browsing-browsing sih, tas kaya apa yang bakalan dibeli. Titan memang sangat picky dengan semua outfit yang bakal dia pakai. Sebelumnya sudah ngubek-ngubek Gramedia, tapi enggak ada satu pun tas yang dia suka. Ada sih sempet lirik-lirik Jansport Original yang modelnya vintage gitu, tapi kok ya harganya satu jutaan. Lebay banget, kata bundanya. Mending buat bayar asuransi kesehatan dan sisanya buat kontrol ke dokter gigi hahaha.

Akhirnya kembali ke selera tas dia waktu di TK, Sugar Booger. Ngubek-ngubek instagram, akhirnya nemu perpanjangan si Ore Originals ini yaitu di MomsAndI di Kemang. Tapi kok ya Kemang ya. Jauh sih enggak terlalu, tapi macetnya ... aduhai!
Kemudian saya baru ingat, satu tempat dimana saya membeli Sugar Booger ini pertama kali. Setelah saya google dan dapat nomer telfonnya, itulah kenapa akhirnya kita ke sana langsung. Karena online store-nya enggak update dengan produk terbaru mereka. Nama tokonya Little Toes, di sayap ujung (yang saya selalu lupa sayap sejajar Ranch Market atau justru di ujung lain).

Begitu masuk langsung kalap dengan barang yang lucu-lucu. Si Sugar Booger ini, seperti biasa, lebih banyak koleksi lunch sack dan Kiddie backpack nya yang banyak. Luna juga udah sibuk pilih-pilih. Di pojokan, baru deh kelihatan koleksi zippy backpack yang lebih cocok untuk anak SD. Meskipun enggak selengkap yang saya harap, Alhamdulillah yang kira-kira Titan suka ada di sana. Bahannya kanvas ringan, strap di pundak enggak terlalu lebar, enggak terlalu banyak kantong, ukurannya juga enggak terlalu besar dan enggak terlalu kecil. Cukuplah untuk bawa folder PR dia berukuran kertas folio, dua buku tulis, sarung, peci, snack box dan tempat minum. Dan yang penting, dia pasti suka gambarnya. Dan yang penting lagi, harganya juga masuk akal. Rp. 295.000 aja, jauh lebih murah dibanding harga di website Ore Original. Sedangkan Lunch sack buat Luna, harganya Rp. 200.000

Yeay! Akhirnya dapat juga tas buat si kakak! 
Tapi sebenernya bukan itu aja sih highlight Fridate kita. 

Setelah dapat barang, ktia jalan-jalan sebentar uji nyali ke Tulisan dan ... omagah, hobo yang aku mau adaaaa! Buru-buru lah kita keluar dari toko daripada impulsif beli hahaha. Sekali lagi, mending uang 1,5 juta bisa beli emas 3 gram *kekepin kartu debit*

Dari situ kita lunchie ke Street Canteens, soalnya Luna belum mamam. Sampai sana pesan bihun sop ayam buat Luna dan es jelly. Buat aku dan mamah pesan pempek. Eh ternyata pempek di sana enak juga. Nah, disitulah saya mencuri dengar sambil nyuapin Luna. Jadi, ya .. wajar ya kalau dengernya kepotong-potong hehehe.

Di sebelah saya ada ibu dan anaknya. Si ibu asyik main tab kecil dan anaknya sibuk dengan MacBook Airnya. Anaknya cowok, kayanya sih di tahun akhir SMA atau mungkin sudah lulus. Karena musik yang agak bising, saya enggak bisa jelas mendengar apa yang diomongin si Anak while ibunya mendengarkan sambil terus main gadget.

Ibunya cantik. Umurnya kayanya lima puluhan, tulangnya kecil. Jadi walaupun badannya agak gemuk, tetap terlihat tangan dan kakinya jenjang. Slender, kalau kata orang sana bilang. Dia pakai short overall warna pink lembut dan dalemannya kaos oblong putih yang pas di badan. Rambutnya hitam dan panjang, digulung ke atas.  Enggak pakai bulu mata palsu, enggak pakai make up berat. Cantik, deh. Saya jadi memotret diri saya, apakah saya jadi mamah asyik empat belas tahun nanti. Yang bikin saya tertarik adalah, she looks like a simply straight mom. Di sela-sela percakapan mereka, dia berkata "No, itu salah lu. Harusnya, ... bla bla bla" trus anaknya nerusin omongannya lagi tanpa nada defensive. Trus ibunya nyambung lagi "Dengar. Dengar mama. Kita pengen lu pergi buat belajar. That's it. Pikirin itu." Trus dia langsung melambaikan tangan minta bon. Anaknya langsung terdiam dan menghabiskan minumannya. Saat si ibu berdiri untuk membayar ke kasir, baru deh saya bisa lihat sepatu lucu yang dipakainya: Pump shoes tikus dari Marc Jacob's warna pink. Oh la laaaa, saya pengen banget sepatu itu. Krik krik ... krik krik ....

Asumsi saya, mereka lagi sibuk berdebat soal nerusin sekolah ke luar negeri dan negara mana yang akan dituju. Si anak milih negara yang banyak temen-temennya, ibunya pengen anaknya pergi ke luar negeri buat sekolah dan bukan buat main. Saya membanthin, semoga bisa menabung dan menyekolahkan anak-anak ke luar. Atau, semoga anak-anak tumbuh pintar untuk dapat bea siswa. Amin. Setelah mereka ke luar restoran, saya mulai memakan pempek saya yang sudah dingin karena tadi nyuapin Luna dulu. Sekarang sih luna lagi makan dessert es jelly sama Nini.

Sambil makan mata saya menerawang, dan jatuh ke dua ibu-anak yang lewat di depan restoran. Si anak umurnya tiga puluhan, ibunya mungkin sudah enam puluhan. Anaknya nyante banget, pakai sleeveless long dress warna hitam dengan rambut digulung ke atas. Enggak pakai make-up. Sementara ibunya sasakan, baju rapi dan di tangannya men'cantel' handbag Coach. Kayanya sih mereka dari salon. Seketika saya mikir. Kapan ya, saya bisa berduaan gitu bermewah-mewah sama mamah. Kapan saya ya, bisa beliin mamah tas bermerk. Kapan saya bisa ajak di ke spa untuk pijat, merendam kakinya yang sehari-hari sibuk menyapu dan ke pasar pakai air hangat, disikat dan dikutek. Pijat punggungnya yang sudah pengapuran dengan batu panas dan pijat ala thai.

Mamah saya itu tidak terbiasa memanjakan dirinya. Beberapa tahun yang lalu, saya sempat bikin reservasi berdua di Puri Santi Spa Cipete. Tadinya sih mau surprise, tapi dia kan gitu. Kalau enggak ada tujuan yang jelas, enggak akan mau pergi dari rumah. Tapi begitu dikasih tau mau diajak ke spa, langsung ditolak mentah-mentah. She is just not used to. She felt awkward. Nyalon? Sama juga. Buat dia nyalon itu cuma untuk potong rambut dan pulang. Pernah saya pesan mbak pijat yang datang ke rumah. Udah hati-hati banget pesannya, terapis yang spesialisasinya pijat Jawa. Eh, sampe rumah malah disuruh ngerokin. Way beyond her skills dan akhirnya Mamah enggak puas juga dengan pelayanannya. Ya wajar, sih.

Setelah kejadian itu, saya enggak pernah lagi kasih-kasih surprise yang 'enggak mamah banget'. Tapi ngasih tas branded buat mamah? Harusnya sih mamah seneng-seneng aja ya dikasih model apapun selama bukan backpack. Tapi ya itu, ... ternyata saya masih sibuk merhatiin keluarga saya aja. Memakmurkan anak-anak. Mengirim mereka kekolah yang baik dan memberi mereka pengalaman di suasana baru.

Itulah bedanya saya dan mamah. Saya cuma mikirin keluarga saya, tapi Mamah bisa mikirin anaknya dan semua keluarga anaknya. Umur memang tidak berbohong ya. Semoga saya bisa bijak kaya mamah nantinya.

Amin. 


Si bocah asyik makan bihun sup satu pot besar

Yes, this is it! Vintage drawings. 

Wednesday, August 05, 2015

hukuman mati

another chat while we had dinner today.

"bunda, hukuman mati itu apa sih?" 

"ehm..." *ambil minum hampir keselek. "hukuman mati itu, adalah keputusan hukum yang dibuat oleh sebuah negara untuk menghukum seseorang sampai meninggal. ada yang ditembak mati, ada yang disuntik obat, ada yang dimasukin kamar gas. pokoknya, kasarnya, dibunuh sebagai bentuk pertanggungjawaban atas kesalahan yang sudah dia lakukan. 

"tapi kan membunuh orang itu enggak boleh."

"kan tadi bunda bilang, ada negara yang membolehkan hal tersebut. kenapa, karena bentuk kesalahan yang dia lakukan sudah enggak termaafkan lagi."

"kenapa enggak termaafkan? kan kita harus memaafkan?"

"enggak termaafkan itu, biasanya kalau yang kita lakukan itu sudah terlanjur merusak hidup orang lain dan enggak bisa balik lagi." 

"ya tapi tetep kita enggak boleh bunuh orang dan harus memaafkan." 

"ya, itu ada benarnya juga sih nak." 

*untung bubunya cepat datang. dan pembicaraan beralih. yeay!*

Monday, August 03, 2015

#one page a day

Few months ago, a friend of mine which happened to be also a kindergarten teacher recommended this book. I have just finished reading it a few weeks ago.

The content is not really new in parenting world we might have heard. But in my opinion, this is not the kind of book we read once and put it back on the shelves. We should solemnly read this book as everyday's reminder. Each chapter is not really linked to one another, and we can read only the chapter related to the kid's phase we are facing.

I bought the book on www.belbuk.com





Tentang kamu di suatu pagi

Saat itu. Aku, aki dan dirimu; La Luna.  Naik motor di pagi hari, mengantarmu bersekolah untuk belajar dan berlari-lari.  Kamu di paling ...