Thursday, May 28, 2015

Spot On!

Hari kamis lalu, ada acara business day di sekolah titan. Biasa, event tahunan di akhir tahun ajaran. Kalau anak-anak sekolah lain lagi sibuk Ujian Kenaikan Kelas, di sekolah ini anak-anak sibuk membuka usaha sendiri mulai dari bikin surat izin buka usaha, presentasi permohonan dana, bikin materi promosi, bikin produk sampai jualan karya mereka dan membuat laporan pertanggung-jawaban pasca business day. Nah, semua rangkaian proses itulah yang jadi bahan penilaian guru. Tentu aja di dalamnya ada unsur materi pelajaran mereka.

Bundanya ini udah tahun ke tiga ikutan sibuk (sedikit, sih). Tapi tahun ini agak santai. Nyiapin barang juga enggak terlalu banyak, biar laku semua dan anak happy. Tahun ini hanya menyiapkan 10 buah handmade bookmark dan 10 gelas oreo float yang keduanya dibantuin titan dalam proses pembuatannya. Masih tetap ibunya yang hands - on sih, next year harus dia sendiri yang siapin ah!

Waktu di sekolah, saya enggak jalan-jalan ke kelas lain seperti tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini mau fokus kegiatan di kelasnya aja. Belajar dari tahun lalu, perut jadi kemrekaan jalan-jalan ke kelas lain bela-beli berbagai makanan.

Saya ajak Luna. Kita duduk di pojokan sambil makan pudding. Saya perhatiin Titan yang lagi sibuk jaga di gerai stationary. Eh eh eh, kok dia mulai salah tingkah memunggungi barang dagangan ya? Bathin saya. O'ow, ternyata ada Neng Naira pujaan hati yang mendekat trus lagi asyik lihat-lihat barang. Saya senyum-senyum, penasaran pengen liat mukanya Titan. Kaya gimana, ya? Salting gak ya? Pikir saya.

Eh ternyata bener aja. Mukanya berubah jutek. Naira seperti nanya harga, yang dijawab dengan suruh liat sendiri harganya di daftar harga. Trus saat Naira memutuskan untuk membeli, Titan segera mencatat kodenya (membelakangi lagi cepat-cepat) dan memberikan kertas nota pembelian sambil tertunduk dan enggak senyum sama sekali.

Tiba-tiba dia nengok ke saya, dan saya tersenyum memberi semangat. Dia tiba-tiba tersenyum manis sekali, tapi kembali kecut ketika Naira menyodorkan uangnya.

Ya ampuuuun, lucu sekali! Saya enggak habisnya senyum-senyum melihat kelakuan anakku yang baru aja menginjak usia 8 tahun 20 hari yang lalu. And I was sooooo grateful to witness the moment.

Bunda seneng banget!

Wednesday, May 27, 2015

Tree House Project weekend #1


Kita sekeluarga hampir memiliki mimpi-mimpi yang sama. Misalnya aja,  teropong bintang. Ariawan masih ingat saya sudah menyebut-sebut soal pengen punya teropong bintang sejak SMA. Dan Titan, karena sejak awal memang diperkenalkan dengan semesta angkasa, dia juga pengen punya teropong bintang saat dia mengerti apa arti namanya. Buat saya sendiri, kadang mimpi ya cuma mimpi. Jarang dijadikan tujuan. Tapi setelah ada motivasi lebih seperti misalnya Titan mulai meminta dibelikan teropong, saya jadi lebih semangat untuk mewujudkan mimpi saya itu yang juga menjadi mimpi orang-orang yang saya sayang.

 Nah, begitu juga dengan rumah pohon. Saya pertama kali jatuh cinta dengan rumah pohon waktu jaman SD nonton Hansel and Gretel. Mungkin, berbeda dengan teman-teman saya yang lagi suka Barbie and everything glitter, saya langsung jatuh cinta sama compang-campingnya mereka dan indahnya gubug permen di tengah hutan. Not literally a tree house for sure. But I like the nuance. The ambience. Sayangnya, punya rumah di Jakarta enggak memungkinkan untuk bikin rumah pohon. Baru setelah ayah dipindahtugaskan ke Palembang dan rumah kami kebetulan memiliki dua pohon besar dan kolam ikan di bawahnya, kami punya platform di atas pohon. Sebenarnya platform itu juga bukan buat rumah pohon. Tapi saya suka duduk di sana, sharing sama monyet peliharaan kami ha ha ha!

Nah, kejadian berulang kembali di akhir tahun 2011 ketika Ariawan membuatkan rumah pohon di atas pohon mangga di belakang rumah. Tapi bentuknya masih enggak mumpuni walaupun lumayan banget bisa nampung kita bertiga nonton kembang api di akhir tahun itu. Sampai tiba-tiba pohon terserang semut rang-rang dan bikin kita bubar dan enggak pernah nginjak rumah pohon itu lagi sampai sekarang, di 2015.

Untungnya, fondasi utama penyanggah rumah pohon terbuat dari kayu besi yang enggak lekang dimakan panas dan hujan. Jadi, ketika Titan minta kado ulang tahun yang ke-8 berupa rumah pohon, Ariawan tinggal menambah fondasi dan memperpanjang ukuran rumah tersebut mengingat sudah ada La Luna dan besar kemungkinan untuk berebut space di atas sana.

So, tanpa rencana (seperti biasa mengandalkan mood yang sedang berkobar), pergilah ariawan ke tukang kayu dan memesan beberapa kayu kaso dan reng. Iya, mulai dari yang murah dulu deh ya. Nanti kalau prototype ini sudah jadi dan ada rejeki, kita ganti pakai kayu jati. Janji deh, Titan :)

Lalu mulai deh potong-potong dan serut-serut. Untuk projek ini Ariawan sengaja beli serutan kayu, maksudnya supaya setelah projek ini jadi kali-kali dia bisa lanjut bikinin saya stool di meja makan mungil kami hihihi ... amiiiiiiiin :)

Sayangnya, agak kurang perhitungan untuk kayu reng dan toko bangunan pun tutup di hari minggu. So, karena memang ngerjainnya bisanya hanya di hari sabtu dan minggu, lanjut lagi deh minggu depan. Untuk minggu ini, udah bagus banget karena sudah jadi platform utama dan kita udah bisa manjat-manjat. La Luna? Wah, bukan main dia senangnya. Enggak ada takut-takutnya berada di ketinggian tiga meter.

Masih banyak yang harus dilakukan. Pagar, bagaimana cara memanjat (kan nggak seru ya kalau pakai tangga) plus saya juga minta dibuatkan hammock yang membentang dari pohon ke tembok samping. Plus, ayunan tarzan. Dasar bunda banyak mau! Hahaha ...

Well, kita lihat aja ya gimana next step-nya. Sampai ketemu minggu depan!


Aki menyumbangkan kayu besi lagi dan ikut sibuk kordinasi
Hello, Me! Tetep ya bawa sapu buat bersih-bersih
Bocah lanang lagi menatap ke kejauhan
Uwak Ary si jago ngebor, Trust me, ngebor kayu besi itu enggak gampang!

Cah wedhok pengennya duduk-duduk di pinggir, bundanya sereeeeeem 

Saturday, May 16, 2015

The weekend project: planting the good deeds


Sudah lama banget pengen bikin tirai dedaunan yang menjulur dari teras atas menuju ke teras bawah. Sudah lama pilihan jatuh kepada pohon Lee Kuan Yew ini, tapi entah kenapa baru sekarang dapatnya. Katanya sih, yang mempopulerkan pohon ini di Singapura memang Lee Kuan Yew dalam rangka memasyarakatkan taman vertikal di sana.

Akhirnya, setelah agak lama (lebih kepada enggak terlalu niat sih nyarinya), nemu juga deh ni pohon. Tujuh puluh lima ribu rupiah dapat 20 pot kecil yang langsung Ariawan pindahkan ke pot panjang. Lha, kok ariawan maning? Ha ha ha, well, karena dia itu terkenal bertangan dingin. Nanem bibit tinggal dilempar aja tumbuh :)

Oh iya, saat di tempat jual pot kita juga nemu bibit-bibit lucu daun bawang, kemangi, seledri, kangkung dan cabe putih. Itu semua sih jadi projeknya Luna (sementara kakak titan enggak ikutan karena asyik main minecraft) ... sigh *rolling eyes*

Saturday, May 09, 2015

Another Whys

Titan:
Bunda, kenapa burungku ada kulitnya?

Bunda:
Bulu kali, maksudnya?

Titan:
Bukan kenny si burung kenari, burungku Nda. Itu tuuuh, nama lain dari ituuu.

Bunda:
Oh, ... hmmm kenapa memangnya? semua bagian tubuh kan ada kulitnya.

Titan:
Iya, tapi kenapa harus dibuatnya berlebih gitu sampe ujung-ujungnya? Kan nantinya harus disunat juga. Kenapa enggak usah dibuat aja sama Tuhan?

Bunda:
Oh, itu dibuat supaya bisa melindungi bagian dalamnya. Coba, kalau yang bagian dalam dipegang aja geli-geli sakit kan? Makanya dilindungi sampai ujungnya. Coba kalau enggak, nanti kejepit retsleting celana kaya apa sakitnya?

Titan:
Tapi kan nantinya harus disunat juga. Kebuka juga, dong.

Bunda:
Kalau itu, karena pada akhirnya orang suka malas ngebersihinnya. Banyak kotorannya, jadi disunat aja untuk alasan kesehatan.

Titan:
Kalau rajin dibersihin kaya Titan? Masih harus tetap sunat juga?

Bunda:
Iya dong, kamu nantinya kan tambah besar. Bunda enggak bisa terus menerus kontrol kebersihan burungmu itu, kan?

Titan:
Iya, sih.
Ooooh, ... tapi aku belum mau disunaaaaat!


One of our chit-chat before bed

Monday, May 04, 2015

Weekend Getaway


Well, I need to warn you that his post will be cheesy. 
You can stop now, or enjoy my cheesiness. And laugh on it. 


I forgot the last time I visited Bandung.
Maybe, four years ago; if I am not mistaken.
I came with a rumble heart.
I did not do much, and nothing could make me feel missing that town for the next couple of years.
Until last weekend.
When we had to, because of a wedding.

For me, it was more like becoming a chaperone for my parents who insisted to go to Bandung.
Sounds boring, I know.
But it turned out fun, for we treated it like having a holiday.

First thing first for a holiday is, that we all need to have fun. All happy & tired at the same level. Therefore, we decided not to take a car and let the tiredness goes to the driver (only).

Second first thing first is that we all need to explore, trying out new things we never had before. So we delisted the option of renting a car from Jakarta and decided to go by train. Afterall, four out of six people in the house never had the train experience to Bandung before.
Thanks to tiket.com, we finally managed to book the ticket for the long weekend. There was a bit mistake in booking the seats, that we (me, bubu, titan and la luna) went to different compartment with aki and nini. But hey, it turned out to be a bless. When La Luna and Titan got bored, they could walk around to visit aki and nini. Big yeay for Bunda. It is going to be my trick on travelling with toddlers.

Third first thing first for a holiday is that we all want comforts. Since we are six, we need to hire two cabs anyway. So, why don't we all seat together comfortably in an Alphard silver bird and watch the Mayday strike from the big window? The cost is slightly the same with the double blue bird. I feel like a winner for being luxurious and mreki at the same time.
In Bandung, there was a driver who had already waiting for us. He was a very good one. He took small streets and alley ways to avoid the hellish Bandung on weekend so we managed to keep track on our plans. Two thumbs up! You can have his number, just ask me.

Last but not least, that it is very important to make everybody happy. Elders got to the wedding, youngsters got to new places. Since our time was very limited, we could only go to Floating market. But kids got the climax for the holiday: the becak ride!

We were so happy! Tired, but yes ... happy.
The train ride was so exciting and there was a tour guide who told us about the ancient sites like Sasaksaat tunnel (the third longest train tunnel in the world) and Cisomang Bridge (the highest train bridge in Indonesia). The foods were so so, and the cleanliness was a bit poor. But it was okay for a tree hours ride. Still it hurt when the train reached Bekasi and we could start smelling the carbon monoxide.

It had been 17 months since our last holiday, a road trip to Yogya - Solo.
Now I am craving for more.








































Tentang kamu di suatu pagi

Saat itu. Aku, aki dan dirimu; La Luna.  Naik motor di pagi hari, mengantarmu bersekolah untuk belajar dan berlari-lari.  Kamu di paling ...