Skip to main content

Responsibly Happy


Menjelang tahun baru 2015, kami sekeluarga mengalami perubahan-perubahan besar. Perubahan yang membiasakan kami untuk hidup lebih 'seadanya' dengan mengurangi fasilitas-fasilitas yang berlebihan. Kenapa? Karena ternyata tanpa kita sadari, selama ini kita hidup terlalu manja. Baik anak-anak maupun saya. 

Mulai Masak Sendiri

Sebenernya agak malu cerita tentang hal yang satu ini: sekian tahun berumah tangga dan punya rumah sendiri, baru sekarang pontang-panting nyiapin asupan makanan buat sendiri, suami dan tentunya anak-anak.

Lah, ... emang selama ini begimanaaaaaaa?

Nah, ini nih bagian malunya. Karena saya selama ini bekerja, jadinya urusan makan malam dan makan anak-anak saya catering sama ibu. Bukan saja karena lebih simpel, tapi karena masakan ibu saya luar biasa enaknya (ya, menurut saya sih ... anaknya! Hahaha). Paling weekend saya masak lucu-lucuan, atau masak buat anak-anak. Sisanya mah ... cincay! 

Nah, sejak pertengahan Desember 2014 lalu, saya memutuskan untuk berbelanja dan memasak sendiri saja. Sudah saatnya saya menjadi istri dan ibu yang lebih bertanggung jawab terhadap makanan orang-orang rumah. Setiap weekend, saya dan suami belanja kebutuhan untuk seminggu ke depan di pasar basah. Memilih binatang- binatang yang akan kami konsumsi lima hari ke depan plus beli bumbu-bumbu. Saya ingat betul belanja perdana saya untuk kebutuhan dapur yang masih nol hanyalah sekitar tiga ratus lima puluh ribu saja. Tentunya belum termasuk sayur, yang saya pikir lebih baik beli harian aja di tukang sayur supaya masih segar saat dimasak. Kami pulang setelah berhasil memenuhi 2 tas envirosax kami (duh, mesti banget ya disebut merknya? Hahaha ... karena belanja di pasar juga harus tetap gaya!) dengan ikan, udang, cumi, ayam dan bumbu-bumbu. Hari itu, saya memasak perdana dengan menu tenggiri bakar bumbu kuning. Ih, hebat ya? Hahahaha ... sama sekali enggak. Terima kasih sama uda penjual bumbu, saya tinggal bilang "Uda, minta bumbu ikan bakar 3000 ya!" 

Untuk belanja bulanan di Superindo, saya pecah menjadi belanja 2 mingguan. Belanja sayur harian di tukang sayur yang tidak menghabiskan lebih dari sepuluh ribu,  beli telur 1 kg untuk satu minggu di warung depan dan beli roti di Indomaret atau Alfa Mart sebutuhnya saja. Biasanya sih mampir ke sana setelah jemput Titan dari sekolah. Oh iya, belanja kecil-kecil di Indomaret ini ternyata kalau dikumpul-kumpul jadi jajanan mahal, lho! Untuk menyiasatinya, saya beli kartu Indomaret yang bisa di top - up di ATM. Jadi setiap bulan jajanan Indomaret sudah ada platformnya. Lumayan juga kartunya bisa dipakai buat e-toll :) 

Dengan masak sendiri ini, Alhamdulillah kita semua belajar banyak. Karena suami enggak suka makan makanan ala carte yang kebule-bulean (padahal itu yang gampang dimasak hahaha), saya harus belajar masak makanan Indonesia. Walau akhirannya lebih banyak tumis sih, hehehe. Yang jelas, Ariawan membawa bekal makan siangnya sendiri. Biasanya, bekal ke kantor ini adalah left-over foods dari dinner semalam. Kalau kebetulan habis, baru deh masak lagi, jadilah musti bangun lebih pagi. 

Selain itu, mulai juga mikir tentang menu sehat yang minimal minyak. Rebus dan bakar, kalau bisa. Buat nasi, saya campur beras putih dengan sedikit beras merah menjadikannya beras pink yang lucu hahaha. Titan yang picky eater, Alhamdulillah kebiasaan makannya mulai membaik. Makan apapun yang bundanya masak, suka atau enggak suka. Karena ibunya ini sudah terlalu lelah kalau harus masak menu yang berbeda lagi buat dia. Tentunya pilihan menu juga enggak aneh-aneh sih. Dikira-kira aja yang anak-anak bisa suka. 

Buat menghemat waktu dan siap-siap kalau kepepet, saya selalu menyimpan tempe / tahu bacem dan ayam segar berbumbu di lemari es. Kapanpun dibutuhkan, tinggal buka container trus goreng. Kalau lagi males masak, kadang pesen juga sih ke delivery Sederhana atau makan di luar hahaha.

Cutting off the bills

Kemanjaan kita berikutnya adalah ketergantungan terhadap water heater. Ow yeah. Akibat tagihan listrik yang melonjak akhir-akhir ini karena memang TDLnya naik, akhirnya kabel water heater pun saya cabut. Tadinya sih cuma pengen tahu aja, apakah setelah dadah-dadah sama air hangat tagihan listrik bisa berkurang. Eh, ternyata benar, tagihan listrik berkurang tiga puluh persen. 

Awalnya sedih juga, kasihan luna yang masih umur satu tahun. Kasihan Titan yang harus mandi pagi dengan air dingin. Tapi ternyata, Alhamdulillah Luna baik-baik aja. Dia malah seneng banget bisa main di bawah keran. Dan Titan, sejak mandi pakai air dingin, mandi paginya jadi super cepat dan akhirnya ke sekolah pun tidak lagi telat. Super yeay!

Tinggal first media aja nih, langganan TV kabel tapi enggak pernah ditonton. Mau diputusin, kita masih butuh internetnya. Karena kalau hanya berlangganan internet aja, justru lebih mahal jatuhnya. Bisa enam ratus ribuan per bulan. So, ya sudahlah ya kita merem aja. 

So yeah, these are just the beginning of our thrifty lifting journey. Semoga besok-besok bisa lebih menghargai seadanya hidup, menghargai apa yang ada. 

Amin. 




uda - uda si jago bumbu

sayur lodeh, ikan asin, sambel, tempe dan empal goreng

bekal kakak titan

temen weekly shopping

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

love is love. marriage is another thing.

of all the things I ever wondered, ... I think I never wonder whom my kids will be married to. or to picture myself holding grand babies. not just a not yet, I think it is simply too hard to bear and too absurd to think of. but then I promise myself. I promise I will not ever push titan and luna to get married or even if they are married; I will not ask them when to have kids.

many times I wondered that marriage is overrated. and the only reason to get married is not love, but to realise life is too hard to bear when you are all alone. because, however, marriage is a conditional love. hubby once said, marriage is not all fancy and glitter. the lowest it can get is, to keep functioning and it will survive. how both parties can be functional one to another, is another story.

to ariawan, a guy of mine,
the one who always wake me up from my princessy dreams. love you.



Three hours late.

2 AM and I stepped in to the house. Hubby was waiting for me. This was not the first time, and not the latest hour I had ever experienced with over time.

"See you soon Bunda. Or at 8, or at 9, or at 10, or at 11 like you said you would be late." Said my son.

I smiled as I entered the house. I smelled home. I saw my beautiful mess. As I picked up some toys on the floor, I imagined what games the kids had played today. There was a drawing, mini ceramics pots, not too chaotic for kids who were left with nini and aki without nannies.

I also saw their time tables, with some check marks on the list. Those that they weren't checked was the responsibility to wash their own dishes. I saw some dirty cups piling up. I saw the microwave's door left half-opened, a baking sheet and a knife. I wonder what they have cooked.
I also saw minecraft was in active window and some search on youtube and google.

Getting home in this hour and not seeing their faces but seeing all the mess the…

Life. Just like what I wanted.

Tiga belas bulan yang lalu, saya memutuskan untuk kembali bekerja setelah 2,5 tahun jadi freelance (tapi lebih banyak free-nya sih hahaha). Satu-satunya yang bikin saya merasa harus bekerja ya cuma Apple. Sisanya, banyak project yang saya tolak-tolakin karena males aja sih intinya. Belaguk bangetlah pokoknya.

Setelah merasa udah nggak produktif lagi di rumah, otak berasa tumpul dan rasa percaya diri udah nyungsep, saat itulah saya terima tawaran untuk kembali ke advertising. Banyak yang nyinyir sih, menganggap industri itu gelap banget dan ngapain udah enak-enak di rumah kok ya balik ngantor. Alasannya cuma satu: bosen di rumah.

Enggak tahu hal baik apa yang telah saya lakukan dalam hidup, ternyata saya dianugerahi tim yang baiiiiik banget. Anaknya manis-manis, good attitude dan yang paling penting; penuh tanggung jawab. Saya ngerasa banyak belajar dari mereka. Mulai hal baru di luaran sana sampai cara pakai krim mata. Enggak sedikit juga kesedihan yang kita tanggung bareng-bareng, da…