Friday, January 30, 2015

You

i hardly remember the last time i watch your face when you sleep.
trace the wrinkles,
count your eye lashes,
watching you breathing hard as hard as the days you have had.

but i am doing it now
and everything flashes back.

it is amazing how my brain remembers the every-little-things in fourteen years.

the alarm beeps.
and your eyes opened up.

"hello" i said.

thisclose.






Tuesday, January 27, 2015

Thursday, January 15, 2015

"I take the consequence and I am fine."

Yup. That's my son.
Untuk sekilas, terkesan keren ya hahaha. Cuma, akhir-akhir ini saya agak dibikin pusing karenanya.

Umur Titan sekarang 8 tahun kurang 4 bulan. Sejak kecil, saya selalu mengajarkan dia untuk membuat pilihan sendiri dan menerima konsekuensinya. Mulai dari memilih pakaian sehabis mandi, sampai menerima konsekuensi harus ke dokter sendiri kalau sakit karena menolak makan. Pada kenyataannya sih saya antar dia ke dokter, tapi saya cuma bertugas mengantar. Mendaftar dan bicara pada dokter, itu kesepakatan yang harus dia lakukan sendiri. Saya masih ingat benar, saat itu Titan berusia 4 tahun lebih sedikit dan dia melakukannya dengan baik.

Akhir-akhir ini, saya terpaksa jadi harus terdiam (karena mikir harus bagaimana) melihat karma sendiri. Entah harus bangga atau enggak, yang jelas sih saya bingung. Saya ceritain ya beberapa kejadiannya.

Beberapa bulan lalu, saya; luna dan titan jalan-jalan ke mall. Bagian bawah stroller Luna (yang biasanya berupa kantong), lupa saya pasang setelah beberapa hari sebelumnya saya cuci. Hari itu, bergantianlah Luna saya gendong dan Titan duduk di atas stroller sambil tumpang kaki dan melepas sepatu. Sepatunya kemana? Sepatunya, dengan santai Titan taruh di kolong dimana kantong tersebut biasanya berada. Sayangnya, Titan kurang teliti untuk mengetahui bahwa ia menaruh sepatu di tempat yang tidak ada penahannya. Alhasil, sepatunya tertinggal entah kemana. 
Saya baru 'ngeh' kejadian ini saat makan siang, melihat dia berjalan santai sambil cekeran. Mukanya biasa aja gitu, kaya enggak ada yang salah. 

"Lho, sepatu Titan kemana?"

"Uhmmm ... tadi waktu duduk di stroller aku lepas sepatu dan aku taruh di kolong, tapi ternyata bawahnya enggak ada dan Titan enggak tahu." 

"Jadi daritadi kamu cekeran gini?" 

"Iya."

Melihat mukanya yang santai, saya juga enggak panik. Cuma mikir aja, jatuh dimana kira-kira itu sepatu. Titan juga enggak minta beliin sendal atau mencari gantinya. Enggak juga merasa ada yang salah dengan keliling-keliling mall cekeran. Enggak merasa malu juga diliatin orang. Biasa aja. Dia tahu dia salah, dan dia terima konsekuensinya: cekeran keliling mall. Enggak berani minta beli gantinya, karena dia tahu dia salah. Mungkin karena dia juga mengerti, bahwa ibunya ini enggak akan membelikan gantinya. 
Untung parkir dekat sekali dengan pintu keluar di basement. Saya hanya minta dia untuk tunggu di lantai yang bersih dan tidak ikut berjalan di parkiran karena pasti lantainya panas dilalui ribuan mobil. Dan kami pun pulang. 

Cerita ke dua.

Hampir sama dengan cerita pertama, tiba-tiba di mall saya melihat Titan berkaos kaki tapi bersandal jepit buluk. 

"Lho, kok pakai kaos kaki tapi pakai sendal jepit? Kotor banget lagi sendalnya. Ketinggalan di mobil ya, sepatunya? Yuk, mau balik lagi?"

"It is okay, Bunda. Aku lupa bawa sepatu. Tadi setelah pakai kaos kaki, aku main-main dulu di halaman pakai sendal trus kelupaan deh pakai sepatunya."

"Oh, ya kalau gitu dibuka aja kaos kakinya. Pakai sendalnya aja."

"No, it is okay. Sendalnya kotor, aku enggak mau kakinya jadi kotor. Gini ajalah."

Trus jalan deh dia kaya anak lagi sakit panas pakai kaos kaki tapi pakai sendal jepit. 

Cerita lainnya.

Karena capek dan bosan setiap hari harus 'berantem' soal bangun pagi dan buru-buru pergi ke sekolah, pada term kemarin saya merubah trik. Saya benar-benar jadi fasilitator aja, dimana Titan yang atur waktunya sendiri. Pagi-pagi, saya ingatkan dia untuk bangun. Ingatkan untuk menyegerakan makan dan berangkat sekolah. Yang biasanya saya ikut senewen, di term kemarin saya berusaha untuk santai. Pun urusan belajar. Kalau mau belajar hayuk, kalau lagi malas ya enggak papa. 
Hasilnya pada PSTC kemarin: telat 19x dan harus ikut remedial (tambahan jam pelajaran) setiap hari senin dan kamis. 

"Titan, kalau telat tuh rasanya gimana ya?" 

"Biasa aja. Malu sih, dikit. Tapi ya enggak papa."

"Enggak dihukum?"

"Enggak ada hukumannya, Nda."

"Missnya enggak marah?"

"Enggaklah, masa guru marah-marah. Ya paling di - remind aja." 

"Karena kamu telat, kamu jadi harus stay di sekolah lebih lama. Enggak enak, kan?"

"Enggak papa, Nda. Enak kok, Titan malah lebih fokus belajarnya karena cuma sedikit muridnya kalau pas remedial." 

"Jadi menurut kamu telat enggak papa?"

"Ehm ... enggak baik sih, tapi kalau jadi harus stay lebih lama ya enggak papa juga." 



hhh!

Wednesday, January 14, 2015

a quality time

i think, every child needs to have a quality time just with their mom or dad.
titan has the fridate with his ayah. like the name, it happens every friday. luna has it (almost) every morning, taking shower with her bubu and she has it all day with me.

now, what about titan and me?

it has been months since la luna joined the get-kakak-to-school thingy. both sat in the car, watch some movies and voila, kakak gets to reach the school. but then i thought that it was not all good, because i did not have the time to 'recharge' malicca about the good things getting to school and all about the good things keeping the lessons handy. he would only be busy with the movie , since it is also what will make la luna to stay-put in the car seat. no time for warming up and pre-condition about school time.

this term, i changed my method. taking titan to school and pick him up from school, will be our quality time.  i get the chance to opened-up his door and stood on his level. i get the chance to tidy up his collar and say "stay focus to your lessons and have fun with your friends." i also get the chance taking him to the class, watch him put his things in the locker and said "see you soon." i also get the chance talking about everything and have a laugh together.

yes, i feel better. i think he does too.

maybe this is one of the thing we need to consider when we are adding-up numbers for our child. not only the money, but also the time we can afford for them.

di suatu pagi

entah kenapa, lagi suka dengan teras belakang ini. sejak hari minggu yang lalu, tepatnya. awalnya karena mau kedatangan eyang kembar, jadi sedikit rapi-rapi dan beres-beres. naro pohon kecil di depan jendela. enggak disangka, dengan seringnya hujan di pagi hari beberapa hari ini, ternyata nongkrong di teras pagi-pagi sebelum semuanya bangun itu enak banget. sambil ngopi, sambil mikir-mikir kesana kemari.

set meja dan kursi di teras belakang, masih juga set lipat yang seharusnya ada di halaman. tapi karena lagi sering hujan, lama-lama capek banget musti angkat-angkat. sebenernya sih disainnya memang untuk dihujanin dan dipanasin. tapi karena warnanya putih, capek juga musti sikat-sikat terus. lagian kalau ditaro di teras rasanya juga lebih berguna, karena udah 7 tahun punya rumah tapi masiiih juga belom punya meja makan yang proper ha ha ha....

taplak meja itu, tak lain dan tak bukan adalah flanel bedong jaman titan bayi. sekarang-sekarang ini lagi suka pakai kain apa aja yang ada. asal dicuci setiap hari. mendingan gitu daripada punya taplak kheseus tapi cuma punya satu trus kzl sendiri kalo ketumpahan kuah kuning.

kursi mungil warna hijau itu, enggak lain yaitu kursi tempat luna duduk manis kalau lagi nungguin bundanya masak. kadang sambil ngobrol sama pohon dan sobek-sobek daunnya. enggak jarang juga dia mainan siram-siraman pohon pakai teko yang di atas meja. lama-lama minta diisi air deh, kemudian becek seteras. la la la ... la .. laaa

tembok taman di ujung sana yang berlumut, dulu ada gambar titan di sana. lumayan bertahan lama sampai akhirnya luntur terkena hujan. ya iyalah, gambarnya pakai oil pastel hahahaha .... saya takut sama sesuatu yang permanen di rumah. bukannya apa, saya bosenan banget ampun - ampunan. segala sesuatu harus bisa dibongkar tanpa bekas dan dipasang lagi di tempat lain. itulah kenapa, beberapa hiasan di rumah cuma ngandelin glutack atau lem tembak. musuhan banget sama yang namanya paku, contohnya tierod tanaman yang menggantung di teras ini. itu batang buat gorden di kamar mandi yang bisa ditarik ulur. enggak pernah sekalipun berniat mengebor tiang kayu besi kecintaan, karena suatu hari pasti pot-pot itu enggak lagi ada di sana. pindah ke tempat lain, entah kemana. tergantung mood.



yang paling enggak saya suka dari teras ini adalah ubinnya. dulu, rumah ini emang gaya-gayanya unfinished gitu. cuma ya, ternyata, unfnished style itu emang murah tapiiiii high maintenance. kalau memang bukan tipe yang enggak papa ngeliat lumut tumbuh, atau sedikit toleng-moleng, gak papa deh punya rumah gaya itu. rumah saya ini pelan-pelan udah move-on dari gaya unfinished. walaupun, di sana - sini masih terlihat aksen concrete exposed atau yang menyerupai. ternyata ubin lekang juga dimakan waktu. dari warna hitam, sekarang mengabur jadi warna kelabu. belum lagi noda-noda putih di atasnya bekas air. awwww ... menyebalkan. entah kapan bisa diganti palka kayu dengan kolam kecil yang mengalir di sekelilingnya. amiiiiiiiin :)

*seruput teh*



Tentang kamu di suatu pagi

Saat itu. Aku, aki dan dirimu; La Luna.  Naik motor di pagi hari, mengantarmu bersekolah untuk belajar dan berlari-lari.  Kamu di paling ...