Tuesday, September 30, 2014

Monday, September 29, 2014

telat dan telat banget

masih berkutat dengan anak yang terlalu santai berangkat sekolah dan akhirnya ... telat!
ternyata saya masih belum legowo untuk menjadi fasilitas belajar. masih nervous kalau liat si anak nyantai dan enggak merasa ada yang salah kalau telat datang ke sekolah.

saya orang  yang percaya, kalau saya ninggalin rumah sambil misuh-misuh, pasti sepanjang jalan sampai ke tempat tujuan itu enggak lancar. banyak yang bikin kesel dan semuanya jadi enggak bener. begitu juga pagi ini.

saya bangunin titan sekali, and thats it. anaknya manis banget, lima belas menit kemudian kucuk kucuk turun tangga dan mandi. tapi along the way, karena dia merasa sudah bangun cepat, maka bersantai-santailah dia melakukan ritual-ritualnya. dia enggak ngerti, bahwa dia bangun cepat pun harinya sudah siang. alhasil, ya jadi telat juga berangkatnya. ndelalah di jalan kena metromini mogok pas banget di depan mata, trus kejebat gridlock di perempatan.

di perjalanan, sontak dong saya nyerocos.
paling juga nggak didengerin sih sama anaknya -__-
sampai akhirnya saya mengajukan sebuah ide.

"malicca, karena kamu enggak merasa rugi juga kalau telat (he did say that before), dan anyways sudah telat juga nih kita, yuk kita ngopi-ngopi dulu aja di McD atau sruput-sruput Slurpee di Sevel. toh udah telat juga, kan? bedanya, kita santai-santai dulu... oh, bunda ding yang santai-santai. kan kamu udah santai-santai tadi pagi. luna juga udah nangis-nangis tuh bosen, abis macet banget siiiih."

"nggak mau, nda. nanti jadi telat banget."

"whats the difference between telat dan telat banget? gak ada itu yang namanya telat banget. telat ya telat aja, thats it. kalau udah telat, ya udah. telat. gak usah pake banget. thats what we do with timing. tepat atau telat."

anaknya diem aja.
saya pasang sen mau melipir ke sevel yang udah ngiming-ngiming slurpee cotton candy.

aselik deh, saya udah niat banget mau nyevel karena kesel terkena macet ngga jelas ini. gara-gara tol jorr sudah dibuka tapi akses luarnya masih berantakan, gini deh akibatnya. tapi tiba-tiba titan protes berat.

"oke, oke! aku enggak akan telat lagi. beneran! 
kamu jalan terus aja, jangan mampir beli slurpee."

saya pasang muka datar, walau dalam hati senyum-senyum dan terus jalan enggak jadi melipir.
ya, gak ngaruh juga sih.
tetep telat.

banget.


7ime for manners

supaya bisa makan dengan nyaman, saya biasanya nyiapin minum dulu sebelum mulai makan. begitu juga tadi malam. segelas besar teh manis hangat udah nangkring di atas meja, reward buat saya saat selesai makan nanti. ouw, ... nggak sabar pengen menenggak teh manis anget itu ... gluk gluk gluk!

tiba-tiba, di tengah makan, ada tangan kecil menyambar gelas gendut teh hangat saya.
"eh, enak aja. it is not yours."
"dikit aja, nda. dikiiiit aja."
"enggak boleh, that is mine."
"bunda pelit"
"emang!"

lalu, saya melanjutkan makan dan melihat si bocah tujuh tahun bersungut-sungut sambil mengambil gelas dan mulai menuang air teh dan gula. saya liatin aja sambil senyum-senyum dan bilang "nah, itu kan bisa bikin sendiri. masa buat diri sendiri aja males, sih? jangan dong."
ndelalah, si anak malah pasang tampang bete dan memutar bola matanya. DI. DEPAN. SAYA.
saya langsung melengos, enggak mau liat.

setelah makan, dan minum teh anget saya dengan mood yang udah setengah kacau gara-gara ngeliat Titan berbuat enggak sopan kaya gitu, akhirnya Titan saya tarik ke kamar dan ajak dia bersih-bersih bersiap tidur. sambil cuci muka juga, saya mulai deh nyerocos tentang siapa saya dan kenapa dia harus pay some respect to older people.

anaknya diam aja. merasa salah. saat ditanya "kamu mengerti?" dia sih angguk-angguk aja. mari kita lihat aja apa dia bakal begitu lagi ke depannya.

tapi beneran deh, anak umur 7 tahun itu mulai memasuki alam gemet-gemet nyebelin. testing the limits dan mulai coba-coba ngomong atau berbuat enggak sopan, sesuatu yang mereka belum pernah lakukan sebelumnya and trying out a new things (specially the bad ones) are always fun, right?

sabar-sabar ya, Nda.
*pukpuk kepala sendiri*


Friday, September 26, 2014

a little detour


"Nda, kamu enggak capek ngeburu-buru Titan seeetiap pagi, untuk pergi sekolah?"
tanya ariawan suatu pagi.
*saya diam. ya capek sih. dan saya yakin, ariawan tau itu. makanya dia nanya.*
"yang perlu sekolah itu, anaknya atau kamu?"

*glek*


pertanyaan itu tiba-tiba membangunkan saya dari mimpi kelamaan jadi pelindung anak-anak. padahal, jauh di balik kekhawatiran terlambat sekolah; ada kekhawatiran lain lagi. yaitu keinginan untuk tetap bisa mengontrol ekspektasi hari itu. berangkat tepat waktu, itu berarti pulang ke rumah tepat waktu, luna sarapan tepat waktu, saya mandi tepat waktu, luna tidur siang tepat waktu, saya istirahat tepat waktu, semua tepat waktu dan hari itu pun berjalan normal sesuai dengan time slot yang sudah saya harapkan.

iyes, pengharapan saya sendiri.

tapi, saya malah jadi lupa; bahwa harapan supaya anak-anak jadi anak yang bertanggung jawab bisa dimulai dengan membiarkan mereka belajar memanfaatkan waktu mereka sendiri. kenapa sih saya enggak membiarkan saja dia bangun sendiri. biarin deh, telat juga. toh dia yang akan ngerasain jalan di lorong kelas sendirian sementara teman-temannya sudah masuk kelas. toh dia yang akan menghadapi guru piket dan mengisi formulir keterlambatan dengan susah payah karena panjaaang dan menulis sambil berdiri itu rasanya enggak enak. toh nantinya dia juga yang harus catch up workshop-workshop yang tertinggal.

kalau saya tidak membiarkannya melakukan kesalahan sekarang, lalu kapan lagi? apa dia harus belajar dengan keras soal time-management saat dia bekerja nanti? saat ada interview pekerjaan di sebuah perusahaan bonafid? atau saat ada presentasi ke klien? atau saat ada jadwal penerbangan?

tapiii, apa kata dunia nanti? dikiranya ibu macam apa saya ini, enggak bisa urus anak? 
"i am such a tiger mom, why can't you do it too?" ... kata belahan kepala saya yang lain sibuk banget protes kalau saya berbuat seperti yang di atas. 

tapi, setelah saya pikir-pikir; apa yang ariawan omongin ada benarnya juga. bener banget, malah. hanya saja soal menjadi ikhlas melihat anak berbuat salah dan menerima konsekuensinya, melihat dia lelet di segala sesuatunya, ... saya masih harus belajar banyak. banget. 

itu satu. 

yang ke dua, ariawan juga terkaget-kaget saat saya bercerita kalau saya ngedampingin titan bikin PR, setelah dia selesai kemudian saya periksain satu-satu dan minta titan untuk merevisi kalau ada yang salah. 

menurut ariawan, itu adalah hal paling salah yang sering dilakukan orang tua. karena menurut dia, saya telah merampas rasa percaya diri titan untuk presentasi hasil karyanya di depan guru, dengan menjadi reviewer tugas-tugasnya. sementara, otoritas untuk mereview tidak berada di saya; melainkan ada pada gurunya. proses belajar sebenarnya justru terletak pada saat titan presentasi hasil karyanya, murni tanpa campur tangan dan embel-embel revisi atau bantuan dari saya. dengan begitu, rasa percaya diri dan bangga terhadap hasil karyanya akan terbentuk.
selain itu, proses belajar juga terjadi saat saya mengetahui apakah gurunya telah mereview dengan baik, ... atau tidak. 

hooo, ... well well masih musti belajar lagiiiii dan berusaha lebih ikhlas lagi ngeliat anak bikin salah 
-__-






Wednesday, September 10, 2014

Ikhlas itu...

... susah!

I live in a world where a woman can be everything.
Yet I don't have to be everything.

sepuluh bulan sudah jadi full time mom di rumah. yeah, ibu rumah tangga lah judulnya. rasanya cepat sekali, engga terasa. melewati masa menyusui eksklusif, weaning, baby led weaning, graduation TK, orientasi SD, menyaksikan langkah pertama anak, menyaksikan cinta pertama anak, antar-jemput, gubrak-gabruk saat mom capek dan berubah jadi momster, melalui dua tifus, ... and keep rocking to this very moment.

sepuluh bulan, dan masih mencoba untuk ikhlas.

mencoba ikhlas bahwa yang dilakukan sekarang ini jauh dari penghargaan yang terukur. jauh dari takaran piala emas, perak atau perunggu di panggung perhelatan dunia periklanan. misalnya, rumah sudah capek-capek dibersihin ya pasti acak-acakan lagi dan harus dibersihkan lagi. atau saat sudah capek-capek masak, toh titan minta menu lain yang super simpel: nasi goreng ceplok telor. apa yang mau dihargai kalau bentuk karya ibu rumah tangga aja susah terlihat : )))

mencoba ikhlas sulit untuk memiliki me time, walau kadang separuh hati berkata bahwa saya sudah cukup punya me time selama 28 tahun dan saat anak-anak besar nanti pun saya akan memiliki me time itu lagi.

mencoba ikhlas bahwa dulu pernah punya pendapatan dan bebas mau ngapain aja, sekarang jadi salary-less dan punya rasa enggak enak saat harus mengandalkan suami saja.

merasa rendah diri, karena merasa yang dihasilkan biasa-biasa saja (ya karena itu tadi, hasil kerja ibu rumah tanggak itu enggak terlihat) dan juga merasa bodoh karena rasanya otak enggak dipakai untuk sesuatu yang terukur. kalau ngantor kan jelas: kerjaan selesai tepat waktu, klien happy, menang award. itu semua kan ukuran kesuksesan. lah kalau di rumah? kwang kwang kwang kwang ...
terukurnya nanti, kalau anak-anak sudah jadi 'orang' atau rumah tetap kinclong saat keluarga bertandang : )))

kalau ditanya apa saya sudah ikhlas dengan semua itu? jawabannya, saya masih terus belajar. masih mencoba mengesampingkan ego saya sebagai mantan pekerja kreatif yang ternyata tidak bisa selalu kreatif dalam urusan nyiapin masakan sehari-hari. masih mencoba untuk mengesampingkan keinginan untuk me time dengan menyingkirkan ponsel kalau bersama anak-anak. masih belajar untuk menjadi tetap cerdas dengan ikutan online course gratisan walau tutorialnya ditonton sambil terkantuk-kantuk plus sambil nyusuin. masih berusaha untuk ikhlas tidak berpenghasilan saat usaha wiraswasta lagi blooming-bloomingnya, dikalahkan dengan harus membagi waktu mempelajari kembali pelajaran SD karena pelajaran si kakak mulai serius.

di saat semua ini berkecamuk di kepala saya, sementara suami pun sibuk bekerja dan rasanya enggak enak kalau harus mendengar curhatan-curhatan kecil ini, saya sangat merindukan pembicaraan-pembicaraan ngalor ngidul (yang tentunya hanya sebatas wacana dan tidak dilakukan) dengan teman-teman. saya sangat merindukan perasaan santai dan legowo, yang tidak ingin menjadi ibu sempurna tapi cukup menjadi ibu yang dapat diandalkan saja. saya ingin menaruh rasa percaya yang lebih besar kepada anak-anak dan memberi hukuman yang jelas-jelas bisa saya lakukan, bukan sekedar ancaman. saya ingin menjalani hari-hari yang jauh dari rasa takut: takut telat ke sekolah, takut anak-anak enggak mau makan, takut anak-anak sakit, takut anak-anak gagal. saya ingin lebih ikhlas, menanggalkan ke'aku'an saya dan bersedia untuk berdiri di belakang. di belakang anak-anak dan suami.

saya dan titan di suatu pagi:

"Titan! Ayo cepat makannya, hap hap hap jangan sambil ngelamun. Nanti kita telat nih, sudah jam berapa. Belum lagi nanti macet. Atau kamu berangkat naik ojek aja ya, sendiri!"

"Ah bunda, bunda nih banyak takutnya. takut kecoak, takut telat, takut gemuk, takut takut takut apaaa lagi, masih banyak. titan aja cuma dua takutnya. takut laba-laba sama takut kalau bunda marah."



Tentang kamu di suatu pagi

Saat itu. Aku, aki dan dirimu; La Luna.  Naik motor di pagi hari, mengantarmu bersekolah untuk belajar dan berlari-lari.  Kamu di paling ...