Skip to main content

#lebaran2014

postingan #ramadhan2014 belum lengkap, tau-tau udah nongol judul baru #lebaran2014 aja hahaha

well, jadi gini ceritanya.
tiba-tiba si mbak di rumah nini, yang notabenenya tetanggaan sama kita, tiba-tiba pulang sebelum waktu yang dijanjikan. jadilah kita semua sibuk kerja bakti bantuin nini - aki yang umurnya sudah di atas 65 tahun, mulai dari dalam sampai luar. kamar mandi sampai garasi. lap-lap sampai mencuci. apalagi nini itu clean freak. kalau kata aki, nini suka memaksakan rumah untuk selalu kinclong seperti istana nabi sulaiman. padahal, tenaganya sudah jauh menyusut. aku sih ketawa ajalah. ya memang sudah sifatnya seperti itu, mau gimana dong. udah bagus hobinya bersih-bersih, daripada hobi belanja? lebih pusing lagi kan, ki?

ndelalah, si mbak part-timer di rumah kita pun ikutan ambil cuti mendadak seenaknya. 3 minggu, bayangin! pun tanpa pemberitahuan sebelumnya. ujug-ujug gak masuk dan ngirim anaknya yang masih sd untuk minta 'izin'. jadi, ya gitu deh ... sudahlah beberes dua rumah, punya satu bayi dan enggak terasa lebaran pun datang dengan sangat cepatnya. sampe enggak sempat bikin-bikin kue lucu, apalagi nulis-nulis lucu.

nah, mumpung lebaran belom genap satu bulan (mind my excuse please), izinkan saya mengucapkan selamat lebaran ya. mohon maaf lahir dan bathin, kalau-kalau ada kata-kata yang menohok di hati *pelukkk*

so, gimana lebarannya? kalau saya, setiap lebaran bawaannya sedih. semakin tua, semakin sedih. karena takut, takut banget, kebersamaan bersama orang tua akan berakhir suatu saat nanti. padahal, yang tua kan belum tentu akan meninggalkan kita duluan ya. tapi entahlah, rasanya ya ... sedih. apalagi semakin ke sini, lebaranan semakin sepi. karena sesuatu dan lain hal.

dulu, rumah orang tua saya selalu dijadikan 'pool' lebaran, baik dari pihak keluarga bapak maupun mamah. tapi, sejak bapak pensiun, perlahan-lahan mereka yang tetap ke rumah tinggal hitungan jari. sudah beberapa tahun belakangan ini lebaran itu 'seadanya'. ditambah di keluarga saya bercucu sedikit, cuma empat orang dan itu pun yang satu jauh di benua lain, satu masih tergolong kelas perbayian dan satu lagi selalu berlebaran di kota lain. otomatis tinggal satu aja yang tersisa di rumah, yaitu titan. jadi ya memang tidak ada alasan untuk bermeriah-meriahan. jauh dari petasan, permen dan angpao.

itulah juga kenapa, titan tidak terbiasa dengan keistimewaan lebaran seperti saya dulu. saat ditanya sama nininya apakah sudah punya baju lebaran, dia malah nanya balik seperti apa baju lebaran itu. apakah beda dengan baju-baju yang dia punya sekarang?

sesaat, itu jawaban cerdas. tapi kalau dipikir-pikir lagi, kok saya agak sedih ya. dulu waktu kecil, lebaran itu sesuatu yang wow banget. ketemu sama saudara-saudara dan ... pesta! tapi sekarang enggak lagi, dan karena itu titan juga menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa-biasa aja.

sebagai upaya untuk mengembalikan magic moment lebaran, dua tahun terakhir ini saya membolehkan titan untuk membelanjakan uangnya untuk beli mainan. well, for the sake of enliven the joy of lebaran. just like christmas. tapi ternyata cuma bertahan dua tahun, saat titan berumur 5 dan 6 tahun. karena tahun ini, saat titan berusia 7 tahun; dia lebih suka menabung uang angpaonya untuk dibeliin yang dia belum tau apa.

well, ini jadi pe er saya untuk lebaran tahun depan sih. semoga bisa lebih bersemangat dan menularkan semangat suci itu buat anak-anak :)

dan satu lagi catatan untuk ramadhan kali ini, saya berhasil berbuka puasa di rumah bersama orang tua selama satu bulan penuh! hal yang belum pernah saya lakukan selama belasan tahun terakhir :)

barakallah.




Comments

  1. Hai I like your blog. Boleh minta email untuk kerjasama?

    Regards

    ReplyDelete
    Replies
    1. halo, thanks for stopping by. wury.handayani@gmail.com :)

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Life. Just like what I wanted.

Sounds so snobbish ya, saying life is just like what I wanted. But then I realized, semua itu karena emang aku enggak pengen apa-apa. Sekarang juga (ternyata) masih begitu. Dulu emang I treat my life like a blue print. Things to do piling up my list and my aims were to accomplish them. Alhamdulillah, semua tercapai. Tapi kemudian seperti ada titik tolak dalam hidup yang bikin  berhenti ingin terlalu banyak dari hidup. Entah karena merasa udah cukup banyak pencapaian pribadi baik yang bagus atau yang buruk, entah karena pernah kecewa berat sama yang namanya manusia atau karena alasan klise yang digadang-gadang semua manusia: anak.

Sekarang ini, lebih banyak menyambut apa yang datang ke dalam hidup. Termasuk, kembali ke agency lagi. Having thought that I am not some kind of 'Man in a mission' kind of person. I am just an 'I will do my best' of what comes in front of me kind of person.

Gini ceritanya.

Tiga belas bulan yang lalu, saya memutuskan untuk kembali bekerja setel…

love is love. marriage is another thing.

of all the things I ever wondered, ... I think I never wonder whom my kids will be married to. or to picture myself holding grand babies. not just a not yet, I think it is simply too hard to bear and too absurd to think of. but then I promise myself. I promise I will not ever push titan and luna to get married or even if they are married; I will not ask them when to have kids.

many times I wondered that marriage is overrated. and the only reason to get married is not love, but to realise life is too hard to bear when you are all alone. because, however, marriage is a conditional love. hubby once said, marriage is not all fancy and glitter. the lowest it can get is, to keep functioning and it will survive. how both parties can be functional one to another, is another story.

to ariawan, a guy of mine,
the one who always wake me up from my princessy dreams. love you.



Let's cut the crap from the question of Which Mom Are You?

A few years back, social media was being fussy about working mom versus stay at home home. What a nonsense brag! Since I went through both and also had a chance of being a working-from-home mom, it is even more ridiculous for me. Only stupid have a time discussing it and to elaborate on their social media status. Whoever we are, what kind of mom we are, what matters most is how we can make our life productive and progressing. Every single day.

Different mom has different ways of being productive. Some goes to work. Some clean up and cook for the family. Some works at home by selling stuffs online or being a freelancer. Productive means to produce something. Be it money, the foods, you name them all. But the question is, is productive enough? How about having a progressing life? Not as the wife of Mr. Blabla or as the mom of kid Zubidudamdam. But us, as a person. Me, as Wury; a 38 years old woman and how far I have made progress in  my life.

BUT. Let alone of being progressive, ... ar…