Sunday, July 20, 2014

Oh you failed me, Mr. Jobs.

Yes, Mr. Jobs ... you said computer should be personal. But look at what's happening now, my kids are having a cat fight over a macbook for Barney video and Minecraft; apps you did not create for apple.

Both cried, so greater interference should give a go.

Me:
Titan, yuk kita problem solving. Bunda di sini mewakili adek luna untuk solve the problem, karena adek masih terlalu kecil untuk diskusi sama kamu.

Titan:
OK

Me:
So, what is the problem?

Titan:
Itu, adek ngerebut komputernya buat nonton Barney pas titan lagi main Minecraft. Ini kan weekend, Titan cuma boleh main Minecraft on weekend, kan? Kalau diganggu adek nanti jam main Minecraft Titan jadi berkurang. Titan nggak mau.

Me:
O, gitu tho masalahnya.
OK then, kamu punya solusi apa?

Titan:
*mikir lama*
Enggak tau, Titan enggak punya ide solusinya apa.

Me:
Hmmm, kalau gitu Bunda aja yang kasih solusi. Bunda punya 3 solusi, Titan pilih yang mana. OK?

Titan:
OK *masih dengan mulut bersungut-sungut dan bersuara tipis habis nangis*

Me:
Solusi pertama, karena bunda enggak mau kita semua bertengkar hanya karena komputer, gimana kalau komputernya bunda simpan aja? jadi adil untuk semua. Titan enggak bisa blogging, browsing dan main Minecraft, adek enggak bisa nonton Barney di Youtube, Bunda juga enggak bisa jualan caramel di Facebook jadi Titan enggak bisa beli mainan lagi. Bunda enggak bisa baca email-email dari sekolah Titan, trus ketinggalan pengumuman macam-macam. Pokoknya kita sama sekali enggak pakai komputer, kita simpan baik-baik di lemari.

Titan:
Film-film Titan yang di komputer Bunda, gimana? Enggak boleh ditonton juga?

Me:
Nanti kita pindahin film-filmnya pakai thumb drive dan titan bisa nonton di TV di lantai atas.

Titan:
Enggak, Titan enggak mau option satu.

Me:
OK, then I let's go to option 2.
Seperti yang bunda janjikan, weekend is your time for Minecraft. The computer is all yours.
Tapi, kamu harus maksimalkan kesempatan itu. Go for minecraft all weekend. Enggak perlu makan, enggak perlu mandi, enggak perlu minum, enggak perlu ngobrol sama bunda, adek dan siapapun, enggak ngapa-ngapain pokoknya cuma main Minecraft. Lalu, mainnya di tempat tertutup yang adek Luna enggak mungkin nemu. Lalu Titan kunci pintunya. Misalnya main di gudang, atau main di kamar Titan di atas. Like I said, the computer is all yours. Termasuk juga, kalau minecraftnya tiba-tiba ada glitch, wifi-nya tiba-tiba enggak bisa connect, you fix them yourself. Why? Because like I said, the computer is all yours on weekend.

Titan:
*mikir kenceng*
Hmmm... option ke-3 apa?

Me:
Hmmm, ... option ke-3; bermain dengan bijak.

Titan:
Bijak itu apa?

Me:
Bijak itu, maksudnya bijaksana. Tahu waktu dan tahu diri.

Titan:
Maksudnya?

Me:
OK, Tahu waktu: Ini maksudnya.
Bunda ingetin ya, kan bunda bilang sebelumnya, kalau dibeliin Minecraft Titan harus tahu waktu. Kenapa, karena semua hal ada waktunya. waktu untuk main ya main. waktu untuk makan ya makan. waktu untuk mandi ya mandi. nah, waktu untuk sharing ya sharing. Jangan karena gara-gara main Minecraft waktunya jadi tabrakan semua. Akibatnya, Titan jadi enggak mandi. Enggak makan. Enggak bener, itu.

Tahu diri, maksudnya:
Ini kan komputernya Bunda, tapi bunda enggak keberatan sharing sama Titan. Masa Titan keberatan untuk sharing sama adek Luna? Lagian adek mainnya cuma sebentaaaaar. Paling cuma 10 menit trus bosan. Sementara Titan sudah main dari pagi, kan? Saat adek Luna nonton, toh kamu bisa main yang lain. Go outside and see the greeneries, it is good for your eyes. Titan bisa menggambar, main lego, main ayunan, main otoped, ngobrol sama Bunda, banyak lho yang bisa dikerjain. Dan kemarin-kemarin, di weekdays yang kamu enggak boleh main Minecraft, kalau adek nonton Barney di Youtube kamu biasanya ikutan nyanyi. Kalau kemarin bisa sharing, kenapa hari ini enggak?

So, back to our problem solving. Bunda sudah kasih 3 option, Titan pilih yang mana?
1. Komputernya disimpan jadi kita semua enggak bisa pakai
2. You have the computer all weekend, but you have to maximise it.
3. Be flexible, use the computer wisely. Bijaksana. Tahu waktu dan tahu diri.

Titan:
OK. Titan pilih nomer 3.

Me:
Bener?

Titan:
Iya.

Me:
OK. Problem is solved ya. Salaman dulu dong.

*salaman*


Tuesday, July 15, 2014

ramadhan 2014, hari #17 : children have the biggest survival rate


jam satu siang lewat tiga puluh menit.
ada janji initial meeting awal tahun di sekolah titan, ... ya; di jam yang sama.
tapi mobil mogok, kelamaan enggak dipakai dan enggak dipanasin jadi ngambek.
rumah pun kosong, enggak bisa titip la luna.

akhirnya,
dengan segenap keberanian melanggar peraturan dan melewati batas kenormalan penjagaan kenyamaan anak yang dibuat sendiri, aku, titan, luna dan aki meluncur ke sekolah titan naik motor.
di hari panas bulan puasa, saat luna genap berusia 1 tahun 1 hari.

sepanjang jalan, aku mentertawakan diri sendiri.
mentertawakan keadaan, tepatnya. padahal kesalnya bukan main. sama dengan level panas matahari siang itu.  tapi saking kesalnya, bawaannya malah jadi pengen ketawa. apalagi melihat titan ketawa-ketawa senang karena naik motor rame-rame.
luna aku ikat dengan wrapper di dada. mukanya tegang dan takut, merungkut di dada sambil melihat-lihat pemandangan. kali pertama dia naik motor. saat pulang, mukanya sudah lebih santai dan terkantuk-kantuk tertiup angin.
pelan-pelan, ayahku memegang kemudi dengan tenang. seperti biasa, ia selalu ada saat aku membutuhkan. he is the only superhero that is real in my life.

ternyata, anak-anak merasa baik-baik saja. 
diantara deretan alphard yang berjejer dan kita datang berempat naik motor. 
seorang anak perempuan yang baru lulus satu hari dari tahap perbayian dan bergaul dengan asap kendaraan; meski berjarak tidak lebih dari 2 kilometer, dan menentang matahari. 
mereka, baik baik saja. 

kadang (baca: seringkali), kita terbatas dengan batas-batas yang kita buat sendiri. 

aku memang harus lebih banyak belajar dari anak-anak. 
dalam keadaan apapun, mereka selalu menemukan celah dan cara untuk bermain. atau menikmati keadaan. thank you for teaching me such a thing, kids. like always. 













Monday, July 14, 2014

ramadhan 2014, hari # 16 : kali pertama sang bulan kelilingi matahari


enggak ada kata lain yang terucap selain syukur. 

atas kebersamaan yang masih bisa kami dulang bersama di bulan ramadhan ini. 
dan mengucap doa, 
untuk sang bulan yang mulai menjejak. 

selamat ulang tahun, sayang. 

amin untuk semua yang baik-baik. 
















Sunday, July 13, 2014

ramadhan 2014, hari #15 : UKM united


wajar kalau ternyata, pembeli awal UKM adalah teman-teman dekat dan saudara-saudara kita sendiri.
tak lain ya karena lingkupnya kecil. cuma tau dari mulut ke mulut.
tapi ternyata, kepuasannya jauh lebih besar.
dan hari ini kami bersatu, meramaikan hari raya dengan hantaran karya tangan-tangan kami.

every minutes well spent.
i bet the kids had the same feeling too.

buat karya hari ini bisa diintip di instagram @bebikinan & @skoci_






Thursday, July 10, 2014

Rule #1



Yes, rule #1 is to love yourself, and accept who you really are.
Diets are for those who hate themselves. A lot.

I love you, babycakes.






bad people out there

setting:
di teras belakang sambil nemenin titan makan siang (enggak puasa karena enggak mau sahur), dan terjadilah percakapan ini.

me:
tan, kamu tahu enggak, saat ini; detik ini dimana titan lagi makan nasi goreng kornet telor ini, di belahan dunia sana ada yang lagi perang. they are in a worst condition.

titan:
oya?

me:
iya, negara yang diserang namanya palestina. yang menyerang, namanya israel.

titan:
perang kenapa, nda?

me:
well, biasanya, semua perang itu sama sih alasannya. berebut tanah. land, the ground you stand, you live with your family and the whole nation. kaya gini contohnya. ini kan rumahnya titan, bunda, adek dan bubu. tempat kita main, bobok, mandi pakai air hangat, di kulkas isinya makanan-makanan kita, di halaman belakang tempat kita main, pohon sawo mangga dan nangka punya kita yang kita petik buahnya kapan aja dia berbuah. tempat tidur juga punya kita yang bisa bikin kita nyaman bobo. nah, suatu hari ada orang lain masuk ke rumah. tiba-tiba! udah gitu, orangnya enggak sendirian. dia bawa semua keluarganya, temen-temennya, tetangganya, guru-gurunya. mereka semua masuk ke rumah kita. udah gitu, orangnya enggak sopan. tempat tidur kita diambil jadi kita bobonya sempit. makanan kita di kulkas dimakanin juga. pohon nangka kita buahnya diambil. mereka seenaknya aja pengen tinggal di sini, tapi enggak mau sharing. maunya ngambil yang kita punya.

nah, kalau kejadiannya kaya gitu; mau enggak mau kita yang ada di rumah kan harus melawan mereka yang mau masuk rumah, kan? bunda enggak bisa diemin mereka ambil susunya titan dan luna. air panas juga selalu habis sama mereka. udah gitu jangan-jangan mereka nakal, nanti titan sama luna disuruh-suruh kaya pembantu. mau nggak mau, kita harus perang melawan mereka kan? kita pukulin pantatnya satu-satu, kita usir dari rumah supaya rumah ini jadi milik kita lagi.

nah, perang juga begitu. tapi yang direbut negaranya. rumah semua orang. mereka datang, marah-marah dan ngambilin semua yang ada di negara itu. orang-orangnya juga. jadi, mau enggak mau kita harus berperang melawan mereka.

titan:
hahaha, ... pantatnya aja tendang ... tuiiiiiiiiiiing *sambil ketawa-ketawa*

me:
exactly! that is what happening in palestine, and some other countries if i may say.
trus titan tau enggak, kalau perang itu; yang paling banyak jadi korban itu anak-anak dan perempuan. semalam bunda liat foto temen-temen titan dan luna jadi korban di sana. kasihan banget.

titan:
kenapa, nda?

me:
kenapa anak-anak dan perempuan jadi korban?

titan:
iya. karena mereka kan tenaganya enggak sebesar laki-laki dewasa. mereka enggak terlatih untuk nonjok orang sekampung, enggak terlatih untuk nembak, teriaknya enggak kenceng, dan ibu-ibu ada di dalam rumah untuk ngelindungin anak-anaknya, tapi ternyata yang diserang malah rumah-rumah penduduk.
makanya, titan bersyukur ya. bunda juga. kita masih bisa bobo tenang, masih bisa bangun dari tidur panjang di malam hari dan melihat matahari. sementara sodara-sodara kita di sana, kasihan. penuh ketakutan hidupnya. berlindung di bawah meja, karena takut. it was horrifying, nak. kamu suka kan melihat petasan yang meletus di udara? yes, just like that. tapi banyak. langit malam jadi terang, dan yang meletus itu bukan petasan tapi peluru. hujan peluru. ada titik-titik menyala yang jatuh kaya hujan, tapi itu peluru. atap rumah jadi bolong dan pelurunya menembus ke dalam rumah.

titan:
hahaha ... rumahnya bolong-bolong kaya keju.

me:
yes, bener itu. badan kita juga bisa bolong-bolong kaya keju.

titan:
hah?

me:
iya. peluru itu seperti petasan, tapi ada isinya. isinya logam dan kenceng banget kecepatannya, jadi bisa nembus badan kita. itu cara kerja peluru, makanya kita bisa meninggal kalau kita kena peluru.

titan:
kalo kena pantat nanti ada asapnya dong nda, pantatnya?

me:
uuuh, bukan asap lagi. nembus, bunda bilang juga.

titan:
oh ... kasihan.

me:
nanti kita berdoa ya, buat sodara-sodara kita. dan juga berdoa supaya kita semua selalu selamat.
the earth is small, yet the world is so big. isinya bukan cuma kita dan mainan kita aja. there are bad people out there, bad bad ones. but don't be afraid because there are also good people, including us.

titan:
nda, di belakang indonesia tuh apa sih?

me:
nggak ada lah. adanya di sisi kanan, kiri, atas atau bawah.

titan:
bumi kan bulat, maksud titan di belakang indonesia itu apa.

me:
ooo itu maksudnya, kalau enggak salah sih benua amerika, nggak tepat tapi kurang lebihlah.

titan:
kalo kita mining di bawah sini, bisa nembus dong?

me:
hahaha bunda juga dulu kepikiran yang sama. tapi enggak mungkin dong. jauh sekali kan, nggak ada yang bisa nembusin. habis lapisan tanah kan ada lapisan lain, trus magma bumi, lapisan inti bumi. nanti kalau kita nambang / gali sampe tembus, magmanya keluar trus jadi banjir lava dong kita?

titan:
oh iya juga ya.

me:
OK, go get your meal finished lalu kita sholat zuhur dan berdoa yuk.

titan:
ayuk, titan jadi imam ya.

me:
boleh. rakaatnya jangan salah, ya.

titan:
empat, kan?

me:
iya.

Wednesday, July 09, 2014

ramadhan 2014, hari #11 : sahabat

ternyata, punya anak perempuan itu beda rasanya dengan punya anak laki-laki.
sulit dijelaskan, tapi bisa dirasakan.
tahun lalu, tuhan memberi berkah ramadhan terbesar untukku, mengirimkan bulan ke pelukan.
alhamdulillah, berkahnya makin terasa besar hari demi hari. hingga hari ini, dia berjalan menggandeng tanganku.

lengkap rasanya.

punya anak laki-laki yang sangat melindungi, dan punya anak perempuan yang semoga bisa menjadi sahabat hingga aku tua nanti.





























Tuesday, July 08, 2014

ramadhan 2014, hari #10 : sisi baik

nini ditinggalin pembantunya yang baru 10 bulan, tapi saya yang ngerasain patah hati. masalahnya ibu saya itu sudah sepuh, tapi buat dia standar rumah bersih itu tinggi sekali. jadi, kalau rumah enggak bersih dia pasti bersih-bersih; enggak peduli dia sudah sepuh, lagi berpuasa, dan punya kecenderungan bagi vertigonya untuk kambuh kalau kecapekan. 

tapi ada satu hal yang selalu saya dapati kalau pembantu pulang kampung. rumah jadi lebih rapi dan bersih. padahal, biasanya, mau dibersihin setiap hari pun tetap aja keadaan rumah sore hari itu selalu berdebu dan enggak rapi. 

ternyata, kalau enggak ada pembantu, masing-masing penghuni rumah jadi lebih sadar diri. lebih punya empati dan rasa tanggung jawab menjaga rumah tetap bersih. karena, kalau enggak, mereka-mereka juga yang harus membersihkan. 


*selonjoran kaki dulu, sebelom kebut-kebut lagi* 

Janji

Dari hari Kamis minggu lalu, titan menginap di rumah eyang. Titan bilang, dia akan kembali hari senin. Seperti biasa, saya bekali semua keperluan dia sampai vitamin; jadwal dan tentunya ... workbook. Supaya dia mengerti, liburan bukan berarti kebebasan yang sebebas-bebasnya. Masih ada kewajiban belajar dan mengulang pelajaran yang masih harus dia lakukan. Kesannya kejam ya, tapi beneran kok. Workbooknya Titan itu menyenangkan banget untuk dikerjain; jadi saya tidak merasa berdosa mewajibkannya untuk tetap belajar saat liburan :)

Nah, hari ini hari senin. Pagi-pagi saya sudah telfon dia untuk bertanya; apakah dia puasa atau enggak. Karena kalau enggak puasa, saya mau masak makanan kesukaan dia. Ternyata Titan enggak puasa, karena enggak bangun sahur dan dia minta dimasakin ikan dori goreng ala-ala bunda untuk makan malam.

Tiba-tiba, sorenya saya terserang demam dan ikan dori masih tergeletak belum sempat dibumbuin. Karena proses pengolahannya bakalan cepet, saya enggak khawatir sih. Tinggal tabur-tabur garam, lada hitam dan bawang putih bubuk, gulingin di telur dan tepung roti, goreng, jadi deh! Jadi saya biarkan aja si ikan di kulkas dan berniat baru akan diolah saat titan pulang nanti.

Tiba-tiba telfon saya berdering, di ujung telfon terdengar suara isak tangis yang sulit berhenti.

Saya: Halo? Titan?
Titan: *nangis sesunggukan*
Saya: Halo, Titan kalau nangis bunda enggak bisa dengar suaranya. Yuk coba berhenti dulu nangisnya, ada apa?"
Titan: *makin keras nangisnya*
Saya: Titan, yuk coba tarik nafas dulu yuk. Satu, ... tarik nafas ... keluarin lagi. Dua, tarik nafas ... keluarin lagi. Yuk, sekarang cerita sama Bunda kenapa?
Titan: Nda, ... Titan belum pengen pulang *dengan suara patah-patah*
Saya: Oh gituuu ... masih pengen main di sana ya
Titan: Iya ...
Saya: Trus, kenapa nangis? kan kalau masih pengen nginep di rumah eyang, itu artinya titan masih senang ada di sana. Lalu kenapa nangis?
Titan: Soalnya Titan sudah janji sama Bunda pulang hari ini
Saya: Oh gituuu .... Ya udah, terima kasih ya; sudah ingat janjinya.
Titan: Tapi Titan masih pengen nginep di sini, Nda. Boleh enggak?

Seketika saya teringat, saya pernah membahas soal ini sama Titan beberapa waktu lalu. Masalah yang sama, cuma saat itu saya tidak mengabulkan permintaannya HANYA karena dia sudah berjanji untuk pulang pada hari X, hari yang ia tentukan sendiri, dan saya meminta titan untuk berkomitmen terhadap janjinya.

Mungkin, itu sebabnya dia sekarang nangis-nangis di telfon. Takut dimintai pertanggungjawaban dan mungkin males juga harus bersilat lidah dengan emaknya ini, yang pasti enggak akan mudah.
Tapi, di satu sisi, kali ini saya ingin membiarkan dia untuk menginap lebih lama. Toh, menurut laporan dia menunaikan janji-janjinya yang lain seperti ngerjain workbook, minum susu dua kali sehari dan makan sayur. Lagipula saya lagi terserang demam, kasihan kalau dia pulang saya lagi tak berdaya untuk mengajaknya main. Akhirnya, ...

Saya: Oke, boleh kok nginep lagi. Lagipula bundanya lagi sakit, takutnya nanti kita enggak bisa main bareng. Mau sampai kapan?
Titan: Bunda sakit apa?
Saya: *dalam hati seneng juga nih, ditanyain begini. Padahal jelas-jelas tadi saya nanyain mau sampai kapan dia nginep di rumah eyangnya* ... Bunda sakit panas aja, kok. Titan mau sampai hari apa nginep di sana?
Titan: sampai hari Rabu ya, Nda. Bunda cepet sembuh ya.
Saya: Terima kasih ya doanya, sayang. Oke, Titan boleh kok nginep sampai hari Rabu. Bunda tunggu ya ... have fun!

Setelah menutup telfon, saya jadi mikir. Bener enggak sih, tindakan saya? Apakah saya baru saja mentolerir keingkaran janji? Idealnya, seharusnya Titan tetap pulang hari ini. Masalah mau nginep lagi, kan tinggal berangkat lagi balik ke rumah eyangnya. Janji adalah janji dan dia sudah berjanji untuk pulang.

Tapi, di satu sisi, saya sudah cukup bangga dia ingat akan janjinya dan berani berdiskusi untuk meminta dispensasi *walau dengan air mata sesunggukan*

:)

Monday, July 07, 2014

ramadhan 2014, hari #9 : down with typhoid

buka puasa jam 3, karena tiba-tiba badan menggigil dan panas tinggi. 
si bakteri nakal datang kembali. 

Sunday, July 06, 2014

Ramadhan 2014, hari #8 : menolak lupa

... tapi jadinya malah lupa. 

setahun yang lalu, perut masih membuncit dengan derita sakit punggung dan pinggang yang luar biasa. tak tahunya, seminggu kemudian lahirlah si bayi mungil. sejak itu, saya lupa apa yang terjadi dan tahu-tahu, hari ini tawaf keliling mall untuk mencari kado ulang tahunnya yang pertama. 

dibandingkan dengan titan dulu, saya hampir ingat setiap milestonesnya. ingat juga hal-hal lucu yang pertama kali dilakukan olehnya. tapi dengan luna, waktu terasa terlalu cepat berlalu sehingga otak saya kurang bisa merekam setiap kejadian. 

apa karena sekarang saya yang mengasuhnya sendiri setiap detiknya? jadi, terlalu banyak hal mengagumkan yang terjadi hingga kapasitas memori saya tumpah ruah? 

tapi biarlah. walau saya lupa, semoga dia ingat kebersamaan kami di setiap detiknya. 
karena saya, tidak lupa rasanya. 




Saturday, July 05, 2014

ramadhan 2014, hari #7 : puasa daging, a mind banging. 

agak shock membaca status facebook seorang teman hari ini, tentang alasan dia untuk tidak menjadi golput pada pemilu 9 juli nanti. ada banyak alasan, tapi yang membuat saya tercengang adalah karena dia peduli pada tingkat perekonomian yang lebih baik, yang bisa membuat keluarganya berhenti berpuasa makan daging yang sudah setahun ini tidak dia beli di pasar karena harga daging yang melambung tinggi dan tak kunjung kembali. 

terdengar memprihatinkan, walau saya tahu ia tidak berasal dari tingkat ekonomi yang rendah. ia seorang pns kementrian luar negeri yang baru setahun ini menjejak kembali ke indonesia, bersuamikan seorang pengusaha. anak-anaknya bersekolah di sebuah sekolah internasional di cibubur, dan merupakan salah satu klien financial planner ternama di Indonesia. 

dengan semua latar belakang itu, ... mereka puasa makan daging? 

bukannya nyinyir, tapi sebaliknya, saya kagum. sangat kagum. saya selalu kagum pada orang-orang yang berkomitmen tinggi. memiliki skala prioritas. dari sekelumit latar belakangnya, saya sangat faham bahwa prioritas hidupnya adalah pendidikan anak-anak dan kemapanan ekonomi saat mereka pensiun nanti. demi itu semua, mereka rela puasa makan daging. 

dulu, saat saya lagi 'kepincut' sama barang fancy, saya sering berkelakar tentang sekolah anak saya, apakah sebaiknya saya pindahkan saja ke sekolah yang jauh lebih murah; supaya saya bisa beli kate spade setiap bulan hahaha. kini saya percaya, bahwa ada orang-orang seperti itu. enggak masalah juga, karena ini masalah skala prioritas. setiap keluarga kan punya prioritas masing-masing. 

kalau buat saya (dan ariawan mengamininya), saya memilih untuk berlibur di rumah saja; membatasi jalan-jalan ke mall, demi anak-anak bisa mendapatkan pendidikan terbaik bahkan kuliah dan bekerja di luar negeri. 

tapi apa iya, saya juga harus berpuasa makan daging? masih bingung, tapi kayanya bisa dicoba sih. demi kate spade? *ngarep.com* ... enggaklah, demi anak-anak dan menghabiskan masa pensiun di highbury. 

amin. 

Friday, July 04, 2014

ramadhan 2014, hari #6,7,8 : menyambut sepi

kesepian itu adalah kehilangan 1/3 hati untuk beberapa hari. 
titan menginap di rumah eyang - neni.

:'(

Thursday, July 03, 2014

ramadhan 2014, hari #5 : jokowi

coba, facebook siapa yang timeline-nya beberapa bulan ini enggak ramai dengan pendapat politik mulai dari sumber bener sampai sumber caur? dari yang masuk akal sampai akal-akalan, dari yang tadinya teman baik terus jadi sensi-sensian. 

hei, paling tidak, hal itu mengartikan proses pembelajaran demokrasi mulai membaik. hanya saja, bangsa indonesia belum siap untuk go-digital dimana semua pendapat (jadinya) seperti harus dibahas dan dibumbui. that is so much not the point. 
kalau dalam teori komunikasi, lama-lama yang namanya informasi memang akan menjadi semakin tidak jelas. tapi itu yang akan membuat kita, manusia, akan terus dan terus berkomunikasi demi informasi yang paling benar yang kita ingin dengar. 
catat, yang ingin kita dengar. 

so, what's the point of jadi ikutan misuh-misuh di sosmed, kalau pada akhirnya hanya ingin mendengar apa yang kita ingin dengar.  

saya sendiri, bukan fanboy-nya pemberitaan politik. dalam hal ini, pemilihan presiden. bukan juga timses jokowi. tapi karena saya harus memilih, saya akan memilih yang terbaik dari pilihan sampah yang ada: jokowi.

jawabnya simpel. inget postingan saya tentang jalan-jalan naik city tour? nah, itu. hanya karena hal kecil itu: jokowi mampu membangkitkan rasa apatis dan menjinakkan amarah saya terhadap kota jakarta hingga saya berani memutuskan untuk membawa seorang bayi untuk jalan-jalan memanfaatkan fasilitas kota.  jalanan yang bersih dan taman-taman yang kini menjadi lebih baik, hanya dengan mewajibkan setiap gedung untuk merawat tanaman di halaman depan gedung mereka lalu mengizinkan mendirikan sebuah monumen kecil sebagai rasa penghargaan terhadap pihak yang telah memeliharanya. 

buat saya, ketegasan seperti itu yang saya butuhkan. ketegasan yang membawa manfaat. bukan ketegasan otoriter militerism. dengan kata lain, jokowi telah mengembalikan harapan saya pada sebuah kota yang lebih baik untuk membesarkan anak-anak. 

memberi kesempatan lima tahun ke depan untuk pihak lawan, mungkin tidak terlalu berarti bagi saya. siapapun yang menang, buat saya mungkin akan begini-begini saja. tapi lima tahun ke depan, ternyata adalah sebuah waktu yang panjang untuk anak-anak saya. by the time, titan inshaa allah akan berumur 12 tahun dan la luna 6 tahun. sudah berapa milestones yang akan mereka lewati? tentunya banyak sekali. jadi kalau saya golput atau pihak sebelah menang, apakah masa depan anak-anak yang harus saya korbankan? 

tentu tidak, kan? 



Wednesday, July 02, 2014

ramadhan 2014, hari #4 : redemption

enggak ada orang tua yang sempurna. itu pasti. namun saat kita, orang tua, menyadari kesalahan yang telah kita perbuat terhadap anak-anak, sulit rasanya untuk tidak 'membayar' mereka dengan hal-hal yang mereka sukai. 

rasa bersalah itu terkadang memang mengalahkan segalanya. semakin susah lagi kalau anak sudah mulai mengerti 'pola' orang tua untuk menebus kesalahan. bisa-bisa, kita yang 'habis' dimanfaatkan. 

setiap orang tua sadar nggak sih, dengan keadaan itu? 

untuk menghindari hal itu, saya lebih suka mengajak anak-anak bicara ketimbang membayar mereka dengan hal-hal yang mereka sukai. saya lebih suka menarik mereka ke kamar lalu bicara empat mata tentang kesalahan yang saya buat; atau tentang keadaan yang tidak mengenakkan yang terpaksa terjadi terhadap mereka. saya lebih suka meminta maaf, atau berdiskusi bagaimana untuk membuat keadaan menjadi lebih baik. dan saat mereka bertanya kenapa kenapa dan kenapa tentang suatu keadaan, terkadang saya lebih lega jika menjawabnya dengan "ya mungkin memang sudah harus begini, sudah kejadian juga, sekarang gimana cara supaya kita semua sama-sama enak." 

membayar kesalahan itu sangat tidak mengenakkan. buat yang bikin salah, atau yang dibayar. karena seringkali kesalahan itu justru tidak terbayar. apalagi kalau kesalahan kita menyangkut dengan waktu yang terbuang. siapa yang bisa bayar waktu? sampai kapan pun enggak akan bisa dibeli untuk kembali. 

as posted in here. 
ramadhan 2014, hari #4 : redemption

enggak ada orang tua yang sempurna. itu pasti. namun saat kita, orang tua, menyadari kesalahan yang telah kita perbuat terhadap anak-anak, sulit rasanya untuk tidak 'membayar' mereka dengan hal-hal yang mereka sukai. 

rasa bersalah itu terkadang memang mengalahkan segalanya. semakin susah lagi kalau anak sudah mulai mengerti 'pola' orang tua untuk menebus kesalahan. bisa-bisa, kita yang 'habis' dimanfaatkan. 

setiap orang tua sadar nggak sih, dengan keadaan itu? 

untuk menghindari hal itu, saya lebih suka mengajak anak-anak bicara ketimbang membayar mereka dengan hal-hal yang mereka sukai. saya lebih suka menarik mereka ke kamar lalu bicara empat mata tentang kesalahan yang saya buat; atau tentang keadaan yang tidak mengenakkan yang terpaksa terjadi terhadap mereka. saya lebih suka meminta maaf, atau berdiskusi bagaimana untuk membuat keadaan menjadi lebih baik. dan saat mereka bertanya kenapa kenapa dan kenapa tentang suatu keadaan, terkadang saya lebih lega jika menjawabnya dengan "ya mungkin memang sudah harus begini, sudah kejadian juga, sekarang gimana cara supaya kita semua sama-sama enak." 

membayar kesalahan itu sangat tidak mengenakkan. buat yang bikin salah, atau yang dibayar. karena seringkali kesalahan itu justru tidak terbayar. apalagi kalau kesalahan kita menyangkut dengan waktu yang terbuang. siapa yang bisa bayar waktu? sampai kapan pun enggak akan bisa dibeli untuk kembali. 






Tuesday, July 01, 2014

ramadhan 2014, hari #3 : keep stirring

kadang, kalau hari lagi melelahkan: luna susah makan, titan enggak mau belajar dan enggak mau makan, rumah acak-acakan, kamar mandi belum dicuci, pakaian masih di dalam mesin cuci tak sempat dijemur, suami pulang malam dan lelah, ... namun kami masih berdiri berduaan di tengah malam. mengaduk gula. 

saat semua itu terjadi, cuma satu pertanyaan yang timbul di kepala saya:
"sebenernya worth it nggak sih, bisnis yang sedang saya rintis ini?" 

tapi saat itu juga, suami selalu memberi kekuatan yang luar biasa besar dengan kata-kata sederhananya. 
"dijalanin aja, siapa tahu. karena kita enggak pernah tahu. 
kamu tuh hebat, saat enggak bekerja aja, masih bisa menghasilkan."

enam bulan lalu, awal-awal kesenangan baru ini bermula, saya suka becanda. saya bilang ke suami, saya ingin mengaduk gula sampai la luna kuliah nanti. lucu kan, saat nanti umur kita enam puluhan, kita masih bisa traktir temen-temennya anak-anak. hasil dari mengumpulkan recehan yang sedang kita lakukan hari ini. 

saat saya sedang lelah, ariawan selalu mengingatkan tentang becandaan saya itu. 
"ayo dong, semangat. katanya mau ngaduk sampai luna kuliah."  dan tuhan memang tidak tidur. alhamdulillah banget, berkah ramadhan, minggu pertama di bulan juli ini diawali dengan 25 pesanan. 

saya jadi ingat kata-kata teman baik saya, heikal. 
"it takes courage to start, and a power to stop." 

and so help us, god. 

Let's cut the crap from the question of Which Mom Are You?

A few years back, social media was being fussy about working mom versus stay at home home. What a nonsense brag! Since I went through ...