Skip to main content

Thrifty Living

Kehilangan sebagian pendapatan memang enggak mudah. Dan itulah yang terjadi sejak saya memutuskan untuk jadi ibu rumah tangga dan sama sekali tidak bekerja. Kegiatan bebikinan dan freelancing kayanya belum mumpuni untuk dibilang bekerja; karena memang belum stabil dan belum memfokuskan diri ke arah situ.

Setelah ngejalanin, ternyata saya butuh waktu enam bulan untuk menjadi terbiasa dan bisa menari lagi dengan irama yang baru. Agak lama, saya akui.

Manusia, memang seringkali harus dipaksa dulu untuk 'bisa'. Karena itu, penting untuk set-up target harus menyisihkan berapa banyak setiap bulannya. Itu yang bikin saya mau enggak mau jadi harus mau untuk memotong banyak hal yang (mungkin) bisa dibilang kurang penting. Kalau target sih, biasa, dana pendidikan anak hehehe. Karena buat saya dan Ariawan, itu yang terpenting dari semua yang paling penting.

Lalu, gimana menyiasatinya? Saya bukan ahli keuangan, bukan juga frugal mama. Tips yang mau saya share ini lebih ke pengalaman aja.

Hal yang pertama kali saya lakukan untuk bisa menabung lebih banyak adalah dengan memotong pengeluaran. Pos yang mana, saya tahu banget: belanja bulanan. Karena terus terang, saya paling gampang tergoda kalau ke supermarket ketimbang ke department store. Setelah ditilik lagi, ternyata saya banyak melakukan keborosan di sana. Pantas saya jadi agak malas belanja bulanan akhir-akhir ini. Padahal, biasanya saya paling suka melakukan hal itu. Semacam terapi, beli bumbu atau cemilan yang lucu-lucu hihihi.

Apa aja yang bisa di cut? In my case, contohnya gampang banget: shampo! Sebelumnya, saya; Ariawan; Titan dan Luna pakai shampo yang berbeda-beda. Sekarang saya convert shampo saya, Titan dan Ariawan jadi satu shampo keluarga. Begitu juga dengan sabun. Let us just stick to medicated soap yet so gentle for the skin. Exception for Luna, yang masih harus stick to Sebamed karena masih merah-merah dan kering kulitnya kalau pakai sabun & shampo wangi.

*kcring*

Ke dua, pick our battle. Banyak barang yang jenisnya berbeda tapi fungsinya sama aja. Sebelumnya, saya pakai detergen, pengharum dan kemudian pelicin pakaian. Bok, demi baju wangi yang akhirnya pakai parfum juga; akhirnya saya pilih detergen konsentrat yang mengandung pengharum dan pelembut. Supaya tetap wangi, jangan jemur pakaian terlalu lama karena bisa jadi bau matahari.

*kcring*

Ke tiga, belanja sekaligus banyak supaya bisa menghindari belanja-belanja kecil ke minimarket yang berakhir dengan belanja banyak. Ini juga berlaku untuk cemilan anak-anak. So, daripada Titan merengek ke Indomaret untuk sebatang Paddle Pop dan saya berakhir dengan 2 kantong belanja, akhirnya saya nyetok es krim dalam pint di rumah. Begitu juga dengan biskuit dan cemilan lain. Belanja mingguan hanya berlaku untuk sayur dan buah.

Ke empat, minimise luxury. Saya punya 3 kamar mandi yang harus diurus. Sebelumnya, saya merasa harus ada pembersih keramik, tissue toilet dan alat mandi di setiap kamar mandi. Sekarang, pembersih keramik dipakai untuk ketiga kamar mandi. Tissue toilet hanya berlaku di kamar mandi tamu. Alat mandi hanya ada di kamar mandi yang biasa dipakai mandi oleh masing-masing orang. Otomatis, jumlah belanjaan pun berkurang.

Ke lima, downgrade ke merk yang lebih murah tapi tetap berkualitas. Misalnya, tau enggak kalau Neutrogena dan Clean & Clear diproduksi oleh pabrik yang sama yaitu Johnson & Johnson? Dan produk Deep Cleansingnya Clean & Clear menurut saya memberikan efek yang sama dengan Neutrogena tube. Merk L'oreal punya second line Maybeline, yang harganya lebih murah. Pond's age miracle serum tidak kalah bagus dengan serum SK II (paling tidak, mantan klien Pond's saya yang bilang hahaha). In my case, saya ganti sabun cuci muka Clinique dengan sabun muka dari Estetiderma.

PR saya yang masih belum bisa berkurang adalah pemakaian listrik. Dalihnya sih karena saya pakai slow cooker, sterilizer, water heater dan AC yang hampir menyala sepanjang hari. TV sih emang kita keluarga yang jarang nonton TV, so worry not for the box. Tapi masa sih listrik enggak bisa dikurangi juga? Pasti ada deh caranya, somehow somewhat.

Ada yang tahu?






Comments

Popular posts from this blog

Life. Just like what I wanted.

Sounds so snobbish ya, saying life is just like what I wanted. But then I realized, semua itu karena emang aku enggak pengen apa-apa. Sekarang juga (ternyata) masih begitu. Dulu emang I treat my life like a blue print. Things to do piling up my list and my aims were to accomplish them. Alhamdulillah, semua tercapai. Tapi kemudian seperti ada titik tolak dalam hidup yang bikin  berhenti ingin terlalu banyak dari hidup. Entah karena merasa udah cukup banyak pencapaian pribadi baik yang bagus atau yang buruk, entah karena pernah kecewa berat sama yang namanya manusia atau karena alasan klise yang digadang-gadang semua manusia: anak.

Sekarang ini, lebih banyak menyambut apa yang datang ke dalam hidup. Termasuk, kembali ke agency lagi. Having thought that I am not some kind of 'Man in a mission' kind of person. I am just an 'I will do my best' of what comes in front of me kind of person.

Gini ceritanya.

Tiga belas bulan yang lalu, saya memutuskan untuk kembali bekerja setel…

love is love. marriage is another thing.

of all the things I ever wondered, ... I think I never wonder whom my kids will be married to. or to picture myself holding grand babies. not just a not yet, I think it is simply too hard to bear and too absurd to think of. but then I promise myself. I promise I will not ever push titan and luna to get married or even if they are married; I will not ask them when to have kids.

many times I wondered that marriage is overrated. and the only reason to get married is not love, but to realise life is too hard to bear when you are all alone. because, however, marriage is a conditional love. hubby once said, marriage is not all fancy and glitter. the lowest it can get is, to keep functioning and it will survive. how both parties can be functional one to another, is another story.

to ariawan, a guy of mine,
the one who always wake me up from my princessy dreams. love you.



Let's cut the crap from the question of Which Mom Are You?

A few years back, social media was being fussy about working mom versus stay at home home. What a nonsense brag! Since I went through both and also had a chance of being a working-from-home mom, it is even more ridiculous for me. Only stupid have a time discussing it and to elaborate on their social media status. Whoever we are, what kind of mom we are, what matters most is how we can make our life productive and progressing. Every single day.

Different mom has different ways of being productive. Some goes to work. Some clean up and cook for the family. Some works at home by selling stuffs online or being a freelancer. Productive means to produce something. Be it money, the foods, you name them all. But the question is, is productive enough? How about having a progressing life? Not as the wife of Mr. Blabla or as the mom of kid Zubidudamdam. But us, as a person. Me, as Wury; a 38 years old woman and how far I have made progress in  my life.

BUT. Let alone of being progressive, ... ar…