Skip to main content

Emak Galau

besok lusa, titan ulang tahun. yang ke tujuh. kue dengan kapal titanic seperti yang titan pengen pun udah dipesan. seperti tahun lalu, titan pengen tiup lilin dan potong kue di sekolah. sekolah si bocah emang agak strict soal perayaan ulang tahun. bolehnya cuma bawa satu cake (itupun harus bebas coklat yang bikin alergi) dan tiup lilinnya 'mencuri' waktu saat anak-anak makan siang. no goodie bags. no pressie. kalaupun mau, harus dilakukan personal aja di luar sekolah.

karena kecewa berat dengan pesanan kue bikinan cake artist ngetop tahun lalu, tahun ini pindah tukang kue. lebih mahal sih, tapi udah terpercaya sama ortu2 di sekolah rasanya enak dan bagus. lapis surabaya yang cuma pake merah telur ayam kampung dan butter weisman. katanya.
kayanya saya kemakan kata-kata sendiri, gak bakal beli kue ultah bentuk aneh-aneh yang 'hanya' berbalut fondant. lima tahun bertahan, giliran anaknya udah gede malah ketagihan.
so, enak atau enggak ... let's see lah ya.

enuff soal kue. soal kado? enggak ada romantis-romantisan kalo soal kado. karena, titan udah nge-tag minta dibeliin lego creator seri rumah sejak empat bulan lalu. biasa, emaknya ini kan paling gengsi kalo dimintain beli mainan. anak-anak harus effort kalo mau mainan. kali ini, saya kasih syarat untuk naekin berat badan sampai ulang tahun. lumayan, naek 1 kilo. akhirnya, hari sabtu kemarin, setelah selesai vaksin la luna kita ke gandaria city beli lego buat kakak titan. tapi syaratnya, enggak boleh dibuka sampai dia ulang tahun. berkali-kali titan tanya kenapa enggak boleh dibuka. well, selain 'nggak aci' ultahnya belum tiba; saya juga pengen titan belajar menunggu. dia udah bisa nunggu 4 bulan, masa sih enggak bisa nunggu 4 hari? hehehe....

tapi, sesungguhnya bukan itu yang bikin saya galau. kegalauan ini rutin kejadian setiap tahun, tepatnya setiap anak ulang tahun. dan ternyata saya masih belum bisa move on.

tanpa saya sadari, kegalauan saya tentang titan yang mulai beranjak pre-teen, ternyata sudah kejadian sejak dua tahun lalu. setelah saya browsing-browsing lagi tentang lifespan development, titan emang udah ada di stage 4 perkembangan psikososial. pantes aja, saya merasa kok setelah dia sekolah semuanya terasa berjalan begitu cepat. tiba-tiba titan ngomongnya jadi lancar, logika jalan dan kemandiriannya juga makin meningkat. ternyata, memang begitulah yang seharusnya terjadi. at least, dalam kajian ilmu psikologi.

saya jadi bersyukur juga, sudah memutuskan untuk menggiring masa sekolah titan ke lembaga yang kami percaya lembaga terbaik yang bisa dilakukan. walaupun alang rintang menghadang *tsaaaaah* tapi nggak papa deh, pendidikan dasar emang harus dengan dasar yang terbaik yang kita percaya. nanti smp atau sma, baru deh dilepas ke sekolah negeri biar bisa belajar berkompetisi. sikut-sikutan. karena hey, ... kita tinggal di Indonesia anyway.

makin galau lagi saat saya dapat weekly reminder dari babycenter.com soal perkembangan dan pertumbuhan titan. saya emang langganan news feed dari portal terkemuka ini sejak titan lahir, dan kali ini saya bener-bener tertegun bacanya. disitu disebutkan bahwa memasuki usia tujuh tahun anak-anak mulai mandiri dan mulai berorientasi pada peer groupnya. mereka akan lebih anteng, bisa main sendiri dan tidak keberatan untuk berjauhan dengan orang tua terdekatnya.

#jleb

lalu saya juga mulai mengumpulkan clue-clue kemandirian dan rasa percaya diri titan yang sudah terbentuk, dari keseharian dia bersama saya. kalau dulu dia masih nangis karena ditinggal di sekolah, sekarang jalan di lorong sekolah aja saya sering ditinggal dan dia jalan sama temennya. lalu soal titan yang udah mulai bisa jadi imam saat sholat. atau saat dia berani menerima setiap konsekuensi dari pilihan-pilihannya. atau saat dia lebih suka membaca buku sendiri sebelum tidur, ketimbang dibacain. padahal dulu kebalikannya. saya pun mulai sadar bahwa dia mulai mengerti tentang 'rahasia' yang sampai saat ini, saya masih orang pertama yang dia share soal rahasianya.

tapi sampai kapan? kayanya, saya harus mulai siap-siap untuk hanya menjadi pengamat. sahabat. yang ada kalau dia butuhkan. mendengar, tanpa harus banyak berkomentar.

aduh, kali ini beneran galau. la luna pun tiga bulan lagi, inshaa allah, berulang tahun yang pertama. perasaan baru kemarin mules-mules mau lahiran. sekarang tau-tau udah mau jalan, gigi sudah mau enam, berat udah mau 9 kilo, panjang sudah 68 senti, sudah mengerti kalo ditanya "luna mana, ya?" dan si eneng akan menepuk-tepuk dadanya. sudah bisa menunjuk dengan telunjuk akan hal yang diinginkannya.

kenapa sih waktu cepat sekali berjalan?
freeze freeze please!

He used to hold my hand as we walked down the alley of his school. 



Comments

Popular posts from this blog

love is love. marriage is another thing.

of all the things I ever wondered, ... I think I never wonder whom my kids will be married to. or to picture myself holding grand babies. not just a not yet, I think it is simply too hard to bear and too absurd to think of. but then I promise myself. I promise I will not ever push titan and luna to get married or even if they are married; I will not ask them when to have kids.

many times I wondered that marriage is overrated. and the only reason to get married is not love, but to realise life is too hard to bear when you are all alone. because, however, marriage is a conditional love. hubby once said, marriage is not all fancy and glitter. the lowest it can get is, to keep functioning and it will survive. how both parties can be functional one to another, is another story.

to ariawan, a guy of mine,
the one who always wake me up from my princessy dreams. love you.



Three hours late.

2 AM and I stepped in to the house. Hubby was waiting for me. This was not the first time, and not the latest hour I had ever experienced with over time.

"See you soon Bunda. Or at 8, or at 9, or at 10, or at 11 like you said you would be late." Said my son.

I smiled as I entered the house. I smelled home. I saw my beautiful mess. As I picked up some toys on the floor, I imagined what games the kids had played today. There was a drawing, mini ceramics pots, not too chaotic for kids who were left with nini and aki without nannies.

I also saw their time tables, with some check marks on the list. Those that they weren't checked was the responsibility to wash their own dishes. I saw some dirty cups piling up. I saw the microwave's door left half-opened, a baking sheet and a knife. I wonder what they have cooked.
I also saw minecraft was in active window and some search on youtube and google.

Getting home in this hour and not seeing their faces but seeing all the mess the…

Life. Just like what I wanted.

Tiga belas bulan yang lalu, saya memutuskan untuk kembali bekerja setelah 2,5 tahun jadi freelance (tapi lebih banyak free-nya sih hahaha). Satu-satunya yang bikin saya merasa harus bekerja ya cuma Apple. Sisanya, banyak project yang saya tolak-tolakin karena males aja sih intinya. Belaguk bangetlah pokoknya.

Setelah merasa udah nggak produktif lagi di rumah, otak berasa tumpul dan rasa percaya diri udah nyungsep, saat itulah saya terima tawaran untuk kembali ke advertising. Banyak yang nyinyir sih, menganggap industri itu gelap banget dan ngapain udah enak-enak di rumah kok ya balik ngantor. Alasannya cuma satu: bosen di rumah.

Enggak tahu hal baik apa yang telah saya lakukan dalam hidup, ternyata saya dianugerahi tim yang baiiiiik banget. Anaknya manis-manis, good attitude dan yang paling penting; penuh tanggung jawab. Saya ngerasa banyak belajar dari mereka. Mulai hal baru di luaran sana sampai cara pakai krim mata. Enggak sedikit juga kesedihan yang kita tanggung bareng-bareng, da…