Skip to main content

Rumah

beberapa bulan terakhir ini, banyak teman-teman dekat yang lagi asyik membangun dan mempercantik rumah. mulai dari berburu arsitek idaman sampai ke info-info diskonan parket, karpet sampai curhatan genteng bocor atau rumput liar yang selalu melanda halaman-halaman cantik rumah kami.

saya selalu senang bercerita atau mendengar cerita tentang rumah. entah kenapa, rasanya seperti 'pulang' dan jadi pengen mempercantik rumah, lagi dan lagi. the possibilities are endless! dan saya pun jadi teringat saat dulu saya membangun rumah yang saya tempati ini. memang, rumah saya enggak cantik-cantik banget sih. jauh dari rapi kalau dibandingkan dengan rumah teman-teman saya @dialita , @yanagenic atau @mariananugroho (yang saya enggak kenal personal, cuma kenal suaminya hehehe). coba deh intip instagram mereka kapan-kapan ada waktu.

dulu, kakak saya sendiri yang menjadi arsitek rumah ini. berantem-berantem dikit sih pasti. ribut-ribut sama ayah yang jadi 'mandor' harian mengawasi tukang-tukang juga tidak dapat dihindari. dan enggak lupa, terima kasih sama award-award saya yang bisa ditukar dengan uang di kantor saya yang lama sehingga saya bisa menyicil membeli kunci-kunci jendela, handle pintu yang lucu juga aksesoris-aksesoris interior lainnya.

rumah ini, dulunya berkonsep unfinished dengan banyaknya bagian-bagian concrete expose di rumah seperti lantai atas, tembok dapur dan kamar mandi. bahkan dulu kamar mandi pun lantainya bertabur batu kali, bukan lantai buatan seperti sekarang. enggak ada konsep-konsep yang njelimet saat membangunnya. kita cuma pingin rumah ini jadi rumah istirahat, karena kami berdua sibuk bekerja pada hari kerja dan pingin 'ngerumah' saat weekend. itulah kenapa halaman belakang dibuat lebih besar dengan pintu geser ke belakang yang bisa terbuka seluruhnya. supaya bagian dalam rumah bisa menyatu dengan halaman di luar. udara bisa masuk dan kami bisa dengan leluasa mengamati anak-anak bermain di pohon mangga yang memang tidak kami sentuh-sentuh saat membangun. rumah ini juga rumah tumbuh, yang memang disiapkan untuk terus tumbuh jika kami punya uang lebih nanti-nanti. tulang-tulang yang sudah disiapkan untuk tumbuh meninggi dan melebar jika anak-anak sudah waktunya memiliki kamar sendiri-sendiri. dan percayalah, lantai atas sendiri baru tahun ini (setelah hampir 8 tahun berdiri) dirapikan dan dihuni.

saya senang memiliki rumah sendiri. membangunnya dari awal di atas tanah hibahan, dimana saya bisa menentukan sendiri mau menghadap ke mana wc saya nanti. dulu (eh, sekarang juga masih sih) rumah harus selalu rapi dan bersih. enggak boleh ada tembok kotor atau noda di kaca jendela. walaupun saat itu titan masih tergolong toddler, rumah saya tampak seperti tidak ada anak kecil di dalamnya karena semua mainan berwarna-warni yang off dengan tema interior rumah tersimpan rapi di kotak dan letaknya tersembunyi di laci pijakan tangga.

sekarang saya tidak lagi melulu berkeinginan menempel ini-itu di dinding atau mengganti kulit-kulit luar seperti kulit sofa ataupun tirai. rumah ini, dan saya yakin semua rumah, mampu mengajak pemiliknya menjalani sebuah perjalanan spiritual dalam membangun dan merawatnya.

membangun rumah mengajak saya untuk menyadari bahwa tidak ada yang sempurna di dunia ini. konsep boleh tanpa cela di kepala, tapi pada prakteknya ada saja salahnya. tembok yang tidak lurus, cat yang mengelupas di beberapa bagian, siku atap yang tidak bertemu, jatuh pencahayaan yang salah dan masih banyak lagi hingga pada akhirnya saya mampu berkata "ya sudahlah."

rumah juga mengajarkan saya bahwa ada hal-hal yang tidak dapat di rubah dan kita harus bisa menerimanya. terkadang pengen banget bisa ngestretch teras belakang sedikit aja supaya bisa sedikit lebih luas. atau geser seluruh rumah agak ke depan dan masih banyak 'atau' lainnya.

rumah juga salah satu bentuk yang penuh tuntutan dan sangat sensitif, persis seperti memiliki anak yang harus dirawat tubuhnya dan dipupuk hatinya. berasa banget aura rumah yang kosong atau penuh amarah. dan percaya atau enggak, suhu rumah terasa lebih 'dingin' kalau bersih. aneh ya?

tapi yang saya ingat betul adalah, rumah itu sangat mencerminkan orang-orang di dalamnya. saya ingat betul saat perkawinan pertama saya mulai tenggelam. rasanya rumah ini terasa suram. tetumbuhan di sekeliling juga ikut lemes dan akhirnya mati. anehnya, rumah juga terasa panas secara harafiah.

sejak itu, saya mulai memperhatikan rumah lebih dari sekedar bentuk fisik yang saya lihat. sekarang saya 'sedikit' lebih legowo kalau melihat rumah lantainya agak ngeres-ngeres dikit, atau meja di teras yang kotor-kotor dikit karena kejatuhan kotoran cicak atau mainan anak-anak yang tidak lagi sembunyi di kotaknya atau semut-semut kecil yang menyelinap di balik jalinan benang sofa karena remahan anak-anak saat ngemil. karena rumah ini pernah lebih buruk dari itu, ia hampir kehilangan nyawanya. jadi, sekarang saya lebih 'menerima' dan mencoba memaklumi dengan apa yang saya lihat dan lebih mendahulukan apa yang saya rasakan tentang si penghuni rumah.

*senyum*




Comments

Popular posts from this blog

Life. Just like what I wanted.

Sounds so snobbish ya, saying life is just like what I wanted. But then I realized, semua itu karena emang aku enggak pengen apa-apa. Sekarang juga (ternyata) masih begitu. Dulu emang I treat my life like a blue print. Things to do piling up my list and my aims were to accomplish them. Alhamdulillah, semua tercapai. Tapi kemudian seperti ada titik tolak dalam hidup yang bikin  berhenti ingin terlalu banyak dari hidup. Entah karena merasa udah cukup banyak pencapaian pribadi baik yang bagus atau yang buruk, entah karena pernah kecewa berat sama yang namanya manusia atau karena alasan klise yang digadang-gadang semua manusia: anak.

Sekarang ini, lebih banyak menyambut apa yang datang ke dalam hidup. Termasuk, kembali ke agency lagi. Having thought that I am not some kind of 'Man in a mission' kind of person. I am just an 'I will do my best' of what comes in front of me kind of person.

Gini ceritanya.

Tiga belas bulan yang lalu, saya memutuskan untuk kembali bekerja setel…

love is love. marriage is another thing.

of all the things I ever wondered, ... I think I never wonder whom my kids will be married to. or to picture myself holding grand babies. not just a not yet, I think it is simply too hard to bear and too absurd to think of. but then I promise myself. I promise I will not ever push titan and luna to get married or even if they are married; I will not ask them when to have kids.

many times I wondered that marriage is overrated. and the only reason to get married is not love, but to realise life is too hard to bear when you are all alone. because, however, marriage is a conditional love. hubby once said, marriage is not all fancy and glitter. the lowest it can get is, to keep functioning and it will survive. how both parties can be functional one to another, is another story.

to ariawan, a guy of mine,
the one who always wake me up from my princessy dreams. love you.



Let's cut the crap from the question of Which Mom Are You?

A few years back, social media was being fussy about working mom versus stay at home home. What a nonsense brag! Since I went through both and also had a chance of being a working-from-home mom, it is even more ridiculous for me. Only stupid have a time discussing it and to elaborate on their social media status. Whoever we are, what kind of mom we are, what matters most is how we can make our life productive and progressing. Every single day.

Different mom has different ways of being productive. Some goes to work. Some clean up and cook for the family. Some works at home by selling stuffs online or being a freelancer. Productive means to produce something. Be it money, the foods, you name them all. But the question is, is productive enough? How about having a progressing life? Not as the wife of Mr. Blabla or as the mom of kid Zubidudamdam. But us, as a person. Me, as Wury; a 38 years old woman and how far I have made progress in  my life.

BUT. Let alone of being progressive, ... ar…