Skip to main content

forever and ever amen

seperti yang saya ceritain di beberapa posting terakhir, berantem sama titan pagi-pagi sebelum sekolah sudah jadi rutinitas yang tidak menyenangkan. buat saya, dan terlebih lagi pasti buat dia.

dan hari ini, terulang lagi. karena titan telat abis-abisan sampai sekolah. untuk yang ke sekian kalinya, dan itu pun sudah diantar akinya naik motor. kebayang kan kalau saya yang antar naik mobil, bisa jauh lebih telat lagi.

hari ini saya jemput titan. sambil nunggu, saya baca banner-banner di sekolahnya.
"learning should not be frustrating. it should be fun!"

damn jargon. kata saya dalam hati.

enggak lama, bel pun bunyi dan anak-anak K-1 mulai berbaris keluar kelas menunggu namanya dipanggil untuk segera menemui penjemput. there, ... there was my love came toward me. mukanya kusut dan langkahnya lemas. saya rangkul dia sambil ngobrol-ngobrol yang lain. titan duduk di belakang menghabiskan snacknya pelan-pelan sambil liat-liat kiri-kanan.

sampai rumah, dia buka tasnya. taruh kotak bekal dan botol air minum ke tempat cuci piring. buka kaos kaki dan seragam lalu dimasukkan ke dalam mesin cuci. sambil memperhatikan dia ganti baju, saya bertanya.

"why do you look so spineless? not having a good day? are you mad at someone?"

tanya saya sambil mendampingi dia ganti baju. ketauan banget emaknya ini kepo abis, nanya hal yang sama sampe tiga kali.

"i am not mad. i am just upset. aki angry to me this morning."

"oh i know why. because you were late for the thousand times."

"iya, tapi kan bisa ngomongnya pelan-pelan. enggak usah marah-marah." katanya.

selain saya jadi ikutan sebal karena titan dimarahin di belakang saya, saya mau ketawa bahagia melihat anak ini sudah bisa membedakan mana rasa marah, mana rasa sebal. saya juga senang dia bisa mengutarakan perasaan dan pendapatnya.

"titan mau ngobrolin soal tadi pagi? enggak papa, dikeluarin aja sebelnya biar lepas. bunda dengerin kok."

"no bunda, enggak mau dibahas sekarang. eh, ... enggak mau dibahas sampe nanti-nanti deh."

"oh ya sudah. sekarang enakan mandi aja, sudah sore juga kan. kalau bunda, kalau lagi sebel rendeman air hangat tuh bisa jadi happy lagi lho. titan coba, deh!"

enggak lama, saya sudah dengar titan nyanyi-nyanyi sambil rendeman di bak mandinya luna sama mainan-mainannya. mungkin habis mandi lebih baik saya ajak ngobrol. kayanya memang sudah waktunya juga nih ngomongin serius soal telat bangun yang merembet kemana-mana ini. saya juga bertanya-tanya kenapa sih dia berat banget harus bersekolah. padahal kan sekolahnya tergolong enak dibanding sekolah saya dulu. saya juga nggak pengen punya anak yang frustasi harus bersekolah. percaya deh, saya tahu banget rasanya. soalnya saya pernah ngalamin waktu sma.

tapi kemudian saya mikir lagi, mungkin emang namanya anak-anak ya gitu. mau seenak apapun sekolahnya, sebagus apapun fasilitasnya, tetep aja kalau yang namanya kewajiban dan rutinitas itu jatuhnya nyebelin. sama kaya kita yang sudah kerja. mau kantor kaya apapun, tetep aja bete kalo harus berangkat ke kantor dan mikirin kerjaan-kerjaan kita. so yes, i should not add another drama. let's just have a talk with the kid.

setelah titan selesai mandi dan ganti baju, saya ajak dia ngobrol. seperti biasa, saya selalu membuka percakapan serius seperti ini.

"titan, bunda pengen ngomong ya sama titan. serius nih. mungkin bunda cuma akan ngomong sekali soal ini, setelahnya terserah titan. karena ini hidupnya titan, jadi titan sendiri yang tentuin ya."

melihat mimik wajahnya yang tetap santai dan siap mendengarkan, saya berpikir dia lagi dalam kondisi oke nih untuk diajak ngobrol. lalu saya pun mulai angkat bicara.

"titan, bunda mau kasih tau deh. karena titan harus tahu akan hal ini. titan tahu enggak, kalau bunda dan bubu akan selalu berbuat yang terbaik untuk pendidikan titan. apapun yang titan pengen; pengen sekolah apa nantinya, inshaa allah akan bunda dan bubu usahain yang terbaik. karena itu, titan juga harus memberikan yang terbaik."

lalu saya pun mulai bla bla bla soal sekolah lain dan betapa saya pengen banget bisa sekolah di sekolah dia kalau aja dulu sudah ada sekolah modelan kaya gitu. surprisingly, dia cukup kaget. mungkin selama ini dia enggak tau keadaan sekolah lain, yang masuk lebih pagi dan pe er segabruk-gabruk setiap harinya.

"gimana ya nda, bisa pinter tapi enggak usah sekolah? hahaha ... hoooo i don't like my unfinished worksheets. it is piling up!"

saya cuma tersenyum. inget sama dulu waktu jaman kerjaan numpuk di kantor dan males banget ngerajinnya.

"bisa kok enggak usah sekolah tapi pinter. yang penting, belajar. belajar bisa dimana aja dan banyak caranya. terus, kalau enggak mau ada unfinished worksheets ya titan harus fokus waktu ngerjain. bunda yakin kok, kamu itu bisa. cuma sering distract aja waktu ngerjain."

lalu dia menghela nafas.

"iya deh. i'll do my best!"

saya senyum-senyum. dia juga ikutan senyum-senyum trus malah peluk saya.

"oh, i don't like to go to schoooool hahaha" kata titan lagi.

*kissous*


Comments

Popular posts from this blog

Life. Just like what I wanted.

Sounds so snobbish ya, saying life is just like what I wanted. But then I realized, semua itu karena emang aku enggak pengen apa-apa. Sekarang juga (ternyata) masih begitu. Dulu emang I treat my life like a blue print. Things to do piling up my list and my aims were to accomplish them. Alhamdulillah, semua tercapai. Tapi kemudian seperti ada titik tolak dalam hidup yang bikin  berhenti ingin terlalu banyak dari hidup. Entah karena merasa udah cukup banyak pencapaian pribadi baik yang bagus atau yang buruk, entah karena pernah kecewa berat sama yang namanya manusia atau karena alasan klise yang digadang-gadang semua manusia: anak.

Sekarang ini, lebih banyak menyambut apa yang datang ke dalam hidup. Termasuk, kembali ke agency lagi. Having thought that I am not some kind of 'Man in a mission' kind of person. I am just an 'I will do my best' of what comes in front of me kind of person.

Gini ceritanya.

Tiga belas bulan yang lalu, saya memutuskan untuk kembali bekerja setel…

love is love. marriage is another thing.

of all the things I ever wondered, ... I think I never wonder whom my kids will be married to. or to picture myself holding grand babies. not just a not yet, I think it is simply too hard to bear and too absurd to think of. but then I promise myself. I promise I will not ever push titan and luna to get married or even if they are married; I will not ask them when to have kids.

many times I wondered that marriage is overrated. and the only reason to get married is not love, but to realise life is too hard to bear when you are all alone. because, however, marriage is a conditional love. hubby once said, marriage is not all fancy and glitter. the lowest it can get is, to keep functioning and it will survive. how both parties can be functional one to another, is another story.

to ariawan, a guy of mine,
the one who always wake me up from my princessy dreams. love you.



Let's cut the crap from the question of Which Mom Are You?

A few years back, social media was being fussy about working mom versus stay at home home. What a nonsense brag! Since I went through both and also had a chance of being a working-from-home mom, it is even more ridiculous for me. Only stupid have a time discussing it and to elaborate on their social media status. Whoever we are, what kind of mom we are, what matters most is how we can make our life productive and progressing. Every single day.

Different mom has different ways of being productive. Some goes to work. Some clean up and cook for the family. Some works at home by selling stuffs online or being a freelancer. Productive means to produce something. Be it money, the foods, you name them all. But the question is, is productive enough? How about having a progressing life? Not as the wife of Mr. Blabla or as the mom of kid Zubidudamdam. But us, as a person. Me, as Wury; a 38 years old woman and how far I have made progress in  my life.

BUT. Let alone of being progressive, ... ar…