Saturday, December 28, 2013

Thursday, December 26, 2013

perasaan itu, masih tetap sama.

Baru enam tahun menjadi ibu. Baru lima bulan lebih jadi ibu beranak dua. Belum pernah ada perasaan yang lain kalau anak-anak sakit. Rasanya cuma satu. Sedih. Tabiatnya pun cuma satu. Panik. Maunya cepet-cepet ke dokter. Kalau kenapa-kenapa maunya langsung SMS dokter, jam empat pagi sekalipun. Syukurlah punya kakak ipar dokter dan dokternya anak-anak juga selalu ngebales walaupun di-SMS di jam-jam 'aneh' sekalipun.

Untuk kasus Luna kemarin, saya paniknya bukan kepalang saat dia demam tinggi berulang. Berbagai hipotesa lalu-lalang di kepala, padahal punya ilmu kedokteran juga enggak. Enggak tidur (itu sih biasa ya, namanya juga punya bayi dan pekerja iklan) dan stress membuat saya merasa masuk angin keesokan harinya. Pusing bukan kepalang. Muntah-muntah. Kerokan tanpa hasil gemilang kepala ces pleng. Dan ternyata setelah di cek, ... ya ampun saya mendadak darah tinggi! 139 / 97 itu hitungannya sangat tinggi bagi saya yang biasanya 100 / 67.

Sekarang, setelah sebulan virus flu-demam itu muter-muter di rumah, ndelalah balik lagi ke Titan. Sampe bingung gimana harus memutus rantainya.

Kalau ditilik ke belakang, saya bingung apa yang salah. Kayanya udah melakukan segala yang terbaik yang saya bisa, terutama untuk Titan yang (menurut saya) sering sakit. Titan sampe punya tiga dokter. Dokter Noenoeng Rahajoe sp.A untuk alerginya, Dr. Widodo Judarwanto untuk picky eating habitnya dan Dr. Rossie di RS. Gandaria untuk regular check-ups. Tapi ya tetap aja, ... tetap panik dan tetap sedih banget kalau dia sakit seperti sekarang ini.

Kadang saya berpikir, apa karena dulu waktu hamil Titan ada virus Rubella dan CIMV di tubuh saya sehingga dokter harus memberi booster daya tahan tubuh selama hamil. Titan memang lahir sehat, kuat dan tidak pernah sakit pada awalnya. Pertama kali sakit saat Titan berumur 8 bulan, jauh banget sama Luna yang demam pertama kali di usia hampir 5 bulan. Tapi setelah Titan lahir dan saya tidak lagi mengkonsumsi obat itu, baru terasa bahwa sepertinya daya tahan tubuh Titan kurang baik.

Titan, Titan kenapa Bunda udah enggak kerja eh malah jadi lebih sering sakit? 

Enggak tahu Nda, Titan juga enggak pengen sakit. Titan tau sakit itu ngerepotin Bunda. 

Bukan itu. Jadi orang tua memang harus mau repot dan Bunda enggak keberatan untuk jadi repot. Tapi kan yang kasian badannya Titan sendiri, setiap kali mau besar eh enggak jadi karena sakit. Makanya harus makan yang bener, jangan pilih-pilih. 

Ah, ... jadi sedih. Lagi sakit aja, anakku itu masih bisa berempati sama Bundanya ini.

Cepet sembuh ah, Nak. Ini kan liburan, masa sakit?
Kasian tu papan tulisnya sendirian aja enggak ada yang gambarin.

Oke? Sehat ya, Nak!

Sunday, December 22, 2013

Hari Ibu

enggak mau banyak nulis ah.
yang jelas, saya bahagia sekali.
*caramel heart*

Selamat hari ibu juga, semua :)


From my little guy


From my big guy

Tuesday, December 10, 2013

Reason or Excuse?

T: bunda,  titan boleh bikin teh manis? 
M: boleh, sayang. 
T: *ambil gelas besar*
M: lho, gelas titan mana? 
T: ada, di atas
M: dipakai lagi aja, jangan ganti-ganti gelas terus biar enggak banyak cucian piring
T: tapi gelasnya ada airnya
M: ya diambil, dipake lagi. 
T: tapi ada airnya. 
M: air putih? 
T: iya, titan enggak suka ada air putihnya. 
M: kamu mau buat apa? 
T: teh manis
M: emang teh manisnya Titan nanti enggak dicampur air putih? 
T: hmmm *mikir* ... dicampurlah Nda, kalau enggak nanti pahit. 
M: kalau begitu air putihnya yang di dalam gelas di atas aja. 
T: hmmm... iya juga yah. Tapi Titan enggak mau, Nda. 
M: kenapa?
T: nggak mau, gelasnya basah. 
M: lho, emang nanti titan ambil gelas baru, isi air teh, isi gula, isi air putih hangat, gelasnya enggak basah? 
T: hmmm... iya juga sih
T: tapi titan enggak mau, Nda. Yang di atas itu gelasnya kecil, Titan pengennya gelas yang ini, besar, jadi teh manisnya banyak. 
M: nah, kalau itu alasannya, baru tepat. Ya udah, sekarang tolong bantu Bunda ambil gelasnya, taruh di tempat cucian piring dan baru Titan bikin teh pakai gelas yang baru; yang lebih besar. 

and off he went.

Panjaaaaaaaaaang!

But I learnt:
bahwa anak-anak itu enggak bisa menyampaikan alasan. Mereka belum bisa menjawab 'kenapa'. Cuma tahu konsep enak dan enggak enak, cuma tahu mana  yang dimauin dan mana yang enggak dimauin.

Salah satu tugas kita orang tua untuk ngajarin bagaimana mencari alasan yang tepat, enggak dibuat-buat, dan yang paling penting: alasan jujur.

Monday, December 02, 2013

Here, now

1:21 am and wide-awake.
Sleepy, but there is this feeling that I am feeling and I still want to enjoy every second of it.

The "now-what?" or "what's next" question that is no longer haunting me, unlike yesterday.

The "I do not know" answer that I used to hate and now has become my favourite one.

I am feeling fuzzy and content at the same time and I am so much enjoying it I cannot believe and keep asking "how did I get to this point?'

I feel overwhelmed of my resignation. Yes, after 13 years working in the industry.
Today is my last day working in the office and I sealed the day with a quick-but-cute mom & son date over ice tea and Malayan toasts.

Yeah, ... how did I get this point? I think these might be the answers.

I am not alone. 

I am blessed with a loving husband who can make me feel secure about life and my day-to-day mayhem. He taught me life is not about who-do-what, but a let's-do-something-about-it-spirit instead. So when I told him my intention to resign, he said "Then do it."

When life is not a solid rock but a rhythm we dance and we can do adjustment at anytime.
I asked him "What if's?" he said "Just try it first. If it fails, then we can discuss it again."

We live based on priority.

We avoid malls and unnecessary tangibles. We invested on education and renovated the house to have activity room so we can have better quality time for the family. We lessen watch the TV and do a family project instead. Hence, we can save more money and I feel secure about my resignation.

Carefully do the math.

To do the math of living, it is important for me to know myself. To know what I am doing and why.

Not so long ago, there was a point when I asked myself "What the hell am I doing here where I can be way more useful in some other place?" The point when I realise I have been too much working-on life and not living it instead.

Well,

I think those are the points that has led me to this point, and I am so grateful.
For my life now.
For what happened in the past.
For the people I love, ... and they simply love me back.

Sunday, December 01, 2013

#bebikinan weekend

Akhir minggu ini kita sekeluarga full bebikinan. projectnya titan untuk merakit mobil pengasih uwaknya udah dimulai dari malam-malam sebelumnya. Hari sabtu pagi digeber supaya selesai dan ... voila ... jadilah mobil kuno yang bundanya ini enggak tahu apa namanya.

Project bubu dimulai dari Sabtu siang setelah mobil-mobilan titan selesai. Terus terang, projectnya bubu ini emang paling lucu diantara project lainnya. Dia pengen banget bikin reversible baby booties buat adek Luna.

Dan emejing, ... akhirnya jadi juga! Bundanya ini sampe minder. Sayangnya, kita enggak punya bahan motif lain untuk pendampingnya, jadi enggak terlalu keliatan bicolor deh.

Sementara itu, bundanya bikin lasagna aja.
Seperti biasa, dengan resep kira-kira. Not bad lah ....

Briefing awal

Voila!

Menjahit ala bubu, tetep gadgety 

Ta Daaaaa!

She's loving it 

Nom nom nom



Let's cut the crap from the question of Which Mom Are You?

A few years back, social media was being fussy about working mom versus stay at home home. What a nonsense brag! Since I went through ...