Skip to main content

Crispy juicy broccoli & sausage schotel

Hari Sabtu sore kemarin officially 'kesambet' lagi sama setan kompor. Karena gemes ngeliat brokoli yang belom sempat dimasak-masak, ngeliat roti tawar yang masih banyak tapi tanggal kadaluarsa semakin dekat, ditambah mood 'lagi pengen' yang tiba-tiba merongrong.

Akhirnya, dengan bermodalkan Bismillah dan semangat coba-coba jadilah penganan ini. Karena nggak pakai resep, aku coba ingat benar-benar takarannya supaya bisa dishare.

Basically, idenya diambil dari resep schotel tapi dimodifikasi cara bikin dan bahan dasar karbonya.

Bahan-bahannya, 
1,5 cups plain milk
3 butir telur ayam
4 lembar roti tawar, potong dadu
1 bonggol brokoli (potong per kuntum lalu siram air panas, sisihkan).
3 buah sosis, iris tipis
1/2 blok keju Kraft quickmelt, potong dadu. 
1/2 butir bawang bombai iris kecil
1 sdm margarin / butter untuk menumis bawang bombai
Garam dan merica secukupnya
Keju mozarella secukupnya untuk taburan
Cups aluminium foil atau silicon atau loyang apapun untuk wadah

Caranya, 
tumis bawang bombai sampai harum (jangan sampai berwarna coklat) dengan mentega atau butter lalu masukkan ke dalam adukan telur dan susu. Tambahkan garam dan merica secukupnya lalu sisihkan.

Di dalam cups aluminium, masing-masing tatalah beberapa kuntum brokoli (aku masukkan 3), irisan sosis (aku masukkan 4-5) dan dadu keju Kraft Quickmelt  (aku masukkan 5) lalu taburkan dadu roti di atasnya. Dengan resep ini, kemarin aku dapatnya 10 cups aluminium ukuran kecil.

Setelah itu panaskan oven suhu sedang (kemarin aku level 6, kurang tahu juga yah berapa derajat hihihihi) setelah siap segera tuangkan kuah susu telur ke dalam masing-masing cup. Nah, tuangkan sampai cup penuh ya. Setelah itu dia akan menyusut karena terserap roti. Kalau sudah menyusut, biarkan saja jangan ditambahkan lagi. Jangan lupa taburkan keju mozarella parut.

Kemudian panggang di oven selama 15-25 menit (aku kemarin sekitar 22 menit). Tergantung selera juga, maunya basah atau agak kering. Kalau aku suka keju di atasnya agak kosong.

Inilah hasilnya ... tadaaaaa!



Rasanya enak, ternyata taburan roti di atasnya menjadi semacam croutons kering rasa keju.
Begitu di sendok dalamnya, teksturnya juicy karena keju yang meleleh dalam campuran susu dan telur. Ah, yummy! Cocok banget buat anak-anak (kita-kita mah jangan sering-sering ya... bahaya hahaha) sampai-sampai Malicca bilang "You are amazing Bunda!" dan habis 2 kotak sekali makan.

Cemilan ini enaknya dimakan panas-panas, jadi berasa banget crispy-juicynya. Dan sepertinya memang cocoknya ditaruh di cup kecil-kecil karena pas disendok ada cairannya yang juicy. Kebayang kan kalau ditaruh di loyang besar trus berantakan kemana-mana dan malah jadi kering tengahnya :)

Next time mau coba isi bayam atau apel kayu manis, ah! *Nunggu kesambet lagi*

Popular posts from this blog

love is love. marriage is another thing.

of all the things I ever wondered, ... I think I never wonder whom my kids will be married to. or to picture myself holding grand babies. not just a not yet, I think it is simply too hard to bear and too absurd to think of. but then I promise myself. I promise I will not ever push titan and luna to get married or even if they are married; I will not ask them when to have kids.

many times I wondered that marriage is overrated. and the only reason to get married is not love, but to realise life is too hard to bear when you are all alone. because, however, marriage is a conditional love. hubby once said, marriage is not all fancy and glitter. the lowest it can get is, to keep functioning and it will survive. how both parties can be functional one to another, is another story.

to ariawan, a guy of mine,
the one who always wake me up from my princessy dreams. love you.



Three hours late.

2 AM and I stepped in to the house. Hubby was waiting for me. This was not the first time, and not the latest hour I had ever experienced with over time.

"See you soon Bunda. Or at 8, or at 9, or at 10, or at 11 like you said you would be late." Said my son.

I smiled as I entered the house. I smelled home. I saw my beautiful mess. As I picked up some toys on the floor, I imagined what games the kids had played today. There was a drawing, mini ceramics pots, not too chaotic for kids who were left with nini and aki without nannies.

I also saw their time tables, with some check marks on the list. Those that they weren't checked was the responsibility to wash their own dishes. I saw some dirty cups piling up. I saw the microwave's door left half-opened, a baking sheet and a knife. I wonder what they have cooked.
I also saw minecraft was in active window and some search on youtube and google.

Getting home in this hour and not seeing their faces but seeing all the mess the…

Life. Just like what I wanted.

Tiga belas bulan yang lalu, saya memutuskan untuk kembali bekerja setelah 2,5 tahun jadi freelance (tapi lebih banyak free-nya sih hahaha). Satu-satunya yang bikin saya merasa harus bekerja ya cuma Apple. Sisanya, banyak project yang saya tolak-tolakin karena males aja sih intinya. Belaguk bangetlah pokoknya.

Setelah merasa udah nggak produktif lagi di rumah, otak berasa tumpul dan rasa percaya diri udah nyungsep, saat itulah saya terima tawaran untuk kembali ke advertising. Banyak yang nyinyir sih, menganggap industri itu gelap banget dan ngapain udah enak-enak di rumah kok ya balik ngantor. Alasannya cuma satu: bosen di rumah.

Enggak tahu hal baik apa yang telah saya lakukan dalam hidup, ternyata saya dianugerahi tim yang baiiiiik banget. Anaknya manis-manis, good attitude dan yang paling penting; penuh tanggung jawab. Saya ngerasa banyak belajar dari mereka. Mulai hal baru di luaran sana sampai cara pakai krim mata. Enggak sedikit juga kesedihan yang kita tanggung bareng-bareng, da…