Skip to main content


Asyik, ada sudut baru di rumah. Letaknya di salah satu sudut di kamar. Pengennya sih buat nulis cerita anak atau bebikinan. Amin. 

Laci ini umurnya kira-kira tiga puluh tahunan, lho. Dulu, waktu TK ini adalah lemari bajuku dan sekarang jadi lemari bajunya Luna. Awalnya berupa laci polos, tapi kemudian aku tambahin handle stainless supaya lebih manis. 

Di kiri, ada lampu ikea kecil yang dibeli waktu jalan-jalan berdua Titan dua tahun yang lalu. Titan suka banget sama lampu ini, katanya selalu mimpi indah kalau tidur pake lampu ini *halahhh*
Sementara di dalam ember-emberan kaleng ada beraneka ragam post it yang berwarna-warni. Buat corat coret ide atau pengingat tanggal acara sekolah Titan (secara udah emak-emak ya, makan ginkobiloba pun kurang membantu).

Di sebelah kanan, ada si ayam betina cameo waktu aku dan Ariawan nikah. Ini ayam kebawa kemana-mana dan hampir di setiap foto ada sosok dia. Di bawah-bawahnya ada buku-buku fairy tales favoritku mulai dari Lewis Carol, Frank L. Baum dan cerita asli HC Andersen yang ternyata cukup 'grim' untuk ukuran cerita anak.

Di bawah kiri ada kotak fuchsia yang isinya semua tetek bengek bebikinan mulai cutter, selotape sampe barang-barang yang ngga penting-penting banget.

Ha, udah ada tempatnya; semoga makin giat berkaryanya!
*kemudian hening*

krik krik ... krik krik ... 

Yang ke dua, sudut di kamar anak-anak. Tempat tidur mereka kan di bawah, jadi kemarin agak bingung mau nyari bed side table kaya apa. Sesuatu yang simpel, enggak terlalu tinggi dan enggak terlalu 'maksa'. Sementara masih belum nemu, akhirnya aku pakai tumpukan buku cerita ini. Lumayan, bisa jadi pengingat untuk bacain buku ke anak-anak setiap malam. Lampunya masih kurang cangcing sih, nanti deh kalau jalan-jalan ada yang lucu bisa ditaro di sini.

*pastel heart*



Comments

  1. they're cute. what a happy childhood.

    ReplyDelete
  2. mamaciwww tante lia :-*

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

love is love. marriage is another thing.

of all the things I ever wondered, ... I think I never wonder whom my kids will be married to. or to picture myself holding grand babies. not just a not yet, I think it is simply too hard to bear and too absurd to think of. but then I promise myself. I promise I will not ever push titan and luna to get married or even if they are married; I will not ask them when to have kids.

many times I wondered that marriage is overrated. and the only reason to get married is not love, but to realise life is too hard to bear when you are all alone. because, however, marriage is a conditional love. hubby once said, marriage is not all fancy and glitter. the lowest it can get is, to keep functioning and it will survive. how both parties can be functional one to another, is another story.

to ariawan, a guy of mine,
the one who always wake me up from my princessy dreams. love you.



Three hours late.

2 AM and I stepped in to the house. Hubby was waiting for me. This was not the first time, and not the latest hour I had ever experienced with over time.

"See you soon Bunda. Or at 8, or at 9, or at 10, or at 11 like you said you would be late." Said my son.

I smiled as I entered the house. I smelled home. I saw my beautiful mess. As I picked up some toys on the floor, I imagined what games the kids had played today. There was a drawing, mini ceramics pots, not too chaotic for kids who were left with nini and aki without nannies.

I also saw their time tables, with some check marks on the list. Those that they weren't checked was the responsibility to wash their own dishes. I saw some dirty cups piling up. I saw the microwave's door left half-opened, a baking sheet and a knife. I wonder what they have cooked.
I also saw minecraft was in active window and some search on youtube and google.

Getting home in this hour and not seeing their faces but seeing all the mess the…

Life. Just like what I wanted.

Tiga belas bulan yang lalu, saya memutuskan untuk kembali bekerja setelah 2,5 tahun jadi freelance (tapi lebih banyak free-nya sih hahaha). Satu-satunya yang bikin saya merasa harus bekerja ya cuma Apple. Sisanya, banyak project yang saya tolak-tolakin karena males aja sih intinya. Belaguk bangetlah pokoknya.

Setelah merasa udah nggak produktif lagi di rumah, otak berasa tumpul dan rasa percaya diri udah nyungsep, saat itulah saya terima tawaran untuk kembali ke advertising. Banyak yang nyinyir sih, menganggap industri itu gelap banget dan ngapain udah enak-enak di rumah kok ya balik ngantor. Alasannya cuma satu: bosen di rumah.

Enggak tahu hal baik apa yang telah saya lakukan dalam hidup, ternyata saya dianugerahi tim yang baiiiiik banget. Anaknya manis-manis, good attitude dan yang paling penting; penuh tanggung jawab. Saya ngerasa banyak belajar dari mereka. Mulai hal baru di luaran sana sampai cara pakai krim mata. Enggak sedikit juga kesedihan yang kita tanggung bareng-bareng, da…