Monday, September 23, 2013

Bukan berarti




Alhamdulillah. 

Cuma itu satu kata yang bisa aku ucap hingga pagi ini, masih bisa memerah susu dan jumlahnya semakin banyak (ah, macam Cimory aja jadinya). Freezer pun hampir penuh. Udah nggak muat lagi to be exact, karena laci yang tengah ternyata kurang tinggi dikit untuk ukuran botol asi. Jadi harus pakai plastik asi. 

I used to be one of those militant asi mommy. Every mother designed to breastfeed, no excuse. Sempet cynical sama ibu-ibu yang keliatannya sehat fisik dan sehat finansial, tapi lebih memilih untuk memberi susu formula untuk bayi-bayinya. Tapi ternyata bukan cuma itu, aku juga cynical sama ibu-ibu yang dari kelas sosial menengah bawah dan memberi susu anak pakai botol (yang tentunya isinya susu formula dong ya, yang harganya mahal dan komposisinya tidak sebaik susu asi). 

Intinya, I got cynical to all kind of non-breastfeed mommies. 

Sekarang, aku tetap berusaha yang terbaik untuk bisa ngasih asi exclusive lagi. Kalau bisa, sampai dua tahun malah. Tapi kesadaran untuk tidak lagi menjadi ibu militan justru datang bukan dari soal asi ini. Tapi dari tren baru perbayian: cloth diaper. Nama kerennya clodi. 

Awalnya aku juga nggak ngerti apa itu cloth diaper atau popok kain. Karena aselik deh, jenisnya banyak banget. Ada yang fleece, ada yang pocket, ada yang microfiber, ada yang bamboo, ada yang pull ups pants, ada yang button, ada yang snaps, ... binguuuuung! Sampe akhirnya aku beli satu biji di Suzana, itu pun ternyata setelah dipakai beberapa kali baru ngeh ternyata pakeinnya salah. Thanks to YouTube clodi tutorial. 

Lalu aku mulai terekspos dengan penjual-penjual clodi online di Facebook. Merambah ke forum-forum mommies. Tapi kok ... kemudian mulai terasa nggak enak. Karena ibu-ibu ini tiba-tiba menjadi judgemental dan tiba-tiba aja mereka merasa jadi pencinta lingkungan yang super hebat hanya dengan memakai cloth diaper. Ya iya sih, ngerti banget berapa jumlah pohon yang bisa diselamatkan jika kita nggak pakai diaper sekali buang. Ngerti banget, berapa banyak sampah yang bisa kurangi hanya dengan tidak memakai diaper sekali buang. 

Sayangnya enggak semua orang sadar bahwa segala sesuatu yang menjadi trend itu pasti berujung menjadi mahal. 

Bukan hanya barang, tapi juga filosofi. Pemberian asi eksklusif, misalnya. Gerakan asi for baby ini menggema dimana-mana tapi justru fasilitasnya malah menjadi mahal. Let's say pompa asi yang minimal harganya 800 ribu. Plastik asi yang harganya 40 - 198 ribu per 25 lembar. Belum lagi kalau asi membludak, harus beli freezer tambahan dan jangan lupa genset untuk jaga-jaga laga PLN yang suka ngambek. Ditambah coolbox dan blue ice buat mobile mommies

Nah, begitu juga dengan clodi. Kayanya ridiculous kalau harus mengeluarkan uang mulai dari 70 ribu sampai 270an ribu untuk sebuah clodi. Sehari bisa pakai 6 clodi. Walaupun bisa dipakai hingga berat badan 18 kilogram atau lebih, bayangkan modal yang harus dimiliki untuk memiliki 12 clodi yang bisa dicuci bergantian setiap hari. Itu baru dari sisi finansial. Sangat menohok kalau keadaannya seperti saya ini yang tidak memiliki pengasuh atau asisten rumah tangga. Sehingga harus cepat-cepat menyempatkan diri mencuci dan menjemur clodi supaya segera bisa dipakai. Apa kabar bayi yang nangis, rumah yang berdebu dan perut yang keroncongan kalau saya harus selalu melakukan cuci mencuci itu? 

Dari situ saya mulai berpikir, bahwa tidak semua orang memiliki kemampuan dan berada di konteks yang sama. 

Menyusui secara eksklusif ataupun menggunakan popok kain yang ramah kulit dan ramah lingkungan. Siapa sih yang enggak mau? Kalau enggak usaha, itu lain soal. Tapi kalau sudah dicoba dan ternyata enggak memungkinkan, bukan berarti enggak sayang anak-anak kan? Dan enggak salah juga kan kalau setiap orang ingin mencari sesuatu yang tidak terlalu membebani diri. Tidak terlalu memaksakan? 

Segala sesuatu di dunia ini, yang bersifat material, apapun itu, semua berujung ke bisnis. Segala filosofi atau gerakan apapun, seringkali berujung pada kapitalisme juga. Pernah nonton Zetgeist? eh ini di luar konteks sih, tapi coba deh sekali-sekali download filmnya trus nonton. Mungkin harus juga tuh ibu-ibu militan nonton Zeitgeist

Menyusui dan membesarkan anak itu butuh keseimbangan jiwa dan kepala. Pun situasi yang menenangkan. Enggak perlulah ditambahin dengan beban-beban yang kita bikin sendiri harus begini dan harus begitu. Menyamakannya dengan si dia yang begini dan aku memilih untuk begitu. Ribet nggak sih? 

Ahhh, jadi ingat kata-kata Ariawan. 

"Kalau bisa, ya dikerjain. Kalau sudah dicoba tapi kayanya berat, ya udahlah enggak usah. Kalau cape, ya berhenti. Gampang, kan?"

Sunday, September 22, 2013

Jangan bilang siapa-siapa

21. 43

Baru aja selesai bacain cerita sebelum tidur buat Malicca. Kali ini judulnya 'Jangan bilang siapa-siapa' karangan Clara Ng. Ceritanya tentang seorang anak burung yang terlanjur berbohong sama ibunya lalu merasa enggak enak hati seharian. Akibatnya, untuk mengurangi kegundahan hatinya dia menceritakan kegalauannya itu kepada sebuah batu. Karena batu adalah pendengar yang baik, dan dia tidak akan bilang siapa-siapa.

Bacanya sih sebentar. Malam ini kayanya udah terlalu ngantuk jadi bocah nggak terlalu banyak komen (biasanya komen-komen soal gambar).

Selesai baca, kita ngobrol.

Titan pernah kaya gini nggak? Cerita sama batu? 

Pernah. Di depan kan ada banyak batu tuh di taman, itu banyak yang udah Titan ceritain lho Nda. 

Wah, rahasia apa? Bunda boleh tau juga, nggak?

Boleh, Tapi bunda jangan bilang siapa-siapa ya. 

Iya. Rahasia apa, sih?

Iya, Titan cerita kalau Titan pernah ... (off the record since it is a secret between me and malicca)

Ooooh hahahaha ... kenapa cerita sama batu? Kok enggak cerita sama Bunda?

Abis Titan malu. 

Denger ya, Titan bisa cerita apa aja sama Bunda ya. Apapun itu, mau malu-maluin; bunda janji akan jadi pendengar yang baik dan enggak akan bilang siapa-siapa. Inget itu. Siapa tau, kalau Titan lagi ada masalah Bunda bisa bantu. Kita bisa diskusi. Oke?

Lalu Malicca pun mengangguk, dan segera menutup mata setelah sebelumnya kita berdoa bersama.

Ah, ... waktu kenapa berlalu begitu cepat. Suka nggak rela sendiri kalau melihat anak-anak tiba-tiba sudah tumbuh besar dan punya rahasia-rahasia yang mereka simpan sendiri. Anyways terima kasih Clara Ng, cerita kali ini membekas sekali.

And Malicca, I am writing this not because I am telling the whole world about our secret. 
I am writing this and so you can always remember that you can always tell everything to me. I promise I won't judge.   

Selamat malam sayang, selamat malam semesta.
Rahasia apa yang akan kau ungkap esok pagi?




Saturday, September 21, 2013



Asyik, ada sudut baru di rumah. Letaknya di salah satu sudut di kamar. Pengennya sih buat nulis cerita anak atau bebikinan. Amin. 

Laci ini umurnya kira-kira tiga puluh tahunan, lho. Dulu, waktu TK ini adalah lemari bajuku dan sekarang jadi lemari bajunya Luna. Awalnya berupa laci polos, tapi kemudian aku tambahin handle stainless supaya lebih manis. 

Di kiri, ada lampu ikea kecil yang dibeli waktu jalan-jalan berdua Titan dua tahun yang lalu. Titan suka banget sama lampu ini, katanya selalu mimpi indah kalau tidur pake lampu ini *halahhh*
Sementara di dalam ember-emberan kaleng ada beraneka ragam post it yang berwarna-warni. Buat corat coret ide atau pengingat tanggal acara sekolah Titan (secara udah emak-emak ya, makan ginkobiloba pun kurang membantu).

Di sebelah kanan, ada si ayam betina cameo waktu aku dan Ariawan nikah. Ini ayam kebawa kemana-mana dan hampir di setiap foto ada sosok dia. Di bawah-bawahnya ada buku-buku fairy tales favoritku mulai dari Lewis Carol, Frank L. Baum dan cerita asli HC Andersen yang ternyata cukup 'grim' untuk ukuran cerita anak.

Di bawah kiri ada kotak fuchsia yang isinya semua tetek bengek bebikinan mulai cutter, selotape sampe barang-barang yang ngga penting-penting banget.

Ha, udah ada tempatnya; semoga makin giat berkaryanya!
*kemudian hening*

krik krik ... krik krik ... 

Yang ke dua, sudut di kamar anak-anak. Tempat tidur mereka kan di bawah, jadi kemarin agak bingung mau nyari bed side table kaya apa. Sesuatu yang simpel, enggak terlalu tinggi dan enggak terlalu 'maksa'. Sementara masih belum nemu, akhirnya aku pakai tumpukan buku cerita ini. Lumayan, bisa jadi pengingat untuk bacain buku ke anak-anak setiap malam. Lampunya masih kurang cangcing sih, nanti deh kalau jalan-jalan ada yang lucu bisa ditaro di sini.

*pastel heart*



The ode

Some people forget (or simply don't know) that most babies have androgyny faces, because every part of their faces are still developing. This is the reason why people feel they need to differentiate their baby's looks. So people recognise what gender their baby is. Sometimes they differentiate the gender with color coding clothes or many times by giving the baby girl a pair of earrings.

This is what happen to La Luna. She looks different everyday. Sometimes she looks girly, most of the times she looks boyish. This what made some people who met her thought she was a boy. Then they asked me why she didn't wear any earrings since she was a girl.

I mostly responded them with a glimpse of smile. If I am in a good mood to explain, I answered them with an empathy answer like "I'm a soft mama, I cannot stand her cry when she was being pierced." Not really an explaining answer, if they realise. It was even a lie.

Actually, it was more than that.

Ariawan and I decided not to pierce her as our respect to her body. We don't want to make eternal physical scar on her, a fait accompli, something she might regret when she grows up for something she did not do or did not wanted. It is an ode to her choice, that she has every choices in life and she should be responsible for what she chooses. It is a promise from us, her parents, that we will only be her supporter and not the decision maker.

So, my dear baby girl La Luna, it is a promise.
Please remind me if I forget it someday.

Wednesday, September 18, 2013

If I get married someday

"Bunda, bunda dan bubu punya cincin nikah?"

"Punya."

"Nanti kalau Titan nikah, boleh pakai cincin nikahnya bunda sama bubu?" 

"Boleh, sayang."
*speechless. surprised*

(One day when you were accompanying me do the grocery shopping at Carefour the other day)

Thursday, September 12, 2013

Five things

While waiting Bubu for dinner and me nursing your little sister, we had this beautiful conversation in my bed room.

Malicca, let's play love and hate.
What's that?
Mention the five things you love and five things you hate.

Okay, and here are the five things you love (at this moment):

1. You love to draw
(well, obviously)

2. You love my phone and Bubu's tab
(you love to browse Titanic, whirlpool and plays Minecraft lately)

3. You love my bed side lamp and a pencil sharpener
(it was Ikea lamp, and you love sharpener because you can not have a blunt pencil. You just can't. I remember when your teacher told me that you often have your work unfinished just because you keep sharpening your pencil during the lesson like an OCD kid hahaha)

4. You love me
(yes, I know it and I love you too so very much)

5. I love adek La luna
(promise me you will be a good big brother and protect her, okay? :) )

Next was the five things you hate. 
It was even more interesting, because we had a big laugh discussing them. There are:

1. You hate nail
(oh, I just knew it. When I asked you why, you told me because it is sharp and you're afraid it might fall on your head. Oh boy.)

2. You hate when Bubu gets very angry
(oh well, obviously. I also hate when my dad gets angry to me, until this very moment when I am 34 haha. Then I asked you 'what would you do then when he gets angry?' ... 'I just keep silent and avoid him anywhere I go. I will go to Nini's house, lock the door and I won't come out hahaha)

3. You hate when the lights off
(when I asked you why, you said because you are afraid of 'Mama' - the movie. You are afraid she might look for her papa and thinks you are her papa because you always wanted to be a papa. 
Do you want to know a secret? Many times, when you take a very long shower even for hours, I intentionally put the electricity down. That way you will finish your shower and get dressed. I'm done, I'm done, you said). 

4. You hate when something hits your head, for example those guava at Nini's house. The tree was so fruitful they fell apart on your head in the morning.

5. You hate when you accidentally step on something sticky, ... especially if it's a poo poo!
(it just happened this afternoon, you stepped on the bird's poo at Nini's terrace. I laughed out loud to see your expression and you finally laughed too!)

Hey, I love having this conversation with you. Let's do this everyday, son. So you know how to count every blessings and be grateful of them.
And as you know, to mention things you hate was much easier right? It is because to see what you hate is easier than to see good deeds. But if you think only the bad things, that is the only thing that would stick in your head. Might as well, think of the goodness and that is the thing you will remember.

I love you!

Our alphabet date before bed

Your picks for this week


Monday, September 09, 2013

Hijrah

Sebenarnya saya masih agak kurang sreg dengan judul di atas. Tapi ya sudahlah, belum nemu kata atau kalimat yang pas, sementara pakai yang ini dulu :) 

Jadi, salah satu wishlist terbesar saya dan Ariawan adalah pindah dari Jakarta. Kenapa? Untuk kualitas hidup yang lebih baik dan energy yang lebih positif.  Lucunya, kami berdua cukup akrab dengan hidup berpindah-pindah sewaktu kecil. Walaupun enggak terlalu hippie sih. 

Saya lahir dan tumbuh di Jakarta. Umur 11, saya dan mamah ikut bapak pindah tugas ke Palembang. Umur 13, kami pindah lagi ke pangkal pinang (pulau Bangka). Sayang bapak cuma ditugaskan di sana selama 2 tahun di sana lalu kita semua kembali ke Jakarta. Sampai sekarang.

Saya masih ingat malam itu. Dengan sangat hati-hati bapak memberitahu saya yang baru kelas 5 tentang berita kepindahan kami ke Palembang. Dan saya masih ingat raut wajahnya yang berubah lega saat saya berteriak senang karena berkesempatan pindah dari Jakarta.

“Mau, Uwie pindah?” Tanya bapak.
“Mauuuuu!” Kata saya tanpa berpikir lagi.

Saat itu saya membayangkan tinggal di rumah panggung yang terbuat dari kayu, persis seperti yang digambarkan di buku IPS saya mengenai rumah-rumah adat Sumatra. Tapi apaan, ternyata rumah yang kami tempati rumah permanen ‘biasa’. Di kompleks perumahan yang cukup moderen pula. Tapi yang namanya pindah ke kota lain selalu memberi pengalaman seru (walaupun kotanya enggak seseru yang saya bayangkan sih). Terus terang saya agak kurang ‘betah’ tinggal di Palembang. Jadi saat saya diberitahu yang ke dua kalinya tentang kepindahan kami ke Pangkal Pinang, tau dong reaksi saya: menyambut dengan suka cita!

Saya pindah ke Pangkal Pinang di semester ke dua kelas 1 SMP. Waktu itu, penerbangan Palembang – Pangkal Pinang hanya diakomodir oleh pesawat Garuda tipe F28 yang sekarang sudah tidak beroperasi lagi. Itu pun harus transit dulu di Palembang.

Pertama kali saya menginjakkan di rumah dinas bapak, saya senang sekali. Di jalan Merdeka, letaknya. Rumahnya besar, di kompleks peninggalan belanda. Temboknya tebal, jendelanya lebar, langit-langitnya tinggi, lantainya dari keramik mozaik dan setiap ruangannya luas sekali. Saya bisa lari-lari di dalamnya. Halamannya juga besar, bapak bisa langsung bikin lapangan basket di belakang. Yang main tentu bukan saya, tiap Jumat malam halaman belakang selalu ramai dengan bapak-bapak termasuk bapak saya untuk bermain basket. Golf juga bukan sebuah olah raga mahal. Karena ada PT. Timah, lapangan golf bebas terbuka untuk siapa saja tanpa harus menjadi anggota dengan uang pangkal puluhan juta rupiah. Di sanalah saya belajar golf dan mendalami hobi saya bersepeda. Sebuah lingkungan yang sehat, dalam arti yang sebenarnya. Saya senang sekali, dan akhirnya menganggap Pangkal Pinang seperti kampung halaman saya sendiri.

Di Pangkal Pinang, saya sekolah di sekolah negeri. Berbeda dengan di Palembang dimana saya masuk ke sekolah swasta katolik. Saya langsung jatuh cinta dengan keramahtamahan di sana. Dan disana pula pertama kalinya saya ‘berkenalan’ dengan etnis cina. Dan sungguh, kali ini berbeda sekali dengan persepsi saya tentang mayoritas dan minoritas. Kami semua menyatu dan bermain bersama. Saking indahnya pengalaman itu, saya masih ingat beberapa nama teman-teman etnis saya: Mei Hwa, Men Kwet, Sian Kwet dan Ai Hwa. Saya masih ingat sekolah naik sepeda dan pramuka bersama mereka. Baidewei apa kabar yah Pramuka? Agak kecewa sekolah sekarang sudah jarang yang ada pramukanya lagi.

Ditambah lagi lokasi pantai yang cuma 5 menit dari rumah (naik mobil ya, kalau naik sepeda nggak kuat soalnya rutenya bikin gempor), pantai Pasir Padi namanya. Pantainya luas dan landai sekali. Saya selalu membawa anjing saya ( si Chocho) lari-lari dan berenang di sana tanpa takut tenggelam. Kejar-kejaran, persis kaya di film-film! Belum lagi aktivitas naek sepeda tiap sore naik turun bukit di lingkungan rumah. Sempet nyusruk dan berdarah-darah saking ngebutnya dan bikin nggak ikut senam pagi di sekolah keesokan harinya. 

Entah kenapa, walaupun saya sendirian di rumah sebesar itu (karena kakak-kakak saya lebih memilih tinggal di Jakarta), saya tidak pernah merasa kesepian. Untuk update musik, kakak saya sering kirim kaset (ciyeee 'kaset' loh!) dari Jakarta. Dia juga suka bikinin mix tape. Jaman itu lagi jamannya Too Legit To Quitnya MC Hammer (bwahahahaha). So yeah, ... bisa dibilang 2 tahun keberadaan saya di Pangkal Pinang adalah momen terindah dalam masa kecil saya. 

Saat bapak menyampaikan bahwa beliau dipindahtugaskan kembali ke Jakarta, aselik deh rasanya sedih banget. Saya sampe minta untuk stay aja di Pangkal Pinang dengan alasan nanggung tinggal setahun lagi saya lulus SMP. Ya kali deh, ... tentu aja nggak boleh.

Tentang Jakarta, perasaan saya waktu umur 15 dan perasaan saya di usia 35 sekarang ini tetaplah sama: M. U. A. K. Saya sadar manusia diberi kemampuan untuk beradaptasi. Tapi kenapa rasa yang satu ini enggak hilang-hilang ya? Bersepeda, berlari, persahabatan, tidak lagi memiliki arti yang sama. Bersepeda berarti kesenggol bajaj atau motor ngehe. Lari berarti indo runners dan Nike Plus dan pencitraan di socmed. Persahabatan? Yang tanpa pamrih? Sahabat yang kata-katanya bisa di'pegang'? Wah, … itu barang langka (walaupun saya sangat bersyukur saya memiliki beberapa). Hal ini yang akhirnya membuat sepeda lipat kesayangan saya jadi nganggur dan karatan sebelum akhirnya hilang entah dicolong siapa. Dan ini pula yang bikin saya lebih suka jadi orang 'rumahan' demi menghindari macet dan energi negatif Jakarta. 

Lain saya, lain pula Ariawan. Pengalaman dia terpental-pental lebih banyak dari saya. Sejak terlahir di pelosok kalimantan timur, lalu melancong ke Semarang, Pemalang, Jakarta, sempat bekerja di beberapa negara lalu kembali ke Jakarta 'hanya' untuk menikahi wanita yang nulis blog ini. 

#duh!
#eh
#tepokjidat
#loveyou

Saya masih ingat betul dulu sepulangnya ia dari Adelaide, titik pelancongannya yang terakhir, muka dan perawakan Ariawan masih seger. Terima kasih sama udara yang lebih bersih, sepeda, berjalan kaki dan weekly projectnya menghias rumah yang memakan banyak energi. Sekarang, melihat Ariawan kadang bikin saya merasa gagal jadi istrinya (lebay). Belum lagi mendengar ceritanya tentang lingkungan kerja yang bikin dia down (ini masalah etos kerja, masalah bangsa dan nggak bisa lepas dari sejarah). Ditambah lagi, waktu 24 jam di Jakarta itu sepertinya tidak pernah cukup untuk mengakomodir semua hasrat berkegiatan. Sampai rumah, biasanya tinggal energi sisa. Itu juga beruntung kalau masih sisa. Biasanya kita semua udah cape. Lagi-lagi, yang kasian anak-anak. 

Muaknya kami dengan kemacetan Jakarta membuat kami lebih sering menjadikan rumah sebagai sanctuary di saat weekend. Mengerjakan proyek-proyek kecil seperti menanam pohon, melukis, menjahit, bikin kue, bebersih rumah, benerin mobil, membuat rumah pohon, dan sebagainya. Nah tuh, banyak bener deh. Lagi-lagi kita kurang waktu. 

Tapi kan enggak bisa begitu terus ya. Anak-anak juga butuh melihat ke luar. Tapi sekali lagi terbentur dengan kondisi yang beda sekali dengan dulu saat saya kecil. Bisa bebas main sepeda dengan radius jauh dari rumah tanpa harus takut diculik atau ketabrak mobil dan motor. Bisa janjian ngumpul di rumah teman atau saudara tanpa harus berangkat dua jam sebelumnya. Karena macetnya itu pula, tinggal di Jakarta sering memaksa kami untuk memilih karena terbatasnya waktu. 

Semua itu membuat saya ingin hijrah dari kota ini. Apalagi, kini saya sudah menjadi ibu dan mendambakan kualitas hidup yang lebih baik untuk anak-anak. Saya ingin mereka merasakan apa yang saya rasakan waktu kecil. Tentu, dengan dimensi yang lebih baik. Ndelalah Ariawan juga merasakan dan memiliki keinginan yang sama.  Hanya saja alasan dia lebih menggunakan otak kiri ketimbang saya yang lebih banyak pake hati. 

“If you have a dream, say it out loud!” Kata The Secret. Iya yah, kayanya saya belum pernah ngember soal wishlist saya yang satu ini. So hear, hear! Aku ingin tinggal di luar negeri! Say I’m pathetic, say I’m ignorant, say I’m a traitor, but I don’t care, I’m only human and yes I want it so much!

Saat ini memang masih sebatas angan, belum bergerak apa-apa (baca: ngandelin suami. Istrinya cuma bisa meracau di blog aja hihihi). Walaupun terus terang, industri periklanan tempat saya bekerja seharusnya sangat memungkinkan untuk jadi TKW. Tapi gimana dong, saya juga lagi nggak cinta sama bidang pekerjaan saya ini. Jadi, yah … semoga meracau ini bisa merefleksi dan menggema hingga ke Arsyi.

Well, kalaupun tidak bisa hijrah ke luar negeri;  saya ingin tinggal di Bali. Dan anak-anak sekolah di sini. Amin!





Today's PDR

Di sekolah Titan, setiap hari ada jadwal PDR (Plan-Do-Review) selama 60 menit. Dalam PDR ini, mereka belajar membuat perencanaan kegiatan mereka dan melakukan review setelah selesai. 

Mereka bisa bebas melakukan apa aja. Dari sini pula ditengarai minat mereka. Ada yang mengisi PDRnya dengan tidur siang, main di halaman, ke perpustakaan atau para siswa yang belum menyelesaikan tugas-tugas atau tesnya pun dilanjutkan pada saat ini. 

Hari ini, Titan kembali ngebawain aku gambar setelah beberapa minggu moodnya berhasta karya. 
Senang deh ngeliatnya :)  

Terima kasih, sayang.



Sunday, September 08, 2013

tentang waktu, menurut aku dan kamu

suatu hari saya menonton kembali video malicca saat ia berusia 2 tahun lagi asyik main thomas the tank engine yang berputar-putar di atas rel. saya tertawa-tawa sendiri. kemudian tiba-tiba terharu. berharap waktu tidak menderu terlalu cepat.

tak lama, titan pun nimbrung. saya pun bertanya
"Titan mau nggak balik lagi segede gini? Lucu, belum sekolah masih bisa main-main sepanjang hari."

Tapi si anak malah menggeleng. Dia tidak ingin menjadi kecil saat ibunya berharap dia tidak terlalu cepat besar.

...

kalau lagi sendirian, scrolling foto-foto di ponsel, isinya kebanyakan ya foto anak-anak. dan setiap kali melihat foto mereka, entah kenapa yang tersisa adalah air mata. dan rasa sakit yang dalam. yang mempertanyakan kenapa waktu berjalan begitu cepat. yang menyisakan segudang 'jika'. lalu aku pun berkilas balik. dari saat pertama memeluk anak-anak, mendengar tangis mereka, menyentuh jemari mereka, ingat pipilan kulit yang mengerut, ingat omelan-omelan yang sering menghujani mereka karena kelalaian kecil.

kemudian timbul kekhawatiran. tentang bagaimana hidup mereka bertahun ke depan saat saya sudah tidak ada. macam saya bisa selalu menjadi pahlawan untuk mereka. macam saya tuhan yang selalu bisa menjaga mereka.

lalu timbul rasa takut. takut hilang waktu dan tak sadar tetiba anak menjadi besar. takut hilang 'kuasa'  untuk bisa memberi pilihan terbaik. yang terakhir, itu yang membuat saya terus menjadi ibu bekerja hingga hari ini. materi yang terkadang menjadi jalan pintas untuk 'membayar'. sayang, tidak bisa membeli waktu.

berharap waktu berhenti. supaya anak tidak terlalu cepat besar. supaya orang tua tidak segera menua. tapi yang terjadi malah rentetan tanya. whether i have been a good mother and a good daughter. whether i have been trying my best. whether i have been giving my time for them. yang terakhir, adalah yang paling menohok, yang paling dalam menyakiti dan mengiris hati.

rasa-rasa ini yang seringkali saya temui kalau menatap wajah anak-anak yang sedang tertidur pulas. atau saat saya melihat kembali wajah-wajah mereka melalui layar ponsel. dan kali ini, rasa-rasa itu semakin meningkat seiring dengan habisnya cuti melahirkan saya dalam hitungan minggu. minggu-minggu yang saya tidak tahu, harus mengumpulkan keberanian untuk berhenti bekerja atau mengumpulkan kekuatan untuk mulai bekerja (lagi).

sigh.


Crispy juicy broccoli & sausage schotel

Hari Sabtu sore kemarin officially 'kesambet' lagi sama setan kompor. Karena gemes ngeliat brokoli yang belom sempat dimasak-masak, ngeliat roti tawar yang masih banyak tapi tanggal kadaluarsa semakin dekat, ditambah mood 'lagi pengen' yang tiba-tiba merongrong.

Akhirnya, dengan bermodalkan Bismillah dan semangat coba-coba jadilah penganan ini. Karena nggak pakai resep, aku coba ingat benar-benar takarannya supaya bisa dishare.

Basically, idenya diambil dari resep schotel tapi dimodifikasi cara bikin dan bahan dasar karbonya.

Bahan-bahannya, 
1,5 cups plain milk
3 butir telur ayam
4 lembar roti tawar, potong dadu
1 bonggol brokoli (potong per kuntum lalu siram air panas, sisihkan).
3 buah sosis, iris tipis
1/2 blok keju Kraft quickmelt, potong dadu. 
1/2 butir bawang bombai iris kecil
1 sdm margarin / butter untuk menumis bawang bombai
Garam dan merica secukupnya
Keju mozarella secukupnya untuk taburan
Cups aluminium foil atau silicon atau loyang apapun untuk wadah

Caranya, 
tumis bawang bombai sampai harum (jangan sampai berwarna coklat) dengan mentega atau butter lalu masukkan ke dalam adukan telur dan susu. Tambahkan garam dan merica secukupnya lalu sisihkan.

Di dalam cups aluminium, masing-masing tatalah beberapa kuntum brokoli (aku masukkan 3), irisan sosis (aku masukkan 4-5) dan dadu keju Kraft Quickmelt  (aku masukkan 5) lalu taburkan dadu roti di atasnya. Dengan resep ini, kemarin aku dapatnya 10 cups aluminium ukuran kecil.

Setelah itu panaskan oven suhu sedang (kemarin aku level 6, kurang tahu juga yah berapa derajat hihihihi) setelah siap segera tuangkan kuah susu telur ke dalam masing-masing cup. Nah, tuangkan sampai cup penuh ya. Setelah itu dia akan menyusut karena terserap roti. Kalau sudah menyusut, biarkan saja jangan ditambahkan lagi. Jangan lupa taburkan keju mozarella parut.

Kemudian panggang di oven selama 15-25 menit (aku kemarin sekitar 22 menit). Tergantung selera juga, maunya basah atau agak kering. Kalau aku suka keju di atasnya agak kosong.

Inilah hasilnya ... tadaaaaa!



Rasanya enak, ternyata taburan roti di atasnya menjadi semacam croutons kering rasa keju.
Begitu di sendok dalamnya, teksturnya juicy karena keju yang meleleh dalam campuran susu dan telur. Ah, yummy! Cocok banget buat anak-anak (kita-kita mah jangan sering-sering ya... bahaya hahaha) sampai-sampai Malicca bilang "You are amazing Bunda!" dan habis 2 kotak sekali makan.

Cemilan ini enaknya dimakan panas-panas, jadi berasa banget crispy-juicynya. Dan sepertinya memang cocoknya ditaruh di cup kecil-kecil karena pas disendok ada cairannya yang juicy. Kebayang kan kalau ditaruh di loyang besar trus berantakan kemana-mana dan malah jadi kering tengahnya :)

Next time mau coba isi bayam atau apel kayu manis, ah! *Nunggu kesambet lagi*

Wednesday, September 04, 2013

Lola vanilla

Jalan-jalan ke ace hardware emang nggak pernah berhasil pulang dengan tangan kosong. Kali ini beli selusin cup silikon untuk bikin cupcake. Kejadian ini terjadi sekitar ... tiga bulan lalu.

Karena malu sama mangkok lucu yang warna-warni yang selalu memanggil-panggil dari dalam oven, akhirnya aku beli tepung cupcake yang sudah setengah jadi. Tinggal cemplungin butter dan telur, voila ... jadi deh! Maklum, bikin kue sambil gendong bayi yang belum 1 bulan ternyata lumayan repot. Jadi boleh dong curang dikit beli resep setengah jadi hehehe *ekskyus* Untung ada kakak Titan yang bantuin. Walaupun ... uhm ... ya gitu deh *mungutin kulit telur di lantai*

Kali ini aku modif sedikit resepnya dengan menambahkan sour cream (yang dibuat dari 2/3 thick cream dan 2 sdm air lemon) dan mengurangi gula. Udah pertama kalinya pake adonan ini, dimodif pula. Resiko gagal besar ini sih.

Tapi ternyata rasanya lumayan. Walaupun menurutku lebih ke rasa dan tesktur bolu instead of cupcake. Frosting vanillanya enggak aku pakai, selain nggak keburu karena little luna udah nangis-nangis; vanilla over vanilla sepertinya bakal maghteugh banget. Gantinya, aku olesin pakai sisa sour cream dan ternyata rasanya lebih segar.

Walaupun tetep sih, menurutku the best vanilla cupcake recipe ada di sini 
Its soft and moist.


Tuesday, September 03, 2013

Celoteh dua lelakiku

Tadi malam, saya mencuri dengar Titan bicara dengan akinya. Kali ini, soal jadwal mengaji. Sudah beberapa bulan ini memang Titan punya kegiatan tambahan mengaji sehabis Maghrib sama akinya. Tapi, mereka memang tidak punya kesepakatan soal jadwal. Kalau akinya inget, ya ngaji. Kalau Titannya lagi pengen, ya minta ngaji. Yang repot adalah kalau akinya lagi semangat dan anaknya lagi nggak mood terus suka dipaksa. Ini yang saya suka keberatan juga. Tapi being a nice kid, biasanya Titan menurut saja untuk mengaji. Tapi cuma sebentar.

Ndelalah beberapa hari yang lalu, anak ini sudah membuat jadwal kegiatan sepulang sekolah. Saya juga cukup amazed sih waktu dia memutuskan bikin jadwal ini. Waktu saya tanya kenapa dia butuh jadwal, menurut dia terlalu banyak yang harus dilakukan sepulang sekolah dan dia selalu lupa. Akhirnya, dia punya ide untuk membuat time schedule dan saya sebagai supporter membiarkan dia mengatur waktunya sendiri.

Lucunya, setelah anak ini membuat jadwal, dia cukup konsisten menjalaninya. Apa yang tidak sesuai, akan dia revisi. Dikurangi atau ditukar waktunya. Termasuk jadwal mengaji ini.

Awalnya, dia menaruh jadwal mengaji setelah makan malam. Karena setelah sholat maghrib, dia menaruh jadwal membaca buku / blogging. Tapi setelah hari pertama dijalanin, kayanya Titan sudah terlalu mengantuk untuk mengaji setelah makan malam. Di hari ke dua, dia minta izin untuk menukar jadwal mengajinya sehabis sholat maghrib dan blogging setelah makan malam.
Di hari ke tiga, Titan minta izin lagi untuk merevisi lagi jadwal mengajinya yaitu menjadi dua hari sekali, berselang seling. Nah, untuk ini aku minta dia untuk ngobrol sendiri dengan akinya. Ini kata mereka.

T: Aki, Titan ngajinya selang seling aja ya. Hari ini ngaji, besok nggak. Besoknya lagi ngaji, besoknya lagi nggak.

A: Lho, kenapa?

T: Kan di sekolah aja nggak setiap hari belajar religion.

A: O, jadi mau disamain sama jadwal religion di sekolah?

T: Enggak juga sih, kalau disamain terlalu lama. Selang seling aja, Ki. Karena Titan udah punya jadwal dan kemaren itu nggak semua jadwalnya Titan bisa dikerjain. Jadi musti gantian. Hari ini ngaji, besoknya blogging, besoknya lagi ngaji, besoknya lagi blogging. Gitu.

A: Nanti kalau nggak exercise sering-sering, ngajinya jadi lupa.

T: Bukan exercise, aki. Exercise itu main atau lebih physical.

A: Iya, maksud aki latihan ngaji.

T: Kalau latihan itu practice.

A: Iya deh, practice. Nanti lupa kalau selang seling.

T: Enggak ah. Buktinya Titan udah lama nggak ngaji tapi semalam masih bisa bacanya. Iya, kan?

A: (skak mat. Cuma diem aja) Ya udah deh kalau maunya gitu.

Hahaha ... aku senyum-senyum aja mencuri dengar dari meja makan. Lucu sih melihat dua lelakiku yang bertaut usia enam puluh tahun negosiasi soal jadwal ngaji. Aki yang (seperti biasa suka memaksa) dan kamu Malicca, yang dengan tenang, bicara lancar dan tegas membela idemu tentang jadwal (Bunda is so proud!).

All in all, I am so grateful for having them both.
*wiiiiiide smile.*

The Schedule






Who I will be with when I am old

It was a sunny day. I got a little bored of babysitting so I decided to pick you yup from school.
I always taking and picking you up, because we always have interesting conversation along the way. From nenek cantik wearing pink dress, ufo, and now this.

"Bunda,  kalau sudah besar, sudah kerja sudah punya rumah, Titan mau nikah." 

Not really a surprise for me; we have this kind of conversation. The movie UP and its character Mr. Frederickson have been possessing you all along. How they grow old together. How they save and shrimp for travel. How they want to have kids. Basically, how he loves Ellie and everything about her.

Kenapa? Bukannya enak kalau sendiri? Enggak ada yang marahin suruh pulang cepet, bisa bebas kemana aja, jalan-jalan, ... (uhm... I'm loosing more reasons)

Then you suddenly pouted.

"Nanti kalau Titan sudah tua sama siapa?
Nanti kalau Titan duduk di kursi, di sampingnya enggak ada orang.
Nanti Titan kalau nonton TV sendirian. Kan enggak enak, Nda."

I smiled. While you were talking, I got busy with my own visual imaginations of you.

"Terserah Titan, kan nanti yang ngejalanin Titan. Nanti dirasa-rasa aja sendiri gimana rasanya sendiri, gimana rasanya punya temen deket, baru diputusin mau nikah sapa siapa."

Monday, September 02, 2013

Saat Allah menciptakan Luna

T: Bunda, waktu adek Luna dibikin di perut, Bunda berasa nggak?

B: Waktu dibikinnya atau waktu adek sudah ada di perut?

T: Enggak, waktu dibikinnya sama Tuhan. Pertama-tamanya. Berasa nggak?

B: Hmmm (takut salah jawab) ... Oh, waktu dibuatnya sama Allah sih enggak berasa. Makanya bunda nggak tahu awalnya kalau bunda hamil.

T: Oh gitu ya. Tau-tau adek Lunanya udah jadi trus gerak-gerak kaya waktu itu Titan bisa pegang ya?

B: Iya, awal-awalnya sih nggak berasa. Makanya kalau ke dokter Ahmad kan Bunda di USG

T: USG tuh apa?

B: Itu, alat yang suka Titan lihat di layar komputer sama dokter. Titan kan suka tanya-tanya, ini bagian apanya. Itu apanya. Nah, kalau di USG baru kelihatan. Sebelum besar, biasanya belum terasa.

T: Oh gitu ya. Kirain ada rasanya pas dibuat di dalam.

Thank You

Dear Malicca,

Not so long ago, you bought Lego with your own lebaran angpaw. Well, not really your money. In the end I decided to use mine and have your angpaw saved in your Ghibli fund. Unlike other days, I let you buy expensive toy this time. And this is the first time I let you do shopping with your angpaw. Just because this is lebaran and I want you to have something to look forward. Like Christmas.

Then you bought Lego. Since you were crazy about Titanic, you bought the boat series. A fire fighter boat and a coast guard boat. You took them to bath everyday. Until today I found them had fallen apart, disorganised in the storage room. Only in a few days.

Then I called you in. I pointed out the lego under the racks.

"Bunda sedih, deh." I said.

Then you picked them up with your teary eyes. Mine were too. Honey, if only you knew how much I wanted to have Lego when I was a kid; but I couldn't because they were too expensive.

"Sorry, Bunda." You said.

Then you assembled the Lego back.

"Why did you do this? Why didnt' you take care of your belongings? Didn't you realise you got the Lego with your own effort by fasting during Ramadhan? Do you forget how thirsty and hungry you were?"

Malicca, 
Do you know why I cried? I cried because I was so sad. At that point of time when I was asking you, I also asked myself what I have not taught you to become a grateful person and take care of the things we have. I cried because I was worried, I was afraid if you grow becoming an ungrateful and 'take-things-for-granted' person. The kind of person I hate. 

No, don't be. 

And I did not angry that afternoon. 
Instead, I thank you for reminding me to be always a better person I am.
To show you more of how to be a grateful person.





Tentang kamu di suatu pagi

Saat itu. Aku, aki dan dirimu; La Luna.  Naik motor di pagi hari, mengantarmu bersekolah untuk belajar dan berlari-lari.  Kamu di paling ...