Skip to main content

One of those days

Hari Minggu kemarin: one of the happiest days in my life.
Seringkali, di kepala ini ada banyak banget rencana. Tapi entah kenapa suka tetiba gagal atau belum juga terwujud nyata cuma karena 'belum kepengen' ngerjain.
Timing emang beda sama momentum. Dan ternyata emang momentum itu nggak bisa ditebak kapan datengnya.

Seperti hari ini.

Udah lama banget aku dan suami 'ngerasani' rumput-rumput liar di halaman depan (yang udah mulai nular ke belakang). Apalagi, sejak si bocah nemu pohon cabe-cabean, makin pasrahlah kita. Tau nggak pohon cabe-cabean? Ituuu yang buahnya panjang-panjang kira-kira 2 sentimeter, kalo udah mengering dan warnanya coklat bisa direndem di air dan dia akan meledak. Naaaaaah! Exactly! Bijinya itu jadi nyebar kemana-mana termasuk ke habitat halaman belakang yang memang udah setengah dipasrahin karena ada dua penghuni cantik lucu berbulu tapi nakalnya minta ampun! Alias, ... dua ekor kelinci. Pohon liar cabe-cabean itu jadi tumbuh dimana-mana. Skala pertumbuhannya jauuuuuuh lebih cepat daripada pohon pandan bali di pojokan -__-

Di hari minggu pagi yang indah ini, si bumil ini tetiba terbangun. Dengan agak ragu dia bangunin tuh suaminya yang lagi bobok enak-enak.

"Bubu, beli rumput yuk!"

Tanpa disangka-sangka, si Bubu menjawab "Hayuk!"

Wah, si bumil takut dirinya berubah pikiran. Secepat kilat dia ganti baju, sarapan dan masuk mobil. Si bocah bahkan ditinggalin di kamar. Well, karena dia masih tidur juga sih dan sabtu kemarin seharian kecapean muter-muter mulai dari pameran flona di lapangan banteng, ke planetarium trus ke museum joeang '45 HANYA untuk ngeliat mobil dinas pak karno @__@

Beberapa hari sebelumnya saya emang bertanya-tanya sama temen kantor saya, Ajat, yang ternyata tau dimana tempat beli rumput. Letaknya ternyata sangat dekat dari rumah. Emang dasar nggak pernah menjelajah daerah sekitar ya... setelah celingak-celinguk akhirnya ketemu juga sama penjual rumput.

Ho ho ho, inilah namanya hidayah. Niat tanya-tanya, ternyata abangnya nantangin untuk pasang pagi itu juga. Oh, senang sekali bisa instan seperti ini. Setelah tawar-menawar, akhirnya kita deal. Pasang 25 meter persegi rumput gajah mini plus nambah tanah.

Sambil nunggu mobil pick up ngangkut rumput dan tanah, kita jalan-jalan ke samping. Eh nemu tukang batu alam. Pembukaannya aku cuma bilang gini "Bang, mana batu yang paling murah?" Dan ternyata bener, batu koral adalah batu hias yang paling murah dibanding yang lain. Harganya lima belas ribu per karung sementara batu yang lain bisa empat puluh ribuan. Ah, kapok deh pakai batu hias. Kalau nggak warnanya luntur, dia yang nyerap kotoran. Ujung-ujungnya jadi berubah warna. Kalau batu koral udah ketebak, kalau nggak jadi hitam kalau kena air atau paling juga berlumut. Okelah, angkut deh tuh batu!
Abis itu kita mampir sebentar ke toko pot untuk beli beberapa pot gantung dan pot untuk mecahin pohon-pohon yang udah bergumul di pot yang udah terlalu kecil buat mereka.

Sampe rumah, si jagoan kecil baru aja bangun. Alhamdulillah .... ngambeknya nggak kelamaan karena aku langsung nawarin project kegiatan hari minggu: berkebun!
Sengaja tadi di toko pot beli beberapa pot untuk menyemai dan pupuk kompos.
Dasar anaknya mauan dan emang seneng melakukan apa aja, mulai deh dia seru bertanam.

Nggak lama kemudian mobil rumput pun datang dan si abang segera cangkul-cangkul rumput liar.
DIE YOU DIE, WEEDS!!!!!

Sekarang, halaman depan sudah rapi. Buah sawo yang lagi rajin berbuah pun udah aku plastik-plastikin supaya nggak dimakan codot. Bubu and Malicca looked happy too! Walaupun kita bertiga sempet tepar dan teramaze-amaze sama si bapak yang nggak hentinya tekun nyangkulin tanah dan nanemin rumput.

Sorenya, saat aku lagi bikin minuman dingin, tiba-tiba si jagoan kecil masuk dan menghampiri.
"Bunda seneng nggak Titan bantu-bantu hari ini?"

Aku cuma senyum, berlutut mensejajarkan mata dengannya.
"I am sooo very happy! Terima kasih yah, rumahnya sudah cantik sekarang."

Dia cuma mencibir malu. Tapi akhirnya jawab juga sih ....
"Titan juga seneng. Apalagi punya project holiday nanem-nanem di pot yang tadi bunda beliin"

Oh ... yes, this is definitely one of the bestttttttest day in my life.
Thank you, Bubu!
Thank you, Titan!





Comments

Popular posts from this blog

love is love. marriage is another thing.

of all the things I ever wondered, ... I think I never wonder whom my kids will be married to. or to picture myself holding grand babies. not just a not yet, I think it is simply too hard to bear and too absurd to think of. but then I promise myself. I promise I will not ever push titan and luna to get married or even if they are married; I will not ask them when to have kids.

many times I wondered that marriage is overrated. and the only reason to get married is not love, but to realise life is too hard to bear when you are all alone. because, however, marriage is a conditional love. hubby once said, marriage is not all fancy and glitter. the lowest it can get is, to keep functioning and it will survive. how both parties can be functional one to another, is another story.

to ariawan, a guy of mine,
the one who always wake me up from my princessy dreams. love you.



Three hours late.

2 AM and I stepped in to the house. Hubby was waiting for me. This was not the first time, and not the latest hour I had ever experienced with over time.

"See you soon Bunda. Or at 8, or at 9, or at 10, or at 11 like you said you would be late." Said my son.

I smiled as I entered the house. I smelled home. I saw my beautiful mess. As I picked up some toys on the floor, I imagined what games the kids had played today. There was a drawing, mini ceramics pots, not too chaotic for kids who were left with nini and aki without nannies.

I also saw their time tables, with some check marks on the list. Those that they weren't checked was the responsibility to wash their own dishes. I saw some dirty cups piling up. I saw the microwave's door left half-opened, a baking sheet and a knife. I wonder what they have cooked.
I also saw minecraft was in active window and some search on youtube and google.

Getting home in this hour and not seeing their faces but seeing all the mess the…

Life. Just like what I wanted.

Tiga belas bulan yang lalu, saya memutuskan untuk kembali bekerja setelah 2,5 tahun jadi freelance (tapi lebih banyak free-nya sih hahaha). Satu-satunya yang bikin saya merasa harus bekerja ya cuma Apple. Sisanya, banyak project yang saya tolak-tolakin karena males aja sih intinya. Belaguk bangetlah pokoknya.

Setelah merasa udah nggak produktif lagi di rumah, otak berasa tumpul dan rasa percaya diri udah nyungsep, saat itulah saya terima tawaran untuk kembali ke advertising. Banyak yang nyinyir sih, menganggap industri itu gelap banget dan ngapain udah enak-enak di rumah kok ya balik ngantor. Alasannya cuma satu: bosen di rumah.

Enggak tahu hal baik apa yang telah saya lakukan dalam hidup, ternyata saya dianugerahi tim yang baiiiiik banget. Anaknya manis-manis, good attitude dan yang paling penting; penuh tanggung jawab. Saya ngerasa banyak belajar dari mereka. Mulai hal baru di luaran sana sampai cara pakai krim mata. Enggak sedikit juga kesedihan yang kita tanggung bareng-bareng, da…