Sunday, June 30, 2013

One of those days

Hari Minggu kemarin: one of the happiest days in my life.
Seringkali, di kepala ini ada banyak banget rencana. Tapi entah kenapa suka tetiba gagal atau belum juga terwujud nyata cuma karena 'belum kepengen' ngerjain.
Timing emang beda sama momentum. Dan ternyata emang momentum itu nggak bisa ditebak kapan datengnya.

Seperti hari ini.

Udah lama banget aku dan suami 'ngerasani' rumput-rumput liar di halaman depan (yang udah mulai nular ke belakang). Apalagi, sejak si bocah nemu pohon cabe-cabean, makin pasrahlah kita. Tau nggak pohon cabe-cabean? Ituuu yang buahnya panjang-panjang kira-kira 2 sentimeter, kalo udah mengering dan warnanya coklat bisa direndem di air dan dia akan meledak. Naaaaaah! Exactly! Bijinya itu jadi nyebar kemana-mana termasuk ke habitat halaman belakang yang memang udah setengah dipasrahin karena ada dua penghuni cantik lucu berbulu tapi nakalnya minta ampun! Alias, ... dua ekor kelinci. Pohon liar cabe-cabean itu jadi tumbuh dimana-mana. Skala pertumbuhannya jauuuuuuh lebih cepat daripada pohon pandan bali di pojokan -__-

Di hari minggu pagi yang indah ini, si bumil ini tetiba terbangun. Dengan agak ragu dia bangunin tuh suaminya yang lagi bobok enak-enak.

"Bubu, beli rumput yuk!"

Tanpa disangka-sangka, si Bubu menjawab "Hayuk!"

Wah, si bumil takut dirinya berubah pikiran. Secepat kilat dia ganti baju, sarapan dan masuk mobil. Si bocah bahkan ditinggalin di kamar. Well, karena dia masih tidur juga sih dan sabtu kemarin seharian kecapean muter-muter mulai dari pameran flona di lapangan banteng, ke planetarium trus ke museum joeang '45 HANYA untuk ngeliat mobil dinas pak karno @__@

Beberapa hari sebelumnya saya emang bertanya-tanya sama temen kantor saya, Ajat, yang ternyata tau dimana tempat beli rumput. Letaknya ternyata sangat dekat dari rumah. Emang dasar nggak pernah menjelajah daerah sekitar ya... setelah celingak-celinguk akhirnya ketemu juga sama penjual rumput.

Ho ho ho, inilah namanya hidayah. Niat tanya-tanya, ternyata abangnya nantangin untuk pasang pagi itu juga. Oh, senang sekali bisa instan seperti ini. Setelah tawar-menawar, akhirnya kita deal. Pasang 25 meter persegi rumput gajah mini plus nambah tanah.

Sambil nunggu mobil pick up ngangkut rumput dan tanah, kita jalan-jalan ke samping. Eh nemu tukang batu alam. Pembukaannya aku cuma bilang gini "Bang, mana batu yang paling murah?" Dan ternyata bener, batu koral adalah batu hias yang paling murah dibanding yang lain. Harganya lima belas ribu per karung sementara batu yang lain bisa empat puluh ribuan. Ah, kapok deh pakai batu hias. Kalau nggak warnanya luntur, dia yang nyerap kotoran. Ujung-ujungnya jadi berubah warna. Kalau batu koral udah ketebak, kalau nggak jadi hitam kalau kena air atau paling juga berlumut. Okelah, angkut deh tuh batu!
Abis itu kita mampir sebentar ke toko pot untuk beli beberapa pot gantung dan pot untuk mecahin pohon-pohon yang udah bergumul di pot yang udah terlalu kecil buat mereka.

Sampe rumah, si jagoan kecil baru aja bangun. Alhamdulillah .... ngambeknya nggak kelamaan karena aku langsung nawarin project kegiatan hari minggu: berkebun!
Sengaja tadi di toko pot beli beberapa pot untuk menyemai dan pupuk kompos.
Dasar anaknya mauan dan emang seneng melakukan apa aja, mulai deh dia seru bertanam.

Nggak lama kemudian mobil rumput pun datang dan si abang segera cangkul-cangkul rumput liar.
DIE YOU DIE, WEEDS!!!!!

Sekarang, halaman depan sudah rapi. Buah sawo yang lagi rajin berbuah pun udah aku plastik-plastikin supaya nggak dimakan codot. Bubu and Malicca looked happy too! Walaupun kita bertiga sempet tepar dan teramaze-amaze sama si bapak yang nggak hentinya tekun nyangkulin tanah dan nanemin rumput.

Sorenya, saat aku lagi bikin minuman dingin, tiba-tiba si jagoan kecil masuk dan menghampiri.
"Bunda seneng nggak Titan bantu-bantu hari ini?"

Aku cuma senyum, berlutut mensejajarkan mata dengannya.
"I am sooo very happy! Terima kasih yah, rumahnya sudah cantik sekarang."

Dia cuma mencibir malu. Tapi akhirnya jawab juga sih ....
"Titan juga seneng. Apalagi punya project holiday nanem-nanem di pot yang tadi bunda beliin"

Oh ... yes, this is definitely one of the bestttttttest day in my life.
Thank you, Bubu!
Thank you, Titan!





Tuesday, June 25, 2013

Are we worth the way we live?

Someone introduced me the question long ago, in order to shock me to start my financial plan. I think she did hit me on my face. She looked at my wish list(s) and sighed.

Are you worth these luxuries?
You can have everything, but not now. 
Instead, you could rethink of it, you could sleep on it, or you could just made it.

Then I shared the question to a friend of mine when he was about to buy an iPhone.
He waited months for his bonus compliment.
He sold his Sony Playstation.
He waited another months to save and shrimp for the iPhone.
He joined the long queue for the iPhone launch held by a provider, and back home for nothing; for he did not have any credit cards.
He finally bought the iPhone a few months later.
But then sold it anyway for emergency, and brought another one. The S series. 

"Are you worth the iPhone? Are you worth the life you live in?" I asked him when I knew how mad he had gone upside-down because of the quarter-bitten apple.

"Of course! I have worked hard after all this time!" He said (and sounded upset to me), then I got silent.

Do I really need that pricey present for myself too? After all I did? For the hard working, for all disappointments, for all those waits and winnings?
Am I worth a fluffy comforter, breakfast in bed and the warm bubble bath in luxurious hotel?
Am I worth days of me time enjoying a beach holiday?
Am I worth a shoe, limited edition bags and other pricey things?

I might be am.
Or, might be not.

Now it has been years. I do not know how my friend runs his life now, but the question still lives in me.



Sunday, June 16, 2013

Lemon

I am sure you have gone a situation when your physical was in an automatic mode doing something; your mind was weaving beautiful words translating what your brain was thinking.

Exactly what I am doing at the moment.

I am making a steam Dory. My hands are in their automatic mode chopping the garlic, onion, spread them together with the salt and coriander to its body.

So this is my life now, I said. What would be next? Then something stops me and replies me in polite. She tells me to do what life is offering me. Just do. 

I lay the dory in a layer of aluminum foil then put some lemon on top of it. I fold exactly like my husband taught me and so the aluminum will not leak and let the water soak the fish while it is baked. 

Then I really stop thinking about what would happen next.

Period. Is it what my life now? Really? I did not even trust my self I have become numb. What? Numb? It is the only word I never wanted to be. But looking at me now, I probably am. Without me realizing it, I might have reached that point of loosing my sense. I don’t care much more about people and what happens around the globe. Because even I do something about it, sometimes things just do not change, and I got tired of trying.

Yeah, tired. Bad things could happen when we feel tired. We become more sensitive and hard to understand others yet we tend to demand people to understand us. Tiredness impairs judgments most of the times. You got tired of hoping to others and you can only trust yourself. But sometimes you got tired of pushing yourself more and you got the maximum tiredness. There. Maybe there where the numb came from.

If it happens, make sure you got a hook to hang on. To me, it is my children. My dreams might have died long ago, but not theirs.

I put the dory in the oven for 20 minutes. It looks good, but tastes a bit sour this time. Too much lemon. Just like what life give us sometimes? 




Saturday, June 15, 2013

:)


One of the things that make me a happiest mom, is your drawing.
Really!
- Though today is not my birthday -





Friday, June 14, 2013

Today.

Hari ini, Malicca graduation.
Pakai toga, nyanyi Gaudeamus Igitur.

Beberapa hari sebelumnya, lagu itu sudah mengudara di rumah.
Bukan hanya itu, juga lagu mandarin, Que sera - sera dan I have a dream.
Bukan cuma Malicca, tapi ibunya ini juga harus menyiapkan kostum performancenya yang menggambarkan cita-citanya kelak: jadi koki.

Awalnya sih pengennya sewa aja.
Tapi tiba-tiba si anak berceloteh "Kenapa nggak bikin? Bunda kan bisa jahit. Tuh, baju yang ada bunganya bunda jahit, kan?"

Setelah browsing-browsing Pinterest, akhirnya dapat juga model baju koki yang 'sreg'.
Besoknya, aku titip nini yang selalu pergi ke pasar: baju koko putih dan dua meter kain kotak-kotak warna biru. Siangnya, aku menyempatkan diri untuk menelfon toko bahan kue langgananku untuk mencari tahu apakah mereka jual topi koki atau nggak. Alhamdulillah, semuanya dimudahkan.

Malicca terkaget-kaget saat melihat topi kokinya aku vermak.
"Ya ampun, ini Bunda jahit sendiri? Tangannya nggak papa? Nggak ketusuk?"

Ah ... aku cinta anakku. Begitu perhatiannya dia sama bundanya ini. 

Besoknya, aku mulai membuat pola apron dan minta bantuan Bubu untuk menjahit. Hehehe, ... semata-mata karena dia pasti lebih rapi sih. Mata silinderku ini agak siwer kalau harus menjahit kain kotak-kotak. Alhamdulillah, semuanya sudah siap di hari Rabu.

Saat hari itu tiba, aku berjanji aku tidak akan menangis.
Tapi sayang, aku melanggar janjiku sendiri.
Melihat anak-anak itu bertoga, tidak tahu apa arti dari kelulusan, mereka mulai bernyanyi.
Mulai dari Que Sera - Sera, air mataku sudah meleleh tanpa henti. Simply karena lagu itu begitu dalam, dan begitu luas masa depan mereka nanti. Dilanjutkan dengan I have a dream, dan akhirnya Gaudeamus Igitur. Lalu mereka tiba-tiba mengeluarkan bunga dari bawah tempat duduk mereka dan memberikan bunga itu kepada ibu masing-masing.

Aku masih ingat 14 tahun lalu, saat aku lulus sidang dan langsung menelfon ibuku untuk memberi tahu. Beliau terbata-bata di telfon memberi selamat. Dan saat aku pulang, begitu erat ia memelukku.

Yap, sekarang aku tahu bagaimana rasanya. 


Someday


8 months preggy and attending a graduation.
I feel overwhelmed!

Thursday, June 13, 2013

Malicca's bussiness day


Jadi, final project di term 4 ini adalah integrated subject yang semuanya berujung pada Bussiness Day project. Dengerin ceritanya dari hari ke hari, terus terang saya iri sekali. Seandainya waktu saya sekolah ada proyek macam begini. 

Jadi, di Bussiness Day ini, secara berkelompok setiap kelas mendirikan sebuah perusahaan. Dibantu gurunya, mereka bener-bener mendirikan perusahaan mulai dari nol. Mulai dari mencari pemegang saham (which happens to be their teacher), nama perusahaan, bidang industri, marketing dan promotion sampai benar-benar turun jadi penjual dan kasir. 

Untuk mata pelajaran bahasa inggris, Titan harus menginterview orang tua apa kira-kira donasi yang bisa diberikan dalam rangka bussiness day nanti.


Kemudian, ada juga surat permohonan bantuan usaha untuk subjek Bahasa Indonesia. 


Karena nama perusahaannya adalah Summer Fun, akhirnya aku memutuskan untuk bikin cocktail pudding aja. And what would help sell much? of course, ... cute packaging! 
Dibantu sama Lita, Selvy dan Yana teman-teman saya di kantor, akhirnya jadilah 25 cup kemasan pudding.



Malamnya, saya tinggal bikin almond pudding trus dikasih cocktail Del Monte di atasnya.
Voila! Jadi juga semua dalam waktu enggak lebih dari satu setengah jam :)

 

Besoknya, setelah acara opening dan yell-yell promosi dari semua kelas, Bussiness Day pun resmi dibuka. Titan jadi penjaga stand yang bertugas untuk jualan pudding, ice lemon tea dan pancake durian. Kata Willy, temenku yang sempet mampir ke sana dan ngeliat Titan jualan, ... katanya sih jualannya OK banget hahahaha! Untung dia nggak kedapetan jadi kasir hahaha, ... bisa rugi bandar perusahaannya :)



Aku menyempatkan diri untuk mampir juga ke Bussiness Day. Enggak lama, dan terakhir kali aku melihat gerainya Titan, pudding jualanannya tinggal sisa 3 (Tapi kok dijualnya cuma dua ribu rupiah ya?  Ini mah kejual semua juga nggak akan balik modal hahahaha...)

Yang menarik dari Bussiness Day ini, selain konsepnya ya, ... aku juga amazed dengan sistem yang dibuat oleh sekolah. Jadi, setiap anak dari playgroup sampai kelas 6, semuanya pakai seragam yang dibuat jadi beberapa kategori warna. Ada group hitam, merah, hijau, biru dan putih. Lalu ada guru piket yang bertugas untuk keliling sambil memberi tanda kapan masing-masing group bisa bebas tugas lalu keliling-keliling dan jajan ke kelas lain. Jadi bisa ketauan tuh siapa yang nggak mau tugas jaga stand trus kerjanya muter-muter buat jajan doang hahahahaha ....

Seru ya ... dan ini foto waktu Titan lagi bingung beli Aqua. Harganya dua ribu, dan dia bingung berapa kembaliannya saat dia membayar dua puluh ribu rupiah.


Beberapa hari setelah Bussiness Day selesai, aku pun menerima surat edaran terima kasih dari guru-guru di kelasnya sekaligus laporan keuntungan. Waaaah banyak juga ternyata untungnya. Mereka sekelas bisa pergi ke Lollypop, pesan delivery pizza, ... dan masih ada lagi sejumlah tunai yang akan dibagikan saat bagi raport beberapa hari lagi.

Wow! Way to go, kiddos! 





Wednesday, June 05, 2013

sang penghujung

sudah beberapa hari ini aku selalu terbangun di penghujung malam
di batas hembus terdingin dan diantaranya
salahkan pada perubahan hormonal trimester ketiga
salahkan pada mimpi-mimpi yang kerap berujung nyata
salahkan pada kantung seni yang semakin terhimpit, kemudian menyungai
mengalir sepanjang malam
salahkan pada mereka-mereka yang suka mampir memberi pengingat

kalau sudah begini, aku hanya berserah diri
apa gunanya kantuk jika mata tak kunjung ingin menutup

biasanya aku keluar mencari hangat
si kecil di dalam perut pun biasanya ikut menggeliat
ke kiri, ke kanan, berkecipak bahagia melihat susu coklat hangat

tidak banyak yang kulihat, ... dan aku memang tidak berharap melihat sesuatu yang lain dari biasanya
mata bisa diatur, tapi telinga bersikeras untuk meliar
kudengar dengkur tidur kedua lelakiku, halus dan berirama
lalu dengung dispenser, kelotek musang di loteng, beberapa suara mendebam yang tak kutahu darimana asalnya

malam tiba-tiba menjadi ramai dengan perhelatan suara
dan tiba-tiba, aku jadi mendengar semuanya

aku memutuskan untuk kembali ke kamar
cukup celotek keyboard komputer yang menemaniku malam ini

sudah lama rasanya tidak menulis
merindu dengan rima, bermesra dengan alur pikir maju-mundur, melukis dan merangkai kata-kata, atau sekedar menjatuhkan pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab
mungkin benar kata orang, seringkali seni harus lahir dari rasa sakit
kemana rasa sakit itu?
atau karena aku telah hidup berbahagia dibanding tahun-tahun gelapku sebelumnya?

mungkin

atau mungkin terlalu banyak drama tidak penting yang menyempal mulut dan pikiranku setiap harinya
drama media sosial
drama penduduk negara ketiga
drama konflik selebriti dan politik yang sama sekali tidak pernah menarik

aku muak

semuak hari ini aku melihat puncak keapatisan seorang teman, seorang warga, seorang laki-laki dan entah apa lagi namanya:

dua orang abege mengendarai sepeda motor. tanpa helm. motor mogok di tikungan jalan kecil dan mobil pun tidak dapat menyalip. abege 1 sebagai supir tidak tahu apa yang harus dilakukan. ia menggebrak-gebrak soket spedometer berharap mesin kembali menyala. abege ke-2? asyik duduk di belakang dengan mata tak lepas dari gadgetnya. cuek, bahkan kaki asyik menangkring pada pedal dan membiarkan si teman menumpu beban motor dan beban dirinya yang tidak kecil.

menyedihkan. ada apa dengan kita?


Tentang kamu di suatu pagi

Saat itu. Aku, aki dan dirimu; La Luna.  Naik motor di pagi hari, mengantarmu bersekolah untuk belajar dan berlari-lari.  Kamu di paling ...