Monday, March 18, 2013

A day in a copywriter's life


Dari atas sini, terlihat seorang istri yang sedang memasak tumis dengan penuh antusias. Minyak yang menggolak panas siap menggoseng irisan bawang merah dan bawang putih. Lalu dimasukkannya irisan terasi dan potongan sayur yang sudah dicuci bersih.

“Cih, ... tumis kangkung?!!! Dulu juga aku masak itu.” 

Tiba-tiba terdengar suara wanita lain yang membathin.

“Semua sudah kulakukan untuk masak yang terbaik bagi keluarga. Tapi apa hasilnya?” 

Lanjut wanita itu lagi.

Tiba-tiba wanita yang sedang sibuk memasak itu mengeluarkan satu bungkus bumbu masak ke dalam wajan.

“Apa itu? Bumbu masak Surius? ah... kenapa aku tidak pernah tahu rahasia itu! Ah, seandainya saja aku pakai, mungkin lain lagi ceritanya. aku pasti bisa menjadi istri yang lebih baik. Ibu yang lebih dicintai anak-anak.” 

Kata suara hati itu kembali bergumam.

Camera berputar arah, ternyata yang berbicara adalah seekor cicak yang sedang mengamati seorang Ibu yang sedang memasak di dapur.

Ibu Cicak itu pun kemudian menatap dengan nanar. Tak terasa air mata jatuh di pelupuk matanya.

Tiba-tiba, di dinding terlihat satu ekor cicak lain yang merayap menghampiri cicak pertama

“Istriku!” 

Kata cicak ke dua.

Serta merta cicak pertama terkaget-kaget melihat cicak ke dua. Tak ayal lagi, cicak ke dua segera menghampiri cicak pertama dan memeluknya.

“Suamiku! Demi apa, kita bertemu kembali? Maafkan aku, suamiku. Seharusnya aku bisa memasak lebih enak untukmu dan anak-anak di kehidupanku yang lalu."

Kata Ibu Cicak.

“Maafkan aku juga yang selalu mencela masakanmu.”

Kata Bapak Cicak.

Dan kedua cicak itu pun menangis terharu sambil berpelukan, menyaksikan kebahagiaan keluarga di bawah yang bersuka-cita dengan tumis kangkung mereka. 


Muncullah packshot. Lalu slogan. Tipikal. 

No comments:

Post a Comment

Tentang kamu di suatu pagi

Saat itu. Aku, aki dan dirimu; La Luna.  Naik motor di pagi hari, mengantarmu bersekolah untuk belajar dan berlari-lari.  Kamu di paling ...