Skip to main content

A day in a copywriter's life


Dari atas sini, terlihat seorang istri yang sedang memasak tumis dengan penuh antusias. Minyak yang menggolak panas siap menggoseng irisan bawang merah dan bawang putih. Lalu dimasukkannya irisan terasi dan potongan sayur yang sudah dicuci bersih.

“Cih, ... tumis kangkung?!!! Dulu juga aku masak itu.” 

Tiba-tiba terdengar suara wanita lain yang membathin.

“Semua sudah kulakukan untuk masak yang terbaik bagi keluarga. Tapi apa hasilnya?” 

Lanjut wanita itu lagi.

Tiba-tiba wanita yang sedang sibuk memasak itu mengeluarkan satu bungkus bumbu masak ke dalam wajan.

“Apa itu? Bumbu masak Surius? ah... kenapa aku tidak pernah tahu rahasia itu! Ah, seandainya saja aku pakai, mungkin lain lagi ceritanya. aku pasti bisa menjadi istri yang lebih baik. Ibu yang lebih dicintai anak-anak.” 

Kata suara hati itu kembali bergumam.

Camera berputar arah, ternyata yang berbicara adalah seekor cicak yang sedang mengamati seorang Ibu yang sedang memasak di dapur.

Ibu Cicak itu pun kemudian menatap dengan nanar. Tak terasa air mata jatuh di pelupuk matanya.

Tiba-tiba, di dinding terlihat satu ekor cicak lain yang merayap menghampiri cicak pertama

“Istriku!” 

Kata cicak ke dua.

Serta merta cicak pertama terkaget-kaget melihat cicak ke dua. Tak ayal lagi, cicak ke dua segera menghampiri cicak pertama dan memeluknya.

“Suamiku! Demi apa, kita bertemu kembali? Maafkan aku, suamiku. Seharusnya aku bisa memasak lebih enak untukmu dan anak-anak di kehidupanku yang lalu."

Kata Ibu Cicak.

“Maafkan aku juga yang selalu mencela masakanmu.”

Kata Bapak Cicak.

Dan kedua cicak itu pun menangis terharu sambil berpelukan, menyaksikan kebahagiaan keluarga di bawah yang bersuka-cita dengan tumis kangkung mereka. 


Muncullah packshot. Lalu slogan. Tipikal. 

Comments

Popular posts from this blog

love is love. marriage is another thing.

of all the things I ever wondered, ... I think I never wonder whom my kids will be married to. or to picture myself holding grand babies. not just a not yet, I think it is simply too hard to bear and too absurd to think of. but then I promise myself. I promise I will not ever push titan and luna to get married or even if they are married; I will not ask them when to have kids.

many times I wondered that marriage is overrated. and the only reason to get married is not love, but to realise life is too hard to bear when you are all alone. because, however, marriage is a conditional love. hubby once said, marriage is not all fancy and glitter. the lowest it can get is, to keep functioning and it will survive. how both parties can be functional one to another, is another story.

to ariawan, a guy of mine,
the one who always wake me up from my princessy dreams. love you.



Three hours late.

2 AM and I stepped in to the house. Hubby was waiting for me. This was not the first time, and not the latest hour I had ever experienced with over time.

"See you soon Bunda. Or at 8, or at 9, or at 10, or at 11 like you said you would be late." Said my son.

I smiled as I entered the house. I smelled home. I saw my beautiful mess. As I picked up some toys on the floor, I imagined what games the kids had played today. There was a drawing, mini ceramics pots, not too chaotic for kids who were left with nini and aki without nannies.

I also saw their time tables, with some check marks on the list. Those that they weren't checked was the responsibility to wash their own dishes. I saw some dirty cups piling up. I saw the microwave's door left half-opened, a baking sheet and a knife. I wonder what they have cooked.
I also saw minecraft was in active window and some search on youtube and google.

Getting home in this hour and not seeing their faces but seeing all the mess the…

Life. Just like what I wanted.

Tiga belas bulan yang lalu, saya memutuskan untuk kembali bekerja setelah 2,5 tahun jadi freelance (tapi lebih banyak free-nya sih hahaha). Satu-satunya yang bikin saya merasa harus bekerja ya cuma Apple. Sisanya, banyak project yang saya tolak-tolakin karena males aja sih intinya. Belaguk bangetlah pokoknya.

Setelah merasa udah nggak produktif lagi di rumah, otak berasa tumpul dan rasa percaya diri udah nyungsep, saat itulah saya terima tawaran untuk kembali ke advertising. Banyak yang nyinyir sih, menganggap industri itu gelap banget dan ngapain udah enak-enak di rumah kok ya balik ngantor. Alasannya cuma satu: bosen di rumah.

Enggak tahu hal baik apa yang telah saya lakukan dalam hidup, ternyata saya dianugerahi tim yang baiiiiik banget. Anaknya manis-manis, good attitude dan yang paling penting; penuh tanggung jawab. Saya ngerasa banyak belajar dari mereka. Mulai hal baru di luaran sana sampai cara pakai krim mata. Enggak sedikit juga kesedihan yang kita tanggung bareng-bareng, da…