Monday, November 19, 2012

Hujan malam ini


Rintik yang meniti detik
Titik-titik yang menggenjot tirai malam,
Menyelimuti dunia dengan dinginnya
Dan menggelitik dengan embunnya, titik demi titik

Apa yang paling menyenangkan dari hujan? Untukku, saat bulirnya pertama kali menapak tanah lalu menyerap dan menguap membawa serta bau tanah dan rerumputan. Ingin rasanya mengumpul harumnya dalam botol, menutup lalu mendistilasinya. Akan kuhirup baunya, di suatu saat dimana aku rindu.

Waktu kecil, aku senang bermandi hujan. Berlari dan menari di tengahnya dan menengadah sambil memejam. Terasa bulir-bulir menjatuhi muka lalu perlahan menggelosor ke sela kaos dan celana dalam. Dingin. Satu-satunya cara untuk tetap hangat adalah dengan terus bergerak. Tertawa. Berbecek-becek menyiprat-cipratkan lumpur ke sekeliling. Hingga akhirnya mama memanggil dan menyuruhku mandi. Oh, tidak perlu air panas. Satu lagi yang menjadi kesukaanku. Setelah berhujan-hujan, air bak mandi pasti terasa hangat. Lalu kuguyur tubuh kecilku banyak-banyak.

Kebiasaanku menyambut hujan berubah saat remaja. Kini aku lebih suka menunggunya di teras rumah. Menunggu hujan angin yang kemudian menyapukan butir-butir air lembut ke wajahku. Lalu aku akan memejam, merasakan bajuku yang mulai lembab. Kemudian kuyup. Lalu kembali aku mandi dan menggelung di dalam selimut.

Satu dekade kemudian, aku lebih suka menyambut hujan dengan seseorang. Berdansa di tengahnya sambil mendengarkan musik kecil dari benang-benang putih yang merasuki telinga. Lalu aku akan mengalungkan tanganku ke lehernya dan menunggunya menciumku. Atau, aku menciumnya. Tak masalah.

Stop. Tidak pernah kejadian.

Pertama, karena tidak ada yang rela iPodnya kehujanan.
Ke dua, karena malu dilihat orang.
Ke tiga, takut ketagihan.

Heran betapa cepat aku menua. Karena kali ini, di usia ini, di malam ini, di detik ini, yang aku inginkan di saat hujan malam ini adalah bercerita. Kepada mereka, mahluk-mahluk kecil yang tak berdosa. Yang akan bergelung, berpasang-pasang kaki saling menumpang dan menindih dalam satu selimut besar bermotif kotak-kotak dan terbuat dari kain flannel. Lalu aku bercerita, tentang aku, tentang kakek nenek mereka, tentang kamu, tentang mereka, tentang mengapa kita semua di sini. Tentang apa saja.

Itu yang kuinginkan untuk hujan malam ini.

No comments:

Post a Comment

Tentang kamu di suatu pagi

Saat itu. Aku, aki dan dirimu; La Luna.  Naik motor di pagi hari, mengantarmu bersekolah untuk belajar dan berlari-lari.  Kamu di paling ...