Skip to main content

One of those days

Carpe diem, seize the day, atau meraih sukses hari ini dalam bahasa ibu. Yes, this is one of that day. Bukan karena sukses meraih bisnis baru di kantor, bukan karena dapat rejeki nomplok plok plok, bukan karena berhasil melakukan penemuan baru yang breakthrough - amin sih kalau iya - buat aku sukses memetik hari adalah saat semua urusan hari ini lancar. Tepat waktu, jadi bisa berbagi diri dan waktu untuk mereka yang terkasih dan juga sempat untuk memiliki waktu untuk diri sendiri.

Pencapaian yang simpel? Well, ... kalau ukuran simpelnya segampang omong kosong sih ya enggak ya.

Kuncinya ternyata ada di bangun pagi dan tahu kapan untuk ngikutin apa kata hati dan kapan untuk tahu diri. Kita bahas satu-satu ya.

Weekend kemarin sebenernya adalah weekend yang penuh pikiran karena punya PR bikin 3 deck presentasi yang semuanya buat hari Senin sore. Tapi entah kenapa - Ih bohong, gue tau banget kenapa - rasanya malas banget untuk mulai ngerjain. Tiap kali buka komputer, malah ngerjain yang lain. Download lagu lah, FB-an lah, yang gitu-gitulah. Kepikiran sih kepikiran, tapi rasa malas lebih mengalahkan segalanya. Gue yakin, seandainya aja gue jadi Soekarno dan harus kembali ke masa lalu untuk mengulang kisah kemerdekaan, di tangan gue; kemerdekaan enggak akan kejadian di tanggal 17 Agustus. Terus kapan, dong? Ya mana gue tau. Entar aja liat moodnya.

Daaaaaaang, dan akhirnya weekend kemarin gue habiskan leyeh-leyeh baca buku yang kebetulan bukunya emang lebih seru ketimbang musti bikin 3 deck presentasi ini, tentu dengan kilik-kilik di kepala yang enggak capek-capeknya bergumam "Duh, decknya belum dikerjain gimana nih" - tapi tetep asyik baca buku.

Di jam-jam terakhir weekend pun, gue tetap memutuskan jadi procrastinator sejati dengan mengentar-entar bikin deck presentasi dan terus membaca. Nah kan, ketiduran deh. Tapi kali ini gue tidur dengan sadar bahwa gue belum ngerjain PR dan tidak berniat untuk bangun tengah malem buat ngerjain.

Tapi, gue tetep bangun pagi. Bukan karena alasan harus bikin deck. Karena Titan sudah mulai sekolah lagi. Jadi gue harus bangun lebih pagi untuk siapin seragam, bekal dan segala tetek bengeknya. Termasuk juga makan siang suami yang hari ini ... hehehe, maaf ya sayang ya; menu blontang blonteng dari segi asal muasal makanan, look dan kombinasi gizi. (Fyi, gue bawain suami menu makan siang: nasi goreng, ayam goreng dan sandwich sayur isi daun selada, tomat, keju plus sebutir apel dan vitamin).  Seandainya aja ini masa PDKT, pasti besok gue nggak bakal ditelpon-telpon lagi!

Ternyata, bangun pagi menjawab semuanya. Titan sampe sekolah tepat waktu, bahkan lebih cepat. Salam manis buat ibu guru piket yang kasih kita surat peringatan karena Titan udah telat 6x bulan September kemarin thankyouverymuch. Mood anak juga jadi lebih baik karena punya waktu yang cukup untuk pre-conditioning. Buat emaknya, tentu juga lebih oke karena sampe kantor masih sepi jadi masih bisa siap-siap diri sampai akhirnya mulai buka komputer dan ngerjain deck *mulai tahu diri*.

Alhamdulillah, jam 2 siang sudah selesai dan internal review pertama pun berjalan dengan baik. Tanpa perlawanan. Eh, ada sih. Tapi bisa ditolerir lah.

Cepet beres, sampe rumah pun jauh lebih cepat. Bersyukur bisa nemenin Titan makan dan ngajarin belajar dulu. Jam segini, jam sembilan malam tepatnya, udah bisa blogging dan mau nerusin baca buku lagi *senyum lebar selebar-lebarnya*

Kuncian yang enggak kalah pentingnya sebenernya ada satu lagi. Delegasi tugas. Sekarang udah punya  part timers untuk setrika dan beres-beres rumah. Nyuci sih tetep sendiri, enggak percaya gue sama pembantu yang nyuciin baju-baju kita. Bukan karena merk mahal, ... its just not my thing. I prefer to wash my clothes myself.

So yes, ... sambil blogging ini sebenernya gue mikir patut dirayakan dengan apakah kesuksesan hari ini? Hmmm... kayanya masih ada coklat deh di kulkas.

Popular posts from this blog

love is love. marriage is another thing.

of all the things I ever wondered, ... I think I never wonder whom my kids will be married to. or to picture myself holding grand babies. not just a not yet, I think it is simply too hard to bear and too absurd to think of. but then I promise myself. I promise I will not ever push titan and luna to get married or even if they are married; I will not ask them when to have kids.

many times I wondered that marriage is overrated. and the only reason to get married is not love, but to realise life is too hard to bear when you are all alone. because, however, marriage is a conditional love. hubby once said, marriage is not all fancy and glitter. the lowest it can get is, to keep functioning and it will survive. how both parties can be functional one to another, is another story.

to ariawan, a guy of mine,
the one who always wake me up from my princessy dreams. love you.



Three hours late.

2 AM and I stepped in to the house. Hubby was waiting for me. This was not the first time, and not the latest hour I had ever experienced with over time.

"See you soon Bunda. Or at 8, or at 9, or at 10, or at 11 like you said you would be late." Said my son.

I smiled as I entered the house. I smelled home. I saw my beautiful mess. As I picked up some toys on the floor, I imagined what games the kids had played today. There was a drawing, mini ceramics pots, not too chaotic for kids who were left with nini and aki without nannies.

I also saw their time tables, with some check marks on the list. Those that they weren't checked was the responsibility to wash their own dishes. I saw some dirty cups piling up. I saw the microwave's door left half-opened, a baking sheet and a knife. I wonder what they have cooked.
I also saw minecraft was in active window and some search on youtube and google.

Getting home in this hour and not seeing their faces but seeing all the mess the…

Life. Just like what I wanted.

Tiga belas bulan yang lalu, saya memutuskan untuk kembali bekerja setelah 2,5 tahun jadi freelance (tapi lebih banyak free-nya sih hahaha). Satu-satunya yang bikin saya merasa harus bekerja ya cuma Apple. Sisanya, banyak project yang saya tolak-tolakin karena males aja sih intinya. Belaguk bangetlah pokoknya.

Setelah merasa udah nggak produktif lagi di rumah, otak berasa tumpul dan rasa percaya diri udah nyungsep, saat itulah saya terima tawaran untuk kembali ke advertising. Banyak yang nyinyir sih, menganggap industri itu gelap banget dan ngapain udah enak-enak di rumah kok ya balik ngantor. Alasannya cuma satu: bosen di rumah.

Enggak tahu hal baik apa yang telah saya lakukan dalam hidup, ternyata saya dianugerahi tim yang baiiiiik banget. Anaknya manis-manis, good attitude dan yang paling penting; penuh tanggung jawab. Saya ngerasa banyak belajar dari mereka. Mulai hal baru di luaran sana sampai cara pakai krim mata. Enggak sedikit juga kesedihan yang kita tanggung bareng-bareng, da…