Thursday, August 30, 2012

About heaven, to my son.

Dear My lovely son Malicca.

You have been growing so fast! Now you are five and your questions in every single day are getting sharper and sharper. For the past days, you have been asking about heaven.

"Do heaven exist, Bunda?"

Our religion taught us about heaven and hell as a compensation for good and bad people. But if you ask me, to be honest, ... I do not know how to answer because I have never been to heaven and I have never seen it.

Yes  I heard about it. A lot. But people who might have gone to heaven never came back to earth and tell us what the heaven looks and how it feels like. So, ... I never buy what people say about heaven.

But why bother to think of heaven in absurd way? Like what people tell you that in heaven you can have anything you want within a split second? Like what people tell you there is milky river and golden cups. Why don't you create your own heaven? Here, on earth.

To me, your mother, to have you hugged me and said "I love you, Bunda" ...  it is heaven.
To see you poked your friend just to tell them "Hey, this is my Bunda!" ... it is heaven.
To wake up in the morning and have you here beside me and smell your bad breath, ... it is heaven.
To have a cup of hot chocolate with some marshmallows, it is heaven.
To have the traffic treats me nice, it is heaven.

Heaven is not far. Whenever you feel happy, you are in heaven.

...

and by the time I am finished writing this, I got a conclusion that heaven does exist.


Wednesday, August 29, 2012

Where do good people go?

Titan: "Nda, orang baik itu nantinya masuk surga ya?"

Me: "I don't know. What do you think?"

Titan: "I guess so."

Me: "Yang jelas, orang baik itu banyak temennya and it is already a heaven on earth."

Sunday, August 26, 2012


Me time. 
It is been a while since I last have one. 
With a nagging kid ready to tug you every single time and been shooting you with why this and that's questions, me time has become one of the most expensive thing I cannot afford. 

But it's okay. 
Nobody really want to be alone, right? 
And with this little kid around, I love it as much. 

Wednesday, August 22, 2012


There are many places I first encounter together with my satellite. 
National Museum is one of them. 
Me on my 33 and him on his 5.




Thursday, August 16, 2012

Learn to do something about hope

Hari ini, Malicca Titan belajar untuk menuliskan harapannya di sekolah. "What did you hope for?" Aku tanya. "I write: I hope I can play toy car everyday." ... "Okay, that is a good one."

Melihat kesempatan itu, aku mencoba untuk mendorong lebih jauh lagi apa impiannya. Dan akhirnya, Malicca bilang "I want to go to Paradise Falls, like Kakek Up" - he means Mr. Frederickson, the main character in the movie UP. "Oh wow, it is a grrrrrreat hope!"

"Do you know you can make all your dreams come true?" I asked him. "No." Dia menjawab singkat.

"It is true. All you need to do is rrrrreally really want it, plan it, do something about it and pray. Do you rrrrreally want to go to Angel's Falls, or Paradise Falls like in the movie?" ... "Yes, Bunda. It is in Amerika Selatan just like Segitiga Bermuda."

"Okay, now let's do something about it!"

I had the idea popped out just like that, that was to steal a scene in the movie itself. I borrowed my mom's big, clear canister and let Malicca draw the Paradise Falls in his version. My version of hope is to go to Ghibli Museum to see Totoro. We pasted it in the canister and started to toss all the money we have (mine was all in the wallet) and his was all coins he got in the our car (-_-")

He smiled happily.

The day after, he puts all neglected coins and his lebaran angpao all into the jar.

Isn't it a wonderful thing, to have a dream and do something about it. I mean really really really do something about it.


Malicca draws his dream


My version of hope

His version of hope


His happy face after tossing all his money into the jar
Angel Falls, Venezuella 





Sunday, August 12, 2012

Backpacking with kids, why not?

Our first backpacking journey. Memang hanya ke Singapura sih. Tapi kenangannya, ... banyak banget!
Mulai dari nabungnya, dari pesan tiketnya, dari berangkatnya, di sananya, semua pengalaman berlibur bersama anak-anak ini bikin diri jadi makin kaya dengan pangalaman bathin. Apalagi ternyata cukup bisa dimuat di website Libur Keluarga, senangnyaaaaaaa :) 

Semoga, ini bukan yang terakhir.Amin! 



Finally


For a writer, nothing can beat the happy feeling of having their writing got  published
*big big grin*

I had never thought after so many poetry, short stories and fables, it was my first travel journey that made the first debut for publishing. It took me about three days to write in details, to review it over and over again.

Just click the picture below if you want to know our story :)


My first time writing got published

Sunday, August 05, 2012

'Plak!!!'

"Biasa pegang duit sendiri, sekarang harus nunggu uang dari suami. Aneh banget rasanya."

Bener bangeeeeet twitnya Lygwina the financial planner hari ini, yang kebetulan topik #FinancialClinic-nya hari ini adalah tentang berpindah dari yang tadinya pegawai trus jadi freelancer or small business owner. Ahak, ... gue bangeeeut! Maka sebelum scrolling down the whole #FinancialClinic twits of her, gue siap-siap Betadine dulu lah. Penting, itu. Karena tiap kali baca twitnya Lygwina emang jadinya makin berdarah-darah. 

So, kabar kehidupan gue akhir-akhir ini memang drama galau dengan status 'pengangguran' yang gue emban saat ini. Tidak bisa tidak, ternyata itu kejadian juga sama gue bagaimanapun telah gue cegah. Awalnya gue memutuskan untuk berhenti bekerja adalah karena Titan dan semua kekhawatiran gue tentang minat belajarnya. Ditambah memang sudah mulai bosan menggeluti hal yang sama selama 12 tahun, tentunya. Ternyata, setelah dijalanin, I really hate to admit this phrase but this is so very true. 

"Money is not everything, but everything needs money." 

Dua hari di awal kehidupan freelance sangat menyenangkan, karena gue langsung terima kerjaan simple senilai belasan juta. Tapi kemudian gue mulai gigit jari karena belum nampak tanda-tanda kerjaan berikut sementara yang sudah dikerjakan pun, enggak kelihatan tanda-tanda bakal dibayarnya. *Mulai stress* 

Sebelum terjun ke dunia ini, terus terang persiapan gue memang agak kurang baik. Dari sekian items yang seharusnya dimiliki (seperti kata Lygwina), gue hanya punya sedikit dari items-items tersebut. Gue cuma punya dana darurat untuk 6 bulan dan aset aktif asuransi yang kebetulan sudah selesai masa preminya; jadi tinggal memetik dana investasinya. Tidak maksimal, karena bentuknya unit link (bakalan digorok Lygwina ini, karena ibu itu sangat tidak menganjurkan unit link. Tapi gimana dong, gue kenal ini duluan ketimbang gue kenal elo Bu Lyg).  Gue enggak punya asuransi kesehatan dan aset aktif yang mumpuni. Jadi untuk hidup sehari-hari, ya menunggu dikasih uang aja sama suami.

Dan itu rasanya aneh banget. Asli deh. Kalau aja suami enggak dibekali dengan kesabaran yang maha dahsyat untuk ngadepin gue, mungkin dia juga ikut jadi stres. Oh well, I guess he already is. Maaf yah sayang *cipoks*  

Dulu punya uang sendiri dan rutin mendapatkannya setiap bulan, membolehkan gue untuk bisa menyusun rencana seenak jidat. Not about shoppings, but giving to people I love and of course ... nice meals. Sekarang tiba-tiba gue  harus save and shrimp and cut down every pennies. 

Sekali lagi Lygwina benarrr! Yang pertama harus disiapkan adalah mental. Being a freelancer, more over I am a first starter, gue harus tau diri sih. Dan harus bisa menurunkan standar (oh, ini yang susah!!!). Dan yang lebih susah adalah untuk tidak mengkasihani diri. Counternya, gue selalu berpikir "Dulu juga gaji gue cuma sekian dan fine-fine aja tuh." Tapi kan dulu Titan belum sekolah ya (teteup, defensive). 

Yah, Bismillah. Semoga aja memang ini bagian dari rencana Tuhan untuk menuju yang lebih baik. Terima kasih Lygwina, atas twit-twitnya yang menyilet-nyilet harga diriku hari ini *usap Betadine* 

Sementara hati ini galau, tangan ini tetap harus berbuat sesuatu di masing-masing hari. Sampai hari itu tiba, ... oh tidak, aku harus menjemputnya dong! 



My first sewing project with mom's tutorial

Bake or break project. 

My first cupcake project. It tastes good, I tell you. Want to order? 


Thursday, August 02, 2012

Satu langkah lagi


Di bulan Juli ini, Malicca officially pindah ke sekolah baru. Well, only God knows how much I want him to get in to this school and only God knows what my efforts were to get him in. Konon, kata orang pada akhirnya kita akan mendapatkan apa yang kita mau. Hanya saja, kita mendapatkannya di saat kita sudah enggak menginginkannya lagi. Well, I guess God is very very kind to me. I got what I want right on time.

Pemilihan sekolah ini berdasar pada dua hal, kesepahaman konsep dan letaknya yang sama sekali tidak jauh dari rumah. Cuma 12 menit, coba bayangkan. Luxurious sekali kan, dibanding anak-anak lain yang harus bangun pagi buta untuk berangkat sekolah supaya tidak terlambat. Again, I am such a lucky mom.

Aku udah datang ke acara Open House sekolah ini sejak Malicca umur 6 bulan, lho! Saat itu memang aku lagi rajin-rajinnya survey ke sekolah-sekolah. Maksudnya sih, supaya tahu harus menabung berapa banyak saat Malicca harus masuk sekolah nantinya. Cuma untuk manage expectation aja, sekaligus juga mengenal kembali sistem pendidikan yang sudah jauh berbeda dengan jaman aku sekolah dulu.

Sebelum akhirnya sekolah di High Scope ini, Malicca sekolah di sebuah TK di deket rumah juga. Sekolah tawon, dia nyebutnya. Karena memang lambang sekolahnya gambar tawon dan dinding sekolahnya itu mirip sarang tawon. Cuma anehnya, dia enggak suka sekolah di sini. Setiap hari pasti datang telat. Enggak kira-kira, telatnya bisa sampai 1 jam! Kenapa? Karena ngebujuk bangun tidurnya aja udah setengah jam sendiri. Belum lagi, karena malas dan tidak suka; semuanya dilama-lamain. Belum lagi kalo mandek di gerbang sekolah enggak mau masuk. Aduuuh, stres banget deh kalau ingat saat-saat itu.  Tapi mau dipindahin juga tanggung. Saat itu memang aku belum tahu apakah aku nantinya bisa memasukkan dia di sekolah impian(ku) ini. Jadi, ... setiap hari harus sabar-sabar memberi pengertian dan aku juga pada akhirnya enggak terlalu memaksa Malicca untuk pergi ke sekolah. Alhasil, hampir setiap malam setelah pulang kerja bundanya ini harus mengajarkan ulang calistung. Thanks to phonic system dan Kumon yang mengeluarkan buku-buku panduan yang menurut saya sangat cerdas, akhirnya Malicca bisa mengikuti pelajaran di sekolah dan progressnya pada term ke dua di TK kecil sangat bagus. Dan akhirnya, dia naik ke TK besar.

Nah, di TK besar inilah Malicca mulai bersekolah di High Scope. Karena SD di sekolah ini dimulai dari TK besar. Setelah serangkaian trial dan ngobrol-ngobrol sama psikolognya (enggak ada test sama sekali), akhirnya Malicca bergabung dengan sekolah barunya. Aseli ya, deg-degan abis bundanya ini. Karena kalau ternyata dia enggak suka (lagi), aku sama sekali enggak punya back up plan mau disekolahin dimana. Sempet kepikiran home schooling sih, etapi kok ya ... walau aku senang mengajar, tapi kok ya ragu juga.

Akhirnya, tanggal 18 Juli kemarin Malicca officially mulai sekolah. Di hari pertama ini dia sempat tertidur selama kira-kira satu jam hahahaha.... Kaget kali yah, biasanya sekolahnya cuma sampai jam 11.30 sementara ini kan sampai jam 15.00. Ngapain aja anak TK sekolah sampai jam segituuuuu? Hahahaha... ternyata banyak sih kegiatannya. Tapi kalau ditanya "Hari ini belajar apa aja?" Jawabannya pasti satu: "Main, Nda. Enggak belajar." (Duh, serangan panik ke dua).

Lucunya, walaupun sekarang harus bangun lebih pagi dan pulang lebih sore, anaknya enjoy-enjoy aja sekolah. Kalau dulu, setiap malam dia selalu bertanya "Nda, besok sekolah ya?" "Iya dong." Jawabku. Lantas dia menghela nafas panjang sambil bergumam "Yaaaaah...."

Sekarang, dia masih bertanya sih. Tapi kalau aku jawab "Iya, besok sekolah." Jawabnya "Yeay! I like going to school!"

Ih, senang! Rasanya terbayar semua jerih payah pulang malam di tahun-tahun lalu dan stres-stres mencari sekolah terbaik untuk anak, saat kita tahu si anak menyukai belajar di sekolah. Kayanya, selesai satu PR besar dan  berhasil membuat satu langkah untuk masa depannya.

Insya Allah.

Sekarang, selain Malicca juga menikmati sekolahnya; aku juga menikmati saat-saat mengamati Malicca di sekolah. Teman-temannya, cara bermainnya, problem solving skill-nya. All in all, we are all happy. Yeay!


















as posted on Emaklicca.

Membuat satu langkah lagi

Di bulan Juli ini, Malicca officially pindah ke sekolah baru. Well, only God knows how much I want him to get in to this school and only God knows what my efforts were to get him in. Konon, kata orang pada akhirnya kita akan mendapatkan apa yang kita mau. Hanya saja, kita mendapatkannya di saat kita sudah enggak menginginkannya lagi. Well, I guess God is very very kind to me. I got what I want right on time.

Pemilihan sekolah ini berdasar pada dua hal, kesepahaman konsep dan letaknya yang sama sekali tidak jauh dari rumah. Cuma 12 menit, coba bayangkan. Luxurious sekali kan, dibanding anak-anak lain yang harus bangun pagi buta untuk berangkat sekolah supaya tidak terlambat. Again, I am such a lucky mom.

Aku udah datang ke acara Open House sekolah ini sejak Malicca umur 6 bulan, lho! Saat itu memang aku lagi rajin-rajinnya survey ke sekolah-sekolah. Maksudnya sih, supaya tahu harus menabung berapa banyak saat Malicca harus masuk sekolah nantinya. Cuma untuk manage expectation aja, sekaligus juga mengenal kembali sistem pendidikan yang sudah jauh berbeda dengan jaman aku sekolah dulu.

Sebelum akhirnya sekolah di High Scope ini, Malicca sekolah di sebuah TK di deket rumah juga. Sekolah tawon, dia nyebutnya. Karena memang lambang sekolahnya gambar tawon dan dinding sekolahnya itu mirip sarang tawon. Cuma anehnya, dia enggak suka sekolah di sini. Setiap hari pasti datang telat. Enggak kira-kira, telatnya bisa sampai 1 jam! Kenapa? Karena ngebujuk bangun tidurnya aja udah setengah jam sendiri. Belum lagi, karena malas dan tidak suka; semuanya dilama-lamain. Belum lagi kalo mandek di gerbang sekolah enggak mau masuk. Aduuuh, stres banget deh kalau ingat saat-saat itu.  Tapi mau dipindahin juga tanggung. Saat itu memang aku belum tahu apakah aku nantinya bisa memasukkan dia di sekolah impian(ku) ini. Jadi, ... setiap hari harus sabar-sabar memberi pengertian dan aku juga pada akhirnya enggak terlalu memaksa Malicca untuk pergi ke sekolah. Alhasil, hampir setiap malam setelah pulang kerja bundanya ini harus mengajarkan ulang calistung. Thanks to phonic system dan Kumon yang mengeluarkan buku-buku panduan yang menurut saya sangat cerdas, akhirnya Malicca bisa mengikuti pelajaran di sekolah dan progressnya pada term ke dua di TK kecil sangat bagus. Dan akhirnya, dia naik ke TK besar.

Nah, di TK besar inilah Malicca mulai bersekolah di High Scope. Karena SD di sekolah ini dimulai dari TK besar. Setelah serangkaian trial dan ngobrol-ngobrol sama psikolognya (enggak ada test sama sekali), akhirnya Malicca bergabung dengan sekolah barunya. Aseli ya, deg-degan abis bundanya ini. Karena kalau ternyata dia enggak suka (lagi), aku sama sekali enggak punya back up plan mau disekolahin dimana. Sempet kepikiran home schooling sih, etapi kok ya ... walau aku senang mengajar, tapi kok ya ragu juga.

Akhirnya, tanggal 18 Juli kemarin Malicca officially mulai sekolah. Di hari pertama ini dia sempat tertidur selama kira-kira satu jam hahahaha.... Kaget kali yah, biasanya sekolahnya cuma sampai jam 11.30 sementara ini kan sampai jam 15.00. Ngapain aja anak TK sekolah sampai jam segituuuuu? Hahahaha... ternyata banyak sih kegiatannya. Tapi kalau ditanya "Hari ini belajar apa aja?" Jawabannya pasti satu: "Main, Nda. Enggak belajar." (Duh, serangan panik ke dua).

Lucunya, walaupun sekarang harus bangun lebih pagi dan pulang lebih sore, anaknya enjoy-enjoy aja sekolah. Kalau dulu, setiap malam dia selalu bertanya "Nda, besok sekolah ya?" "Iya dong." Jawabku. Lantas dia menghela nafas panjang sambil bergumam "Yaaaaah...."

Sekarang, dia masih bertanya sih. Tapi kalau aku jawab "Iya, besok sekolah." Jawabnya "Yeay! I like going to school!"

Ih, senang! Rasanya terbayar semua jerih payah pulang malam di tahun-tahun lalu dan stres-stres mencari sekolah terbaik untuk anak, saat kita tahu si anak menyukai belajar di sekolah. Kayanya, selesai satu PR besar dan  berhasil membuat satu langkah untuk masa depannya.

Insya Allah.

Sekarang, selain Malicca juga menikmati sekolahnya; aku juga menikmati saat-saat mengamati Malicca di sekolah. Teman-temannya, cara bermainnya, problem solving skill-nya. All in all, we are all happy. Yeay!


Let's cut the crap from the question of Which Mom Are You?

A few years back, social media was being fussy about working mom versus stay at home home. What a nonsense brag! Since I went through ...