Skip to main content

biggest fear

Kadang, kita seringkali dengan gampangnya ngasih label ‘genius’ terhadap seseorang yang berhasil menciptakan sesuatu. Karena memang olimpiade fisika atau matematika lah, bisa ngitung cepat lah, semua harus di jenjang akademik. Padahal,orang baru bisa dibilang genius kalau memang sudah terbukti memproduksi ide berkali-kali, baik ide yang sukses ataupun yang nggak. Ada dua tipe genius. Yang pertama adalah orang-orang yang memang terlahir dengan bakat super istimewa dan berhasil menciptakan banyak hal di usianya yang muda. Misalnya saja Mozart, yang di usia mudanya bisa menciptakan komposisi-komposisi musik yang bisa dibilang ‘breakthrough’ pada masanya dan juga masih tak terkalahkan hingga saat ini. Tipe yang ke dua, yaitu tipe slow-starter creative. Misalnya, kisah seorang penulis best seller Amerika (maaf, aku lupa siapa namanya). Dia ingin sekali menjadi penulis hingga suatu waktu di usianya yang menginjak tiga puluhan, ia memutuskan untuk berhenti bekerja dan berkonsentrasi untuk menulis. Dari kurun waktu sekitar sepuluh tahun sejak ia berhenti bekerja, pada usia empat puluhan barulah ia berhasil menerbitkan bukunya yang menjadi best seller. Terbayang dalam kurun waktu tersebut sudah berapa banyak buku yang ia tulis namun gagal. Tapi, ia terus dan terus menulis tanpa henti. Amazingly, ternyata dia didukung oleh istrinya yang juga ikut menopang beban hidupnya dan mendukung apa yang menjadi impian suaminya. Untungnya, si istri dalam riwayat profesinya sudah masuk ke level top manaement,jadi saat si penulis memutuskan untuk berhenti kerja tentu aja dia nggak perlu lagi mikirin urusan perut. Ini berarti, seorang genius juga harus didukung oleh lingkungan sekitarnya.

Itulah sekelumit dari salah tulisan dalam buku Malcom Gladwell, What The Dog Saw.

Yang aku lihat dan perlu digarisbawahi adalah bukan masalah label geniusnya, tapi betapa pentingnya bagi seseorang untuk menemukan apa hal yang ia suka, dan apa hal yang benar-benar ia inginkan dalam hidupnya. Kalau memang enggak terlahir dengan intuisi seperti Mozart atau Steve Jobs, kesuksesan emang jadi Pe-Er buat orang-orang kaya kita. Eh, bukan kita deng. Aku, maksudnya hehehe. Let’s not talk about ‘Luck’ lah ya, … itu sifatnya intangible atau maya. Buat aku, keberuntungan adalah sebuah konsep. Mungkin soal keberuntungan ini bisa jadi topik di posting selanjutnya hehehe.

Well, buat kita yang merupakan produk-produk sekolah Orde Lama, mengenali potensi diri dan apa yang kita mau dalam hidup secara spesifik; tentu jadi hal yang berat. Karena kita nggak punya banyak kesempatan untuk memilih pelajaran yang kita suka, entah karena kita memang nggak punya banyak pilihan atau memang kita secara nggak sengaja membatasi pilihan karena kita terbiasa dengan pola belajar ‘disuapin’. Coba, berapa persen dari orang Indonesia yang ambil jurusan di sekolah karena gengsi dan bukan karena emang pengen masuk jurusan itu? Berapa persen dari lulusan universitas yang bekerja di bidangnya? Berapa persen orang Indonesia yang pernah magang lebih dari satu kali dalam hidupnya? Aku yakin, pasti jumlahnya kecil banget. Nggak usah jauh-jauh, aku juga salah satu produk yang disebutin di atas. nangis-nangis gila waktu ternyata harus masuk jurusan IPS, nggak tau bahwa di universitas itu ada yang namanya jurusan komunikasi yang lulusannya bisa kerja jadi jurnalis, public relation atau kerja di advertising. Nah, untungnya aku bekerja sesuai bidang kuliah itu dan ternyata aku suka.

Well, I'm not saying these all wrong. No judgementlah. Aku cuma wondering aja, sekian waktu yang terpakai di SMA dan kuliah (taro aja kira-kira 10 tahun)sebenernya bisa lebih efektif kalau aja kita tau apa yang kita mau. Seriously, ini yang aku takutin terjadi sama Titan.

Seperti orang-orang dewasa di sekitarnya, aku takut dia nggak tahu apa yang dia mau dalam hidupnya. Nggak tau punya potensi apa, nggak punya hobi, nggak tau mau ambil jurusan apa saat kuliah dan nggak punya target. Aku takut ‘Lihat aja nanti’ perlahan menjadi filosofi yang berurat-akar dalam dirinya.

Itulah kenapa sejak masih di dalam perut, aku selalu berdoa supaya Titan jadi anak yang berkepribadian kuat dan tahu apa yang dia inginkan dalam hidupnya. Buat aku, penting bagi anakku untuk mengenal dan memahami dirinya sendiri baru ia bisa mengenali dan memahami orang di sekeliling dan kondisi yang terjadi di sekelilingnya. Jika ada sebuah kejadian yang tidak mengenakkan yang seharusnya bisa dicegah (tentunya bencana alam dan kematian nggak termasuk di sini ya hahahaha), aku pengen dia mengerti bahwa dia tidak seharusnya menyalahkan keadaan; tapi bertanya dulu ke dalam diri apa kesalahan yang dia buat hingga semua ini terjadi.

Tapi seperti yang ditulis Gladwell, semua ini nggak bisa terjadi kalau lingkungan sekitarnya nggak mendukung. Sebenernya, cita-cita sebesar itu bisa diawali dengan langkah sederhana kok.

Dari kecil, anak-anak sebaiknya dibiasakan untuk dikasih pilihan dan dikasih kesempatan untuk memilih dan biarkan mereka meng-explore pilihannya. Misalnya, kalo mau pergi dikasih beberapa pilihan baju dan celana dan biarin mereka milih mau pakai yang mana.

Ke dua, biasakan mereka mengenal target atau tujuan. Misalnya mereka harus mandi. kalau si anak belum mau mandi solusinya ya bukan dimarahin tapi ditanya mau mandi kapan; apakah kalau udah selesai nonton film, apakah 2 menit lagi, atau apa? Yang penting targetnya jelas: bahwa mereka harus mandi sore,dan yang namanya mandi sore harus dilakukan sore hari, artinya sebelum matahari terbenam. Mau kapan tepatnya dan gimana cara mandinya, why don’t we let them figure out. Ini nih yang sering kita lupa, kalau tiap orang punya cara sendiri melakukan sesuatu. Dan ini yang biasanya kita lakukan: memaksa mereka untuk cepat-cepat mandi sore, supaya urusan kita juga cepat selesai.

Yang ke tiga, adalah langkah sederhana yang bisa dilakukan saat belanja bareng si kecil ke supermarket. Daripada kita sibuk sama anak-anak yang pengen ini -itu atau justru nggak pengen apa-apa sama sekali (bisa jadi karena emang mereka nggak pengen apa-apa atau karena mereka nggak berinisiatif - so be careful), kita bisa lho ngasih mereka uang (tentu saja secukupnya) dan biarin mereka yang menentukan sendiri apa yang mau dibeli. Kalau mereka menuhin keranjangnya dengan berbagai macam barang, ya biarin aja. Sampai akhirnya mereka bayar di kasir ternyata uangnya kurang,nah kan mereka jadi belajar apa prioritas yang mereka butuhin.

Well, … aku tahu sih semua ini baru cita-cita dan aku juga masih berusaha untuk menerapkan semua ini. But seriously, I have enough seeing people around me who don’t know what they really want in their life. Therefore they do not passionate enough doing things. Trial error is good, tapi jangan terlalu lama baru sadar kalau yang dilakukan adalah salah. Namanya juga nyoba, ya nggak. Kalau nyoba ya jangan lama-lama dong.

So if you ask me what my biggest fears are, …yeah I know I have many big fears in my life,… but one of them is, if my son grows up clueless.

Comments

Popular posts from this blog

Life. Just like what I wanted.

Sounds so snobbish ya, saying life is just like what I wanted. But then I realized, semua itu karena emang aku enggak pengen apa-apa. Sekarang juga (ternyata) masih begitu. Dulu emang I treat my life like a blue print. Things to do piling up my list and my aims were to accomplish them. Alhamdulillah, semua tercapai. Tapi kemudian seperti ada titik tolak dalam hidup yang bikin  berhenti ingin terlalu banyak dari hidup. Entah karena merasa udah cukup banyak pencapaian pribadi baik yang bagus atau yang buruk, entah karena pernah kecewa berat sama yang namanya manusia atau karena alasan klise yang digadang-gadang semua manusia: anak.

Sekarang ini, lebih banyak menyambut apa yang datang ke dalam hidup. Termasuk, kembali ke agency lagi. Having thought that I am not some kind of 'Man in a mission' kind of person. I am just an 'I will do my best' of what comes in front of me kind of person.

Gini ceritanya.

Tiga belas bulan yang lalu, saya memutuskan untuk kembali bekerja setel…

Let's cut the crap from the question of Which Mom Are You?

A few years back, social media was being fussy about working mom versus stay at home home. What a nonsense brag! Since I went through both and also had a chance of being a working-from-home mom, it is even more ridiculous for me. Only stupid have a time discussing it and to elaborate on their social media status. Whoever we are, what kind of mom we are, what matters most is how we can make our life productive and progressing. Every single day.

Different mom has different ways of being productive. Some goes to work. Some clean up and cook for the family. Some works at home by selling stuffs online or being a freelancer. Productive means to produce something. Be it money, the foods, you name them all. But the question is, is productive enough? How about having a progressing life? Not as the wife of Mr. Blabla or as the mom of kid Zubidudamdam. But us, as a person. Me, as Wury; a 38 years old woman and how far I have made progress in  my life.

BUT. Let alone of being progressive, ... ar…

love is love. marriage is another thing.

of all the things I ever wondered, ... I think I never wonder whom my kids will be married to. or to picture myself holding grand babies. not just a not yet, I think it is simply too hard to bear and too absurd to think of. but then I promise myself. I promise I will not ever push titan and luna to get married or even if they are married; I will not ask them when to have kids.

many times I wondered that marriage is overrated. and the only reason to get married is not love, but to realise life is too hard to bear when you are all alone. because, however, marriage is a conditional love. hubby once said, marriage is not all fancy and glitter. the lowest it can get is, to keep functioning and it will survive. how both parties can be functional one to another, is another story.

to ariawan, a guy of mine,
the one who always wake me up from my princessy dreams. love you.