Skip to main content

Posts

Showing posts from August, 2010

sayap pengelana

Seorang pengelana menyisir setiap gerai di pasar kota. “Cari apa?” Tanya penjual. “Saya mencari sepasang sayap untuk menggantikan sayap saya yang ini.” Kata si pengelana sambil menunjukkan sepasang sayapnya yang tidak lagi berbentuk sayap. Tulang-tulangnya patah dan helaian bulu-bulunya rontok entah kemana. Warnanya pun tidak lagi putih. Kotor dan lusuh.
Untuk beberapa saat, si penjual termenung. Sambil memanggut, tak lama kemudian ia pun berkata “Saya punya sayap yang cocok untuk kamu.” Katanya sambil masuk ke dalam toko. Sewaktu sehirupan teh hangat, si penjual pun keluar dengan membawa sepasang sayap baja. “Ini sayap yang paling pas untuk kamu wahai perempuan pengembara. Setiap helainya terbuat dari baja. Kamu bisa terbang kemanapun kamu ingin pergi. Kuat menerjang hujan bahkan sebuah badai sekalipun. Untuk kamu yang berkeinginan besar, inilah sayap terbaik yang saya punya.”
Melihat sepasang sayap yang begitu berkilau dan tampak kuat, mata perempuan itu pun bersinar bahagia. “Dia ya…

home

Pantai ini, cuma lima belas menit dari rumah, … atau kira-kira satu jam setengah deh kalau naek sepeda. Agak lama ditempuh naik sepeda karena rute jalannya turun naik bukit untuk sampai ke pantai yang sangat landai ini. Namanya Pantai Pasir Padi. Pantainya luas sekali dan wilayah airnya pun landai. Udah jalan 200 meter ke arah laut, airnya baru sampai sebatas lutut. Pantai ini aman banget untuk bawa anak kecil, dan tentunya, dulu jadi tempat aku bawa lari-lari sore anjing dan monyet kecil aku. Ngebiarin dia berenang-berenang di laut dan lari kejar-kejaran.


Pangkal pinang adalah sebuah kota di sebuah pulau yang namanya Pulau Bangka. I just love this place. Really love it! Walau cuma satu setengah tahun tinggal di sana tapi rasanya seperti kampung halaman sendiri dan pengen tiap tahun bisa ke sana. Di sini aku mengenal dan berteman baik dengan etnis Cina, dan mereka sungguh berbeda dengan etnis Cina yang biasa aku temuin. Di sini, kita bisa hidup berdampingan tanpa tahu apa itu etnis. A…
Puasa dulu, pasti bantuin mamah bikin kue. Kebagian marut keju oles-oles kuning telur dan menghias bagian atas kue. Puasa sekarang, bayar orang untuk bikinin kue yang sama.

Puasa dulu, suka dimarain kalo nunggu-nunggu waktu buka di meja makan sambil ngeliatin makanan yang tertata di meja. Puasa sekarang, seringkali buka seadanya dan nggak terlalu napsu ngeliat makanan karena mumpung puasa sekalian pengen nurunin berat badan.

Puasa dulu, abis saur pasti maen badminton di luar sama temen-temen. Puasa sekarang, abis saur langsung bablas tidur karena justru biasanya baru bisa tidur setelah saur.

Puasa dulu, semangat milih baju lebaran sejak jauh-jauh hari. Puasa sekarang, liat-liat koleksi lama baju muslim trus disetrika pada saat malam takbiran buat dipake besok.

Puasa dulu, sibuk ngitung-ngitung bakalan dapet salam tempel berapa. Karena udah puasa sebulan, karena uang saku nggak kepake jajan, belom lagi dari om dan tante tersayang. Puasa sekarang sibuk ngitung zakat dan mau dikasih …

biggest fear

Kadang, kita seringkali dengan gampangnya ngasih label ‘genius’ terhadap seseorang yang berhasil menciptakan sesuatu. Karena memang olimpiade fisika atau matematika lah, bisa ngitung cepat lah, semua harus di jenjang akademik. Padahal,orang baru bisa dibilang genius kalau memang sudah terbukti memproduksi ide berkali-kali, baik ide yang sukses ataupun yang nggak. Ada dua tipe genius. Yang pertama adalah orang-orang yang memang terlahir dengan bakat super istimewa dan berhasil menciptakan banyak hal di usianya yang muda. Misalnya saja Mozart, yang di usia mudanya bisa menciptakan komposisi-komposisi musik yang bisa dibilang ‘breakthrough’ pada masanya dan juga masih tak terkalahkan hingga saat ini. Tipe yang ke dua, yaitu tipe slow-starter creative. Misalnya, kisah seorang penulis best seller Amerika (maaf, aku lupa siapa namanya). Dia ingin sekali menjadi penulis hingga suatu waktu di usianya yang menginjak tiga puluhan, ia memutuskan untuk berhenti bekerja dan berkonsentrasi untuk me…

kapan nambah?

Makin ke sini, saat aku lagi barengan sama Titan makin banyak yang suka nanyain aku “Kapan nambah lagi? Udah gede tuh!” Selama ini, aku selalu bilang “Entar aja ah, mahal!” kataku sambil nyengir. Tidak sambil berlalu pergi, tapi seolah menunggu respon mereka. So far sih, kalau aku jawab gitu biasanya mereka cuma diam dan senyum-senyum aja. Gak tau karena mereka somehow agree atau dalam hati ngetawain jawaban aku. Well, apapun itu; semua orang kan punya pilihan dan rencana hidup masing-masing kan ya. Tapi alasan ‘mahal’ itu bukan cuma berlaku untuk masalah uang lho. Itu iya, for sure. Tapi itu mah bisa kelihatan wujudnya. Tapi gimana dengan mahalnya rasa yang harus dihadapi? Mahalnya rasa ups and down selama hamil, dan buat aku adalah juga rasa ups and downs saat persiapan untuk hamil dan program untuk hamil serta selama hamil. Obat yang musti ditelen selama hamil, suntik, itu sih nggak seberapa. Tapi deg-degan takut kenapa-kenapa itu yang hanya bisa terbayar saat melihat si adik bayi …

colors

You were born with beautiful eyes.
On the first days of your life, colors were so much simple.  
The pattern of your bed sheet, the lace of your blanket, the stripes on your playpen, everything came in black and white.
Till you got older, you grew bigger and taller,
And you started to know , blue was for boy, pink was for girl, duck is a yellow and so much more.

White is for good deeds, and black is for evil spirit. You feel fine for those at first, But then your brain started to question … what about grey?
As days went by, 
You learnt grey is white with a little drop of black Grey is white through a different lens Grey is when black seemed so make your sense Grey is human
Life and its color, don’t you love it?


In one of those days

Aku melangkah kecil tapi cepat secepat rintik-rintik air itu mengkerayapi jemari kaki. Membuatnya dingin dan kotor dengan cipratan air kubangan yang menghitam. Nggak papa, nanti begitu sampai langsung cuci kaki; kataku dalam hati sambil menatap jemari kakiku yang mulai memucat dan bertabur pasir kehitaman.

Aku mempercepat langkahku. Dingin, bukan apa-apa. Lalu aku keluarkan selendang lebar dari dalam tas dan kubalut tubuhku. Biar hangat. Dan saat itulah teman-teman kecilku bermain, berjumpalitan di sela-sela lipatan otakku.

Kamu tahu?
Nggak.
Kamu ingin tahu?
Mungkin.
Mungkin berarti kamu nggak terlalu yakin.
Karena kalau aku yakin, aku pasti tahu. Aku pasti tahu bahwa aku tidak ingin tahu. Bodoh, kamu!

Hahaha … aku tersenyum mendengar mereka bertengkar. Lalu aku menatap ke langit biru yang gelap di atasku. Eh, maaf. Tepatnya di atas rerimbunan pohon di atasku. Dan aku terus berjalan membiarkan tubuhku tercabik hujan yang merintik di pukul tujuh pada Jumat malam. Sempurna.

Lalu kulihat…

aku tunggu di mitaka

The 1st picture was me almost a year ago. Knelt down in front of a shop's display in Korea and craved for Totoro. I waited for almost an hour for the shop to open but they'd never showed up :(  But look what I got  on my desk today! A good-friend-of-mine-who's-more-like-a-brother, Ebet, granted my dreamy wish of Ghibli, from Ghibli Museum, Mitaka-Tokyo. It's Totoro! Then I texted him "Speechless. *Hug!"











Me

Hmmm, after some writings about my possible hero, my invisible spine, my  guy and my writings about you, I guess it is the time to write a little about me hehehe ....

Some people said I am a total dreamer, dreamer to the max! Well, what can I say, … because I am. I know and I admit it, that I am a dreamer.

College's subject introduced me with Freud. You might say I am a Freudian. I believe his theory on id, ego and superego and more over, I do believe in his book The Interpretation of Dream. Although Freud was hard to proved, and I am not a psychology student as well, but I feel that his theories are related to me, especially my dreams. Maybe that is why the science of dream is categorized as pseudoscience because no one can really interpret someone’s dream or how someone created a dream.

I do have troubles with dream since I was a little. This, I never talked about to my parents because I thought dreams are just dreams. Well, my mother often found me terrified or screaming out…