Tuesday, August 31, 2010

sayap pengelana

Seorang pengelana menyisir setiap gerai di pasar kota. “Cari apa?” Tanya penjual. “Saya mencari sepasang sayap untuk menggantikan sayap saya yang ini.” Kata si pengelana sambil menunjukkan sepasang sayapnya yang tidak lagi berbentuk sayap. Tulang-tulangnya patah dan helaian bulu-bulunya rontok entah kemana. Warnanya pun tidak lagi putih. Kotor dan lusuh.

Untuk beberapa saat, si penjual termenung. Sambil memanggut, tak lama kemudian ia pun berkata “Saya punya sayap yang cocok untuk kamu.” Katanya sambil masuk ke dalam toko. Sewaktu sehirupan teh hangat, si penjual pun keluar dengan membawa sepasang sayap baja. “Ini sayap yang paling pas untuk kamu wahai perempuan pengembara. Setiap helainya terbuat dari baja. Kamu bisa terbang kemanapun kamu ingin pergi. Kuat menerjang hujan bahkan sebuah badai sekalipun. Untuk kamu yang berkeinginan besar, inilah sayap terbaik yang saya punya.”

Melihat sepasang sayap yang begitu berkilau dan tampak kuat, mata perempuan itu pun bersinar bahagia. “Dia yang akan mengantarku pergi kemanapun aku mau.” Katanya dalam hati. “Boleh saya coba?” Tanya pengelana itu lirih. “Tentu. Mari saya bantu.” Kata si penjual. Lalu ia pun segera mengangkat sayap besi tersebut dan menaruhnya di punggung perempuan itu. Perempuan itu berkaca di jendela toko dan tersenyum lebar. Sayap di punggungnya tampak sempurna. “Boleh saya coba pakai untuk terbang?” Tanya si pengelana lagi. “Tentu.” Kata sang penjual. Si pengelana pun tersenyum puas. Lalu ia pun segera mengambil ancang-ancang untuk terbang. Oh oh oh, tapi apa yang terjadi; ia tak bisa berlari untuk lepas landas. Ia berjalan tertatih memaksa diri untuk melangkah sampai akhirnya ia pun jatuh tersungkur. Lalu ia pun menangis.

Si penjual pun lalu membantu melepaskan sayap baja dari punggung di pengelana. Ia tersenyum menatap wajah perempuan di hadapannya. “Jangan menangis, sayap ini terlalu berat untukmu. Betapa indahnya kamu saat melihatnya, tapi untuk apa kalau kamu tidak dapat terbang dengannya?” Katanya sambil membantu si perempuan untuk berdiri. Lalu perempuan itu pun pamit untuk menyusuri gerai-gerai lain di pasar itu.
Jauh ia berjalan menyusur, akhirnya tibalah ia di sebuah toko lain yang juga menjual sayap. “Saya ingin mencari sayap untuk menggantikan sayap saya yang patah.” Katanya sambil menunjukkan sayapnya ke hadapan si penjual. “Saya telah mencoba sayap baja, tapi saya tidak kuat membopongnya dan akhirnya saya tidak juga dapat terbang dengannya. Apakah Anda menjual sayap yang lain?” Katanya.

Si penjual tua itu mendengarkan penjelasan si pengelana sambil menyedot punting rokoknya yang sudah sangat pendek. “Tentu. Aku punya sayap yang indah untukmu.” Lalu ia segera mencari tumpukan sayap-sayap di gudangnya dan keluar dengan membawa sepasang sayap kecil yang indah. “Inilah sayap peri terbaik yang saya punya. Untuk perempuan secantik kamu, sayap ini akan mengantarmu kemanapun yang kamu mau.”

“Apakah ia sanggup membawaku terbang?” Kata si pengelana ragu melihat sayap kecil itu. “Jangan melihat dari bentuknya, mari dicoba dulu. Saya akan membantumu memasangnya.” Kata si penjual sambil membantu menempelkan sayap di punggung si pengelana.
“Cantik sekali.” Kata pengelana itu sambil berkaca di kaca lentera yang menerangi toko itu. “Coba kepakkan.” Kata sang penjual. Oh oh oh, tapi apakah yang terjadi? Sekali gerak ternyata sayap itu mengepak begitu cepat. Amat sangat cepat sehingga si pengelana tidak dapat mengendalikan arah terbangnya. Dan ia pun terbang tanpa tentu arah di dalam toko dan mengacaukan segalanya. Untung si penjual dengan sigap bisa menangkapnya dan segera melepaskan sayapnya.

Akhirnya si pengelana pun dengan berat hati meninggalkan toko tersebut. Hari sudah malam dan gelap. Ia tidak memiliki sayap sehingga ia tidak mampu terbang untuk pulang. Akhirnya ia pun berjalan pelan, tertatih-tatih dengan kedua kaki kecilnya. Di ujung jalan, tampak seberkas cahaya. “Mungkin aku bisa bermalam di sana.” Katanya.

Ternyata cahaya tersebut datang dari lampu lentera sebuah toko penjahit. Di dalamnya ada seorang penjahit muda yang masih terus menjahit hingga larut malam. “Bolehkah saya bermalam di sini?” Tanya si pengelana. Sambil terus menjahit, ia pun menjawab “Saya tidak melarang.” Mendengar jawaban itu akhirnya si pengelana pun tertidur di atas lantai. Melihatnya si penjahit merasa begitu iba. Lalu diselimutkannya si pengelana dengan sayap-sayapnya yang patah.

Matahari yang hangat pun muncul menyapa di keesokan harinya. “Kamu mau kemana?” Kata si penjahit. “Bertahun-tahun aku mencari pengganti sayapku yang patah, tapi tidak pernah menemukan yang pas untukku. Apakah kira-kira kamu tahu dimana aku bisa mendapatkannya?” Sang penjahit hanya menggeleng sambil terus menjahit. “Aku tidak tahu. Tapi, … mungkin aku bisa membantumu.” “Bagaimana caranya?” Tanya si pengelana. Lalu si penjahit pun beranjak dari kursinya dan menghampiri si pengelana. “Mana sayapmu?” Katanya. Lalu sang pengelana pun memberikan sepasang sayapnya. “Aku akan membantumu.” Katanya lalu kembali ke tempat duduknya untuk menjahit kembali.

Sejak hari itu, si pengelana tinggal bersama si penjahit. Setiap hari, si penjahit dengan sabar menyambung satu demi satu tulang-tulang sayapnya yang patah dan menyulam helai demi helai bulu sayapnya. Dan dengan sabar, si pengelana pun menahan rasa sakit saat setiap tusuk jarum menembus kulitnya.

Hari berganti bulan berganti tahun. Si pengelana kini telah memiliki kembali sayapnya yang kuat dan indah. Luka jahitannya telah sembuh dan ia telah bisa mengepakkan kembali sayap-sayapnya. “Selamat jalan.” Kata si penjahit. Si pengelana tertawa “Kalau kamu mungkin yang terbaik yang bisa membuatku pulang, kenapa aku harus terbang?” Kata si pengelana sambil tersenyum.

Wednesday, August 25, 2010

home

Pantai ini, cuma lima belas menit dari rumah, … atau kira-kira satu jam setengah deh kalau naek sepeda. Agak lama ditempuh naik sepeda karena rute jalannya turun naik bukit untuk sampai ke pantai yang sangat landai ini. Namanya Pantai Pasir Padi. Pantainya luas sekali dan wilayah airnya pun landai. Udah jalan 200 meter ke arah laut, airnya baru sampai sebatas lutut. Pantai ini aman banget untuk bawa anak kecil, dan tentunya, dulu jadi tempat aku bawa lari-lari sore anjing dan monyet kecil aku. Ngebiarin dia berenang-berenang di laut dan lari kejar-kejaran.


Pangkal pinang adalah sebuah kota di sebuah pulau yang namanya Pulau Bangka. I just love this place. Really love it! Walau cuma satu setengah tahun tinggal di sana tapi rasanya seperti kampung halaman sendiri dan pengen tiap tahun bisa ke sana. Di sini aku mengenal dan berteman baik dengan etnis Cina, dan mereka sungguh berbeda dengan etnis Cina yang biasa aku temuin. Di sini, kita bisa hidup berdampingan tanpa tahu apa itu etnis. Aku main ke rumah mereka saat Imlek, ikut bikin kue keranjang, melihat mereka berdoa dan bantu bakarin dupa. Nama mereka pun masih nama asli Cina yang sulit aku hafal saat aku sekolah. Liong Tet, Sian Kwet, Mei Hwa, Syun Kew Yie, Ai Hwa, … itu beberapa nama mereka.


Makanannya, … jangan tanya! Ini surga untuk mereka yang suka seafood dan seneng mancing seperti si papah. Di pasar, ikan-ikan yang udah nggak laku di atas jam 11 akan ditinggalin begitu aja sama penjualnya, berserakan digondol kucing liar. Makanya kucing di pasar gendut-gendut. Sirip ikan hiu yang jutaan per ons-nya di Jakarta, di sana hanya dengan dua ratus ribuan kita udah bisa bawa pulang setengah kilogram sirip ikan hiu. Gelembung udara ikan, haisom atau tripang dan berbagai macam ikan lain yang pasti jarang kita temuin di tempat lain seperti misalnya, siput Gung-Gung. Rajungannya … waduuuuh besar-besar sekaliiiii! Dan di sinilah aku pertama kalinya makan scallop sashimi segar (ya iyalah yang namanya sashimi pasti segar, kali!) yang dijaring nelayan. Yeah, I know makanan ini udah dilarang untuk ditangkap hehehehe. But what can I say, … who can resist its taste :p


This is my favorite place, ever. It's my home.
Puasa dulu, pasti bantuin mamah bikin kue. Kebagian marut keju oles-oles kuning telur dan menghias bagian atas kue. Puasa sekarang, bayar orang untuk bikinin kue yang sama.

Puasa dulu, suka dimarain kalo nunggu-nunggu waktu buka di meja makan sambil ngeliatin makanan yang tertata di meja. Puasa sekarang, seringkali buka seadanya dan nggak terlalu napsu ngeliat makanan karena mumpung puasa sekalian pengen nurunin berat badan.

Puasa dulu, abis saur pasti maen badminton di luar sama temen-temen. Puasa sekarang, abis saur langsung bablas tidur karena justru biasanya baru bisa tidur setelah saur.

Puasa dulu, semangat milih baju lebaran sejak jauh-jauh hari. Puasa sekarang, liat-liat koleksi lama baju muslim trus disetrika pada saat malam takbiran buat dipake besok.

Puasa dulu, sibuk ngitung-ngitung bakalan dapet salam tempel berapa. Karena udah puasa sebulan, karena uang saku nggak kepake jajan, belom lagi dari om dan tante tersayang. Puasa sekarang sibuk ngitung zakat dan mau dikasih ke siapa aja. Kaget ngeliat besarnya karena ngeluarin sekaligus, tapi lupa sama betapa besarnya yang sudah didapat ... dan itu pasti JAUH lebih besar.

Puasa dulu, suka marah-marah kalau dibangunin sahur. Puasa sekarang; gampang banget dibangunin karena emang belum belum memasuki fase tidur lelap di jam segitu. Sekali ketuk, langsung bangun.

Puasa dulu, saat berbuka adalah saatnya menikmati tajil yang dibuat mamah sambil duduk bersama di meja makan dan saling cerita. Puasa sekarang, justru terbalik. Saat sahur adalah saat aku pasti duduk bareng keluarga dan cerita kemarin ngapain aja. Setelah makan, ditutup dengan tajil bikinan mamah di sore sebelumnya.

Banyak perubahan yang terjadi antara puasa aku dulu dengan puasa sekarang. Tapi ada satu hal yang tetap sama. Sama-sama belum mendalami hikmah Ramadhannya. Tapi Alhamdulillah, masih dikasih kesempatan untuk kumpul bersama. Masih, hingga saat ini.

Tuesday, August 24, 2010

biggest fear

Kadang, kita seringkali dengan gampangnya ngasih label ‘genius’ terhadap seseorang yang berhasil menciptakan sesuatu. Karena memang olimpiade fisika atau matematika lah, bisa ngitung cepat lah, semua harus di jenjang akademik. Padahal,orang baru bisa dibilang genius kalau memang sudah terbukti memproduksi ide berkali-kali, baik ide yang sukses ataupun yang nggak. Ada dua tipe genius. Yang pertama adalah orang-orang yang memang terlahir dengan bakat super istimewa dan berhasil menciptakan banyak hal di usianya yang muda. Misalnya saja Mozart, yang di usia mudanya bisa menciptakan komposisi-komposisi musik yang bisa dibilang ‘breakthrough’ pada masanya dan juga masih tak terkalahkan hingga saat ini. Tipe yang ke dua, yaitu tipe slow-starter creative. Misalnya, kisah seorang penulis best seller Amerika (maaf, aku lupa siapa namanya). Dia ingin sekali menjadi penulis hingga suatu waktu di usianya yang menginjak tiga puluhan, ia memutuskan untuk berhenti bekerja dan berkonsentrasi untuk menulis. Dari kurun waktu sekitar sepuluh tahun sejak ia berhenti bekerja, pada usia empat puluhan barulah ia berhasil menerbitkan bukunya yang menjadi best seller. Terbayang dalam kurun waktu tersebut sudah berapa banyak buku yang ia tulis namun gagal. Tapi, ia terus dan terus menulis tanpa henti. Amazingly, ternyata dia didukung oleh istrinya yang juga ikut menopang beban hidupnya dan mendukung apa yang menjadi impian suaminya. Untungnya, si istri dalam riwayat profesinya sudah masuk ke level top manaement,jadi saat si penulis memutuskan untuk berhenti kerja tentu aja dia nggak perlu lagi mikirin urusan perut. Ini berarti, seorang genius juga harus didukung oleh lingkungan sekitarnya.

Itulah sekelumit dari salah tulisan dalam buku Malcom Gladwell, What The Dog Saw.

Yang aku lihat dan perlu digarisbawahi adalah bukan masalah label geniusnya, tapi betapa pentingnya bagi seseorang untuk menemukan apa hal yang ia suka, dan apa hal yang benar-benar ia inginkan dalam hidupnya. Kalau memang enggak terlahir dengan intuisi seperti Mozart atau Steve Jobs, kesuksesan emang jadi Pe-Er buat orang-orang kaya kita. Eh, bukan kita deng. Aku, maksudnya hehehe. Let’s not talk about ‘Luck’ lah ya, … itu sifatnya intangible atau maya. Buat aku, keberuntungan adalah sebuah konsep. Mungkin soal keberuntungan ini bisa jadi topik di posting selanjutnya hehehe.

Well, buat kita yang merupakan produk-produk sekolah Orde Lama, mengenali potensi diri dan apa yang kita mau dalam hidup secara spesifik; tentu jadi hal yang berat. Karena kita nggak punya banyak kesempatan untuk memilih pelajaran yang kita suka, entah karena kita memang nggak punya banyak pilihan atau memang kita secara nggak sengaja membatasi pilihan karena kita terbiasa dengan pola belajar ‘disuapin’. Coba, berapa persen dari orang Indonesia yang ambil jurusan di sekolah karena gengsi dan bukan karena emang pengen masuk jurusan itu? Berapa persen dari lulusan universitas yang bekerja di bidangnya? Berapa persen orang Indonesia yang pernah magang lebih dari satu kali dalam hidupnya? Aku yakin, pasti jumlahnya kecil banget. Nggak usah jauh-jauh, aku juga salah satu produk yang disebutin di atas. nangis-nangis gila waktu ternyata harus masuk jurusan IPS, nggak tau bahwa di universitas itu ada yang namanya jurusan komunikasi yang lulusannya bisa kerja jadi jurnalis, public relation atau kerja di advertising. Nah, untungnya aku bekerja sesuai bidang kuliah itu dan ternyata aku suka.

Well, I'm not saying these all wrong. No judgementlah. Aku cuma wondering aja, sekian waktu yang terpakai di SMA dan kuliah (taro aja kira-kira 10 tahun)sebenernya bisa lebih efektif kalau aja kita tau apa yang kita mau. Seriously, ini yang aku takutin terjadi sama Titan.

Seperti orang-orang dewasa di sekitarnya, aku takut dia nggak tahu apa yang dia mau dalam hidupnya. Nggak tau punya potensi apa, nggak punya hobi, nggak tau mau ambil jurusan apa saat kuliah dan nggak punya target. Aku takut ‘Lihat aja nanti’ perlahan menjadi filosofi yang berurat-akar dalam dirinya.

Itulah kenapa sejak masih di dalam perut, aku selalu berdoa supaya Titan jadi anak yang berkepribadian kuat dan tahu apa yang dia inginkan dalam hidupnya. Buat aku, penting bagi anakku untuk mengenal dan memahami dirinya sendiri baru ia bisa mengenali dan memahami orang di sekeliling dan kondisi yang terjadi di sekelilingnya. Jika ada sebuah kejadian yang tidak mengenakkan yang seharusnya bisa dicegah (tentunya bencana alam dan kematian nggak termasuk di sini ya hahahaha), aku pengen dia mengerti bahwa dia tidak seharusnya menyalahkan keadaan; tapi bertanya dulu ke dalam diri apa kesalahan yang dia buat hingga semua ini terjadi.

Tapi seperti yang ditulis Gladwell, semua ini nggak bisa terjadi kalau lingkungan sekitarnya nggak mendukung. Sebenernya, cita-cita sebesar itu bisa diawali dengan langkah sederhana kok.

Dari kecil, anak-anak sebaiknya dibiasakan untuk dikasih pilihan dan dikasih kesempatan untuk memilih dan biarkan mereka meng-explore pilihannya. Misalnya, kalo mau pergi dikasih beberapa pilihan baju dan celana dan biarin mereka milih mau pakai yang mana.

Ke dua, biasakan mereka mengenal target atau tujuan. Misalnya mereka harus mandi. kalau si anak belum mau mandi solusinya ya bukan dimarahin tapi ditanya mau mandi kapan; apakah kalau udah selesai nonton film, apakah 2 menit lagi, atau apa? Yang penting targetnya jelas: bahwa mereka harus mandi sore,dan yang namanya mandi sore harus dilakukan sore hari, artinya sebelum matahari terbenam. Mau kapan tepatnya dan gimana cara mandinya, why don’t we let them figure out. Ini nih yang sering kita lupa, kalau tiap orang punya cara sendiri melakukan sesuatu. Dan ini yang biasanya kita lakukan: memaksa mereka untuk cepat-cepat mandi sore, supaya urusan kita juga cepat selesai.

Yang ke tiga, adalah langkah sederhana yang bisa dilakukan saat belanja bareng si kecil ke supermarket. Daripada kita sibuk sama anak-anak yang pengen ini -itu atau justru nggak pengen apa-apa sama sekali (bisa jadi karena emang mereka nggak pengen apa-apa atau karena mereka nggak berinisiatif - so be careful), kita bisa lho ngasih mereka uang (tentu saja secukupnya) dan biarin mereka yang menentukan sendiri apa yang mau dibeli. Kalau mereka menuhin keranjangnya dengan berbagai macam barang, ya biarin aja. Sampai akhirnya mereka bayar di kasir ternyata uangnya kurang,nah kan mereka jadi belajar apa prioritas yang mereka butuhin.

Well, … aku tahu sih semua ini baru cita-cita dan aku juga masih berusaha untuk menerapkan semua ini. But seriously, I have enough seeing people around me who don’t know what they really want in their life. Therefore they do not passionate enough doing things. Trial error is good, tapi jangan terlalu lama baru sadar kalau yang dilakukan adalah salah. Namanya juga nyoba, ya nggak. Kalau nyoba ya jangan lama-lama dong.

So if you ask me what my biggest fears are, …yeah I know I have many big fears in my life,… but one of them is, if my son grows up clueless.

Friday, August 20, 2010

kapan nambah?


Makin ke sini, saat aku lagi barengan sama Titan makin banyak yang suka nanyain aku “Kapan nambah lagi? Udah gede tuh!” Selama ini, aku selalu bilang “Entar aja ah, mahal!” kataku sambil nyengir. Tidak sambil berlalu pergi, tapi seolah menunggu respon mereka. So far sih, kalau aku jawab gitu biasanya mereka cuma diam dan senyum-senyum aja. Gak tau karena mereka somehow agree atau dalam hati ngetawain jawaban aku.
Well, apapun itu; semua orang kan punya pilihan dan rencana hidup masing-masing kan ya. Tapi alasan ‘mahal’ itu bukan cuma berlaku untuk masalah uang lho. Itu iya, for sure. Tapi itu mah bisa kelihatan wujudnya. Tapi gimana dengan mahalnya rasa yang harus dihadapi? Mahalnya rasa ups and down selama hamil, dan buat aku adalah juga rasa ups and downs saat persiapan untuk hamil dan program untuk hamil serta selama hamil. Obat yang musti ditelen selama hamil, suntik, itu sih nggak seberapa. Tapi deg-degan takut kenapa-kenapa itu yang hanya bisa terbayar saat melihat si adik bayi lahir sehat wal afiat.
Belum lagi, mahal waktu. Masalah waktu tidur yang terganggu karena musti bangun malam sih udah biasa. Baik karena terbiasa lembur, side job tengah malam atau karena nggak bisa tidur. Tapi waktu untuk barengan sama si kecil dan memperhatikannya secara penuh, itu yang justru lebih mahal. Aku nggak kebayang kalau kalau waktuku selama week end habis untuk nyuapin tiga orang anak yang susah diatur dan lari sana-sini. Haaaa, … mungkin bisa mati berdiri aku hahaha *L.E.B.A.Y
Tapi bener deh, coba kalau aku punya anak lebih dari satu sekarang ini. Mungkin aku nggak akan sempat bikin blog untuk Titan, meng-update Facebooknya Titan, bikin scrap book nya dia sejak lahir sampai sekarang, ngumpulin gambar-gambarnya dia dan ditempel di dinding dengan rapi. Hal ini aku bisa bangga deh, nggak banyak ibu yang bisa bikin blog untuk anaknya dan rajin meng-update he he he. Dan salah satu yang terpenting juga, mungkin akan sangat mahal buat aku untuk tetap bisa ngeblog, mandi lama-lama siraman air dingin sekedar tidur-tiduran di sofa dengerin musik tanpa melakukan apa-apa, atau melakukan kegiatan Me – Time lainnya.
But most of all, I think one Titan is enuff for me, at least for now. Dan aku justru lagi senang-senangnya menikmati perkembangan Titan yang mulai masuk ke perkembangan emosional. Ngeliat yang sudah lancar bicara trus bisa diajak ngobrol. Memperhatikan dia kalo lagi ngambek. Terharu biru kalau sebelum tidur dia ngelus-ngelus rambut aku atau sekedar nyabunin punggung. So yes, … I think one is enough. Kalaupun mau nambah, mungkin nanti. Nanti nanti nanti … enggak tahu kapan :)

Friday, August 13, 2010

colors

You were born with beautiful eyes.
On the first days of your life, colors were so much simple.  
The pattern of your bed sheet, the lace of your blanket, the stripes on your playpen, everything came in black and white.
Till you got older, you grew bigger and taller,
And you started to know , blue was for boy, pink was for girl, duck is a yellow and so much more.

White is for good deeds, and black is for evil spirit.
You feel fine for those at first,
But then your brain started to question
… what about grey?

As days went by, 
You learnt grey is white with a little drop of black
Grey is white through a different lens
Grey is when black seemed so make your sense
Grey is human

Life and its color, don’t you love it?



Friday, August 06, 2010

In one of those days

Aku melangkah kecil tapi cepat secepat rintik-rintik air itu mengkerayapi jemari kaki. Membuatnya dingin dan kotor dengan cipratan air kubangan yang menghitam. Nggak papa, nanti begitu sampai langsung cuci kaki; kataku dalam hati sambil menatap jemari kakiku yang mulai memucat dan bertabur pasir kehitaman.

Aku mempercepat langkahku. Dingin, bukan apa-apa. Lalu aku keluarkan selendang lebar dari dalam tas dan kubalut tubuhku. Biar hangat. Dan saat itulah teman-teman kecilku bermain, berjumpalitan di sela-sela lipatan otakku.

Kamu tahu?
Nggak.
Kamu ingin tahu?
Mungkin.
Mungkin berarti kamu nggak terlalu yakin.
Karena kalau aku yakin, aku pasti tahu. Aku pasti tahu bahwa aku tidak ingin tahu. Bodoh, kamu!

Hahaha … aku tersenyum mendengar mereka bertengkar. Lalu aku menatap ke langit biru yang gelap di atasku. Eh, maaf. Tepatnya di atas rerimbunan pohon di atasku. Dan aku terus berjalan membiarkan tubuhku tercabik hujan yang merintik di pukul tujuh pada Jumat malam. Sempurna.

Lalu kulihat kilat petir dan rembulan di balik awan. Garis tidak selamanya lurus dan lingkaran tidak selamanya penuh. Ketidaksempurnaan yang menyempurnakan malam ini.

Tuesday, August 03, 2010

aku tunggu di mitaka

The 1st picture was me almost a year ago. Knelt down in front of a shop's display in Korea and craved for Totoro. I waited for almost an hour for the shop to open but they'd never showed up :(  But look what I got  on my desk today! A good-friend-of-mine-who's-more-like-a-brother, Ebet, granted my dreamy wish of Ghibli, from Ghibli Museum, Mitaka-Tokyo. It's Totoro! Then I texted him "Speechless. *Hug!"












Monday, August 02, 2010

Me

Hmmm, after some writings about my possible hero, my invisible spine, my  guy and my writings about you, I guess it is the time to write a little about me hehehe ....

Some people said I am a total dreamer, dreamer to the max! Well, what can I say, … because I am. I know and I admit it, that I am a dreamer.

College's subject introduced me with Freud. You might say I am a Freudian. I believe his theory on id, ego and superego and more over, I do believe in his book The Interpretation of Dream. Although Freud was hard to proved, and I am not a psychology student as well, but I feel that his theories are related to me, especially my dreams. Maybe that is why the science of dream is categorized as pseudoscience because no one can really interpret someone’s dream or how someone created a dream.

I do have troubles with dream since I was a little. This, I never talked about to my parents because I thought dreams are just dreams. Well, my mother often found me terrified or screaming out loud when I woke up, but yes ... we thought it was just nightmares. Everyone has nightmares, right? But then years passed by, the more I grow up the more I become even more sensitive of signs that are given to me, thru my dreams. And the more I am aware about my dream life, the harder for me to get a good sleep. Sometimes, I just hate to be a dreamer. But many times, it feels wonderful to actually see people I could not see in real life but I could meet them in my dreams, to know how they are doing, to sense what might happen, and on. Although, many times when I was feeling De Ja Vu, I sometimes could not differentiate whether it was my dream or my real experience.

Despite of the literal dreaming, I do feel my life is like a fairy tale. I remember when I was a kid and someone asked me “Where do you live?” And I said “Second star to the right with Peterpan and that is how you find me.” And when I walked home from school, I played pretend that I was lost somehow in a Hansel and Gretel forest, so I spread my bread crumbs along the way. And almost every night, I asked my father to tell me a story before bed. Yeah, many times they were just the same, lame story but I did not know why I asked for them more and more.

Sigh, … am I being so drama?

“Wake up, baby. Wake up!” That’s what my friend told me, one night. And yeah, I have been struggling to try. I understood that life is not a play ground and there are simple things that matters. I just can’t wait the perfect prince to pick me up and spread his robe for me to cross the puddle. That I have to calculate every single step I made. That the pondering time is over and I must wake up and I must be brave (Ah, … yet the word ‘brave’ itself sounds so fairy tale, uh?!).

Yes, and after having a deep conversation with a best friend; I drove home. And when I got home, I just realized that I had lost one of my shoes. My right-part-red-jelly-shoe, and I had no idea where I had lost it! Oh, someone had just told me to wake up and banished my fairy tale life away. But in contrast, I felt like Cinderella! 
Sigh, ... maybe real life is not so work for me after all, so I should get back to my dreamy life again and just embrace it.

*sitting gracefully and wait for the prince to return my jelly shoe :p

Let's cut the crap from the question of Which Mom Are You?

A few years back, social media was being fussy about working mom versus stay at home home. What a nonsense brag! Since I went through ...