Skip to main content

Kabut kalut

Perempuan itu bersidekap, memeluk erat lututnya di depan perapian. Pandangan di keping jendela di belakangnya mengabur terhalang tirai kabut yang menggelayut. Tubuhnya begitu dekat dengan perapian. Mencari hangat. Begitu dekat hingga lidah-lidah api itu hampir menjilat. Ia menunduk dalam-dalam dan mengayunkankan tubuhnya. Ke depan lalu ke belakang. Terus dan terus, seperti ayunan pikiran-pikiran yang tak rela berhenti bermain di kepalanya.

Seprai belacu putih yang menutupi tubuhnya pun luruh mempeloroti punggungnya. Punggung yang kekar, dengan buku-buku tulang tengkuk yang bersembulan. Benjol seperti bayang rembulan di perempat bulan. Dan tersingkaplah pundaknya yang lebar, tempat bersandarnya lelaki-lelaki pelancong yang tak mengerti arah pulang. Lelaki-lelaki renta semangat dan rentan angin malam yang acapkali menerpa di waktu malam.

Dingin. Tubuhnya mengisut seiring angin malam yang tak ampun menghantam tubuhnya. Darah beku sebeku hati terperangkap di dalam pembuluh-pembuluh yang tak lagi lentur. Lidahnya kaku. Bibirnya kelu hingga tak mampu lagi menyecap hangatnya liur lelaki yang tak henti menciumi bibirnya. Lalu pundaknya. Lalu punggungnya.

Menerawang, perempuan itu bertanya lirih. “Apa yang sebenarnya sedang terjadi?”

Belum sempat lelaki itu menjawab, perempuan itu menyambung kata-katanya, “… diantara kita?”

Dan lelaki itu menghela nafas panjang dan menyandarkan dagunya di bahu jenjang perempuan itu dan mempererat pelukannya. Matanya menerobos ke sela-sela lidah api yang menjilat ganas. Lidah-lidah api yang menunggunya di ujung kehidupan. Yang akan memanggangnya hidup-hidup sampai ia mati lalu hidup lagi. Dan mati lagi. Matang bersaus dosa.

Seketika mata lelaki itu mencembung, dan lunturlah air matanya. Terseok-seok di pipinya, menghapus semua nafsunya. Dan saat itu, luruhlah tirai-tirai di sekeliling berganti dengan kobaran api yang menggelora menari-nari dan perlahan menjilati tubuhnya.

“Ampun, Tuhan.” Isak dia sambil berbisik lirih.

Sementar itu, si perempuan terdiam. Tak lama, menjelmalah lelaki di hadapannya menjadi seorang anak laki-laki yang menunduk ketakutan. Wajahnya pias. Rambutnya kusut. Matanya yang bulat dan bening berteriak betapa takutnya ia akan apa yang telah dilakukannya. Seperti pencuri tak siap dihukum mati. Mulutnya menganga dan ia terisak tanpa suara. Habis ditelan dosa.

Perempuan itu, dengan hati beku namun tubuhnya penuh dengan kehangatan. Ia beringsut menghampiri anak lelaki di hadapannya. Memegang dagunya dan menatap matanya. Mata mereka pun kini beradu. Saling bercermin di beningnya bola mata yang basah. Menatap dalam-dalam hingga tenggelam. Jauh ke dalam. Sampai kaki mereka tak mampu lagi meliar mencari pijak. Lelah. Pasrah. Menyerah. Dan saat itulah, mereka berbagi nafas yang tersisa.

Tiba-tiba perempuan dingin itu memecah kebekuannya sendiri. Dengan lembut ia berkata, “Kita hanya jatuh cinta. Begitu sederhana.” Lalu dipeluknya si anak sambil terus mengayun. Ke depan lalu ke belakang. Lama-kelamaan lidah-lidah api di perapian itu pun menjelma menjadi sulur-sulur cantik yang menggelepar, lalu pecah menjadi ribuan kupu-kupu. Terbang ke luar jendela melalui celah kecil di dinding yang tak kasat mata.

“Cinta, akan selalu menemukan jalannya. Kalau memang kamu percaya. Dan kalau memang itu betul-betul cinta.” Katanya.

Anak kecil itu mendongak dan hendak menjawab. Tapi segera perempuan itu mendekapnya hangat dan menutup bibirnya dengan jarinya. “Psssst … tidak usah berkata apa-apa. Setiap jengkal dinding ini sudah terlalu sesak dengan guratan rasa dan kata yang pernah kita pahatkan. Kasihan, jangan lagi bebankan ia dengan asa. Sudah. Cukup”

“Tapi ….” Suara anak itu tercekat.

“Aku tahu.” Kata si perempuan memotong kata-kata anak lelaki. “Kamu takut? Aku juga. Tapi kamu harus tahu, di setiap rasa takut hadir sebuah harapan.” Kata perempuan itu sambil mengangkat tangannya ke hadapan si anak lelaki. Dan seekor kupu-kupu putih hinggap di jari tangannya.

“Itulah kenapa kita masih di sini.” Katanya seraya membelai sayap si kupu-kupu.

©www.wulliewullie.blogspot.com

Comments

  1. The night is darkest before the dawn.
    Have a nice journey :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Life. Just like what I wanted.

Sounds so snobbish ya, saying life is just like what I wanted. But then I realized, semua itu karena emang aku enggak pengen apa-apa. Sekarang juga (ternyata) masih begitu. Dulu emang I treat my life like a blue print. Things to do piling up my list and my aims were to accomplish them. Alhamdulillah, semua tercapai. Tapi kemudian seperti ada titik tolak dalam hidup yang bikin  berhenti ingin terlalu banyak dari hidup. Entah karena merasa udah cukup banyak pencapaian pribadi baik yang bagus atau yang buruk, entah karena pernah kecewa berat sama yang namanya manusia atau karena alasan klise yang digadang-gadang semua manusia: anak.

Sekarang ini, lebih banyak menyambut apa yang datang ke dalam hidup. Termasuk, kembali ke agency lagi. Having thought that I am not some kind of 'Man in a mission' kind of person. I am just an 'I will do my best' of what comes in front of me kind of person.

Gini ceritanya.

Tiga belas bulan yang lalu, saya memutuskan untuk kembali bekerja setel…

love is love. marriage is another thing.

of all the things I ever wondered, ... I think I never wonder whom my kids will be married to. or to picture myself holding grand babies. not just a not yet, I think it is simply too hard to bear and too absurd to think of. but then I promise myself. I promise I will not ever push titan and luna to get married or even if they are married; I will not ask them when to have kids.

many times I wondered that marriage is overrated. and the only reason to get married is not love, but to realise life is too hard to bear when you are all alone. because, however, marriage is a conditional love. hubby once said, marriage is not all fancy and glitter. the lowest it can get is, to keep functioning and it will survive. how both parties can be functional one to another, is another story.

to ariawan, a guy of mine,
the one who always wake me up from my princessy dreams. love you.



Let's cut the crap from the question of Which Mom Are You?

A few years back, social media was being fussy about working mom versus stay at home home. What a nonsense brag! Since I went through both and also had a chance of being a working-from-home mom, it is even more ridiculous for me. Only stupid have a time discussing it and to elaborate on their social media status. Whoever we are, what kind of mom we are, what matters most is how we can make our life productive and progressing. Every single day.

Different mom has different ways of being productive. Some goes to work. Some clean up and cook for the family. Some works at home by selling stuffs online or being a freelancer. Productive means to produce something. Be it money, the foods, you name them all. But the question is, is productive enough? How about having a progressing life? Not as the wife of Mr. Blabla or as the mom of kid Zubidudamdam. But us, as a person. Me, as Wury; a 38 years old woman and how far I have made progress in  my life.

BUT. Let alone of being progressive, ... ar…