Sunday, January 31, 2010

aku

aku ingin menjadi debu
yang melayang di udara dan menyatu dengan bintang di langit biru
sehingga saat kamu merindu, kamu hanya perlu memegang nadimu dan melihat kerlipku bersama dengan kerlip ribuan bintang di langit yang membentang.
dan aku akan datang.

untuk titan, aku mencintaimu dengan segenap hidupku. juga matiku.
23:30

Thursday, January 14, 2010

when my alter ego speaks upon me.










She says:

"It is okay.

When you do not know what is happening, when you do not know what to do. And when you do know what to do, you know it is something hard to do. A never easy thing has bigger chance to fail, so it is okay for you to be afraid.
And it is okay to feel confuse, because you do not know whether the universe is doing something for you or not. You are very not sure, and that is why you keep questioning.

Do walk, do not run.

Stop running. Do walk. When you are running, your mind, physic and mental are working at the same time. Your body is breathing fast and heavy. Your mind is screaming and screaming only about the destination. You don’t care about beautiful trees and chirping birds surround you. You hardly see small stone that might stumbles you off. You might lose a chance to greet a stranger. You just do not care about what is happening inside your physical body. You ignore your heart beat and the bitter sweats that dehydrate you. You don’t care you got tired. You just want to go there. At the soonest! Then what? Your life does not stop at the point you thought it would. Because your life, feelings and your wandering mind can never stop. They would love, probably. But they can’t. So why bother to run? Or running away?
If things are meant to be yours, they would wait. If the feeling is so strong, it will find the way. No, not you who will find the way. But the feeling itself. But if you are not patient enough to wait, well it is perfectly fine too.

Let go.

Let go of what you want from others. Let go your expectation. Let go of what you want to have and once you ever had. Let go the feeling to control. Feel what you are feeling. Even if it doesn’t stay, be grateful of the moment you had and be open-hearted of not having it again right now. Real things are what you need to have, not the memories. Not the expectation.

Hold on.

To yourself. And get focus about yourself and people or things that make you happy. People or things that motivate you and give you positivity in life. But if you do not have them, … it is fine. You will find them somehow. Embrace the loneliness. The emptiness. The wrongs. Your limitations. Your nemesis deep in you. You have broken. You are nothing but merely pieces. Checkered by failures and stupidities. Blindness. There. Embrace yourself.

Stop.

Stop thinking about the second might come. Stop thinking about the definition of what you are feeling. They are just labels. You cannot think what you are feeling. Just … feel. And admit it.
Stop doing things you don’t want. Stop doing things you don’t know. But if you can’t stop, it’s okay. Do not forget to forgive yourself.

Stay.

Stay where ever you are now. Stay the feeling. And if you are not sure about it, let yourself taste the feeling but do not do anything about it until the right time come. And when is it? When you know. And you will.

Remember.
To do things for yourself. Not for others. Not for us. Be good and take care of yourself. So you can have back your flashy wings to fly."

©www.wulliewullie.blogspot.com

Thursday, January 07, 2010

Kabut kalut

Perempuan itu bersidekap, memeluk erat lututnya di depan perapian. Pandangan di keping jendela di belakangnya mengabur terhalang tirai kabut yang menggelayut. Tubuhnya begitu dekat dengan perapian. Mencari hangat. Begitu dekat hingga lidah-lidah api itu hampir menjilat. Ia menunduk dalam-dalam dan mengayunkankan tubuhnya. Ke depan lalu ke belakang. Terus dan terus, seperti ayunan pikiran-pikiran yang tak rela berhenti bermain di kepalanya.

Seprai belacu putih yang menutupi tubuhnya pun luruh mempeloroti punggungnya. Punggung yang kekar, dengan buku-buku tulang tengkuk yang bersembulan. Benjol seperti bayang rembulan di perempat bulan. Dan tersingkaplah pundaknya yang lebar, tempat bersandarnya lelaki-lelaki pelancong yang tak mengerti arah pulang. Lelaki-lelaki renta semangat dan rentan angin malam yang acapkali menerpa di waktu malam.

Dingin. Tubuhnya mengisut seiring angin malam yang tak ampun menghantam tubuhnya. Darah beku sebeku hati terperangkap di dalam pembuluh-pembuluh yang tak lagi lentur. Lidahnya kaku. Bibirnya kelu hingga tak mampu lagi menyecap hangatnya liur lelaki yang tak henti menciumi bibirnya. Lalu pundaknya. Lalu punggungnya.

Menerawang, perempuan itu bertanya lirih. “Apa yang sebenarnya sedang terjadi?”

Belum sempat lelaki itu menjawab, perempuan itu menyambung kata-katanya, “… diantara kita?”

Dan lelaki itu menghela nafas panjang dan menyandarkan dagunya di bahu jenjang perempuan itu dan mempererat pelukannya. Matanya menerobos ke sela-sela lidah api yang menjilat ganas. Lidah-lidah api yang menunggunya di ujung kehidupan. Yang akan memanggangnya hidup-hidup sampai ia mati lalu hidup lagi. Dan mati lagi. Matang bersaus dosa.

Seketika mata lelaki itu mencembung, dan lunturlah air matanya. Terseok-seok di pipinya, menghapus semua nafsunya. Dan saat itu, luruhlah tirai-tirai di sekeliling berganti dengan kobaran api yang menggelora menari-nari dan perlahan menjilati tubuhnya.

“Ampun, Tuhan.” Isak dia sambil berbisik lirih.

Sementar itu, si perempuan terdiam. Tak lama, menjelmalah lelaki di hadapannya menjadi seorang anak laki-laki yang menunduk ketakutan. Wajahnya pias. Rambutnya kusut. Matanya yang bulat dan bening berteriak betapa takutnya ia akan apa yang telah dilakukannya. Seperti pencuri tak siap dihukum mati. Mulutnya menganga dan ia terisak tanpa suara. Habis ditelan dosa.

Perempuan itu, dengan hati beku namun tubuhnya penuh dengan kehangatan. Ia beringsut menghampiri anak lelaki di hadapannya. Memegang dagunya dan menatap matanya. Mata mereka pun kini beradu. Saling bercermin di beningnya bola mata yang basah. Menatap dalam-dalam hingga tenggelam. Jauh ke dalam. Sampai kaki mereka tak mampu lagi meliar mencari pijak. Lelah. Pasrah. Menyerah. Dan saat itulah, mereka berbagi nafas yang tersisa.

Tiba-tiba perempuan dingin itu memecah kebekuannya sendiri. Dengan lembut ia berkata, “Kita hanya jatuh cinta. Begitu sederhana.” Lalu dipeluknya si anak sambil terus mengayun. Ke depan lalu ke belakang. Lama-kelamaan lidah-lidah api di perapian itu pun menjelma menjadi sulur-sulur cantik yang menggelepar, lalu pecah menjadi ribuan kupu-kupu. Terbang ke luar jendela melalui celah kecil di dinding yang tak kasat mata.

“Cinta, akan selalu menemukan jalannya. Kalau memang kamu percaya. Dan kalau memang itu betul-betul cinta.” Katanya.

Anak kecil itu mendongak dan hendak menjawab. Tapi segera perempuan itu mendekapnya hangat dan menutup bibirnya dengan jarinya. “Psssst … tidak usah berkata apa-apa. Setiap jengkal dinding ini sudah terlalu sesak dengan guratan rasa dan kata yang pernah kita pahatkan. Kasihan, jangan lagi bebankan ia dengan asa. Sudah. Cukup”

“Tapi ….” Suara anak itu tercekat.

“Aku tahu.” Kata si perempuan memotong kata-kata anak lelaki. “Kamu takut? Aku juga. Tapi kamu harus tahu, di setiap rasa takut hadir sebuah harapan.” Kata perempuan itu sambil mengangkat tangannya ke hadapan si anak lelaki. Dan seekor kupu-kupu putih hinggap di jari tangannya.

“Itulah kenapa kita masih di sini.” Katanya seraya membelai sayap si kupu-kupu.

©www.wulliewullie.blogspot.com

Tentang kamu di suatu pagi

Saat itu. Aku, aki dan dirimu; La Luna.  Naik motor di pagi hari, mengantarmu bersekolah untuk belajar dan berlari-lari.  Kamu di paling ...