Skip to main content

Posts

Showing posts from 2010

Tiga: aku. dia. bicara kamu

Aku. 
Jeda. 
Kamu
Bicara
Makna  
tanpa 
kata
Berkelebatan di binar matamu
Dia. di sana. cinta 
Dia. di sini. hampa 
Jatuh cinta dengan imajinasi? 
Ketika jauh berharga  
Ketika dekat ia sia-sia 
Ada apa-apa dengan jarak dan cinta
Jauh ingin 
Dekat dingin 
Lalu pergi bersama angin 
Di tengah ramai ia sepi 
Di dalam hening ia sorai 
Bila mengada ia terabai 
Diantara mimpi dan embun pagi  
Di antara baris dan jeda kata 
Dan aku memilih nyata 
Berjubah mimpi hingga ngembun pagi 
Berbalur baris berbau kata 
Aku khayal yang kasat mata
Kamu mimpi  
Aku harap 
Butuh durga untuk jadi nyata. Jadi kita. 
Aku kosong dalam pasu 
Kau peri pucat pasi 
Perlu mau untuk berisi, untuk berseri.
Kolaborasi aku dan dia, bicara kamu.

Malam sepi lain

Malam itu cair
Lelehkan beku benak
Liurkan kata di pangkal lidah yang batu

Malam itu hitam. Saat semua warna rasa berbaur tanpa ampun menjadi satu Malam hitam yang baurnya semua warna, sesak sekaligus ia kayaSepi. Bintang abadi yang redup menemani kian mengabut Bintang sepi hingga di tepi kabut terakhir, lesap menyisakan tiadaMalam itu kamu. Saat semua suara mereda dan cahaya pun meredup Satu alasan untuk tetap berdegup … dan degup ini sedang mengeja kamusepi. saat kamu tidak menemukan aku, tatap satu bintang dan peganglah nadimu Nafasku kan berdenyut bersamamu … sedang denyut berayun naik turun di ombak mimpiDengan aksara yang tidak kamu mengerti, itulah kenapa kamu tidak tidak mengerti bahwa aku menanti Engkau menanti. Aku hati-hati.
Baiklah kita memerhati
dari esok yang mulainya di detik ini
Tapi sekalipun ini mimpi, aku tahu di mana denyutku ingin berlabuh Di nyatamu Semoga kau temukan teluk yang teduh
sebuah kolaborasi mengisi sepi dengan Lily4R

gasing

sebuah gasing sedang berputar
tak kenal waktu, tak tentu arah, terus tetap berputar
untuk sesaat tak ingin mengenal kata berhenti jika hanya untuk jatuh dan menggelepar

perputaran yang terlalu cepat membuatnya pusing
membuatnya buta sekeliling
sekelebatan warna dan bentuk yang makin lama semakin saru
semua berkumpul tak tentu menjadi satu

satu titik
dimana semua hal haruslah tentang aku
satu titik tumpu
dimana semua kenyataan berkumpul menjadi satu tanya, kenapa harus aku

sang gasing yang berputar
menggesek dengan gusar
dan membuat benda sekelilingnya terlempar
terkapar

menunggu
satu putaran terakhir

December

I thought, to know what we really want is the hardest part.
In fact, the journey of making it come true, is even harder.
But at least you knew, you’ve made a start.

Welcome, December.

in one of those days

this is not one of those days, though.
these are some days on those days when word fails me.
oh, i hate it.
i hate it when i cannot write.
i hate it when alphabets love the space in between,
when the cursor rejects to move to the right,
when the pencil remain sharp.

oh, i really hate it.

sayapku

mencopot sayap dan menaruhnya dalam lemari
menunduk, lalu melihat sekeliling
menghorizontal
berputar
berjalan menyamping
berjinjit dan meniti tepian tak bersisi

rindu

kubisikkan setiap rasa ke dalam gelembungmu
rasa yang kelabu dalam gelembung bening yang terbang meninggi
tinggi sekali
mengunci
menggendut dan menggelayut
hingga akhirnya engkau membuncah di suatu sudut yang tak bertepi

Anton Jaya Widya

Yes, we are the red copywriters! But that is not what I want to share at the moment hehehe. Di sebelah kanan aku itu namanya Ako, yang di sebelah kiri … nah dia yang mau aku ceritain hari ini.
Namanya Anton Jaya Widya, dia dari Flores. Dia teman sekantor aku sekarang and yes he is an award winning copywriter. Badannya kurus karena udah ngegondol sekian metal award nasional dan sebuah bronze dari Cannes Advertising Festival hehehe. But then again, that is not what I want to tell you.
Anton itu senior aku waktu di UI. Dia anak Komunikasi ’95. Serius, dulu dia senior yang lumayan aku takutin. Ya iyalah, tampangnya begitu. Galak banget! Dan, … maaaaaan, he’s a smartarse! Nah, karena tampangnya ini nih dia itu punya hobi yang aneh banget. Sumpah, a.n.e.h banget. Hobinya itu, yaitu … ngerjain preman di bis atau di kereta! Maigat, … kurang aneh apa lagi, coba?
Suatu hari, dia lagi di bis dan saat itu jalanan macet berat akibat pendukung PSSI yang norak berdendang ria di tengah jalan dan meng…

Light

Surprise is the only thing life will surely gives you. Nice ones or bad ones. And since its a journey, sometimes the trip to the next stop takes longer And steeper than the others. No matter how hard you try go smooth, you might stumble at anytime. Just like Alice fell down the tunnel she'll never know where it is heading to.

The tunnel is dark, humid, scarry, and you would firstly try to find the button to turn the lights on but you could not found one. And you would realized that you need to move forward. You can't just wait, you need to move on because you don't know where the button is. So you slowly crawling down the tunnel and just keep going, no matter what.

You know there will be a light at the end of the tunnel. You believe it, with all your heart. But sometimes you just can't deny, that you are very afraid too.

” Am I gonna be just fine?"

Of course you know what the answer is. It is just you are on your lowest power to keep searching the lights. This …

sayap pengelana

Seorang pengelana menyisir setiap gerai di pasar kota. “Cari apa?” Tanya penjual. “Saya mencari sepasang sayap untuk menggantikan sayap saya yang ini.” Kata si pengelana sambil menunjukkan sepasang sayapnya yang tidak lagi berbentuk sayap. Tulang-tulangnya patah dan helaian bulu-bulunya rontok entah kemana. Warnanya pun tidak lagi putih. Kotor dan lusuh.
Untuk beberapa saat, si penjual termenung. Sambil memanggut, tak lama kemudian ia pun berkata “Saya punya sayap yang cocok untuk kamu.” Katanya sambil masuk ke dalam toko. Sewaktu sehirupan teh hangat, si penjual pun keluar dengan membawa sepasang sayap baja. “Ini sayap yang paling pas untuk kamu wahai perempuan pengembara. Setiap helainya terbuat dari baja. Kamu bisa terbang kemanapun kamu ingin pergi. Kuat menerjang hujan bahkan sebuah badai sekalipun. Untuk kamu yang berkeinginan besar, inilah sayap terbaik yang saya punya.”
Melihat sepasang sayap yang begitu berkilau dan tampak kuat, mata perempuan itu pun bersinar bahagia. “Dia ya…

home

Pantai ini, cuma lima belas menit dari rumah, … atau kira-kira satu jam setengah deh kalau naek sepeda. Agak lama ditempuh naik sepeda karena rute jalannya turun naik bukit untuk sampai ke pantai yang sangat landai ini. Namanya Pantai Pasir Padi. Pantainya luas sekali dan wilayah airnya pun landai. Udah jalan 200 meter ke arah laut, airnya baru sampai sebatas lutut. Pantai ini aman banget untuk bawa anak kecil, dan tentunya, dulu jadi tempat aku bawa lari-lari sore anjing dan monyet kecil aku. Ngebiarin dia berenang-berenang di laut dan lari kejar-kejaran.


Pangkal pinang adalah sebuah kota di sebuah pulau yang namanya Pulau Bangka. I just love this place. Really love it! Walau cuma satu setengah tahun tinggal di sana tapi rasanya seperti kampung halaman sendiri dan pengen tiap tahun bisa ke sana. Di sini aku mengenal dan berteman baik dengan etnis Cina, dan mereka sungguh berbeda dengan etnis Cina yang biasa aku temuin. Di sini, kita bisa hidup berdampingan tanpa tahu apa itu etnis. A…
Puasa dulu, pasti bantuin mamah bikin kue. Kebagian marut keju oles-oles kuning telur dan menghias bagian atas kue. Puasa sekarang, bayar orang untuk bikinin kue yang sama.

Puasa dulu, suka dimarain kalo nunggu-nunggu waktu buka di meja makan sambil ngeliatin makanan yang tertata di meja. Puasa sekarang, seringkali buka seadanya dan nggak terlalu napsu ngeliat makanan karena mumpung puasa sekalian pengen nurunin berat badan.

Puasa dulu, abis saur pasti maen badminton di luar sama temen-temen. Puasa sekarang, abis saur langsung bablas tidur karena justru biasanya baru bisa tidur setelah saur.

Puasa dulu, semangat milih baju lebaran sejak jauh-jauh hari. Puasa sekarang, liat-liat koleksi lama baju muslim trus disetrika pada saat malam takbiran buat dipake besok.

Puasa dulu, sibuk ngitung-ngitung bakalan dapet salam tempel berapa. Karena udah puasa sebulan, karena uang saku nggak kepake jajan, belom lagi dari om dan tante tersayang. Puasa sekarang sibuk ngitung zakat dan mau dikasih …

biggest fear

Kadang, kita seringkali dengan gampangnya ngasih label ‘genius’ terhadap seseorang yang berhasil menciptakan sesuatu. Karena memang olimpiade fisika atau matematika lah, bisa ngitung cepat lah, semua harus di jenjang akademik. Padahal,orang baru bisa dibilang genius kalau memang sudah terbukti memproduksi ide berkali-kali, baik ide yang sukses ataupun yang nggak. Ada dua tipe genius. Yang pertama adalah orang-orang yang memang terlahir dengan bakat super istimewa dan berhasil menciptakan banyak hal di usianya yang muda. Misalnya saja Mozart, yang di usia mudanya bisa menciptakan komposisi-komposisi musik yang bisa dibilang ‘breakthrough’ pada masanya dan juga masih tak terkalahkan hingga saat ini. Tipe yang ke dua, yaitu tipe slow-starter creative. Misalnya, kisah seorang penulis best seller Amerika (maaf, aku lupa siapa namanya). Dia ingin sekali menjadi penulis hingga suatu waktu di usianya yang menginjak tiga puluhan, ia memutuskan untuk berhenti bekerja dan berkonsentrasi untuk me…

kapan nambah?

Makin ke sini, saat aku lagi barengan sama Titan makin banyak yang suka nanyain aku “Kapan nambah lagi? Udah gede tuh!” Selama ini, aku selalu bilang “Entar aja ah, mahal!” kataku sambil nyengir. Tidak sambil berlalu pergi, tapi seolah menunggu respon mereka. So far sih, kalau aku jawab gitu biasanya mereka cuma diam dan senyum-senyum aja. Gak tau karena mereka somehow agree atau dalam hati ngetawain jawaban aku. Well, apapun itu; semua orang kan punya pilihan dan rencana hidup masing-masing kan ya. Tapi alasan ‘mahal’ itu bukan cuma berlaku untuk masalah uang lho. Itu iya, for sure. Tapi itu mah bisa kelihatan wujudnya. Tapi gimana dengan mahalnya rasa yang harus dihadapi? Mahalnya rasa ups and down selama hamil, dan buat aku adalah juga rasa ups and downs saat persiapan untuk hamil dan program untuk hamil serta selama hamil. Obat yang musti ditelen selama hamil, suntik, itu sih nggak seberapa. Tapi deg-degan takut kenapa-kenapa itu yang hanya bisa terbayar saat melihat si adik bayi …

colors

You were born with beautiful eyes.
On the first days of your life, colors were so much simple.  
The pattern of your bed sheet, the lace of your blanket, the stripes on your playpen, everything came in black and white.
Till you got older, you grew bigger and taller,
And you started to know , blue was for boy, pink was for girl, duck is a yellow and so much more.

White is for good deeds, and black is for evil spirit. You feel fine for those at first, But then your brain started to question … what about grey?
As days went by, 
You learnt grey is white with a little drop of black Grey is white through a different lens Grey is when black seemed so make your sense Grey is human
Life and its color, don’t you love it?


In one of those days

Aku melangkah kecil tapi cepat secepat rintik-rintik air itu mengkerayapi jemari kaki. Membuatnya dingin dan kotor dengan cipratan air kubangan yang menghitam. Nggak papa, nanti begitu sampai langsung cuci kaki; kataku dalam hati sambil menatap jemari kakiku yang mulai memucat dan bertabur pasir kehitaman.

Aku mempercepat langkahku. Dingin, bukan apa-apa. Lalu aku keluarkan selendang lebar dari dalam tas dan kubalut tubuhku. Biar hangat. Dan saat itulah teman-teman kecilku bermain, berjumpalitan di sela-sela lipatan otakku.

Kamu tahu?
Nggak.
Kamu ingin tahu?
Mungkin.
Mungkin berarti kamu nggak terlalu yakin.
Karena kalau aku yakin, aku pasti tahu. Aku pasti tahu bahwa aku tidak ingin tahu. Bodoh, kamu!

Hahaha … aku tersenyum mendengar mereka bertengkar. Lalu aku menatap ke langit biru yang gelap di atasku. Eh, maaf. Tepatnya di atas rerimbunan pohon di atasku. Dan aku terus berjalan membiarkan tubuhku tercabik hujan yang merintik di pukul tujuh pada Jumat malam. Sempurna.

Lalu kulihat…

aku tunggu di mitaka

The 1st picture was me almost a year ago. Knelt down in front of a shop's display in Korea and craved for Totoro. I waited for almost an hour for the shop to open but they'd never showed up :(  But look what I got  on my desk today! A good-friend-of-mine-who's-more-like-a-brother, Ebet, granted my dreamy wish of Ghibli, from Ghibli Museum, Mitaka-Tokyo. It's Totoro! Then I texted him "Speechless. *Hug!"











Me

Hmmm, after some writings about my possible hero, my invisible spine, my  guy and my writings about you, I guess it is the time to write a little about me hehehe ....

Some people said I am a total dreamer, dreamer to the max! Well, what can I say, … because I am. I know and I admit it, that I am a dreamer.

College's subject introduced me with Freud. You might say I am a Freudian. I believe his theory on id, ego and superego and more over, I do believe in his book The Interpretation of Dream. Although Freud was hard to proved, and I am not a psychology student as well, but I feel that his theories are related to me, especially my dreams. Maybe that is why the science of dream is categorized as pseudoscience because no one can really interpret someone’s dream or how someone created a dream.

I do have troubles with dream since I was a little. This, I never talked about to my parents because I thought dreams are just dreams. Well, my mother often found me terrified or screaming out…

Sudah siang ...

Bunda:
Titan, bangun yuk! Udah siang ini, sudah jam sembilan.

Titan (bangun dan terduduk diantara bantal dengan mata kriyep-kriyep):
Sudah siang ya, Bunda?

Bunda:
Iya, sudah siang. Enggak sekolah?

Titan:
Kalau gitu Titan tidur siang dulu ya (sambil narik selimut terus tidur lagi)

Bunda:
...

Sudah siang dan tidur siang

Bunda:
Titan, bangun yuk! Udah siang ini, sudah jam sembilan.

Titan (bangun dan terduduk diantara bantal dengan mata kriyep-kriyep):
Sudah siang ya, Bunda?

Bunda:
Iya, sudah siang.

Titan:
Kalau gitu Titan tidur siang dulu ya (sambil narik selimut terus tidur lagi)

Bunda:
...

Rintik

rintik rintik sibuk membisiki malam
menjalin titian antara langit kelam dan tanah yang menghitam
menjembatani malam yang mengelam
dengan dingin yang meniti halus
mengiris-iris malam yang begitu sepi menjadi satuan-satuan waktu yang tak bertepi

rintik yang meniti waktu
tak rela malam menutup mata
hingga bulan menjelma surya

Biar

Malam ini begitu sepi.
Pikirku.

Oh … tapi ternyata bukan.
Bukan, bukan semesta ini yang menyepi.
Tapi sepertinya diriku yang memilih untuk menutup diri.
Hingga telinga ini tak ingin lagi mendengar,
Mulut pun terkunci rapat tak mampu berujar,
Dan rasa pun mendingin, membeku dan beringsut kaku.
Tak ada kata-kata terjalin, hanya pikiran-pikiran yang meliar tak tentu arah tak jelas ujung dan pangkal.
Sekelebatan, lalu hilang di tikungan.
Kadang merayap pelan, apalagi saat pikirku singgah akan kamu.
Tapi kemudian ia memilih untuk cepat-cepat pergi karena sejenak memikirkan kamu meninggalkan bekas yang tak hilang berminggu-minggu. Berbulan-bulan. Bertahun-tahun. Aku merindukan kamu hingga dadaku sesak.
Itu yang aku tidak mau. Karena pelan-pelan segalanya tentang kamu hanya membunuhku, walau pikiranku selalu menipuku dengan rayuannya, … “Rasa itu hanya akan membuatmu lebih kuat. Bukan membunuhmu.”

Hah, … palsu.

Aku tidak ingin kuat. Aku ingin menjadi lemah. Aku ingin menjadi layu …

What I want to be when I grow up

I often have a quiet moment with Titan. One day, it happened on the sofa in the living room. We supposed to watch Handy Manny together, but somehow our mind was wandering off somewhere else. Just like another lame, ordinary, boring mom, I asked him:

"Titan mau jadi apa kalau sudah besar?"
"Jadi Titan."
"Bukan, maksudnya Titan mau jadi dokter, montir, koki, tukang mangga, atau apa nanti kalo udah besar?"
"Mau jadi Titan."


Then i fell into silence for a while. Then I said,
"Oh, ... maksudnya Titan mau jadi diri sendiri. Gitu ya?"
"Iya, Bunda."


Then I hugged him. Tight.

to be me

I often have a quiet moment with Titan. One day, it happened on the sofa in the living room. We supposed to watch Handy Manny together, but somehow our mind was wandering off somewhere else. Just like another lame, ordinary, boring mom, I asked him:

"Titan mau jadi apa kalau sudah besar?"
"Jadi Titan."
"Bukan, maksudnya Titan mau jadi dokter, montir, koki, tukang mangga, atau apa nanti kalo udah besar?"
"Mau jadi Titan."


Then i fell into silence for a while. Then I said,
"Oh, ... maksudnya Titan mau jadi diri sendiri. Gitu ya?"
"Iya, Bunda."


Then I hugged him. Tight.

My big little guy

This is my satellite, Malicca Titan Pranisha. His name is taken from one of Saturn’s satellite, Titan. Titan’s (I mean the satellite) material was almost like the earth, only without atmosphere. So, for his parents Titan (I mean my son) is a hope. Just like Titan (might be) could be the next earth, a place where people can live in, for his parents Titan is a hope. He is a second chance to make a better ‘us’. Titan was a second chance anyway. I lost my 6th weeks fetus in gestation about 8 months before Titan. I don’t know was it a she or a he, but my feeling told me that it was a she. I named her Marasthra, it means big star.
Malicca was taken from one of Asmaul Husna, it translates ‘The Almighty’.
Pranisha was a mix of his parent’s name (yeah, I know this is lame, but it is a pact amongst the family that we need to inherit the word ‘Pranis’ in each of our child’s name).
Titan was born after his 38 weeks and 4 days of gestation. I had a 26 hours contraction, managed myself to reach the ei…

Meet my guy!

This is my satellite, Malicca Titan Pranisha. His name is taken from one of Saturn’s satellite, Titan. Titan’s (I mean the satellite) material was almost like the earth, only without atmosphere. So, for his parents Titan (I mean my son) is a hope. Just like Titan (might be) could be the next earth, a place where people can live in, for his parents Titan is a hope. He is a second chance to make a better ‘us’. Titan was a second chance anyway. I lost my 6th weeks fetus in gestation about 8 months before Titan. I don’t know was it a she or a he, but my feeling told me that it was a she. I named her Marasthra, it means big star.
Malicca was taken from one of Asmaul Husna, it translates ‘The Almighty’.
Pranisha was a mix of his parent’s name (yeah, I know this is lame, but it is a pact amongst the family that we need to inherit the word ‘Pranis’ in each of our child’s name).
Titan was born after his 38 weeks and 4 days of gestation. I had a 26 hours contraction, managed myself…

Ingin

Aku ingin menjadi orang terakhir yang kamu lihat sebelum matamu terpejam
dan yang pertama saat matahari mengucap salam
serta diantaranya.

Ksatria Malam

Surya telah lama padam
Aku berlari menunggang malam
menembus gelap dan dingin yang menghujam
Mataku pun memejam
seketika semua menjadi terang tak lagi kelam

Bayangmulah jubahku
yang menemani deru nafasku yang menderu
akan rindu yang tersemat di dadaku

Berpeta bintang ku melesat terbang
menuju batas yang tak lagi sekedar bayang

Malam ini dan kamu

salam dari malam yang begitu terang
langit tak berbintang, tertutup bulan berpayung bayang
malam ini adalah milikmu, kataku berbisik ke telingamu
maka biarkan aku memuja dan menciumi ujung-ujung jemarimu
ruas demi ruas sampai aku puas
sampai kamu hilang ditelan batas

Terima kasih Tuhan atas gerhana bulan ke-2 tahun ini

Asa

Langit itu mendung tapi bukan berarti merundung
Berharap perlahan ia akan memucat dan kabut pun menggulung lalu membubung
Dan hari berselang malam
dengan seribu bintang yang berganti terang

Kenapa baru hari ini

Aku terus berjalan, kadang cepat kadang perlahan
Lalu sesekali aku berlari
Saat ini, pikirku kamu disini
Hingga suatu hari nanti kamu datang menghampiri
Dan jika saat itu tiba, tolong pastikan aku tidak bertanya
“Kenapa baru hari ini?”

Tapi aku tahu

I.

Aku tidak mengenal apa itu musim dingin
Aku tidak pernah melihat butiran salju yang begitu lembut melayang di udara dan terjun perlahan menyapu ujung-ujung bulu mataku
Kukuku tidak pernah membiru
dan jemariku tak pernah bergetar karena rasa menggigil

          Tapi aku tahu bagaimana rasanya menjadi beku karena kamu

Kamu hadir di sisi tanpa bicara sepatah kata
Menggerogoti menit demi menit
yang terasa seperti musim dingin seribu tahun yang menggigit


II.

Aku tidak pernah berjudi
Aku tidak tahu bagaimana rasanya hati berkejat, bergetar dan menggelepar
saat dadu dilempar dan berputar

          Tapi aku tahu bagaimana rasa sesaknya dada
          saat kotak di hadapanku menyapa

Tak ada probabilita
Karena permukaannya selalu sama
Dan setiap sudutnya membuatku bahagia
Rintik yang menggantung dan sepi yang menggulung.

Baby I'm cold

Baby, I’m cold.

The wind suffocated me through my very bone and took my crystallized soul
I am lost in the white winterland
I do not know where I stand
           How can you run to stand still?

Baby, I’m cold.

The music slowly faded out and I could dance no more
I’d lost my Manolo and stood in barefoot
Stepped on the coldest stone with the whole nerves frozen
           How can you talk without a sound?
          How can you scream without a raising voice?
          How can you roar without sorrow?

Baby, I’m cold.

sent!

sending my dreams in one click away
to let them fly and find their own destiny
let them burn in sun ray
jabbed with the sharpest crystal rain
or
simply survive and float in thin air.

Tarian Malam

Aku hitung domba-domba di langit malam, hingga akhirnya mataku pun terpejam. Dan saat itulah gerigi pemutar hari perlahan-lahan berhenti. Sangat perlahan, hingga nafasku pun tertahan. Lalu aku berjingkat pelan.
Tiba-tiba, rintik hujan di luar seketika membisu.
Kusibak tirai di jendela, tampak langit yang begitu kelam menaung malam. Bayang hitam yang selalu mengikuti, entah kemana mereka pergi. Lalu aku bertelanjang kaki, menjejak bumi. Menembus kristal air yang menggantung di udara, suaranya berdentingan jatuh ke tanah membentuk irama. Lalu ku lari secepat angin yang berbisik di sela-sela. Aku berputar, berjingkat dan melompat seperti balerina.
Lalu tibalah aku di sana.