Friday, October 16, 2009

Layang. Terbang. Pulang.

Akulah sang layang. Merentang, membentang, menari-nari di angkasa; gemulai mengikuti kemana angin bertiup. Berteman langit dan pepohonan, berpayung pelangi, bermata embun pagi. Menyapa burung, bernafas debu, telingaku meliar mendengarkan setiap bisikan.

Aku menatap ke kejauhan. Melampaui pandanganmu.

Ada jingga yang menyapaku di penghujung hari. Seraya melambaikan tangannya, ia berkata “Sampai Jumpa!” Dan aku pun tersenyum. “Aku tidak pernah pergi. Aku selalu di sini. Dan kutahu kamu akan datang lagi esok hari.” Kataku dalam hati.

Lalu aku dengarkan ceritamu, burung kecil bersayap mungil. Sayap yang mengantarmu menjelajah angkasa, meniti setiap lekuk angin dan menyecap gelombang dengan ujung jemari kaki.

Dan aku melihat batas biru diantara langit dan pelupuk mataku. Menggelegak, melambai-lambai memanggilku dari jauh. Aku membalas lambaiannya. Aku di sini. Kamu di sana. Ada antara disela-sela. Kamu terlihat begitu damai, tapi aku tidak pernah tahu betapa dalam kamu menyimpan. Aku hanya bisa melihat derumu dan mendengar desahmu. Dan bagiku, itu cukup.

Aku tidak sendiri di kegelapan. Ada jutaan bintang yang bernyanyi mengantarku ke alam mimpi. Dan embun pagi yang menyelimuti sekaligus menepis dahaga di setiap titiknya; membangunkanku di pagi hari.

Akulah sang layang. Dengan ribuan kilometer benang membentang. Rindu terbang.

Tuesday, October 13, 2009

istirahat

seperti marathon yang terus berlari tak terkendali mengejar tanpa henti berhari-hari menyisakan gelembung kantuk di bawah mata dan kemerahan amarah serta setetes lelah yang terus menguntit kemanapun aku pergi tanpa tega membiarkan semuanya berhenti

apa sih mau kamu tanyaku dalam hati dan kutahu kamu tidak akan pernah mau menjawab selain membuntuti langkah dan deru nafasku kemarin, hari ini, dan mungkin esok hari saat mataku tak ingin lagi berteman dengan cahaya

dini hari ini aku turuti maumu untuk istirahat dari lelahnya tidur tanpa tahu apa yang harus aku rasa pikir laku selain sebentuk kosong yang membingungkan dan kusingkap selimut tanda tanya menggantikannya dengan secangkir susu hangat

untuk pertama kali dalam hidup kurindukan mimpi mimpiku


... yang terburuk sekalipun.

Sunday, October 11, 2009

sore yang indah

Mereka duduk di beranda. Dengan sebatang rokok di tangan masing – masing. Bara merahnya perlahan melahap puntung tanpa bantuan hisapan. Tak pernah salah satu dari mereka bisa menerka, waktu yang berserak terkumpul menjadi sebuah rasa tanpa disengaja.

Di sebuah sore yang indah.

Di sebuah kafetaria, dia duduk sendiri. Menikmati setiap detik yang bergulir. Tanpa lagi memikirkan kemarin dan hari esok. Bahkan tak ada sisa tadi pagi. Yang ada hanya saat ini, pertama kali dalam hidupnya menjadi sahabat bagi dirinya sendiri.

Di sebuah sore yang indah.

Seorang laki-laki menggelendot manja di pundak seorang perempuan, sibuk menghirup aroma kuduknya. Perlahan tangannya bergerak ke depan, memeluk perempuan itu. Dia tak ingin berkedip, supaya tak akan lepas pandangan darinya. Ingin menikmati setiap sepersekian detik yang tersisa, dia tidak tahu perempuan di depannya berderai air mata tanpa suara. Apa yang selalu diinginkannya kini hadir di depan mata. Tapi bukan untuk waktu yang lama. Dan tak akan jadi miliknya.

Di sebuah sore yang indah.

Satu orang telah berhasil mengerti apa artinya cinta. Saat dia membuka dirinya untuk menjadi sakit dan terpuruk dengan penghianatan orang yang dia percaya.

Di sebuah sore yang indah.

Seorang laki-laki duduk sambil membaca buku. Halaman demi halaman yang membalik dan aksara yang dilafalkannya dalam hati, tak ada yang menempel karena kosongnya hati. Dia tidak percaya mimpi. Dia tidak mengenal fiksi. Tapi tak pernah dia kehilangan harapan akan datangnya sebuah sore yang indah.

Seperti hari ini.

Monday, October 05, 2009

mencoba

ada kalanya dimana kita memang harus terjatuh dan terjatuh lagi
bukan karena bodoh
bukan karena kita nggak belajar dari kesalahan
tapi karena terkadang kita butuh menguji batas kemampuan

untuk tahu.
hanya itu.

apakah setiap rasa
masih terasa sama
akan tetap sama
atau semuanya mati tak bersisa

dan saat kamu menatapnya
tanpa ada definisi menyelip di setiap kedip
apakah itu menjadi isyarat
bahwa kita sebaiknya berhenti mencoba?
apakah saatnya berhenti menguji batas
karena kita sudah jauh melewati batas
dengan membawa hari esok
menjadi hari ini

Thursday, October 01, 2009

second chance

I had never imagined I would have ever wanted a child. So bad. To me marriage itself is a strange thing; let alone of having another bunch of little me or him in our life. But one day, in my life after marriage, I felt so lonely. I want to have a bump on my flat stomach.

There will come a moment when you realize that life is not only about yourself or the one you love. Not only about to get what you want and reducing what ifs from your brain. There will come a moment when you want to start giving. On the day you'll never know, it will just ... come.

And ever since, I recited “Yaa Mushawwir” after I pray. And sometimes, all day long.

To get what you want, is not easy. When you get it easy, consider it’s a temptation. But when you get it harder, consider it’s a reward. I’d never think The Almighty was too busy to hear my pray. He just wanted me to rethink how bad do I want that little bump that will cause me excess weight, stretch marks all over the place, hormonal yo-yo and more over, a lifetime commitment. No commitment takes your life but being a parent. There will always be ex-hubby/wife, ex-boy/girlfriends, but there will never be ex-child.

What made me want the little bump so bad?

Yes. I wanted a second chance. To make a better me. Better future. That’s why I named him Titan, a satellite of Saturn. It was made of the same material like the Earth, which I thought my one and only hope to live in. Titan is my second chance. And hopefully, our hope.


You can lose power. You can lose love. But you can not ever lose hope.

And there I was, hugging a little me in my arm with his bursting cry. For the first time, my tears and his became one. We cried in silence. I had never thought I could ever split myself in two. Share my oxygen, my heartbeat, he took away my calcium for his bone so I could have an osteoporosis someday in my old days. There flows my blood inside his veins and my breast milk sculpted in his bone.

And for this little bump, I have been very selfish. I have prayed for one specific thing all along: I hope I can always learn from him. And God really works in a mysterious way. My son is a little me. When I’m standing in front of my little man, it is like that I am standing in front of a gigantic mirror and see my reflection.

The way he nags, how he got mad, his mischief, his ignorant look, his testing the limit habits, his love for water; stars and the moon, the way he tells story, his expressive eyes, his spontaneous dance, ... we are just a perfect drama pair. Poor hubby for having them all :)

There was a time when he happily held my hand and dragged me to a corner of a Plaza where he saw gigantic tv screen. And he asked me to dance with him following the 3D midgets. And we just ... danced. Suddenly, my mind blasted to a night where I had coffee with someone and I spontaneously dragged him outside the cafe and asked him to hug me beneath the starry sky.

There was a time when I got angry. And I only looked into his eyes, sharply. But do you have an idea of how he reacted? He would only gave me a nasty grin combined with his cute smile, blinking eyes ... and kissed me on the lips. Sometimes with a hug, if did something veeery bad. At that time, my mind blasted. I was on my 6th grade, and dad is standing in front of me. Very mad. And all I did was, well... like always, just grinned and ask him in the end "Mau dibikinin lemon tea, Pap?"

Dear God,
You really work in a mysterious way. You want me to learn about myself by giving the second me. For you have given me a second chance to be a better me. And I am so grateful. Thank You.

(This is surely the most narcistic writing about me as a person, a wife, and obviously ... as a mother :) )

Let's cut the crap from the question of Which Mom Are You?

A few years back, social media was being fussy about working mom versus stay at home home. What a nonsense brag! Since I went through ...