Monday, September 28, 2009

Lentera Langit

Dulu, dulu sekali. Langit begitu terang benderang dengan kemilau bintang. Semua saling beradu jauh melemparkan cahayanya. Tidak, mereka tidak akan membutakanmu. Cahaya mereka begitu terang, namun juga begitu lembut. Cahaya gemintang itu akan terbias di bola mata mereka yang kamu sayang saat kamu memandangnya.

Di langit yang dulunya terang itulah duduk seorang peri di ujung biduk rembulan dengan cahayanya yang temaram. Sendirian dan kedinginan, ia memandang ke kejauhan. Di belakangnya, menggantunglah lentera-lentera langit malam yang biasa kamu sebut bintang. Dan peri dengan sayap kecil inilah yang menjaga agar lentera-lentera itu agar senantiasa bercahaya. Sayap kecilnya telah mengantarnya menjelajah angkasa selama jutaan tahun lamanya. Ia berkelana mencari bintang-bintang yang mulai temaram. Dan jari-jarinya yang mungil akan menggosok permukaan setiap bintang supaya kembali bercahaya. Dan ia akan mengecupnya, supaya apinya kembali terang. Seperti dulu.

Tiba – tiba sebuah lentera yang menggantung di atas peri itu bergetar hebat. Tanpa ragu-ragu, peri itu segera mengambil ancang-ancang dan siap terbang. Dibungkukannya tubuhnya dan kaki kirinya yang mungil pun maju, bersiap mengambil langkah seribu. Dan … hop! Ia pun terbang. Tapi telat. Lentera yang bergetar hebat itu terlanjur jatuh. Meninggalkan buntut panjang yang berwarna keperakan dan melintas di kegelapan. Dan peri itu hanya menatap diam.

Setiap anak manusia menangis, gugurlah satu bintang di angkasa. Karenanya, hilanglah satu cahaya yang menerangi wajah sang peri. Hanya kamu yang bisa mengembalikan kilau mereka. Melalui tawa dan hangatnya pelukmu.

Fur Titan.

rainbow

God arranged a little nice surprise. That satisfies my visions of you. With a sunny gold wallpaper and artificial chilly breeze, I look at you carefully. Those eyes I used to stare at every single day. So close that I could even count how much eye lashes had fallen off from your eyes. And you start talking things you have always told repeatedly. I forgot how much you have told me those stories. And I forget how much I have laughed.

Then it starts raining. The fragrant of the wet soil starts to tickle my nostrils and brings me to the old days of ours. We were just two little girls who hugged and quarreled at the same time. You shared your bread; I gave you my apple. We drank the same bottle and read the cloud. And when it rained, we would happily dance until the rainbow come. And we would stand under the rainbow that spread like angel's wing. In between the clouds. I took a brush, pick a color of the rainbow and gave it to you. You smiled, and started painting the sky.

And the rain stops. I know your rainbow is sitting in front of me. Yours. Not ours. I muffle my lingering thoughts by looking at my frozen bluish nail.

What’s with our rainbow? Don’t you like its color? Do you want a darker vermillion or rather a lighter blue? Need a little bit injection of cyan on the lime? I ask you in my heart.

Suddenly I feel the intense heat of the sun burning my skin. So I just look up and that is the time I see your rainbow, if I can say it is a rainbow. It is made of one tone of color, just like the color of ... yours! If only I could pick the rainbow’s ink and shoot it through my veins, maybe I would. So I can be the same color as you. But I would not do such a thing. Even if I have to lose you, I cannot lose myself.

Wednesday, September 16, 2009

tep

sambil melangkah dengan script-script radio di genggaman, aku memandangnya. tanpa sadar, aku melangkah ke arahnya. dan tiba-tiba ....

"boleh meluk nggak? baru sadar kamu akan pergi."

dan dia hanya tersenyum dan memelukku kembali.
"aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa..." bisiknya datar.

sementara itu, suaraku mulai bergetar.
"saat hari itu datang, aku harap kamu mengerti kenapa aku memilih pulang"

dia tetap datar, dan meredalah getarku.
mungkin dia tidak peduli. mungkin dia tak mampu berekspresi.

tapi aku senang. aku lega.
sampai bertemu di suatu sore.

:)

Tuesday, September 15, 2009

diantara, dan yang menyertainya.

tanpa terasa. karena terbiasa, semakin hari jarak itu semakin dekat. dan karena terbiasa, tak lagi terindahkan apa yang ada di sekeliling kala perjalanan menuju ke sana. tak ada yang tak biasa, semua terlihat sama. sekarang, atau di hari-hari sebelumnya.

saat jarak menjadi begitu dekat, semua menjadi begitu kabur. seperti saat kamu memicingkan mata, maka tak terlihat lagi salur-salur bulu mata di sana. dan saat jarak menjadi begitu dekat, semua jadi begitu buram. semua menjadi satu pandang. tak ada lagi garis tegas. tak ada lagi bentuk yang jelas. ini menjadi itu. itu menjadi ini. aku menjadi kamu. kamu menjadi aku. aku kehilangan kamu. kamu kehilangan aku. aku kehilangan aku. kamu kehilangan kamu. aku tak lagi kenal kamu. kamu tak lagi kenal aku. kamu tak kenal kamu. dan aku, tak kenal aku.

karena jarak yang mendekati, tidaklah sendiri. ia datang bersama waktu. dan hanya waktulah yang tetap menjadi dirinya sendiri. ia menggilas apa yang ada di hadapan, karena ia harus terus berjalan. perlahan, tapi pasti. waktu telah melakukan pembunuhan. itulah mengapa tak ada lagi jarak diantara kita.

dan kamu meminta waktu?

ia selalu ada di sana, sayang. tanpa diminta ia selalu mengiringi kamu. begitu juga aku. tidak kurang. tidak lebih. dalam bentuknya yang konstan. tidak akan ia menunggumu. atau aku. dan tidak pula ia akan mengejar.

jika pertama kali rasanya begitu menyenangkan, kenapa sekarang rasa itu terlupakan?

waktu telah membunuh rasa. waktu telah membunuh jarak. waktu telah menghapus apa yang dulu kita ingat. dan waktu tidak akan menyembuhkan perasaan sakit yang ditimbulkan karenanya.

tapi waktu dapat menghidupkan kembali jarak yang hilang. atau mendekatkan yang membentang. hingga terbentuk cukup ruang. untuk kamu. untuk aku. untuk kita berkembang.

Thursday, September 10, 2009

pagi itu akhirnya datang juga

angin yang bertiup pelan disela kudukku malah membuatku terbangun, dan aku menatap ke kejauhan
membentanglah lautan biru yang luas berbatas pandang
tak ada fatamorgana
sebuah garis dengan jelas membelah samudra dan langit cantik di atasnya

baru saja, sang awan menumpahkan amarahnya
baru saja, langit menumpahkan tangisnya
angin pun tak kalah gaya, ia ikut mengacaukan segalanya
saling mengejar dan terus menyakiti
sampai akhirnya datanglah matahari

pagi yang indah itu akhirnya datang
dan laut selepas badai memang jauh lebih tenang

aku duduk sendiri
dulu, ada istana pasir di sini
namun sang ombak menjilatnya untuk yang kesekian kali
tanpa perlawanan,
saat ini aku hanya ingin menggenggam butiran yang tersisa
kan kupunguti satu per satu butiran yang menempel di telapak tangan
di sela kuku-kuku
yang berceceran di jalan
untuk kubawa pulang

tapi itu nanti

saat ini aku hanya ingin menikmati
membiarkan ombak-ombak kecil tertawa
membiarkan telingaku meliar
berserah pada angin yang mendesah

inilah titik yang pernah kutanya
titik yang memaksaku berhenti
untuk merasa sakitnya sakit
untuk aku bisa mengerti

dan itulah indahnya menjadi seorang manusia

titik

scenario

do you know when is the perfect timing to hurt someone?
it is when that someone is changing her / his life: simply because of you.

all you gotta do is, toss a little nasty thing, only a 'little' nasty please remember. and the explossion will be way out beyond of what you expected. you will twist the climax, put a bit more drama, and a sure thing; you might change the end of the story.

and good movie doesn't have to be a happy ending, rite?

Wednesday, September 09, 2009

kamu dan aku

dimana kamu?

hanya ada jawaban kesenyapan.

ya,
kamu tidak pernah terlahir untuk ini.
kamu tak pernah hadir menjadi saksi perselingkuhan mimpi dan embun pagi
kamu takut gelap.
kamu takut tentakel-tentakel malam yang siap menjerat
hingga bahkan kamu tak mampu lagi mengerjap.

tidak seperti aku
akulah malam, akulah durga, akulah sang memedi.
aku yang mengangkangi malam dengan perut buncit kekenyangan akibat tak habisnya menjilati asin tubuhku.
entah keringat, entah air mata.
apalah bedanya?

dimana kamu?

kamu lebih senang meringkuk dalam selimutmu.
berteman dengan malaikat dan bintang-bintang yang selalu menghiasi mimpimu.
dengan lantunan lantunan nina bobo yang lembut, yang membuat aku semaput.

sementara aku?
sedang asyik bergaul dengan buruknya nyata
berteman akrab dengan setan setan kecil yang tak hentinya membuat aku menari bertelanjang kaki

kita memang tidak sama
dan itulah sebabnya kenapa kita saling merindu

sayang, kita tidak pernah bertemu.

Monday, September 07, 2009

.

berharap aku bisa berhenti.
tanpa memikirkan satu hal pun.
tanpa memikirkan aku.
tanpa memikirkan dia.
tanpa memikirkan mereka.
aku ingin jadi ruang yang hampa.
aku ingin jadi benda yang tak berupa.
untuk sejenak saja.
aku ingin titikku.
aku ingin dia memaksaku berhenti:
berpikir.
bertanya.
berharap.
berkeinginan.
aku ingin titikku. .
aku ingin menjadi beku.
aku ingin menjadi kaku.
sejenak saja.

tapi tidak bisa.

karena aku ingin yang telah hilang diantara.

Tentang kamu di suatu pagi

Saat itu. Aku, aki dan dirimu; La Luna.  Naik motor di pagi hari, mengantarmu bersekolah untuk belajar dan berlari-lari.  Kamu di paling ...