Perempuan Sederhana

Dingin pagi itu menggigit. surya yang rabun ayam. Bulu kuduk segera berdiri menyambut tetes embun yang begitu murni. Kusibak jendela. Dan tertatih, perempuan tua itu melewati rumahku. Membawa cangkul, membawa arit dan sekantung karung beras kosong temuan dari tempat sampah. Tentu bukan bekas karung beras miliknya. Mana pernah punya?

...

Mata surya mulai terbuka. Semua denyut kehidupan mulai berdetak. Begitu pula denyut hidupku.

Dan perempuan itu kembali . Kini makin jelas rautnya. Gurat kehidupan menggelayuti matanya. Mengikis senyumannya. Dengan cangkul dan arit di tangan kanan. Dan setengah karung bunga mawar kuburan di kanannya. Hasil petikan di pagi buta. Kakinya yang titpis, lebar dan memekar, bertelanjang menjejak aspal yang mulai panas.

Di depan rumahnya menunggu anaknya. Nongkrong di warung sambil merokok dan minum kopi. ”Hari ini gue pengen makan kepiting, Mak!”

Perempuan itu diam. Diam sediam diamnya batu yang tetap diam terkikis air. Yang hanya diam dikerayapi lumut. Membisu di bawah telapak kaki anjing.

Lalu ia berdoa. Sebuah doa yang sederhana. Ia berdoa, agar banyak orang yang mati hari ini. Lebih banyak dari kemarin. Agar bunganya laku. Agar anaknya bisa makan kepiting.


January 29th 2009

Comments