Skip to main content

Tersesat

Aku tidak mengerti kenapa aku ada di sini.
Tiba-tiba aku hanya bisa terkaku. Semua di sekelilingku bergerak begitu cepat. Semua suara-suara di sekitarku berteriak hebat. Dimana aku? Kenapa aku di sini? Siapa kamu? Siapa dia? Apakah kamu sama denganku? Aku sibuk mencari jawaban-jawaban, sementara pertanyaan-pertanyaan tak habis-habis menderu. Sekencang angin yang bertiup ke arahku. Seerat jemariku berusaha berpegang.

Berpegang, … ya berpegang.
Tapi apa yang sedang aku pegang? Jemariku memekar. Tulang-tulang lunak yang mengubungkan ruas demi ruas jariku terasa begitu kaku. Seluruh permukaan tubuhku berkeringat. Aku tidak pernah berdiri di permukaan seperti ini. Kaku, keras, ... warnanya bening. Aku bisa melihat apa di balik permukaan ini. Tanah? Dedaunan? Tembok? ... setahuku, tidak seperti ini bentuknya. Air? Ya, beningnya seperti air. Tapi kenapa bentuknya keras? Bukankah air mengalir dan kita tidak akan pernah bisa berdiri di permukaannya? Aku tidak tahu banyak tentang diriku. Tapi aku tahu, pastinya aku bukan Yesus. Maka aku tak mungkin sedang berada di atas air.

Tiba-tiba , … tak ada lagi angin yang menderuku. Tak ada lagi getaran hebat di permukaan tempatku berjejak. Tiba-tiba semuanya berhenti. Aku menunggu sejenak. Dua jenak. Tiga jenak. Empat jenak. Sampai jantungku berhenti berdetak. Sesaat, tidak ada yang bergerak.

Kuberanikan diri untuk membuka mata.

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!”

Tiba-tiba kulihat sebuah mata yang begitu besaaaar dan berwarna merah. Ia menatap tajam ke arahku. Cahayanya berpendar, menusuk bola mataku. Aku segera memejamkan mata. Aku takut. Aku menunduk dalam-dalam. Siapakah kamu? Kenapa matamu besar dan berwarna merah seperti itu? Kamukah malaikat pencabut nyawa? Beginikah caramu memberitahu ajalku sudah tiba?

Sejenak kaki dan tanganku melemas. Aku menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Dan tak berapa lama, tiba-tiba aku merasa semuanya bergetar kembali. Angin keras menerpa tubuh dan wajahku kembali. Ah, … kakiku hampir tak menjejak!!! Setengah tubuhku terbang ke udara. Keringat mulai mengucur di sekujur tubuhku. Kini posisiku terbalik, kedua kakiku di udara, tangan dan kepalau bertahan di permukaan yang entah apa namanya. Kurentangkan jari-jariku selebar mungkin, dan kutekan ujung-ujung jari supaya angin tak meniupku. Aku belum ingin mati.

Dan di situlah aku melihat sesuatu di balik permukaan bening ini. Aku melihat mata itu lagi. Tapi kali ini ukurannya lebih kecil dan berwarna hitam. Sepasang jumlahnya. Hey, ... mata itu milik seorang perempuan dan ia sedang menunjuk-tunjukkan jarinya ke arahku. Di sampingnya ada seorang laki-laki. Perempuan itu terus menunjuk-tunjuk diriku, sambil mulutnya berkata-kata. Tapi aku tidak mengerti. Aku tidak mengerti bahasa manusia.
Dan sejak itu, perlahan angin-angin yang menderuku sirna. Mata-mata merah yang memandangku tak ada lagi saat kuberanikan diri untuk membuka mata. Aku hanya mendengar suara berdebam dan setelah itu ... hening.

Inikah kiamat?

Perlahan aku mulai merayap. Lalu kutemukan lembaran daun yang lebar di hadapanku. Kujajaki perlahan dan … hop! Aku berada di puncak dedaunan rimbun yang permukaanya tertutup air embun. Kujulurkan lidahku. Kurasakan gelembung-gelembung itu memecah dan membasahi tenggorokanku. Aku memang tak tahu banyak tentang diriku. Tapi aku tahu, aku sedang menemukan surgaku.


March 22nd, 2006

Comments

  1. assalamualaikum,
    kunjungan silaturahim... oh iya, skali lagi selamat jadi ibu...

    ReplyDelete
  2. hah, wury??
    hebat uey...

    ReplyDelete
  3. Bene:
    Wah, ... nggak jadi jadi Ibu Ben :) Not at this time :D Doain bisa cepet-cepet dapet lagi yah :)

    Oca:
    Hah, ... Oca??? Apanya, Caaa? :D

    ReplyDelete
  4. Anonymous20.7.06

    Greets to the webmaster of this wonderful site! Keep up the good work. Thanks.
    »

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Life. Just like what I wanted.

Sounds so snobbish ya, saying life is just like what I wanted. But then I realized, semua itu karena emang aku enggak pengen apa-apa. Sekarang juga (ternyata) masih begitu. Dulu emang I treat my life like a blue print. Things to do piling up my list and my aims were to accomplish them. Alhamdulillah, semua tercapai. Tapi kemudian seperti ada titik tolak dalam hidup yang bikin  berhenti ingin terlalu banyak dari hidup. Entah karena merasa udah cukup banyak pencapaian pribadi baik yang bagus atau yang buruk, entah karena pernah kecewa berat sama yang namanya manusia atau karena alasan klise yang digadang-gadang semua manusia: anak.

Sekarang ini, lebih banyak menyambut apa yang datang ke dalam hidup. Termasuk, kembali ke agency lagi. Having thought that I am not some kind of 'Man in a mission' kind of person. I am just an 'I will do my best' of what comes in front of me kind of person.

Gini ceritanya.

Tiga belas bulan yang lalu, saya memutuskan untuk kembali bekerja setel…

love is love. marriage is another thing.

of all the things I ever wondered, ... I think I never wonder whom my kids will be married to. or to picture myself holding grand babies. not just a not yet, I think it is simply too hard to bear and too absurd to think of. but then I promise myself. I promise I will not ever push titan and luna to get married or even if they are married; I will not ask them when to have kids.

many times I wondered that marriage is overrated. and the only reason to get married is not love, but to realise life is too hard to bear when you are all alone. because, however, marriage is a conditional love. hubby once said, marriage is not all fancy and glitter. the lowest it can get is, to keep functioning and it will survive. how both parties can be functional one to another, is another story.

to ariawan, a guy of mine,
the one who always wake me up from my princessy dreams. love you.



Let's cut the crap from the question of Which Mom Are You?

A few years back, social media was being fussy about working mom versus stay at home home. What a nonsense brag! Since I went through both and also had a chance of being a working-from-home mom, it is even more ridiculous for me. Only stupid have a time discussing it and to elaborate on their social media status. Whoever we are, what kind of mom we are, what matters most is how we can make our life productive and progressing. Every single day.

Different mom has different ways of being productive. Some goes to work. Some clean up and cook for the family. Some works at home by selling stuffs online or being a freelancer. Productive means to produce something. Be it money, the foods, you name them all. But the question is, is productive enough? How about having a progressing life? Not as the wife of Mr. Blabla or as the mom of kid Zubidudamdam. But us, as a person. Me, as Wury; a 38 years old woman and how far I have made progress in  my life.

BUT. Let alone of being progressive, ... ar…