Monday, March 27, 2006

Tersesat

Aku tidak mengerti kenapa aku ada di sini.
Tiba-tiba aku hanya bisa terkaku. Semua di sekelilingku bergerak begitu cepat. Semua suara-suara di sekitarku berteriak hebat. Dimana aku? Kenapa aku di sini? Siapa kamu? Siapa dia? Apakah kamu sama denganku? Aku sibuk mencari jawaban-jawaban, sementara pertanyaan-pertanyaan tak habis-habis menderu. Sekencang angin yang bertiup ke arahku. Seerat jemariku berusaha berpegang.

Berpegang, … ya berpegang.
Tapi apa yang sedang aku pegang? Jemariku memekar. Tulang-tulang lunak yang mengubungkan ruas demi ruas jariku terasa begitu kaku. Seluruh permukaan tubuhku berkeringat. Aku tidak pernah berdiri di permukaan seperti ini. Kaku, keras, ... warnanya bening. Aku bisa melihat apa di balik permukaan ini. Tanah? Dedaunan? Tembok? ... setahuku, tidak seperti ini bentuknya. Air? Ya, beningnya seperti air. Tapi kenapa bentuknya keras? Bukankah air mengalir dan kita tidak akan pernah bisa berdiri di permukaannya? Aku tidak tahu banyak tentang diriku. Tapi aku tahu, pastinya aku bukan Yesus. Maka aku tak mungkin sedang berada di atas air.

Tiba-tiba , … tak ada lagi angin yang menderuku. Tak ada lagi getaran hebat di permukaan tempatku berjejak. Tiba-tiba semuanya berhenti. Aku menunggu sejenak. Dua jenak. Tiga jenak. Empat jenak. Sampai jantungku berhenti berdetak. Sesaat, tidak ada yang bergerak.

Kuberanikan diri untuk membuka mata.

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!”

Tiba-tiba kulihat sebuah mata yang begitu besaaaar dan berwarna merah. Ia menatap tajam ke arahku. Cahayanya berpendar, menusuk bola mataku. Aku segera memejamkan mata. Aku takut. Aku menunduk dalam-dalam. Siapakah kamu? Kenapa matamu besar dan berwarna merah seperti itu? Kamukah malaikat pencabut nyawa? Beginikah caramu memberitahu ajalku sudah tiba?

Sejenak kaki dan tanganku melemas. Aku menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Dan tak berapa lama, tiba-tiba aku merasa semuanya bergetar kembali. Angin keras menerpa tubuh dan wajahku kembali. Ah, … kakiku hampir tak menjejak!!! Setengah tubuhku terbang ke udara. Keringat mulai mengucur di sekujur tubuhku. Kini posisiku terbalik, kedua kakiku di udara, tangan dan kepalau bertahan di permukaan yang entah apa namanya. Kurentangkan jari-jariku selebar mungkin, dan kutekan ujung-ujung jari supaya angin tak meniupku. Aku belum ingin mati.

Dan di situlah aku melihat sesuatu di balik permukaan bening ini. Aku melihat mata itu lagi. Tapi kali ini ukurannya lebih kecil dan berwarna hitam. Sepasang jumlahnya. Hey, ... mata itu milik seorang perempuan dan ia sedang menunjuk-tunjukkan jarinya ke arahku. Di sampingnya ada seorang laki-laki. Perempuan itu terus menunjuk-tunjuk diriku, sambil mulutnya berkata-kata. Tapi aku tidak mengerti. Aku tidak mengerti bahasa manusia.
Dan sejak itu, perlahan angin-angin yang menderuku sirna. Mata-mata merah yang memandangku tak ada lagi saat kuberanikan diri untuk membuka mata. Aku hanya mendengar suara berdebam dan setelah itu ... hening.

Inikah kiamat?

Perlahan aku mulai merayap. Lalu kutemukan lembaran daun yang lebar di hadapanku. Kujajaki perlahan dan … hop! Aku berada di puncak dedaunan rimbun yang permukaanya tertutup air embun. Kujulurkan lidahku. Kurasakan gelembung-gelembung itu memecah dan membasahi tenggorokanku. Aku memang tak tahu banyak tentang diriku. Tapi aku tahu, aku sedang menemukan surgaku.


March 22nd, 2006

Tentang kamu di suatu pagi

Saat itu. Aku, aki dan dirimu; La Luna.  Naik motor di pagi hari, mengantarmu bersekolah untuk belajar dan berlari-lari.  Kamu di paling ...