Tuesday, December 27, 2005

Kapan terakhir merasa kaya anak kecil? For me, it's been a long time. Sampai akhirnya, aku mengalami kembali.

Dunia yang sederhana, dunia yang cuma pengen semua ada.
Dunia materi, yang hanya berarti 'ada' jika semua bisa 'diraba'.

Pagi-pagi, Mba Gita udah manggil dari ujung.
"Wuryyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyy!!!"
"It's yours" Katanya sambil mengulurkan dvd collector's item THE WIZARD OF OZ ke hadapanku. Plus, ... CD collector's itemnya juga.

Hah!

Kalau ada kaca di sana, mungkin aku bisa ngeliat mataku yang membulat hebat!!!
Wow, udah lama rasanya nggak ngalamin something that you've been dreaming of is now here, for real! Aku masih terdiam beberapa saat. 3 disc DVD, plus CD yang saat dibuka, didalamnya ada gambar pop up Dorothy, Toto, Tin Man, Cowardly Lion dan Scarecrow.

I've got the cards and postcards with the box, several versions of the books,the pirated DVD (ha..ha), now I have the collector's item DVD consist of 1910's movie premier with its ticket, some photos, some of its reprinted 1910's promotion materials. Ffffffffiuh....

Dan seharian itu, pikiranku nggak habis hanya sampai DVD Wizard of Oz. Masih ada satu hal yang kepikiran, ... setelah 2 malam sebelumnya tiba-tiba kepikiran sebelum tidur. Ya, ... hal itu menghantui diriku kembali hari ini.

Jaket flanel pink yang ada capuchonknya, yang di jual di A store di jembatan PIM 2.

Bah!
Jaket flanel? Pink? Penting banget gak, sih? Tapi nggak tahu kenapa, tiba-tiba jadi kepikiran seharian. Dan akhirnya, pulang kantor aku langsung berangkat ke PIM naik taksi. Bayangin! Ngebela-belain hujan-hujan lebat naik taxi cuma buat beli jaket itu?
Hihihihi, ... sampe PIM aku langsung sms ku. Nanya ke suamiku, dimana tepatnya A store berada. "Kamu ke Sizzler, trus di situ ada jembatan yang nembus ke PIM 2." Itu bunyi smsnya (secara aku paling nggak pintar menghafal letak, termasuk letak mobil di parkiran). Dengan gagah berani dan percaya diri, aku ke sana. Dan benarlah, toko itu persis terletak di sana.

AKu berjalan perlahan.

Rak demi rak.
Pelan.
Ada kaos lucu di dinding.
Ah, nggak!
Tadi ke sini buat beli jaket flanel pink!!!
Aduh, .. jangan-jangan nggak ada capuchonknya.
Gimana ya, kalo nggak?
...
aaaaaaaaaaand, .. di rak paling ujung,
berderetlah jaket-jaket flanel beraneka warna.
Hitam, gak ada capuchonknya.
Putih, ... gak ada juga.
Khaki, ... nah! Ini ada capuchongnya!!!!
Yippie!!! There's the pink one!!!
But, ...
Hmmm, ... atau khaki aja ya?

Aku sms Pumpy dulu deh.
"1. Pink, 2. Khaki" Isi sms Pumpy.

Hmmmmm, ...
I think I'll take the pink one. Udah cukup kayanya, my denials that I don't really like pink colors. But I thin, I do. Dan bukannya warna ini yang bikin aku ngebangunin Pumpy tengah malam lalu?

Yep. I took the pink one. "Ukuran L aja ya, Mba."
Yippie, trus aku langsung pulang. Melenggang tenang.

Sampe rumah, aku langsung mandi.
Sambil pake baju, aku dengerin CD baruku dengan bagian "Over the Rainbow", track 3 yang terus aku ulang.

Lalu aku selimutan, pasang Disk 2 DVD baruku, nggak lupa pake jaket baru juga.
Terus aku ketiduran, sampe akhirnya Pumpy dateng.
Aku malu ketauan pake jaket baru, jadi selimutnya aku tarik sampe ke leher. Hihihihihi, ... tapi akhirnya nggak tahan aku tarik juga dan pamerin ke dia.

Ahhhhh, ...
senangnya jadi anak kecil.Kapan ya, bisa ngerasain lagi?

:)

Wednesday, December 21, 2005

Kapan kita akan berhenti?

Hari ini, 22 Desember 2005.

Jam delapan pagi, suamiku mengecup keningku.
"Aku pergi ya" Katanya.
"Dadahhhh..." Kataku membalasnya dan kembali menutup mataku, serasa tak kuat menahan pelupuk mataku lebih lama lagi.

Dan aku pun terpulas kembali. Lagi. Setelah membuka mata selama 23 jam di hari sebelumnya.

Tak lama, terdengar nada sms membangunkanku kembali.
Tapi kubiarkan.
"Kantor! Kapan kamu akan membiarkanku menikmati kesendirianku?" Itu responku pertama kali.

Beberapa jam kemudian, aku pun terbangun.
Segera kusabet handphone di atas meja. Sms tadi dari ibu mertuaku.
"Selamat hari ibu. Semoga kita bisa menjadi contoh untuk anak-anak kita dan masyarakat." Lalu aku pun tertegun.Dengan masih tak percaya dan nggak tau haurs menjawab apa, aku pun pergi mandi.

Ya, ini hari ibu.
Kapan terakhir kalinya aku mengucapkan selamat hari ibu untuk ibuku? Mungkin waktu aku SD. Waktu aku menyelipkan puisiku di tumpukan bajunya.
Kapan terakhir kali aku memijitkan punggungnya?
Kapan terakhir kalinya aku mencium pipinya dengan sepenuh hati?
Kapan terakhir kalinya aku menyentuh permukaan tangannya?
Kapan terakhir kalinya aku mengajaknya jalan-jalan? Bukan hanya membelikannya hadiah-hadiah?
Kapan terakhir kalinya aku memeluknya tanpa sebab?

Aku hilang.
Berguling kencang tanpa kendali.
Aku tersesat dalam detik-detik mengejar diriku sendiri.
Detik menjadi menit. Menit menjadi jam. Jam menjadi hari. Hari menjadi tahun.
5 tahun aku mengejar diriku sendiri. Tanpa tahu kapan akan berhenti dan membiarkan diriku yang menghampiri.


Tiba-tiba aku berpikir,
sudah siapkah aku menjadi seorang ibu, jika aku masih tak lelahnya mengejar diri sendiri.

Para Ibuku, selamat hari ibu. Panggilan yang memang layak dimiliki olehmu.

Thursday, December 15, 2005

Good Will Hunting

I just love this muvee. Here's one of the conversation.


"You're just a kid, you don't have the faintest idea what you're talking about. You've never been out of Boston.

So if I ask you about art, you'd probably give me the skinny on every art book ever writtened. Michelangelo? You know alot about him. Life's work, political aspirations, him and the pope. Sexual orientation. The whole works, right?

I bet you can't tell me what it smells like in the SIstine Chapel. You never actually stood there and looked up at that beautiful ceiling. Seeing that.

If I ask you about woman, you'll probably give me a syllabus of your personal favorites. You may ever been laid a few times. But you can't tell me what it feels like to wake up next to a woman and feel trully happy. You're a tough kid.

If I ask you about war, you'd probably throw Shakespeare at me, right? "Once more into the breach, dear friends."
But you've never been near one. You've never held your bestfriend head in your lap and watch him gasp his last breath lookin' to you for help.

If I ask you about love, you'd probably quote me a sonnet, but you've never looked at a woman and been totally vulnerable. Known someone that could level you with her eyes. Feelin' like God put an angel on earth just for you, who could rescue you from the depths of hell. And you wouldn't know what it's like to be her angel. To have that love for her to be there forever. Through anything.

You don't know about real loss, cause that only occurs when you love somethin more than you love yourself."


Said Sean, to Will Hunting.

Wednesday, December 07, 2005

Semenjana

lelah.
ingin rasanya aku mengistirahatkan mata ini
biar hanya hitam, hanya gelap
temaniku sejenak saja
dan biar,
kubiarkan telingaku meliar
biar dia juga belajar
telinga yang lama tak mendengar
telinga yang selalu kalah dengan ujar
telinga yang tak lagi punya hati
apalagi mendengarkan hati

damai.
hanya kudengar desah sukma
dalam gelap ini

terima kasih untuk kamu, yang udah bikinin judul kali ini. saat dimana aku nggak bisa menyebutkan satu kata yang menggambarkan jarak antara aku dan benda, dan waktu yang mengantarainya.

7 Desember 2005

Tentang kamu di suatu pagi

Saat itu. Aku, aki dan dirimu; La Luna.  Naik motor di pagi hari, mengantarmu bersekolah untuk belajar dan berlari-lari.  Kamu di paling ...